Merajut Kebudayaan Desa dan Situs Gunung Padang

Related Articles

Day 1 Operasional

Hari Jumat pagi yang cerah membangunkan semangat kami untuk memulai perjalanan wajib Kelana Halimun. Sejak pagi-pagi buta, kami sudah bersiap dengan rapi di sekretariat ASTACALA. Senyum kegembiraan terpancar dari wajah-wajah kami, karena petualangan ini sudah lama dinanti. Pukul 05.30 pagi, kami berangkat dari sekretariat menuju situs Gunung Padang di Cianjur.Sampai di situs sekitar pukul 10 pagi, kami disambut oleh Pak Nanang yang ramah. Setelah memberikan pengantar singkat tentang tujuan kami, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Dusun Gunung Melati dengan pendampingan dari Pak Kepala Dusun. Di sana, kami diberi tahu di mana kami akan tinggal selama kegiatan ini. Saya sendiri ditempatkan di rumah Ibu Dede, tempat yang hangat dan nyaman.

Tim saat berada di kantor pengelola situs Gunung Padang

Kemudian, perjalanan kami berlanjut ke Dusun Gunung Melati yang dipandu oleh Pak Kepala Dusun. Di sana, kami diberi lokasi rumah warga tempat kami akan menginap selama kegiatan. Saya sendiri berada di rumah Ibu Dede, tempat yang nyaman untuk bermalam. Setelah shalat Jumat, kegiatan kami pun beragam. Ada yang terlibat dalam antropologi dengan warga desa, sementara saya bersama rombongan menuju Situs Gunung Padang melalui jalur setapak yang indah dari dusun Gunung Melati. Kami melawati kampung Ciukir dan Ciempang yang memiliki cerita unik tentang batu-batu dari Situs Gunung Padang konon diukir dan dicuci di kampung tersebut sebelum dibawa ke situs. Kami pun tiba di teras 5 situs, kami diperkenalkan dengan singkat mengenai sejarah Gunung Padang oleh Pak Kepala Dusun.

Saat sore menjelang, kami kembali ke dusun. Di sana, kami disuguhi kesempatan untuk melihat proses pengambilan nira dari pohon aren bersama Pak RT. Kami pun bergabung dalam proses pembuatan gula aren, dari nira yang ditampung di bambu hingga proses digodok (direbus) yang membutuhkan kesabaran. Mendekati waktu maghrib, kami bersama-sama membantu warga mempersiapkan berbuka. Alhamdulillah, kami pun berbuka puasa bersama warga di rumah masing-masing, merasakan kehangatan dalam berbagi hidangan.Setelah berbincang-bincang ringan dan menunggu waktu Isya, kami melanjutkan dengan terawih di masjid setempat. Setelah itu, kami berkumpul di Madrasah bersama kepala dusun, Pak RT, dan RW untuk acara perkenalan serta menjelaskan tujuan kami di sana.

Berbincang dengan kepala dusun gunung melati

Proses penyaringan nira untuk dijadikan gula merah

Day 2 Operasional

Keesokan paginya, kami sudah bersiap untuk sahur. Kemudian, kami turut serta dalam kegiatan pagi warga, merasakan kehidupan di dusun. Sekitar pukul 8 pagi, kami siap untuk kegiatan hari itu. Kami dibagi menjadi dua tim, saya berada dalam tim yang akan mengeksplorasi Dusun Gunung Padang. Perjalanan kami dimulai dengan bertemu dengan pemuda di dusun, lalu dilanjutkan dengan bertemu Ibu Ai, pengelola madu Teuwel. Kami belajar banyak tentang lebah Teuwel, lebah yang unik karena lebih kecil dari lebah biasa dan tidak menyengat. Kami juga mengunjungi rumah Pak Mamat, yang membuat sale pisang dengan cara tradisional yang menarik. Beliau menjelaskan bahwa sale pisang di sini dibuat dengan cara dikeringkan dengan asap, memberikan rasa khas yang tak terlupakan. Pisang yang digunakan pun merupakan jenis tertentu, karena tidak semua jenis pisang cocok untuk dijadikan sale. Jika jenis pisang yang digunakan tidak tepat, maka bisa dibuat menjadi keripik pisang yang renyah. Tidak hanya itu, kami juga dijelaskan proses pembuatan kolang kaling oleh Pak Mamat. Kolang kaling yang segar diolah dengan digodok dan kemudian dipisahkan. Setelah itu, mereka direndam kembali untuk dibersihkan sebelum disimpan.

Dokumentasi bersama pengelola madu teuwel

Proses pembuatan kolang kaling

Proses pembuatan pisang sale

Setelah itu kami melanjutkan kunjungan ke rumah Pak Epul, yang merupakan pengelola kopi khas Gunung Padang. Namun, perjalanan kami tidak berjalan mulus seperti yang kami harapkan. Di tengah perjalanan menuju rumah Pak Epul, tiba-tiba ban motor saya bocor. Kami pun mampir sejenak untuk mencari tambal ban, namun sayangnya tempat tambal ban belum buka. Kami pun harus menunggu sebentar, sambil menikmati teduh di bawah hujan yang turun tiba-tiba. Dikarenakan kami juga perlu melakukan wawancara dengan Pak Kepala Dusun Gunung Padang yang sudah janjian menunggu di kantor pengelola. Akhirnya 3 orang dari kami menerobos menuju kantor pengelola untuk bertemu dengan Pak Kepala Dusun yang sudah menunggu di sana.

