Reinkarnasi Kami, Duri Samsara – Pendidikan Dasar Astacala XXIV

Aku lahir dan besar di Kalimantan yang dijuluki paru-paru dunia. Aku merasa tergugah dengan bencana yang sedang trend di Indonesia, yaitu kabut asap. Aku merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi negeriku tercinta. Khususnya Kalimantan, tanah moyangku yang hancur dibabat habis oleh serakahnya kota. Mulai dari pertambangan berlian, minyak, hingga pembalakan lahan. Aku ingin anak cucuku tidak hanya bisa mendengar kisah dari orang tuanya bagaimana lestari dan lebatnya hutan Kalimantan hasil dari kebesaran Tuhan, tetapi aku ingin mereka melihatnya secara langsung.

Dalam benakku terpikir apa yang sudah aku lakukan untuk tanah airku ini. Itulah yang mendorongku untuk masuk di Perhimpunan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Telkom, yaitu Astacala. Untuk bisa menjadi ‘perahu’ yang membawaku ke tujuan tersebut. Bermodalkan tekad dan nekat tanpa tahu apa itu ‘Mapala’, berangkatlah aku ke Sekretariat Astacala untuk menyamakan persepsiku dengan Astacala itu sendiri. Setelah penyamaan persepsi dari proses wawancara, aku pun yakin dan mantap untuk menjadi bagian dari keluarga ini.

Angkatan Duri Samsara
Angkatan Duri Samsara

Dari 127 orang yang mendaftar Pendidikan Dasar Astacala (PDA) XXIV, hanya tersisa dua puluh orang yang bertahan. Mungkin mereka yang tersisih merasa berbeda persepsi dan berbeda tujuan dengan Astacala. Serangkaian acara telah kami–aku dan sembilan belas siswa yang bertahan-lalui untuk menjadi keluarga baru di Astacala. Terdapat enam orang perempuan dan empat belas orang laki-laki yang berasal dari berbagai daerah dan masing-masing berbeda sifat, ideologi, tujuan dan mempunyai egonya sendiri.

Setelah melakukan beberapa rangkaian PDA XXIV, sampailah kami di rangkaian terakhir untuk menjadi anggota muda Astacala, yaitu Praktik Lapangan Besar. Menggunakan seragam lapangan lengkap dengan slayer jingga, kami berangkat menggunakan satu buah truk bersama para anggota Astacala. Disinilah proses yang selama ini digadang-gadangkan oleh Astacala akan dilakukan,

“Kami hanya mengantarkan, alam yang mengajarkan”.

***

Hari pertama, yang bertepatan dengan tanggal 27 Desember 2015 diawali dengan shalat berjamaah bagi yang beragama muslim di masjid milik warga sekitar. Kami semua berdoa agar dimudahkan dan dilancarkan dalam Praktik Lapangan Besar ini. Kami melakukan proses pertama perjalanan panjang Long March (LM) dengan jarak kurang lebih 20 km yang dikomandani oleh Dhiky Wahyu Santoso (A – 105 – LH). Kami memulai LM dari Kantor Kecamatan Gunung Halu sebagai titik awal. Kemudian, kami berjalan beberapa kilometer dan melakukan tes packing di bawah jembatan yang terdapat di desa tersebut. Tes packing bertujuan untuk mengetes apakah kami mem-packing segala macam barang dengan cara yang benar. Seandainya salah, maka semua isi didalam carrier akan basah. Mulai dari perlengkapan pribadi, peralatan masak, hingga logistik yang dapat membusuk karena lembab terendam oleh air. Memberi dampak kepada kami yang akan kelaparan dan kedinginan selama di hutan jika hal itu terjadi.

Baca juga:   Lahirnya si Bungsu: Cakar Alam
Siswa Melakukan Navigasi
Siswa Melakukan Navigasi

Matahari mulai jatuh ke ufuk barat, hari beranjak sore. Kami bersiap-siap untuk membuat camp sederhana. Dengan bermodalkan tiga ponco, jadilah camp sederhana yang melindungi kami dari dinginnya malam yang menusuk hingga ke tulang. Hari berganti menjadi pagi, kami pun siap untuk menyongsong hari ini. Akan tetapi, ada sedikit kejadian yang mengiris hati. Ternyata kami masih belum mampu menjaga alam karena masih ditemukan beberapa sampah di sekitar camp milik kami. Komandan pun memberikan hukuman push-up dan koprol kepada kami. Kupikir ini hukuman yang setimpal, kami yang bertujuan untuk menjadi pecinta alam malah menjadi perusak alam.

Hari berganti hari, proses LM pun berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan proses yang kedua, yaitu Gunung Hutan  (GH) pada tanggal 29 Desember 2015. Komando diambil Mohammad “Ucup” Nuruzzamaniridha (A – 119 – AF) selaku komandan GH. Sebelumnya, atau tepatnya di tengah malam sunyi, kami merasakan dinginnya air sungai yang biasa disebut Aklimatisasi. Kami merasa sangat dingin dan mental kami pun mulai buyar. Aklimatisasi bertujuan untuk menyesuaikan suhu tubuh. Akan tetapi, gunung memiliki cuaca sendiri yang tidak mudah diterka, yang mengakibatkan malam kami terasa begitu panjang.

Jalur yang kami tempuh semakin sulit. Dari jalan yang awalnya hanya datar jadi menanjak. Melintasi kurang lebih lima puncakan. Terasa mustahil bagiku yang baru terjun ke dunia mapala, tetapi dengan dorongan semangat dari teman-teman yang akan menjadi keluargaku semua terasa menjadi lebih mudah.

