Kondisi Alam Bali Kian Memprihatinkan – Di Darat Bopeng, di Laut Keropos

Related Articles

Kondisi alam Bali tampaknya tak lagi aduhai sebagaimana dikecapkan di brosur-brosur pariwisata. Berbagai temuan memperlihatkan kondisi alam Bali sudah memprihatinkan. Hutan Bali terus menyusut, lahan pertanian beralih fungsi. Daratan di beberapa tempat bopeng. Sementara di laut, hamparan karang rusak berat dan bibir pantai terus digerus gelombang. Masihkah kita berpangku tangan?

Kerusakan alam di lautan seantero Bali ternyata separah apa yang terjadi di daratan. Kalau di darat bopeng, di laut juga setali tiga uang. Keropos! Data yang dihimpun Bali Post menyebutkan, sampai akhir tahun 2005 sekitar 23,19 persen terumbu karang di Bali musnah. Dari 61.13 km2 total luas terumbu karang di Bali, saat ini tinggal 50,05 km2. Kondisinya pun sudah parah, yakni 34,93 km2 (68,81 persen) dalam kondisi buruk, 10,73 km2 (21,45 persen) cukup baik, dan hanya 4,37 km2 atau 8,74 persen yang masih dalam kondisi baik.

Aktivis lingkungan yang juga praktisi pariwisata I Gusti Agung Prana mengaku sangat prihatin dengan kerusakan terumbu karang. Bagi nominator Sasaka Award — penghargaan internasional di bidang lingkungan — ini upaya rehabilitasi mutlak harus dilakukan.

Berangkat dari keprihatinan itu, Prana mengembangkan pelestarian karang di Desa Pemuteran, Buleleng bersama masyarakat setempat. Dua pakar kelautan dunia Prof. John Wolf Hilberrtz dan Dr. Thomas J. Goreau pernah mengunjungi Karang Lestari Pemuteran yang dipimpin Agung Prana. Kedua pakar itu sempat memperkenalkan teknologi rehabilitasi terumbu karang dengan metode tambahan mineral (mineral accretion). Kini, hasilnya sudah bisa disaksikan di Pemuteran.

Seiring dengan itu, di sana juga telah dibentuk ‘’pecalang laut’’ untuk memantau aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.

Agung Prana tak sendiri. Nengah Manumudhita juga melakukan upaya yang sama. Bekerja sama dengan Yayasan Giri Baruna Lestari, mantan Kadis Perikanan Badung ini memperkenalkan teknik propagasi. Teknik penyambungan karang ini telah diperkenalkan di Sawangan, Tanjung Benoa, Buleleng, Karangasem dan Klungkung. Para nelayan di Serangan juga pernah menyerap temuan Manumudhita yang dirintisnya sejak tiga tahun lalu. Dengan cara yang sederhana, walaupun masih sebatas arealnya, langkah-langkah kecil seperti itu bisa besar maknanya di masa depan. []

Sumber : Balipost Online, Edisi 24 Agustus 2006

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Sekali Mendaki Fuji, Puncak Tertinggi Negeri Matahari Terbit

Gunung Fuji atau Fujisan adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Shizuoka dan Yamanashi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji terletak dekat pesisir...

Ekspedisi Everest 2007

{nl}         Sepuluh wanita Indonesia siap menaklukkan Gunung Himalaya dengan mendaki puncak Everest. Rencananya, Tim Ekspedisi Putri Indonesia 2007 itu akan melakukan pendakian pada...

Sehari ke Pohen

Tak banyak yang tahu tentang sebuah gunung di Bali yang bernama Pohen. Karena memang kurang dikenal. Tak seperti Gunung Agung atau Gunung Batur yang...