Banjir Bandang, Kering Kerontang, Bangunlah Resapan Airmu!

Memasuki musim penghujan, banjir menjadi sebuah hal yang sudah diperkirakan kedatangannya di berbagai daerah. Media massa berlomba-lomba menyiarkan berita tentang hal tersebut, yang menyita perhatian dan simpati bagi korban maupun cercaan untuk penata kota. Dahulu, banjir yang hanya melanda daerah pemukiman warga yang terletak di bantaran sungai, saat ini juga berdampak pada daerah yang jauh dari sungai.

Lain halnya di musim kemarau. Air bah yang tadinya membanjiri tiba-tiba saja hilang di daratan, Sebagian menguap, sisanya menuju lautan. Masyarakat yang tadinya kebasahan, kini kekeringan. Inilah saatnya krisis air bersih datang, dan lagi-lagi masyarakat menjadi korban  yang menderita.

Kira-kira Apa Penyebabnya? Mari Kita Telusuri!

Jawabannya dapat ditilik tokoh utama dari sisi alam kedua kejadian tersebut. Air, salah satu zat yang paling dibutuhkan makhluk hidup di muka bumi ini, memiliki siklus tersendiri di bumi. Seperti kata pepatah, air yang diam akan membusuk, begitupun air diciptakan terus bergerak, berubah wujud, begitu seterusnya. Dari mulai bentuknya berupa uap air di udara, turun menjadi hujan di muka bumi, dan mengalir ke sungai, lalu ke laut dan kembali menjadi uap air melalui penguapan.

Dalam proses itu, tidak semua air dialirkan ke sungai. Ketika mencapai tanah, secara alami air akan diserap. Namun, bukan sembarang tanah yang mampu menyerap air, tergantung jenis tanah dan apa yang ada di permukaannya, tanah gundul atau tanah dengan vegetasi. Tanah gundul bisa saja menyerap air, tetapi tentu saja tidak sebaik tanah dengan vegetasi di atasnya. Vegetasi alami berguna untuk penyerapan dan penyimpanan air serta menjaga kestabilan tanah. Oleh karena itu, air, tanah, dan vegetasi saling mendukung dalam proses alami penyimpanan air.

Ketika manusia di perkotaan berlomba-lomba membangun infrastruktur, seperti rumah, jalan, dan bangunan, terkadang mereka lupa akan proses alamiah tersebut. Era modern, industrialisasi, globalisasi, dan segala –isasi lainnya, pembangunan tiada habisnya, menjadikan lahan penyerapan air dan penumbuh vegetasi tersebut semakin habis. Fakta bahwa peraturan pemerintah untuk menyisakan lahan hijau tidak jelas, kebutuhan pribadi akan kendaraan bermotor semakin meningkat, membuat rumah pribadi, kantor, hotel, dan bangunan lainnya lebih mengutamakan lahan parkir dibanding penghijauan.

Baca juga:   Sampah Lagi, Sampah Lagi…
Water Cycle

Setelah itu, semua orang baru menyalahkan hujan ketika banjir tiba, dan matahari ketika kemarau tiba. Sebenarnya, penyebab utama dari kejadian tersebut antara lain karena drainase yang kurang tertata, waduk penampungan air yang kurang dikelola, sampai hilangnya area rasapan air di dataran tinggi. Memang beberapa hal yag disebutkan itu merupakan masalah skala besar, tapi bukan berarti itu menjadi salah pemerintah sepenuhnya. Ada hal lain yang pelan-pelan dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak ini, yaitu dengan membangun resapan air mulai dari lingkungan rumah sendiri.

Sumur Resapan Air

Dengan banyaknya resapan air, tanah dapat menampung kelebihan air hujan, sehingga meminimalisasi pembuangan air ke sungai-sungai. Ketika musim kemarau, sumu-sumur rumah tidak akan kekurangan air sebab tanah kita menyimpan cadangan air yang cukup besar.

Hubungan antara air, tanah, dan vegetasi sangat efektif dalam menjadi resapan air yang ideal; Tanaman menyimpan air dan tanah menyerap air. Efek lainnya, rumah jadi lebih segar karena tanaman juga menghasilkan udara segar yang pastinya membuat rumah sejuk, hijau, dan sehat. Air yang dihasilkan karena resapan alami ini juga kualitasnya bagus loh, penyaringannya dilakukan oleh alam.

Rumah dengan halaman sempit? Jangan kuatir! Ada teknologi baru bernama biopori. Konsep dari biopori ini lubang atau liang di dalam tanah dengan diameter 10 – 30 sentimeter, dengan panjang 80 -100 sentimeter yang bermanfaat meningkatkan resapan air hujan. Lubang ini berfungsi mengalirkan air sehingga mampu menjadi cadangan air bagi air bawah tanah.

Penampakan Lubang Biopori

Selain berguna mengalirkan air ke tanah, biopori dapat bermanfaat untuk membuat kompos atau pupuk tumbuh-tumbuhan. Sampah di dalam lubang biopori dimakan rayap lalu diuraikan cacing serta mikroba menjadi kompos, dan bisa diambil hasilnya untuk menyuburkan tanaman.

Anda dapat membuat lubang biopori pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, di sekeliling pohon, atau pada tanah kosong antar tanaman. Nah, cara pembuatannya, pertama setelah memilih tempat untuk biopori siapkan dulu alur untuk jalannya aliran air.

Agar lebih mudah mengebor pakailah bor biopori. Lubang silindris di tanah dibuat dengan diameter 10 – 30 sentimeter, kedalaman 80 -100 sentimeter, serta jarak antar lubang 50 – 100 sentimeter. Mulut lubang dapat diperkuat dengan lapisan semen agar tanah di sekelilingnya tidak rontok dan menutupi lubang, seluas 2 sentimeter dan lebar 2-3 sentimeter. Beri peringatan atau pengamanan, agar tidak ada yang terperosok ke dalam lubang.

Baca juga:   IT Telkom Menanam Bersama FAST
Komposisi di Dalam Lubang Biopori

Setelah lubang siap, masukkan sampah rumah tangga organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur nonkimia hingga penuh. Sampah di dalam lubang akan dimakan rayap, diurai mikroorganisme dalam tanah. Sampah akan menyusut sehingga dapat  diisi kembali, dan dapat dipanen sebagai pupuk dalam jangka waktu tertentu.

Bagaimana? Sudah siap mengurangi efek banjir dan Kekeringan? []

Tulisan oleh Bramanti Kusuma Nagari
Gambar Diambil dari Google Images
Referensi dari Kompas Properti