Mengarungi Perairan Komodo (Bagian 2)

Related Articles

Saya masih terlelap waktu itu. Di pojokan tempat tidur, di kamar yang sempit. Masih jam empat pagi. Mesin kapal yang menyala membangunkan saya. Perlahan-lahan kapal bergerak. Dan bergoyang mengikuti gelombang.

Makin lama, goyangan kapal makin kuat. Saya memejamkan mata. Mencoba mengikuti iramanya. Di luar masih gelap. Gelombang cukup besar. Angin juga berhembus kencang.

Saya lebih baik bangun saja. Mendingan pergi ke kamar kecil. Tapi saat di dalam, saya mulai mual. Pusing. Tak tahan berlama-lama dalam ruang tertutup di atas kapal yang oleng. Beruntung tak sampai muntah.

Menuju Pulau Padar

Setelah sekitar satu jam terombang-ambing gelombang, akhirnya kapal kami merapat di teluk Pulau Padar. Di sisi bagian timur. Begitu juga kapal-kapal lain.

Langit remang-remang. Kami akan mendaki bukit di pulau ini. Melihat matahari terbit. Dan tentu saja foto-foto. Karena itulah tujuan utama orang-orang ke Pulau Padar.

Pulau Padar adalah tempat foto paling favorit. Hampir semua yang ke Komodo pasti berfoto di tempat ini. Jalannya yang mendaki sudah tertata apik. Tangga kayu dan batu terpasang rapi. Tetap terlihat alami.

Karena menjadi spot foto terfavorit, wisatawan ramai. Mendaki bersama. Berfoto di beberapa titik dengan latar pemandangan cekungan pulau. Bebatuan dan bukit dengan padang ilalang. Laut biru bersih dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Serta langit memerah menyembulkan matahari di ufuk timur.

Pulau Padar yang ramai

Saya takjub dengan pemandangan ini. Apa yang saya lihat benar-benar indah. Tak kalah dengan New Zealand. Yang saya kepincut ingin ke sana. Dan ini adalah Indonesia. Rasanya, Indonesia jauh lebih indah dari negeri mana pun.

Gelombang Laut Sawu

Gelombang laut di sekitar Pulau Padar masih tinggi. Arah perjalanan kami berikutnya ke selatan. Menuju perairan terbuka. Laut di utara Pulau Sumba. Yang tersambung dengan Samudera Hindia.

Kami akan memutari Pulau Padar. Menuju sisi baratnya. Perahu menerjang gelombang. Saya duduk di bagian depan. Melihat langsung ujung kapal memecah air. Cipratannya ke mana-mana. Membuat pakaian saya basah.

Ketika kapal menuju ke selatan, gelombang makin besar

Nyali saya ciut juga melihat gelombang-gelombang yang tinggi. Sekitar satu meteran. Yang mebuat kapal terombang-ambing. Tapi saya tak panik. Berusaha tetap tenang. Saya percaya pada Opa Abi, sang nahkoda.

Beginilah lautan. Kadang ia tenang. Kadang ia mengamuk. Kita warga nusantara hidup di negeri kepulauan. Laut adalah halaman rumah. Mau tidak mau kita harus membiasakan diri dengan keadaannya.

Merapat ke Pantai

Kapal merapat lagi ke sisi barat Pulau Padar. Perairan mulai bertambah tenang. Sekoci mengantarkan kami mendarat di pantai.

Pasir pantai kemerahan. Karena berasal dari terumbu karang berwarna merah yang terkikis air laut. Ketika bercampur dengan pasir putih, warnanya menjadi merah muda. Makanya lebih sering disebut dengan pantai pink. Ada banyak pantai seperti ini di Kepulauan Komodo.

Pantai Pink karena bebatuan di Kepulauan Komodo

Menunggu Angin

Kami rencananya akan ke Taka Makassar dan Manta Point. Titik perairan yang dipenuhi terumbu karang yang indah. Tempat diving maupun snorkling.

Gelombang laut sudah mulai tenang. Tapi angin muson tenggara bertiup sangat kencang. Ini adalah musim angin yang bertiup dari Australia. Beberapa hari terakhir kecepatannya menjadi-jadi. Nahkoda memutuskan untuk menunggu angin membaik.

Kapal kami bukan phinisi. Tak memakai layar. Angin kencang biasanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong layar.  Tapi tidak untuk kapal kami. Tanpa layar, angin kencang bisa membahayakan. Bisa membuat terbalik dan tenggelam.

Sampai menjelang sore, angin tak kunjung berubah. Kami akhirnya membatalkan niat ke Taka Makassar dan Manta Point. Lalu memutuskan kembali ke Teluk Pulau Rinca yang tenang. Untuk bermalam.

