Gunung Kadaka yang Penuh Lika-Liku

Related Articles

(Bertemu dengan Satwa Penghuni Gunung Kadaka)

Setelah melewati Pendidikan Dasar Astacala langkah selanjutnya yaitu melaksanakan Pendidikan lanjut sebagai bagian dari rangkaian di Astacala untuk menjadi anggota penuh. Pada tahun ini kami sebagai angkatan baru yaitu kelana hhamperalimun melaksanakan tahapan pertama pendidikan lanjut yaitu Navigasi dararat-Gunung Hutan yang kami laksanakan di daerah Cijambu. Anggota kelana halimun yang berangkat dibagi menjadi tiga kelompok yang tersebar ke tiga puncakan yang ada di daerah Cijambu, kelompok pertama menuju ke puncak Gunung Cibunar, kelompok kedua yang mana merupakan kelompok saya sendiri menuju ke puncak Gunung Kadaka dan kelompok tiga menuju ke puncak Gunung Jambu.

HARI PERTAMA
Tanggal 17 Maret 2023

Pada pagi hari kami bangun dan kemudian bersiap untuk sarapan serta berangkat menuju ke desa Cijambu menggunakan angkot. Sesampainya di titik start yaitu di desa Pasanggrahan kami langsung mengisi air di titik air satu yaitu di Masjid Jami As-Sholleh, dilanjut dengan orientasi medan untuk menentukan arah kemana kita akan berjalan. Kurangnya jam terbang membuat kami berjalan tidak sesuai dengan target ROP, sehingga pada waktu ishoma kami terpaksa istirahat di tempat yang miring.

Saat kami menyantap makan siang, kami dipantau oleh sekelompok monyet di atas pohon pinus, mereka melompat dari pohon ke pohon mendekati kami, di perjalanan kami juga menemui kotoran luwak saat melewati kebun kopi. Sembari berjalan menuju ke titik puncak yang kami duga itu sebagai puncak 1613, kami mencoba untuk orientasi medan kembali untuk memastikan kebenaran sambil menentukan kemana arah kami akan melanjutkan perjalanan.

Kami menuju ke arah utara arah di mana Gunung Kadaka berada, saat berjalan ke arah utara, kontur yang kami lewati begitu terjal dan berbeda sekali dengan di peta yang seharusnya landai. Kami pun menjadi ragu, apakah kami salah mengira puncakaan tadi adalah puncakaan 1613? Namun kami tetap melanjutkan perjalanan menuruni punggungan yang terjal itu.

Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB namun kami belum sampai di titik camp pertama. Setelah turun kami berjalan naik sedikit dan menemukan tempat yang cocok untuk mendirikan camp ponco, kemudian kami langsung melakukan aktivitas camp sampai pukul 20.00 WIB. Hari mulai petang, hujan pun turun membasahi kami. Camp yang kami buat masing-masing telah rampung, namun sayangnya belum ada api yang berhasil menyala. Dikarenakan api kami tak kunjung menyala maka kami diarahkan untuk membatu menyalakan api dari salah satu rekan kami yang apinya hampicar menyala, namun hari sudah semakin larut dan api pun tak kunjung stabil sehingga kami melanjutkan untuk melakukan kegiatan berikutnya yaitu ISHOMA dan dilanjutkan dengan evaluasi serta briefing untuk esok hari.

HARI KE-DUA
Tanggal 18 Maret 2023

Waktu menunjukkan pukul tiga pagi dan terdengar suara dari atas disertai dengan tepukan di pundak saya, dikala itu saya mengira terlambat bangun ternyata saya dibangunkan untuk membenahi posisi tidur saya agar tidak mengenai tanah. Pukul 05.30 WIB saya bangun kembali untuk bergegas mengganti pakaian tidur dengan pakaian lapangan dan membereskan peralatan tidur saya. Pukul 05.40 WIB saya mulai membangunkan satu-persatu teman saya juga para pendamping. Kami membagi tugas untuk membantu PJ dalam menyiapkan makanan dan membereskan camp. Setelah semua siap kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju titik air.

Sebelum ke titik air kami melewati puncak Gunung Kadaka dan disana kami singgah sebentar untuk mengambil dokumentasi. Setelah selesai,  kami berjalan sebentar dari puncak Kadaka melewati punggungan ke arah timur menuju titik air, kami menemui tugu triangulasi yang sudah terbalut oleh lumut.

