Diary of Cakar Alam


Pendidikan Dasar Astacala XXIII
Pendidikan Dasar Astacala XXIII

14 November 2014 upaca pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXIII. Pendidikan Dasar Astacala (PDA) adalah tahap awal yang harus kami lalui sebagai siswa astacala untuk menjadi anggota Astacala dimana sebelum di laksanakan kami mengikuti pelatihan fisik selama 3 minggu, yaitu lari keliling kampus, push up, sit up dan back up. Serta materi Lingkungan Hidup yang di sampaikan oleh kak Handung (A-088-JR) disaat selesai upacara pembukaan, Navigasi Darat yang disampaikan oleh kak Bayu Wicaksono(A-077-JR), materi Packing yang disampaikan oleh kakak Blasius (A-080-JR), dan materi Gunung Hutan yang disampaikan oleh kakak Fitra Arifyanto (A-108-LH). Selanjutnya kami mengikuti kegiatan simulasi praktek kecil PDA XXIII selama 2 hari pada 29-30 Nopember 2014. Saat praktik kecil ini kami tidak hanya belajar tentang navigasi darat ataupun ilmu alam lainya, kami mendapatkan rasa persaudaraan, sifat yang awalnya apatis tidak peduli sesama disini kami dididik untuk saling satu rasa.

27 Desember 2014 kami dikarantina di Student Center untuk persiapan keberangkatan praktek besar PDA XXIII. Tepat pukul 04.00 pagi 28 Desember 2014 dengan hentakan kaki yang menggemparkan sc serta teriakan Astacala!!! Astacala!!! Astacala!!! kami berangkat dari SC menuju lokasi praktek besar PDA XXIII dengan doa harap penuh untuk tetap menjaga semangat kami.

Pemberangkatan dari Student Center
Pemberangkatan dari Student Center

05.55 kami sampai pada titik pertama untuk melakukan long march yang dikomandani oleh bang Buyung (A-117-MG). Sebelum berangkat kami memplot titik pemberhentian kami terlebih dahulu. Pukul 08.00 pagi masing masing packingan kami di cek satu persatu di sungai kecil, beruntungnya kami semua packing dengan tepat. Dalam perjalanan long march kami selama satu hari tentunya mendapatkan banyak pelajaran tentang disiplin waktu, saling mengingatkan antar sesama, serta saling menyemangati. Dalam perjalan long march atau hari pertama PDA XXIII kami banyak melakukan kesalahan karena kelalaian kami serta kekurangan disiplin kami.

Dinginya udara yang menggetarkan bibir kami derasnya hujan yang membasahi baju hitam kami,tapi semangat ini tetap kami pertahankan untuk membuat bivak ponco kami pada hari pertama. Dengan mata yang berair serta tangan yang yang tak henti untuk ayun kiri kanan untuk memperjuangan si jago merah demi mendapatkan setitik kehangatan.

Baca juga:   Untuk Angin Puncak
Long March
Long March

29 Desember 2014 pukul 05.14 wib pagi. Melihat baju lapangan kami yang basah sampai berpikir dua kali untuk mengenakanya. Sehingga Kami telat 15 menit untuk melakukan senam pagi, kamipun keliling jongkok 15 putaran yang langsung diperintahkan oleh bang Boleng (A-071-KA) yang belum kami kenal saat itu.

Pagi itu juga kami kehilangan 2 saudara kami. Apa boleh dibuat mereka mundur bukan karena fisik dan mental yang lemah, bahkan mereka lebih kuat dari kami, tapi memang tuntutan kesehatan mereka yang tak bisa dielakan. Mereka tak pernah menginginkan itu tapi itu jalan 2 saudara kami tersebut. Pagi itu cerah tapi langit seperti berkabut hutan yang hijau tampak hanya seperti hitam putih, pagi itu kami seperti kehilangan bara semangat tapi mereka terus memotivasi kami dengan mengucapkan “kami tunggu kalian dipenutupan” kata kata itu yang membuat kami tambah semangat menjalani PDA XXII ini.

