Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 4)

Jalan makin lama makin mengecil. Berlumpur dan dialiri air. Sepatu saya basah karena tercelup lumpur. Kotor kehitaman. Ada satu dua pohon tumbang. Kami lewat di bawahnya. Sepeda tak bisa dikayuh. Hanya bisa dituntun.

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 4)

 

Hari sudah sore. Beberapa warga sekitar ada yang mandi di bawah jembatan Sungai Telaga Waja. Airnya memang jernih. Mengalir dari kaki Gunung Agung di utara sana. Sementara, kendaraan berlalu-lalang melewati jembatan.

Saya dan Anatoli Marbun “Bolenk” baru saja tiba di jembatan ini. Batas Kabupaten Klungkung dan Karangasem. Setelah sebelumnya bersepeda dari Desa Suter di Kintamani. Sampai kemudian tiba di sini, di Desa Tangkup. Empat etape sudah kami lalui. Selanjutnya, kami akan menempuh etape kelima. Etape terakhir dari jalur bersepeda kami.

Etape Kelima : Tangkup – Semarapura

Di seberang jembatan, adalah Desa Selat. Tepatnya, kawasan yang bernama Banjar Apet. Kami mulai mengayuh sepeda ke sana. Melewati jembatan. Kemudian jalan menanjak. Tanjakannya hanya belasan meter. Kami menuntun sepeda.

Ada pertigaan jalan. Dengan pohon bambu yang menyeruak menaungi jalan. Di sana, kami berbelok ke kiri. Menyusuri jalan makadam. Berbatu. Dengan beberapa sampah plastik berserakan. Juga bau kotoran babi. Karena ada peternakan babi.

Kami mengayuh terus. Menyusuri perkebunan pohon sengon. Pohonnya sudah cukup besar dan tinggi. Rasanya sudah cukup untuk dijual. Sengon nama latinnya albizia. Sering disebut albesia. Memang sedang naik daun. Karena tak butuh banyak perawatan. Ditanam di lahan-lahan kosong tak produktif. Tumbuh besar, kemudian ditebang dan dijual. Kadang, sayang juga melihatnya. Tempat yang rindang karena sengon kemudian menjadi lapang dan terbuka. Teduhnya hilang.  Saya memikirkan burung-burung yang mungkin sering singgah di pohon-pohon itu. Atau hewan-hewan yang hidup di sekitarnya. Tapi itulah bisnis.

Jalan makin menurun. Menuju ke arah Sungai Yeh Unda. Tempat Sungai Telaga Waja bermuara. Ceceran pasir mulai banyak. Di depan sana, saya melihat bukit-bukit pasir. Juga bangunan-bangunan yang merupakan pabrik tambang. Ada juga beberapa ekskavator dan truk. Tapi suasananya sepi.

Ini adalah tempat pertambangan pasir. Dua pertemuan sungai yang berhulu dari Gunung Agung ada di sini. Menyebabkan lembahannya yang luas berisi banyak bebatuan dan pasir. Karena hasil erupsi.

Bolenk yang di depan saya kebingungan. Jalan menjadi luas dan banyak cabang. Masuk di sela-sela bukit pasir. Saya menunjukkan arah lebih ke timur. Mendekati sungai. Saya pernah ke tempat ini, dulu. Waktu survey lapangan mencari jalur bersepeda. Yang tak ada jalan jika dilihat hanya dari peta.

Baca juga:   Berita Duka dari Fuad Almoma

Kami mulai menjauhi area pertambangan pasir. Mengayuh ke selatan. Menuju persawahan. Jalannya setapak ditumbuhi rumput. Ada beberapa motor parkir. Sepertinya milik pencari rumput. Karena salah satunya berisi ikatan rumput.

Jalan makin lama makin mengecil. Berlumpur dan dialiri air. Sepatu saya basah karena tercelup lumpur. Kotor kehitaman. Ada satu dua pohon tumbang. Kami lewat di bawahnya. Sepeda tak bisa dikayuh. Hanya bisa dituntun.