Sementara itu, motor saya yang bermasalah akhirnya ditambal oleh seorang yang ternyata adalah Pak RT di kampung tersebut. Sambil menunggu proses perbaikan selesai, kami berbincang-bincang ringan dengan Pak RT yang baik hati itu. Setelah setelah diperbaiki, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Epul. Beliau bercerita dengan antusias tentang proses pembuatan kopi khas Gunung Padang, dari memetik biji kopi hingga proses penggorengan yang menghasilkan cita rasa yang khas. Setelah menyelesaikan kunjungan kami di rumah Pak Epul, kami kembali ke Dusun

Gunung Melati dan bertemu dengan rombongan lainnya. Kami bersama-sama berbuka puasa, kemudian menjalani terawih dengan khidmat di masjid setempat.

Dokumentasi dengan pengelola kopi Gunung Padang

Pak RT yang sekaligus menjadi tukang tambal ban

Malam itu, kami berkumpul kembali di Madrasah diajak untuk mengenal lebih jauh tentang kesenian budaya di daerah itu. Kami diperkenalkan dengan alat musik tradisional seperti karinding, kelempung, tongkat air, bangkong riang, dan suling. Pak Kadus, Pak Fuad, dan Pak Kucay dengan mahir memainkan alat-alat musik tersebut, mengisi malam kami dengan suara merdu yang mengalun indah. Selanjutnya, kami juga diperkenalkan dengan kesenian silat, melihat beberapa gerakan dan maknanya. Malam itu diakhiri dengan nyanyian bersama lagu Sabilulungan, dinyanyikan dengan penuh semangat diiringi alunan musik tradisional.

Kelompok Kesenian Dusun Gunung Melati yang sedang memainkan alat music tradisional

Dokumentasi bersama kelompok kesenian Dusun Gunung Melati

Day 3 Operasional

Minggu pagi, beberapa dari kami ikut dalam pengajian ibu-ibu di Madrasah sebelum kami mempersiapkan diri untuk pamit dengan warga. Saya berpamitan dengan Ibu Dede, ibu kami yang baik hati selama beberapa hari disana, terasa begitu hangat. Pukul 9:30 pagi, kami semua berkumpul di tengah lapangan untuk berfoto bersama warga dan penyerahan sertifikat kepada kepala dusun. Setelah momen foto, kami pun berpisah, namun masih dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Ada yang melanjutkan eksplorasi ke percetakan gula, sementara saya dan kelompok kemarin ke situs Gunung Padang yang menawan. Melalui tangga yang terjal, kami naik ke atas dan menyusuri setiap teras. Mulai dari Teras 1 dengan struktur bangunan lengkap hingga Teras 5 dengan singgasana yang konon katanya tempat misterius dengan suara-suara musikal pada malam hari.

Situs Gunung Padang

Dokumentasi bersama orang tua yang memberi tim tempat tinggal

Tim sedang mengeksplore Situs Gunung Padang

Setelah puas menjelajahi, kami kembali berkumpul dengan kelompok lainnya dan persiapan pulang, Saat perjalanan pulang, motor saya kembali bermasalah. Kami harus berhenti sejenak di pom bensin, di mana saya kembali menambal ban. Pukul 14:30 WIB kami meneruskan perjalanan. Saat tiba perbatasan Cianjur kami mampir sebentar untuk istirahat. Kemudian karena sudah mendekati waktu berbuka, kami memutuskan untuk berbuka di rumah Nizam, sebuah keputusan dadakan yang menyenangkan. Kami berbuka bersama dalam kehangatan, menikmati hidangan yang lezat. Setelah beristirahat sejenak, kami kembali melanjutkan perjalanan malam menuju sekretariat ASTACALA. Di sana, kami melakukan evaluasi harian sebelum akhirnya kegiatan perjalanan wajib Kelana Halimun resmi berakhir.

Perjalanan wajib Kelana Halimun telah menjadi petualangan yang tak terlupakan bagi kami semua. Dalam setiap langkah, kami merasakan kehangatan, kebersamaan, dan keindahan dalam petualangan ini. Perjalanan ini bukan hanya tentang eksplorasi budaya, tapi juga tentang menemukan persaudaraan baru dalam setiap senyuman, setiap cerita, dan setiap momen yang kami lewati bersama. ASTACALA!!!

Dokumentasi bersama warga Dusun Gunung Melati

Dokumentasi Tim saat eksplore situs gunung padang

Penyerahan sertifikat tanda terimakasih kepada pengelola situs gunung padang

Buka bersama di rumah nizam


Tulisan Oleh : Abdull | AM-006-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Exploring Indonesia by Metro TV

{nl} Pengalaman Meliput di Alam Bebas{nl}By Team Expedition Metro TV{nl}AJB BUMIPUTERA FISIP Universitas Indonesia{nl}SABTU, 16 SEPTEMBER 2006{nl}10.00-16.00 wib{nl}{nl}Menjelajah Dunia Pariwisata “Exploring Indonesia”{nl}{nl}Diskusi Off Air{nl}{nl}Membahas kisah...

Mendaki Gunung Abang

Gunung Abang adalah gunung tertinggi ketiga di Bali, setelah Gunung Agung dan Gunung Batukaru. Tingginya 2.152 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namanya kalah...

Berwisata ke Pangandaran

{nl}        Pantai Pangandaran di Ciamis, Jawa Barat, tidak hanya memanjakan turis dengan keindahan pantainya tetapi juga dengan wisata jurang curamnya yang dikenal Green...