Pergantian sesi, selanjutnya masuk ke sesi Gunung Hutan yang dikomandani oleh kakak Yulisna (A-115-LH). Kami melanjutkan perjalanan dengan menyisiri hutan yang tak pernah kami kunjungi. Setiap pemberhentian kami memploting lokasi kami di peta. Pukul 14.45 kami berada di kaki gunung Haruman untuk melakukan camp ke dua. Lagi lagi kami tidak disiplin waktu untuk membuat bivak ponco serta api sehingga malam itu kami mendapatkan hukuman. Pukul 23.00 wib tidak ada lagi aktivitas tetapi kami melanggar itu karena kami masih sibuk dengan si jago merah. Terdengar teriakan dari jauh suara yang tak asing lagi yaitu suara bang Jefri (A-114-MG) “5 menit lagi kalau masih ada yang melakukan kegiatan akan kalian tau sendiri akibatnya”. Serentak semua siswa langsung senyap dan menutup kepala dengan sarung bag.

Gunung hutan hari ke-2 kami melanjutkan perjalan ke lokasi selanjutnya. Di GH ke-2 kami mendapatkan materi Komunikasi Lapangan dan Man to Man yang. Pukul 21.05 wib hanya ada 2 kelompok yang berhasil membuat api dari 6 kelompok padahal malam itu tidak ada hujan. Akhirnya kami dikumpulkan di lokasi panitia untuk di berikan evaluasi, setelah evaluasi kami di arahkan ke sungai dan disuruh membasahi seluruh badan dari situlah kami mendapatkan pelajaran betapa pentingnya api di alam bebas. Kami mendapat kan pencerahan dari bang Boleng dengan kata kata yang membangkitkan jiwa semangat kami lagi “Kami bukan pembuat candi tapi kami hanya pengangkat batu”. Kata kata itu sangat membekas dalam hati kami malam itu. Setelah itu kami pun berlomba lomba untuk menghidupkan api dan mulai istirahat sesuai waktunya.

Baca juga:   Praktik Kecil Pendidikan Dasar Astacala XXV, Menanamkan Jiwa Kedisiplinan dan Jiwa Korsa
Tes Packing
Tes Packing

Terdengar suara seorang siswa yaitu Seno yang berjalan satu persatu mendatangi bivak kami membangunkan kami untuk senam pagi kami sebut namanya alarm berjalan. Berkat dia jugalah kami sudah jarang terlambat bangun pagi, serta lebih banyak waktu kami untuk sarapan serta packing. GH ke-3 tiba. Pagi ini kami mendapatkan materi botani dan zoologi kali ini kami langsung mencari tumbuhan dan hewan yang bisa dimakan dengan bimbingan dari kakak panitia sampai pukul 12.00.

Sesi terakhir adalah sesi yang paling menantang mental yaitu sesi survival. Disini kami diajarkan bagaimana cara bertahan dialam bebas tanpa logistik,kami hanya di beri membawa survival kit, PPPK, lilin 2 batang, ponco, jerigen, matras, dan trashbag. Kali ini carrier kami terasa ringan. Survival pertama kami itu masih seperti kaku untuk membuat bivak sehingga kami selalu telat dan menyita waktu istirahat kami. Kami akui ketika membuat bivak kami itu kurang kompak serta kurang komunikasi antar anggota kelompok sehingga bisa menghambat pembuatan bivak. Begitu juga survival hari kedua dan ketiga kami tidak pernah tepat waktu untuk menyelesaikanya karena ada saja kendala saat sedang mengerjakanya salah satunya adalah bahannya yang sukar di dapat. Sebelum membuat bivak terlebih dahulu kami disuruh mencari makanan dari alam. Makanan pokok kami selama survival adalah bonggol pakis karena selama survival 3 hari kami tidak pernah mendapatkan cacing Sondari. Disini kami makan bersama sama hasil dapatan kami. Disini kammi belajar untuk tidak egois serta mementingkan diri sendiri. Disaat survival ini kami mencoba untuk mengutamakan kebersamaan walaupun terkadang kami masih terlihat apatis.