Melaut di Hari Ketiga

Ini hari ketiga. Dari Teluk Pulau Rinca, kami akan kembali menuju Labuan Bajo. Ada beberapa pulau yang akan kami singgahi. Yaitu Siaba, Sebayur, dan Kanawa.

Di Siaba dan Sebayur, kami berhenti cukup lama di perairannya. Melakukan aktivitas renang permukaan alias snorkling. Salah satu selatnya yang kecil berarus cukup kencang. Membuat saya harus berenang mengikuti arus.

Laut di sekitar Pulau Siaba dan Sebayur

Pulau-pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni. Ada banyak elang laut bersarang di tebing-tebing pantai. Terbang ke sana kemari. Berputar dan menghujam ke dalam laut memburu ikan.

Burung elang di tebing-tebing pulau

Menjelang tengah hari, kapal bergerak lagi. Makin mengarah ke timur. Mendekati pulau utama, Flores.

Pulau Kanawa adalah pulau berikutnya yang disinggahi. Pulau ini adalah pulau pribadi. Terdapat resort yang tak berfungsi lagi. Pantainya tenang. Bersih dan jernih. Ikannya banyak. Menyebabkan banyak pula wisatawan yang datang berkunjung.

Berpisah

Kami mulai meninggalkan Kanawa. Selepas makan siang, kapal mulai bergerak lagi. Kali ini tak ada lagi yang disinggahi. Tujuannya langsung merapat ke Pelabuhan Labuan Bajo.

Perpisahan harus terjadi. Terharu rasanya tiga hari melaut dengan teman-teman baru. Dari tak kenal, menjadi akrab. Seperti kata Ricardus, kami berangkat sebagai teman, pulang sebagai keluarga.

Sampai di pelabuhan, kami pun berpisah. Pergi satu demi satu. Ke tempat tujuan lain masing-masing. Tak tahu, entah kapan waktu akan mempertemukan kami lagi.

Dan saya, akan melanjutkan perjalanan. Sendiri. Tapi rasanya tak sepenuhnya akan sendiri. Karena saya percaya, perjalanan akan selalu mempertemukan kita dengan hal-hal baru. Kejadian baru maupun teman-teman baru. []

 

Oleh I Komang Gde Subagia

More on this topic

Comments

  1. First off I would like to say awesome blog! I had a quick question which I’d like
    to ask if you do not mind. I was interested to know how
    you center yourself and clear your head prior to writing.
    I’ve had trouble clearing my mind in getting my thoughts
    out. I truly do take pleasure in writing however it
    just seems like the first 10 to 15 minutes are usually lost just trying to figure out how to begin. Any recommendations or tips?
    Kudos! 0mniartist asmr

  2. Your style is unique in comparison to other folks I’ve read
    stuff from. Thanks for posting when you have the opportunity, Guess I will just bookmark
    this site. asmr 0mniartist

  3. Thanks for a marvelous posting! I certainly enjoyed reading
    it, you could be a great author.I will make sure to bookmark your blog and may
    come back someday. I want to encourage you to definitely continue your great posts,
    have a nice holiday weekend! asmr 0mniartist

  4. Hi there! I understand this is kind of off-topic but I needed to ask.
    Does operating a well-established website such as yours take a massive amount work?
    I’m brand new to blogging but I do write in my
    journal on a daily basis. I’d like to start a blog so I can share my own experience and
    views online. Please let me know if you have any kind of recommendations or tips for new aspiring blog owners.
    Appreciate it! 0mniartist asmr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular stories

Sebuah Cerita yang Jarang Dinyanyikan

Apa arti pahlawan? Apakah seorang pejuang di zamannya? Petarung ulung yang menjaga negaranya dan menghalau musuh yang menyerang? Saya rasa definisi pahlawan tidaklah sesempit...

Serunya Mengarungi Sungai Citarum – Operasional Peminatan ORAD Gemuruh Langit

Rangkaian Pendidikan Lanjut Astacala angkatan Gemuruh Langit telah sampai pada tahap Pendivisian atau yang biasa disebut Peminatan. Salah satu dari tiga divisi Peminatan telah menyelesaikan pengarungan di Sungai Citarum untuk mempelajari teknik-teknik pengarungan sungai arus deras.

Situ Lembang Kering, Ribuan Orang Sulit Air

        Situ Lembang di Desa Kertawangi, Kabupaten Bandung kering. Situ atau danau seluas 74 hektar itu hanya menyisakan kubangan air berdiameter  sekitar 30...