Perjalanan Menelusuri Gua Terdalam Pulau Jawa

Perjalanan Menelusuri Gua Terdalam Pulau Jawa

Memasuki awal April 2016, merupakan hari-hari tersibuk yang akan dihadapi oleh lima orang Anggota Muda (AM) Astacala yang dilantik dengan nama angkatan Cakar Alam. Mereka adalah Rihanna Tusa’adiyah (AM-016-CA), Siti Hartinah (AM-018-CA), Niken Galuh Ramadhani (AM-006-CA), M. Umar Syafi’i (AM-012-CA) dan Marcellus Haninditya (AM-021-CA). Seminggu ke depan mulai dari 1 – 8 April 2016, ke-5 orang tersebut akan melakukan Perjalanan Wajib (PW) bertajuk “Mystery in The Darkness” yaitu sebuah kegiatan penelusuran gua, menelusuri gua vertikal terdalam yang berada di Pulau Jawa.

Ialah Luweng Ombo, gua yang mendapat predikat sebagai gua vertikal terdalam se-Pulau Jawa dengan kedalaman mencapai 120 meter dan diameter lubang berukuran sekitar 50 meter. Lubang Besar atau dalam bahasa jawa Luweng Ombo merupakan gua yang terbentuk akibat runtuhnya atap gua yang disebabkan erosi pada dinding batu kapur akibat proses kimiawi. Penjelasan tersebut didukung oleh bukti-bukti material reruntuhan berupa batuan besar (boulder) yang banyak dijumpai di dasar gua.

Perjalanan mereka menuju Luweng Ombo yang berada di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, memakan waktu tempuh sekitar 15 jam, dikarenakan tidak ada akses langsung menggunakan kereta api dari Bandung menuju ke Pacitan. Mereka terlebih dahulu harus transit di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus travel menuju Desa Kalak.

Desa Kalak terletak sekitar 32 kilometer arah barat daya Kota Pacitan. Sehingga akan lebih dekat jika ditempuh dari arah Yogyakarta, karena lokasinya yang berdekatan dengan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jalur menuju Kalak cukup lebar karena merupakan jalur provinsi, namun setelah mencapai Donorojo, ukuran jalur berubah relatif sempit, hanya selebar sekitar 4 meter.

Jalan yang dilintasi berliku-liku dengan sajian bukit-bukit kapur khas kawasan karst. Meskipun melewati jalanan desa, tetapi kondisi jalan menuju Kalak cukup bagus, hanya beberapa bagian saja yang terdapat lubang. Hal ini juga dikarenakan jalan tersebut merupakan akses jalan alternatif menuju Pantai Klayar yang merupakan destinasi favorit masyarakat Pacitan dan sekitarnya untuk berakhir pekan.

Baca juga:   Ekspedisi Caving Nusa Kambangan

Akses menuju Luweng Ombo juga tergolong mudah. Letaknya yang berada di pinggir jalan membuatnya mudah dicapai. Dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari basecamp yang berada di rumah Kepala Dusun Petung, ke-5 Anggota Muda yang didampingi 3 orang pendamping tiba di tepi mulut gua.

Penelusuran

Minggu, 3-April-2016. Pagi-pagi sekali tim penelusuran sudah siap menyusun peralatan dan segera bergegas menuju mulut gua melakukan persiapan pemasangan tambatan tali lintasan (rigging) yang digunakan untuk menuruni lorong vertikal Luweng Ombo.

Salah satu aggota tim menuruni entrance vertikal Luweng Ombo pada seutas tali menggunakan Single Rope Technique
Salah satu aggota tim menuruni entrance vertikal Luweng Ombo pada seutas tali menggunakan Single Rope Technique.

Beberapa kali masyarakat yang melintasi jalan Desa Kalak tertarik untuk sekedar melihat-lihat ke mulut gua. Banyaknya masyarakat yang berkunjung harus membuat tim bersiaga menjaga tali lintasan agar tidak terinjak oleh pengunjung. Tali yang terinjak-injak dapat berakibat fatal, karena dapat merusak bagian dalam serat tali yang berujung mengurangi kekuatan tali hingga dapat menyebabkan putusnya tali.

Tim ekspedisi dibagi menjadi dua tim, yaitu 6 orang tim penelusur dan 2 orang tim basecamp. Tim basecamp tetap berada di atas untuk menjaga lintasan dan mengirimkan kebutuhan operasional ke tim penelusur yang berkemah di dasar gua.

Untuk menuruni tali lintasan sepanjang 120 meter dibutuhkan waktu rata-rata 30 menit setiap orang menggunakan Teknik Seutas Tali/Single Rope Technique (SRT). Walau sudah memperhitungkan segala kemungkinan, ternyata masih ada yang luput dari perkiraan tim. Beban berupa alat camp yang dibawa turun oleh penelusur ternyata terlalu berat, sehingga menyulitkan mereka untuk melakukan variasi teknik melewati tali lintasan. Hal tersebut membuat waktu menuruni lintasan menjadi lebih lama hingga 1 jam dari perkiraan awal.

Berbeda dengan gua-gua pada umumnya, di dasar Luweng Ombo masih banyak ditumbuhi aneka macam vegetasi. Umumnya tumbuhan yang tumbuh di sana berjenis paku-pakuan, memiliki batang tipis dengan tinggi hingga 4 meter. Selain itu mereka juga menemukan beberapa jenis serangga unik, salah satunya adalah jangkrik dengan ukuran sebesar jempol orang dewasa.

Selain melakukan penelusuran, tim juga melakukan pemetaan ketiga lorong yang ada di sana. Lorong yang terdapat di Luweng Ombo sebagian besar merupakan lorong dengan sistem sungai bawah tanah. Tim sedikit mengalami kesulitan karena harus menyesuaikan diri melakukan pemetaan di medan berair setinggi 1-1,5 meter.

Baca juga:   Astacala Memenangkan Piala Bambang Hidayat

Hasil dari Perjalanan Wajib ini rencananya akan mereka tuangkan dalam sebuah buku dokumentasi berisi hasil fotografi gua (cave photography) dan juga sebuah peta tiga dimensi (3D) lorong Luweng Ombo.

Tim penelusuran Gua Luweng Ombo bersama Pak Parni Kepala Dusun Petung
Tim Perjalanan Wajib Cakar Alam Gua Luweng Ombo berfoto bersama Pak Parni , Kepala Dusun Petung, sebelum memulai penelusuran pada hari pertama.

Walaupun sudah berakhir, ekspedisi ini masih meninggalkan misteri bagi seluruh anggota tim. Dari ketiga lorong yang ada di dasar gua, tim Perjalanan Wajib Cakar Alam belum berhasil menelusuri salah satu lorong hingga sampai ke ujungnya.

Itulah daya tarik penelusuran gua. Kita tidak pernah tau apa yang ada di depan kita. Dalam kegelapan abadi, rasa keingintahuan lah yang menuntun kita untuk terus melangkahkan kaki.

Bandung, 24/04/16
Tulisan oleh M. Arief Naibaho (A – 118 – MG)
Foto Dokumentasi Astacala