Setibanya di titik air kami menemukan jejak yang kami duga sebagai jejak macan kumbang. Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB sehingga kami memutuskan untuk ISHOMA di titik air karena tidak memungkinkan untuk mengejar ke titik istirahat sesuai yang ada di ROP. Setelah selesai kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke titik camp kedua.  Hari ini kami berjalan sangat lambat sehingga waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB namun kami belum sampai di titik camp kedua. Hujan mulai turun namun kami tidak kunjung menemukan tempat camp yang pas untuk bivak alam, kami terpaksa membangun camp di tempat yang tidak terlalu luas. Malamnya kami melakukan aktivitas tidur kalong. Saat memanjat pohon saya lumayan kesulitan karena tinggi dan licin sehingga saya harus menggunakan foot loop, ketika berhasil naik kaki saya tersangkut di antara cabang pohon yang sempit. Saya berusaha melepaskan kaki saya dibantu tiga orang pendamping namun tetap tidak bisa sehingga salah satu cabang harus ditebang. Kemudian saya turun dan pindah ke pohon yang lain di dekat camp, naasnya rambut saya sedikit terbakar akibat tertidur sebentar. Setelah pukul 03.00 WIB saya baru turun dari pohon, kini giliran shift kedua yang melaksanakan tidur kalong.

HARI KE-TIGA
Tanggal 19 Maret 2023

Pada pukul 05.30 WIB saya terbangun karena berhubung camp kami menghadap ke arah timur, pagi ini kami disuguhkan pemandangan sunrise yang syahdu. Sembari menikmatinya, kami mulai bersiap untuk sarapan serta membereskan camp yang kemudian dilanjutkan belajar materi GPS, di titik camp ini kami juga melihat burung elang yang sedang terbang mencari mangsa. Pukul 09.00 kami mulai melanjutkan perjalanan mencari titik camp bivak alam untuk mengejar ketertinggalan kami. Di hari ketiga ini target kami adalah mampu mempraktikkan bivak alam lalu di lanjutkan perjalanan pulang. Pukul 11.22 WIB kami berhasil menemukan tempat yang sesuai untuk mendirikan camp bivak alam.

Di hari ketiga ini saya merasa tidak enak badan, teman-teman yang lain juga sudah kelelahan sehingga ketika mencari bahan-bahan untuk membangun camp kami bergerak sangat lambat. Pukul 14.00 WIB seharusnya kami sudah selesai membangun bivak alam dan juga makan siang namun akibat dari lambatnya pergerakan kamu mengakibatkan bivak alam yang selesai tidak sesuai waktu yang ditargetkan. Kami baru dapat menyelesaikan bivak alam pada pukul 16.30 WIB kemudian dilanjutkan persiapan untuk melanjutkan perjalanan. Sebenarnya perjalanan ketika hari mulai gelap sangat tidak dianjurkan karena memiliki resiko yang besar namun kami harus terus bergerak karena target kami hari ini harus sudah kembali pulang. Sore ini tidak turun hujan namun entah kami sedang beruntung atau sial kami kembali berkelana dengan halimun yang menutupi pandangan kami saat turun.

Kami berjalan sangat lambat disamping karena gelap dan juga jalur yang membingungkan, malangnya teman kami, Nindy, kembali merasakan sakit di telapak kakinya setelah PDA kemarin. Kami membantu dan memberi semangat kepadanya. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB kami berhasil keluar dan menemukan jalan desa kemudian kami segera menghubungi bapak angkot yang seharusnya menjemput kami namun beliau menolak untuk menjemput kami karena hari sudah malam. Kami mencari alternatif lain sambil berjalan mencari warung untuk sekedar jajan.

Beberapa dari kami sudah berjalan jauh di depan dan disusul oleh saya, Kak Fio, dan Nindy yang berjalan di belakang. Suasana desa saat itu sangat sunyi, pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat. Kami bertiga berjalan menyusul yang lain. Ketika melihat bangunan seperti warung dan mendengar suara orang mengobrol kami bergegas maju untuk menghampiri tempat tersebut. Ketika kami mendekat ternyata bukan teman-teman kami yang berada di situ melainkan warga desa yang sedang berjaga. Kami menyapa mereka dan kembali mencari teman-teman yang lain, namun kami ditawari untuk di berikan tumpangan dan istirahat sebentar di rumah warga. Warga desa disini sangat ramah, kami berbincang sembari menunggu yang lain membawa angkutan. Sekitar pukul 21.00 WIB teman-teman kami datang menyusul dengan mobil angkutan, kami kemudian berpamitan dan berterima kasih kepada warga setempat.

Tulisan Oleh: Puspa Mulya Aryani Ramadanti | AM-019-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Drama Perpisahan

Sebuah kisah dari kegiatan saat materi survival Pendidikan Dasar Astacala 20. Para siswa yang berhari-hari melalui medan pendidikan dasar bersama, otomatis membuat rasa persaudaraan...

Pendakian Atap Tertinggi Bumi Pasundan, Langit Biru di Balik Awan Kelabu

Pendakian kali ini menjadi penghujung liburan di semester ganjil yang hanya sebentar. Masih bermain di sekitar Jawa Barat. Puncak tertinggi di Jawa Barat adalah tujuannya.

Penurunan Tanah Semakin Mengancam, Gunakanlah Air Secara Bijak!

Pernah mendengar isu penurunan permukaan tanah karena air? Kira-kira apa ya hubungannya? Secara garis besar, lapisan tanah terdiri dari lapisan organik, lapisan kaya organisme, lapisan...