Pra-Operasional (23-27 Mei 2026)
D-5, hari sabtu tanggal 23 Mei 2026 kelompok kita dan kelompok 3 mempresentasikan ROP kita ke dp dan penghuni sekretariat yang hadir disana. Lalu, untuk pendamping sendiri ada 3 dan semuanya dari angkatan Rintik Mentari (RM) yakni bang Ali, bang Dika, dan kak Cuca.
D-4 kita packing lalu mengumpulkan carrier dan perlengkapan pribadi kita di sekretariat.
D-3 teman-temanku membeli logistik kering dan print peta Qgis untuk perjalanan nanti.
D-1 teman-temanku membeli logistik basah pada siang hari, lalu pada sore kita packing logistik basah dan membagi sama rata ke setiap orang termasuk ke pendamping. Di hari itu bertepatan dengan hari raya Idul Adha, jadi kita dan penghuni sekretariat yang lain bakar-bakar sate terlebih dahulu sebelum akhirnya jam 10an tidur.
Day 1 (28 Mei 2026)
D-0, hari kamis, kita bangun di sekitar jam 3an lalu persiapan untuk sarapan dengan lauk ayam bakar di jam 4 nya. Pas sarapan si pian meledek kelompok 3 karena mereka sarapan pake munjul yang lauknya seret di tenggorokan, bukan untuk mendiskreditkan munjul, tetapi di sini menunjukkan ironi antara kelompok kita dengan kelompok 3. Setelah sarapan, aku menunggu adzan shubuh lalu setelah adzan aku langsung shalat di sekretariat menggunakan sepatuku yang sudah terpasang. Di sekitar jam 4.50 baru kita berangkat diantar angkot pak Fuad dari sekretariat ke titik start yang ada di desa Cinyiruan, Pangalengan.

Sesampainya di titik start, kita langsung laporan ke basecamp malabar tetapi kita lupa membawa surat operasional kita, jadi kita kirim lewat wa saja. Setelahnya, kita semua ke toilet dulu untuk buang air kecil dan isi jerigen lalu lanjut untuk navigasi darat titik start kita. Setelah selesai navdar, kita lanjut jalan mengikuti plotingan peta dengan yang menebas di depan Alvian & Hakim, dan yang mengarahkan kita (navigator) Misha & Aisyah. Baru berjalan beberapa meter dari titik start, kita sudah kebingungan dengan jalan yang bercabang. Setelah berdiskusi, akhirnya kita menemukan jalannya. Di tengah perjalanan itu, kita baru sadar bang Dika tidak ada di barisan, ternyata dia kebelet bab dan terpaksa balik lagi ke toilet yang ada di titik start.
Di perjalanan, kita melewati perkebunan warga yang sangat luas dan di dekat perkebunan itu ada pohon berry liar yang kita temukan dan langsung kita petik lalu dimakan rame-rame. Emang rasanya hambar dan sedikit asem, cuma tetap saja ini penemuan yang luar biasa bagiku.

Lalu, lanjut berjalan lagi melewati perkebunan warga, si pian nanya ke warga yang sedang melakukan aktivitasnya, “kang kalau mau ke puncak besar lewat mana nya?” kata pian. “Oh itu nyebrang dulu kebun ini weh a, terus nanti ikutin aja jalur motor” kata warga itu.
Setelah kita mengikuti saran dari warga tersebut, kita menemukan jalannya, tapi jalannya sangat kecil dan vegetasinya rapat, jadinya kita memutuskan untuk menggunakan jalan yang lain. Ternyata, jalan baru yang kita lalui juga sama saja vegetasinya rapat juga, jadinya kita memutuskan untuk ishoma terlebih dahulu.