Di dekat sebuah gubuk, kami bertemu seorang petani. Ia heran dengan kami yang membawa sepeda ke tempat seperti ini. Tak ada jalan sepeda. Tapi kalau mau terus, ia menyarankan kami untuk mengikuti jalan yang ditunjukkannya. Sekitar dua ratus meter di depan, naik saja ke kanan. Lalu terus ikuti setapak. Nanti akan tembus di tambang pasir Desa Akah. Begitu katanya.

Kami pun berjalan lagi. Juga mengangkat sepeda. Menaiki undakan bebatuan. Ada banyak batu menyembul di persawahan ini. Beberapa petani melihat kami dari kejauhan. Mungkin heran. Ada saja orang-orang iseng bawa sepeda ke tengah sawah.

Setelah beberapa ratus meter menuntun dan mengangkat sepeda, akhirnya kami sampai di area pertambangan pasir lagi. Wilayah Desa Akah. Fiuh. Capek juga angkat-angkat sepeda.

Kami beristirahat. Di samping tumpukan pasir yang rindang karena dibayangi bangunan tambang. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Kami start dari Suter jam sepuluh pagi. Sudah tujuh jam perjalanan bersepeda. Lama juga. Bolenk menertawakan saya, yang mengira jarak Kintamani ke Klungkung bisa ditempuh setengah hari.

Ok. Kota Semarapura di Klungkung sudah dekat. Setelah melewati tambang pasir ini, masih tersisa satu tanjakan terjal. Setelahnya, akan terus menurun sampai ke pusat kota. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami memandang heran. Kami datang dari arah utara. Padahal tak ada jalan dari sana. Saya hanya senyum-senyum saja.

Setelah melalui tanjakan curam, kami sampai di perumahan warga Desa Akah. Beberapa puluh meter lagi, akan ada jalan raya. Saya berbelok masuk gang. Bolenk mengikuti. Walaupun pusat kota sudah dekat, rasanya lebih seru jika tetap mejaga jalur ada di jalan-jalan kecil.

Baca juga:   Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 2)

Gang perumahan yang ditempuh membawa kami ke tepian sawah. Dekat dengan sebuah pura. Dari sini, kami menuju arah jalan raya ke barat. Sesampainya di jalan raya, kami menyeberang. Masuk lagi ke jalan kecil. Menuju area persawahan.

Area persawahan kali ini sudah saya kenali. Ada di sebelah utara Desa Besang. Desa tempat kelahiran saya. Tetapi saya tak tinggal di sana lagi. Sudah lama. Semasa kecil, ketika ada upacara piodalan di pura, saya selalu melihat pohon beringin yang ada di tengah sawah ini. Gagah dan anggun dari kejauhan.

Jalan setapak menyusuri sawah sekitar tujuh ratus meter. Pura di Desa Besang sudah terlihat. Setelah melewati pura, kami pun sampai di ujung aspal jalan desa. Kami berhenti beberapa lama. Foto-foto. Seorang ibu menyapa kami. Ia kaget ketika saya berkata bahwa saya dari Besang. Oh, adiknya Wayan ya? Begitu katanya menyebut nama kakak saya. Saya mengiyakan.

Dari kawasan pura di ujung utara Desa Besang, perjalanan dilanjutkan lagi. Menuju ke selatan. Masih melalui jalan-jalan desa. Menuju Desa Pegending. Jalannya menurun. Beberapa orang yang saya kenal menyapa. Dari mana, Jor? Begitu salah satunya.

Desa Besang dan Pegending sudah bagian dari Kota Semarapura di Klungkung. Jika Besang adalah Semarapura Kaja atau bagian utara, maka Pegending adalah Semarapura Kauh atau bagian barat.

Kami akhirnya tiba di Kota Semarapura. Waktu sudah menjelang jam enam. Kota sedang ramai. Ini sabtu sore. Menuju malam minggu. Langit masih cerah. Masih banyak orang sedang berolahraga di sekitar Lapangan Puputan Klungkung, alun-alun kota.

Saya rebahan di rerumputan. Di depan monumen. Bolenk ikut. Mantap juga perjalanan hari ini. Bersepeda seharian penuh. Menempuh jarak sekitar enam puluh kilometer. Blusukan ke tempat-tenpat tersembunyi. Lain kali, sepertinya tetap menarik untuk diulangi. Ada yang mau ikut? []

Tulisan oleh I Komang Gde Subagia
Foto oleh Anatoli Marbun