Kami Berhasil Menyelesaikan  Apa yang Telah Kami Mulai

Related Articles

Praoperasional

Perjalanan wajib Kelana Halimun yang sempat tertunda akhirnya dapat terlaksana. Cerita kami mulai ketika sejumput dari kami menyadari bahwa ini adalah tanggung jawab yang harus diselesaikan. Dimulai dari niat Zeva, Gilang, Abdul dan Zabar mengunjungi Situs Gunung Padang untuk survei secara “diam – diam” karena sebagian besar dari kami masih belum kembali ke Bandung dari kampung halaman kami masing – masing. Akhirnya mereka pulang dengan kabar bahwa kami akan mengerjakan perjalanan wajib kami disana dan dengan konsep yang setengah matang. Setelah semua kembali ke Bandung, kami berkumpul di sekretariat untuk memaparkan apa saja yang di dapat dari survey. Konsep pun sudah dijelaskan oleh Zeva sebelum ia meninggalkan Bandung untuk magang di Jakarta. Progres konsep sempat kembali berantakan karena ada suara – suara yang membikin kami ragu. Tidak hanya itu, kami juga ditinggal oleh otak dari konsep perjalanan wajib ini. Namun Zeva tidak lepas tanggung jawab, ia masih memantau bagaimana perkembangan perjalanan ini.

Dokumentasi saat Survei ke situ cisanti

Setelah mencoba mematangkan konsep dan menyamakan pikiran, kami bersepakat bahwa kami butuh untuk melakukan survei kedua, ketiga dan keempat. Survei kedua kami memberangkatkan Imam dan Ilham. Namun pada survei ini kami merasa kurang puas karena target survei kedua ini tidak 100% tercapai. Lalu kami membuat lagi target survei kami yang ketiga. Pada survei ketiga kami kirim Imam, Abdul, Puspa dan Assa. Syukur Alhamdulillah, survei kali ini kami merasa lega. Semua target survei tercapai dan kami mendapatkan informasi – informasi tambahan yang kami butuhkan saat operasional nanti. Setelah kami paparkan semua hasil survey di rapat besar, kami semua sepakat untuk melakukan survei terakhir yang di wakilkan oleh Abdul dan Kak Fio untuk mematangkan rencana kami.

Jalan menuju desa saat survei

membeli tas rajut terbuat dari bambu

Tiba disaat H-1 operasional yang harusnya dari sore kami bergabung di sekretariat untuk memastikan apa – apa saja yang kurang untuk dibawa esok harinya dan persiapan untuk evaluasi serta briefing. Namun kami telat 1 jam karena alasan – alasan receh, yang seolah kami menganggap perjalanan ini adalah perjalanan sepele. Setelah evaluasi dan briefing untuk keberangkatan besok pagi selesai, kami lanjutkan dengan mempersiapkan alat – alat yang harusnya kami siapkan dari sore dan dilanjutkan dengan istirahat.

Operasional

Jum’at, 29 Maret 2024, hari yang kami tunggu – tunggu akhirnya tiba. Kami awali dengan bebersih badan dan makan sahur bersama di sekretariat sebelum kami berangkat. Sehabis subuh, kira – kira pukul 05.30 WIB kami berangkat menggunakan motor pribadi. Karena perjalanan cukup jauh dan kondisi kami sedang puasa, sebelum berangkat kami sepakati berhenti sebentar untuk istirahat di rest area sebelum masuk Cianjur. Sekitar pukul 07.00 WIB kami sampai di tempat yang sudah disepakati diawal untuk istirahat. 20 – 30 menit, setelah dirasa cukup, kami lanjutkan perjalanan menuju tujuan utama kami yaitu Situs Gunung Padang. Tinggal sedikit lagi sampai tujuan, kami mendapat kabar bahwa motor Gibran mengalami masalah. Karena pukul 10.00 WIB kami sudah ada janji dengan pengelola situs untuk melakukan dialog, maka kami putuskan untuk membagi rombongan untuk melanjutkan perjalanan dan menemani Gibran yang sedang memperbaiki motornya.