Hari terakhir bivak, kami dibagi lagi 2 orang tiap kelompok, di saat buat bivak terakhir kami merasakan sangat lelah saat itu karna kaki kami yang sudah mulai berkutu, tangan kami yang sudah mendapatkan goresan alam ditambah lagi dengan hujan yang deras. Tetapi malam itu kami terus berusaha untuk membuat bivak dan api tapi memang kondisi saat itu tidak mendukung sekali sehingga kami mengungsi di tempat beberapa kelompok yang memiliki api serta makan bonggol pakis bareng bersama. Malam itu juga kami disuruh berjalan menuju suara arus sungai kami pun direndam diarus sungai lalu kami di suruh berteriak astacala, disaat seperti itu dinginya cuaca yang menggetarkan bibir kami tetapi kami merasakan hangat nya kekeluargaan karna kami dikelilingi beberapa senior astacala lainya. Dan malam itu kami tidur kalong diatas pohon dengan memakai ponco dan diberikan satu batang lilin yang menyala untuk kehangatan, kami tidak dibolehkan tidur malam itu karena posisi kami saat itu adalah belajar survival. Pukul 04.05 kami di beri masukan masing masing dua orang satu kakak panitia untuk memastikan hati kami di astacala serta keseriusan kami di Astacala.

Baca juga:   Praktik Kecil Pendidikan Dasar Astacala XXIV
Mendiskusikan Nama Angkatan Kami
Mendiskusikan Nama Angkatan Kami

Tepat jam 5 pagi kami langsung packing dan melanjutkan perjalanan ke tempat penutupan dengan mata yang begitu terasa di lem saat pagi itu kami berjalan pagi itu sambil tertidur, bahkan ada beberapa yang terjatuh pagi itu. Dari kejauhan kami melihat kibaran bendera merah putih dan bendera astacala pertanda saat itu juga kami sampai pada puncak kegiatan. Rasanya saat itu kami adalah orang paling bahagia, kami disambut kakak kakak yang memakai slayer merah. Pukul 7.45 upacara penutupan dimulai. Mulut ini rasanya ingin berteriak kuat dan berkata “kami bisaaaaa”. Disaat pembagian slayer kami merasakan kami mempunyai tanggung jawab yang lebih besar lagi. Kami tutup kegiatan dengan makan nasi kuning beramai-ramai bersama senior lainnya yang jauh diatas kami dengan tawa bahagia. Saat itu adalah hari paling bahagia bagi kami semua, dan betapa beruntungnya kami masuk dalam keluarga ini, keluarga Astacala. ASTACALA!!! ASTACALA!!! ASTACALA!!!

Tulisan oleh Siti Hartinah ~ CAKAR ALAM

Foto Dokumentasi Tim

  • Panitia PDA

    Tulisannya bagus
    Jgn berhenti nulis ya anak muda
    ^^

  • Temennya Panitia PDA

    Lumayan bagus untuk tulisan perdana. Kesalahan penulisan kata dan struktur kalimat kedepannya mungkin bisa dikoreksi lagi.

  • Tetangganya Panitia PDA

    Masih perlu banyak blajar anak muda.
    Edit lgi ni.

  • Hmmm…

  • Juragan Minyak

    Mantap gan!!! Selamat yach. Jangan lupa klo mo beli minyak hubungi ane gan!!!

  • Mantan Panitia PDA

    Cukup baik lah.. Rajin rajin nulis bro..

  • Calon Siswa

    tahun depan , tolong saya di latih ya kak.

  • Temennya Penulis

    nulisnya yang bener woy, kacau kali seperti sifat ko

  • ifarama

    Maju terus, anak muda!!! kuatkan cakarmu !!! Nusantara membutuhkan kalian!!!

  • cewe paling lucu di sekre

    Perbanyak lagi tulisannya. Biar yang lain tau, Cakar Alam juga punya cerite.. 😀