Hari Raya Nyepi

Mendengarkan desiran angin dan kicau burung. Atau memandang langit yang bertaburan bintang di malam hari. Tanpa bising kendaraan, maka suara alam akan lebih jelas. Tanpa cahaya lampu, maka bintang bersinar lebih terang. Hal yang langka bagi peradaban yang makin modern.

Hari Raya Nyepi

Entah sudah berapa kali Nyepi dirayakan di bumi ini. Khususnya di Bali, yang segala pengaruhnya datang dari Jawa. Jika dihitung sejak kedatangan Aji Saka, maka ini adalah perayaan Nyepi yang ke-1563. Tapi ini hanya perkiraan. Bisa saja perayaan pertamanya dirayakan jauh hari setelah kedatangannya.

Aji Saka, adalah seorang pendeta dari India. Datang ke tanah Jawa pada tahun 378 Saka. Atau ketika tahun 456 Masehi. Dialah yang memperkenalkan perhitungan tahun ini. Makanya dikenal sebagai tahun Saka. Selisih Saka dan Masehi adalah 78 tahun. Masehi lebih dulu. Saka belakangan. Hasil ke-1563 yang saya sebutkan sebelumnya adalah hasil dari kalkulasi ini.

Nyepi adalah hari pertama tahun Saka. Yang unik, hari pertama tahun ini adalah hari pertama di bulannya yang kesepuluh. Bukan hari pertama di bulannya yang pertama. Di Bali, disebut sebagai pinanggal apisan sasih kedasa. Pinanggal apisan artinya tanggal satu. Sasih artinya sama dengan bulan. Kedasa artinya kesepuluh. Tanggal satu bulan sepuluh. Itulah tahun barunya. Jika dikonversikan ke Masehi, Nyepi ini jatuh sekitar bulan Maret setiap tahunnya.

Tak ada acuan pasti kenapa tahun baru Saka dimulai dari bulannya yang kesepuluh. Penjelasannya hanya asumsi-asumsi berdasarkan pendekatan sejarah. Salah satunya mengatakan bahwa ini karena peralihan sembilan ke sepuluh. Sembilan angka terakhir. Sementara sepuluh diasosiasikan dengan nol, angka pertama. Sehingga terjadi pengulangan dari awal. Ada juga yang mengatakan bahwa ini berdasarkan kaitan dengan sejarahnya di India, asal dari Aji Saka. Bahwa penanggalan tahunnya yang pertama mengikuti sistem penanggalan yang sudah ada sebelumnya di sana.

Di Bali, penggunaan tahun Saka tidak sama seperti di India. Sangat jauh berbeda. Banyak elemen lokal yang dimasukkan. Makanya kalender Saka di Bali lebih dikenal dengan nama kalender Bali. Seperti penggunaan wewaran. Manis atau legi, pahing, pon, wage, dan kliwon; adalah salah satu sistem wewaran yang merupakan produk lokal. Juga jumlah bulannya yang memungkinkan berjumlah tiga belas. Ya, tiga belas. Sebagai bentuk akurasi perhitungan kabisat. Jika tertarik lebih detail, silahkan baca-baca tentang kalender Bali dan kalender Saka di internet. Ada banyak. Salah satunya di Wikipedia : Kalender Bali atau Kalender Saka.

Baca juga:   Kenali Greenwashing

Klimaks atau puncak perayaan Nyepi adalah sehari sebelum Nyepi itu sendiri. Saat tilem kesanga, hari terakhir di bulan kesembilan. Ada berbagai kegiatan ritual yang hiruk pikuk dilakukan dari hari-hari sebelumnya. Berurutan. Mulai dari ritual melasti atau mekiis ke tepi danau atau pantai. Ritual mecaru di titik-titik nol kota atau desa. Lalu disusul dengan ritual serupa di masing-masing pekarangan rumah. Kemudian ritual di malam pengrupukan, malam tanpa bulan di bulan kesembilan. Akan ada banyak bunyi-bunyian, gamelan dan tetabuhan, obor, sampai arakan ogoh-ogoh. Meriah.

Dan akhirnya, hari Nyepi pun menjadi anti klimaks. Seperti alur dalam sebuah cerita. Dari berbagai kegiatan ritual yang hiruk pikuk, kemudian tiba-tiba sepi. Hening. Tak ada aktivitas sama sekali. Ini karena empat pantangan yang dilaksanakan dalam perayaannya : tidak bepergian, tidak bekerja, tidak menikmati hiburan, dan tidak menyalakan cahaya atau hawa nafsu.

Bagi saya, Nyepi setahun sekali itu cukup menyenangkan. Ia menjadi alasan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Seharian penuh. Hanya di rumah. Tak ke mana-mana. Mendengarkan desiran angin dan kicau burung. Atau memandang langit yang bertaburan bintang di malam hari. Tanpa bising kendaraan, maka suara alam akan lebih jelas. Tanpa cahaya lampu, maka bintang bersinar lebih terang. Hal yang langka bagi peradaban yang makin modern.

Selamat hari raya Nyepi. Selamat tahun baru Saka 1941. Semoga damai di hati. Damai di dunia. Damai selalu. Untuk kita semua. Rahayu! []

Oleh I Komang Gde Subagia