Setelah ishoma, kita lanjut melakukan perjalanan dan di tengah perjalanan kita menemukan saung yang kemungkinan sudah lama ditinggalkan dan disitu kita beristirahat untuk minum sebentar. Lanjut berjalan dan menebas lagi tidak terasa waktu sudah sore, di situ kita langsung mempercepat langkah dan tebasan agar tidak kemaleman di jalan.
Sesampainya di puncakan, ternyata puncak yang kita temui bukan gunung puncak besar, melainkan yang kita temui adalah gunung lungkawing. Di situ bang Ali langsung menyuruh kita mengeluarkan logistik kita, lalu berpencar untuk bikin camp ponco sendiri-sendiri.
Setelah lama aku mencari spot untuk mendirikan camp, akhirnya ketemu juga spotnya walaupun sempit dan agak merosot ke bawah. Aku susah payah buat untuk menalikan poncoku ke pohon, tetapi hasilnya selalu kurang kenceng bahkan sampai lepas. Waktu pun berlalu begitu cepat, sampai waktu istirahat & makan pun campku belum selesai. Setelah makan, aku lanjut untuk menyelesaikan campku. Dengan bantuan bang Dika akhirnya campku selesai dan akupun bisa istirahat.
Day 2 (29 Mei 2026)
Esok paginya aku membangunkan yang lain di sekitar jam 4 shubuh. Setelah membangunkan yang lain, Aisyah & Misha masak untuk kita sarapan, sedangkan aku, Alvian, Hakim dan bang Agung membereskan camp. Beres merapikan camp, kami berempat otw ke camp pendamping buat sarapan. Beres sarapan kita packing lagi logistik kita dan membagi sama rata lagi seperti di awal. Lalu, setelah itu kita ada pematerian GPS terlebih dahulu yang diajarkan oleh bang Ali, jujur aku ngga terlalu keliatan sama gambar di GPSnya, tapi kalau secara konsep aku cukup ngerti. Setelah pematerian, kita mengadakan sesi foto terlebih dahulu lalu melanjutkan perjalanan ke titik air lalu ke titik ishoma 2 dengan aku yang menjadi navigator dan bang Agung & Alvian bergantian dengan Hakim menjadi penebas.

Lanjut kita berjalan buat ke titik air melewati beberapa punggungan dan sadelan. Di tengah perjalanan, aku ragu arah yang aku tunjukkan sudah benar atau belum, akhirnya aku memutuskan buat trackback sedikit dan pergi ke arah yang benar. Pas melewati jalurnya, aku merasa ini bukan jalur yang kutunjukkan, karena jalurnya sangat terjal sekali, tapi ya sudahlah daripada harus balik lagi, toh di depan juga sudah terdengar suara air. Di titik air itu, kita istirahat sejenak minum dan makan jelly, lalu mengisi kembali jerigen kita yang sudah kosong.
Setelah istirahat kita lanjut lagi ke titik ishoma 2. Lalu, karena dirasa titik ishoma 2 terlalu jauh, jadinya kita ishoma 2 dekat titik air itu saja. Di ishoma ini kita memasak mie rebus ditambah daging sapi hasil qurban. Setelah itu, karena menurut bang Ali titik camp 2 kita terlalu jauh dan disana banyak pohon lebat, jadi dia menentukan titik camp baru buat kita yang tidak terlalu jauh dari titik ishoma 2 kita ini.
Setelah mendaki jalan yang terjal dan tersesat sedikit, akhirnya kita sampai di titik camp 2, tetapi sebelum sampai di titik camp, bang Agung, Alvian dan Misha mendengar samar-samar suara auman yang menurut mereka mirip seperti suara harimau. Di camp 2 ini kita mengimplementasikan bivak alam dan tidur kalong. Buat bivak, kita tidak membuat tiangnya sendiri, karena kebetulan ada pohon kecil yang lebarnya cukup untuk bivak kita. Disaat kita sibuk untuk membuat bivak alam, bang Ali dan bang Dika membuatkan api untuk kita semua. Sementara itu, kak Cuca membangun tenda untuk pendamping.