Istirahat sejenak sambil menikmati indahnya mentari pagi

Sehabis berdialog dengan salah satu pengelola situs, perjalanan kami lanjutkan ke kediaman Bapak Kepala Dusun Gunung Malati, dusun di sebelah Situs Gunung Padang yaitu Bapak Rusmana. Disana kami beristirahat sebentar sembari ramah tamah dan menunggu waktu sholat jum’at tiba. Setelah sholat jum’at selesai, Ibu Rusmana mengantar masing – masing dari kami ke tempat istirahat. Kami mendapat 5 tempat singgah sementara yang masing – masing rumah didiami 5 – 6 orang dari rombongan kami. Sambutan yang sangat menghangatkan hati kami terima. Setelah berkenalan dan berbincang sekilas, kami melanjutkan kegiatan kami yakni mengulik antropologi warga Dusun Gunung Malati. Sebelum waktu maghrib tiba, kami sempatkan kembali ke tempat singgah kami untuk membantu menyiapkan makanan untuk kami berbuka puasa. Makanan sederhana yang jarang kami temui mereka sajikan untuk kami. Setelah kami menyantap makanan yang telah disajikan kami sambung dengan anak – anak disana yang bersiap untuk sholat tarawih. Selepas sholat tarawih kami lanjutkan dengan evaluasi, briefing dan sambutan dari Pak Rusmana dan rekan – rekan yang esok hari juga terdapat agenda dengan kami untuk mengenalkan alat musik dan bela diri tradisional.

Dokumentasi setelah mewawancarai pengelolas Situs Gunung Padang

Di hari kedua kami membagi tim untuk menjalankan rencana – rencana yang telah kami rancang sebelumnya. Mencari tahu apa saja yang ada di Situs Gunung Padang, antropologi warga Desa Gunung Padang, cara pembuatan sale pisang, mengunjungi peternakan lebah, menyambangi perkebunan kopi dan di sore harinya dilanjutkan dengan kegiatan yang sama dengan hari sebelumnya. Namun berbeda dari hari sebelumnya, sehabis sholat tarawih kami disajian dengan pementasan alat musik dan bela diri tradisional yang ditampilkan oleh Pak Rusmana, Mang Kucai dan rekan – rekan.

Dokumentasi bersama tim kesenian Dusun melati

Penampilan kesenian musik dari tim kesenian Dusun Gunung Melati

Hari perpisahan tiba. Beruntungnya, kami mendapat kesempatan untuk mengikuti pengajian bersama yang rutin diadakan setiap hari minggu sebelum kami kembali. Setelah pengajian rampung kami semua bersiap membereskan barang – barang kami dan berpamitan dengan warga. Rasa bahagia telah berhasil menyelesaikan tanggung jawab kami, haru karena menyadari bahwa kami akan meninggalkan tempat ini, semua rasa bercampur aduk. Saat kami berpamitan sembari berfoto dengan warga, ternyata ada yang 2 burung elang yang ikut mengutarakan ucapan “selamat tinggal dan sampai jumpa lagi” kepada kami.

Dua burung elang yang mengantarkan kami kembali menuju perjalanan pulang

“Terimakasih semuanya”

A S T A C A L A  ! ! !


Tulisan Oleh : Assayka | AM-025-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Ekspedisi Astacala Facing Giant Rock di Kompas Kampus

Kegiatan Ekspedisi Astacala Universitas Telkom Facing Giant Rock 2013 termuat dalam Liputan Kampus pada Harian Koran Kompas Nasional Edisi Selasa 24 Desember 2013, seperti...

Citarasa Lombok (Belajar Selam)

Berbagai peralatan telah dinaikkan ke atas perahu. Jangkar juga telah diangkat. Jadilah pagi itu dua perahu mengangkut saya bersama rekan-rekan seperjalanan menyeberangi...

Kami Hanya Mengantarkan, Alam yang Mengajarkan

Keluarga besar Astacala Telkom University mengucapkan turut berbelasungkawa atas musibah yang dialami rekan-rekan Mapala Unisi. Sebagai organisasi pecinta alam yang juga menjalankan Diksar atau Pendidikan Dasar, Astacala berpegang teguh pada semboyan "Kami hanya mengantarkan, alam yang mengajarkan".