Semua berawal dari persiapan.
Mulai dari briefing, revisi, belanja perlengkapan, packing, sampai ngecek barang berkali-kali. Kelihatannya simpel, tapi ternyata lumayan bikin capek juga.
Sampai akhirnya, tanggal 9 Agustus 2026, kami berangkat menuju Pulau Untung. Dari Pulau Pramuka, kami menuju Dermaga Tanjung Pasir, lalu lanjut naik kapal.
Sesampainya di Pulau Untung, kami langsung sosialisasi ke Balai Desa dan Kehutanan kepulauan Seribu, kita juga mulai kenalan dengan warga. Setelah itu, kami mulai turun ke lapangan. Ada yang wawancara warga, ngobrol sama nelayan, dokumentasi, dan tentunya mulai penelitian tentang bulu babi.
Awalnya mungkin agak canggung. Tapi makin lama ngobrol sama warga, makin banyak cerita yang kami dapat. Ternyata penelitian bukan cuma soal data, tapi juga soal gimana kita bisa berbaur dan memahami kehidupan masyarakat di sana.
Besoknya, kami mulai penelitian lebih serius. Pagi-pagi sudah briefing, terus tiap kelompok berpencar ke titik masing-masing. Ada yang pasang alat, ambil data, hitung sesuai rumus, sampai input data.
Capek? Jelas.
Panas? Pasti.
Tapi seru? Banget.
Sore sampai malam biasanya kami balik ke camp, masak bareng, makan, istirahat, terus evaluasi. Kadang sambil bercanda, kadang serius bahas hasil kegiatan. Dari sini kami mulai makin kompak.
Setelah beberapa hari di Pulau Untung, kami akhirnya harus pamit. Ada rasa berat juga karena sudah mulai dekat sama warga. Tapi perjalanan belum selesai.
Kami lanjut menuju Pulau Lancang.
Di Pulau Lancang, ceritanya kurang lebih sama, tapi pengalaman yang kami dapat semakin banyak. Kami kembali melakukan penelitian, wawancara warga, ngobrol dengan nelayan, tokoh masyarakat, sampai wisatawan.
Setiap hari kami terus belajar. Belajar mengambil data, belajar berkomunikasi, belajar bekerja sama, dan yang paling penting, belajar menghargai masyarakat dan lingkungan sekitar.
Di sela-sela penelitian, kami juga punya waktu buat seru-seruan. Salah satunya fun game bareng anak-anak dan bersih bersih panati sama warga. Setelah beberapa hari sibuk dengan penelitian, akhirnya bisa main, ketawa-ketawa, dan seru-seruan bareng mereka.
Lalu tibalah tanggal 17 Agustus.
Pagi itu kami mengikuti upacara bendera
Tapi buatku, ada satu momen yang cukup berbeda.
Bersama tim diving, kami ber 4 melakukan pengibaran bendera di bawah laut. Turun ke kedalaman sekitar 5–7 meter, membawa bendera ASTACALA, Indonesia, Telkom University dan Djarum.
Setelah itu, kami juga melakukan pelepasan media karang.
Rasanya susah dijelasin. Di bawah laut, sambil lihat langsung kondisi lingkungan, kami jadi semakin sadar kalau menjaga laut itu bukan cuma teori. Kita juga harus ikut turun tangan.
Tanggal 18, semuanya selesai, dan akhirnya, semua rangkaian kegiatan selesai.
Pagi pagi, kami pamit kepada warga Pulau Lancang, beres-beres barang, lalu kembali menuju Tanjung Pasir dan lanjut perjalanan pulang ke Telkom University.
Banyak hal yang kami bawa pulang.
Bukan cuma data penelitian.
Tapi juga pengalaman, cerita, teman baru, rasa capek, tawa, dan tentunya banyak kenangan.
Dari perjalanan ini, aku belajar kalau sebuah perjalanan nggak selalu tentang tempat yang kita datangi.
Tapi tentang orang-orang yang kita temui, pengalaman yang kita jalani, dan cerita yang kita bawa pulang.
Duri Pesisir Nusantara bukan cuma perjalanan.
Ini adalah cerita yang akan selalu kami ingat bagi angkatan kami Secercah Cahaya. ASTACALA!!!