Setelah kita mencari kayu yang agak besar untuk mistar bivak, kita baru sadar ternyata bivak yang dibuat itu sangat besar dan pastinya membutuhkan daun yang sangat banyak sedangkan hari sudah mulai gelap sementara daun yang kita kumpulkan jauh dari kata cukup. Walaupun hari sudah mulai gelap, aku dan yang lainnya tetap mencari daun untuk menutupi atap bivak kita yang masih bolong-bolong. Disaat kita mencari daun, Aisyah memasak karage, sayur-sayuran, nasi dan menusuk sate sapi untuk makan malam kita. Lalu di tengah kita mencari daun, aku merasa kakiku sudah sangat sakit, jadi aku istirahat dulu sebentar. Walaupun memang aku seperti terlihat apatis dengan teman yang lainnya, tapi jujur kakiku disitu sudah sangat sakit dan aku butuh istirahat duduk sebentar saja.
Jam menunjukkan pukul 19.30, tetapi bivak kita belum jadi-jadi, bang Agung dan Aisyah pun mencari lagi daun untuk menutupi atap bivak kita yang masih bolong. Dan akhirnya sekitar jam 8 malam bivak kita pun jadi. Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, yaitu waktu makan dan ngobrol di api yang dibuat bang Ali sebelumnya. Rasanya nikmat sekali menikmati makanan di samping api sambil mengobrol, capek seharian pun tidak terasa di samping api itu. Setelah beres makan dan ngobrol di api itu, aku menghangatkan diri sejenak dan membersihkan lukaku dengan alkohol punya bang Agung terlebih dahulu, lalu setelah itu ganti baju di bivak dan istirahat.
Day 3 (30 Mei 2026)
Di sabtu pagi, sekitar jam 4 aku dibangunkan oleh hawa dingin yang menusuk, tetapi di situ aku harus bersiap-siap untuk tidur kalong. Sebelum melakukan tidur kalong, bang Ali menjelaskan bagaimana membuat harness memakai webbing dengan benar, lalu setelah itu kita dicarikan pohon masing-masing oleh pendamping. Untungnya aku dapat pohon yang pendek, jadi tidak perlu susah payah untuk memanjat, walaupun sebenarnya dalam situasi yang darurat pohon itu tidak proporsional. Setelah posisi aku sudah ‘nyaman’ di pohon itu, kak Cuca pun memberikan aku lilin lalu menyalakannya di tanganku. Singkat cerita, lilinku pun sudah habis, aku balik lagi ke camp untuk beres-beres dan packing perlengkapan pribadiku. Di saat yang sama juga, Aisyah & Misha memasak telur rebus dan membuat bubur instan untuk kita sarapan. Setelah sarapan, kita seperti biasa membereskan dan membagi rata lagi logistik yang kita bawa.
Semuanya sudah beres saatnya kita materi trap yang dijelaskan oleh kak Cuca, secara garis besar aku paham materi trap ini, tetapi aku masih tidak mengerti bagaimana cara menalikan tali dengan simpul lasso. Sesudahnya, kita mengangkat carrier dan melakukan foto bersama di depan bivak.

Setelah foto bersama, kita merubuhkan bivak yang telah kita buat dengan susah payah kemarin sore. Tadinya sih mau dibiarkan saja seperti itu, tapi nanti takut dipakai sama macan buat tidur. Melanjutkan perjalanan, kali ini yang menebas ada bang Agung bersama Alvian dan yang menjadi navigator kali ini adalah Hakim. Lalu, kita lanjut perjalanan untuk speedrun sampai ke ‘BERG’. Lanjut berjalan dari camp 2 kita, awalnya sih jalannya normal, ada tanjakan turunan biasa, tetapi di suatu titik, tiba-tiba turunan itu menjadi sangat terjal yang mengharuskan kita berhati-hati atau kalau mau simpel merosot saja dari turunan itu. Sekian lama merosot dengan turunan yang terjal itu, kita akhirnya sampai ke sungai yang dari jauh saja sudah terdengar sangat menyegarkan. Di situ kita beristirahat minum dan memakan snack yang tersisa dari logistik kita.

Sejenak kita istirahat dan meluruskan kaki di sungai itu, kita melanjutkan perjalanan lagi untuk menuju ‘BERG’. Syukurlah, jalan dari sungai menuju ‘BERG’ tidak sesulit jalan menuju sungai itu, tapi tetap saja banyak batu-batu yang licin, kalau tidak berhati-hati, bisa saja jatuh dan menambah masalah baru yang tidak diinginkan. Aku berjalan di barisan paling belakang tepat di depan para pendamping. Jalanku agak lambat dibandingkan dengan yang lain karena aku takut kalau terlalu cepat dan tidak memerhatikan langkahku, aku bakal terjatuh dan malah berujung pada menambah masalah baru di kelompokku. Jujur, aku sebenarnya masih pemula dalam soal mendaki atau tracking gunung. Setelah sekian lama aku berjalan, akhirnya aku bertemu juga dengan teman-temanku yang sudah ada jauh di depan, dan di saat bertemu itu pas juga di depannya sudah ramai dengan orang, YA, kita sudah sampai di ‘BERG’. Di situ kita melakukan foto bersama untuk dokumentasi yang terakhir kalinya.

Setelah foto itu, tadinya kita mau ditraktir nasi liwet oleh mamanya Misha, tapi kata mama Misha pesan nasi liwetnya ngga bisa dadakan, dan itu sudah di sekitar jam 2 siang kurang dengan keadaan yang sudah sangat lelah. Di saat itu kita memutuskan untuk pulang saja dengan menunggu jemputan dari pak Fuad lagi yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Aisyah. Setelah pak Fuad sampai, kita langsung saja memasukkan carrier kita ke angkotnya dan berangkat pulang menuju sekretariat. Dan perjalanan kita diakhiri di sekretariat dengan evaluasi harian oleh Hakim.