Kami sudah menjalani beberapa hari bersama di pendidikan ini, solidaritas mulai terpupuk di antara kami. Namun masih saja kesalahan yang sama terulang. Kami masih menyisakan sampah dan juga terlambat packing pertanda kami belum benar-benar disiplin. Mungkin masih terdapat ego yang kuat dalam diri kami, tak bisa dipungkiri aku pun masih merasakannya. Walaupun mental kami mulai drop dikarenakan beban carrier yang berat dan sulitnya melewati medan gunung hutan, kami tidak mempunyai niat utuk mundur.

Materi Komunikasi Lapangan
Materi Komunikasi Lapangan

Pada tanggal 31 Desember 2015, tongkat kepemimpinan diserahkan ke Atdriansyah “Buyung” Arismunandhar (A – 117 – MG) sebagai Komandan Operasional. Di sinilah proses kelahiran kembali kami begitu kental. Karena pada proses ini, tidak ada lagi rasa ingin menang sendiri. Kekeluargaan yang erat begitu terasa disini. Pada tahap Survival hanya menyisakan survival kit, satu botol garam dan dua botol lilin. Walau dengan stamina yang sangat menurun dan kondisi fisik yang digerogoti rasa lapar di perut, kami sangat sumringah. Di proses ini, alam terkadang bersahabat terkadang tidak sama sekali tak terduga.

Baca juga:   Pendidikan Dasar Astacala 19

Alam sudah memberikan segalanya, tinggal kita memetiknya. Pepatah ini akhirnya benar-benar aku rasakan dan juga akhirnya kami menjadi lebih menghargai apa artinya hidup, dan bagaimana cara menghargai makanan. Dengan semangat hidup yang tinggi dan kekeluargaan yang kental, rasa lapar diperut mulai terobati. Kami menemukan bahan makanan yang sudah disediakan alam, seperti bonggol pakis, jantung pisang, begonia, inti pisang, serta cacing sondari yang rasanya seperti kikil sapi, makanan yang begitu mewah saat ini.

Malam tahun baru yang biasanya aku lalui bersama teman dan keluarga untuk berpesta pora, aku lalui dengan sederhana. Satu nesting sup cacing sondari dan satu nesting air hangat menemani kami melalui malam tahun baru. Sederhana memang, tapi jauh lebih berkesan daripada tahun baru sebelumnya. Aku merasa seperti lebih menjadi manusia seutuhnya, bagaimana orang-orang diluar sana yang tidak merasakan tahun baru. Untuk makan sekalipun mereka kesusahan.

Proses Survival sampai pada pengujungnya. Tibalah kami pada saat yang benar-benar kami nantikan. Hari yang tidak akan aku lupakan sampai aku mati nanti. Tepat pada tanggal 3 Januari 2016 di Bumi Perkemahan Rancaupas Upacara Penutupan Pendidikan Dasar Astacala XXIV dilakukan dengan sakral.

Wajah lesu yang diakibatkan oleh proses panjang survival mulai memudar dan berubah menjadi senang. Karena di tempat tersebut, kami sudah disambut cerahnya matahari pagi yang seolah tersenyum menyambut kedatangan kami. Puluhan anggota Astacala dari Angkatan Honje hingga angkatan yang terbaru, yaitu Cakar Alam hadir disana.

Kibar bendera Astacala bersanding dengan gagahnya bendera Indonesia semakin membuat kami bersemangat. Kami berkumpul untuk menentukan nama angkatan. Beberapa nama dicetuskan, mulai dari Duri Umbara, Cerah Hujan, Bara Purnama sampai Duri Samsara. Duri, yang selama PDA XXIV menemani perjalanan kami. Memberikan iritasi sampai luka yang dalam bagi beberapa siswa. Dua mata siswa pun tak luput merasakan tajamnya duri yang mengaburkan pandangan. Bahkan sampai upacara penutupan pun duri itu masih tertancap di dalam kulit kami. Samsara, yang menurut beberapa ajaran berarti kelahiran kembali atau tumimbal lahir atau reinkarnasi. Kami seangkatan seolah terlahir kembali menjadi pribadi yang lebih menghargai akan arti hidup, bagaimana ganasnya alam, semangat hidup yang tinggi, dan juga rasa kekeluargaan, rasa peduli akan sesama. Banyak pelajaran dari alam yang membuat kami jadi lebih baik. Seperti rasa takut yang acap kali menjadi kelemahan justru menjadi kompas untuk menemukan petualangan menarik. Berkat PDA XXIV ini juga kami dikelilingi orang-orang yang saling menjaga dan mendukung kami, sehingga muncul rasa yang besar untuk membalasnya pula. Kami juga berlatih bersyukur setiap harinya dari apa yang sudah alam berikan, besar maupun kecil. Tidak hanya hal luar biasa, dalam berlatih pun kami menciptakan ruang untuk hal-hal berlimpah. Sukacita, cinta, kesehatan, dan kesejahteraan. Hidup terlalu singkat untuk sesuatu yang kurang.

Baca juga:   Untuk Angin Puncak

Aku mengutip kata-kata dari H. Roland Holst untuk angkatan setelah kami “Kami bukan pendiri candi, hanya pengangkut batu batu. Kami angkatan yang akan binasa. Semoga generasi yang lebih baik, bangkit diatas kuburan kami”

ASTACALA!!!

Tulisan oleh Aulia Rahman (AM – 018 – DS)

Foto Dokumentasi Astacala

  • Pari

    ASTACALA…!!!

  • AM-006-CA

    Lanjutkan perjuanganmu nak, jalanmu masih jauh, jauh sekali^^

  • AM – 020- DS

    Duri Samsara
    ASTACALA!!