Menuju Puncak Cijambu

Related Articles

Pada akhir pekan pertengahan Bulan Maret, guna melaksanakan pendidikan lanjut kami angkatan Kelana Halimun (KH) melakukan kegiatan Navigasi Darat – Gunung Hutan (NavDar-GH). Dalam pelaksanaanya kami dibagi menjadi tiga kelompok dimana kelompok saya terdiri dari delapan orang dengan lima Anggota Muda (AM) diantaranya ada Ayyub, Imam, Abdul, Anam dan saya sendiri. Selain itu ada Teh Tiara dan Bang Della sebagai pendamping juga Bang Rizal sebagai partisipan. Di pembagian anggota kelompok sebenarnya ada empat AM lainnya yang seharusnya ikut di kelompok kami, tetapi mereka mengkonfirmasi jika tidak bisa ikut karena ada satu dan lain hal sehingga tidak berkesempatan mengikuti NavDar-GH kali ini. Perjalanan ini diawali dari sosialisasi tentang pendidikan lanjut angkatan KH, setelah itu barulah semua persiapan dilakukan.

Dimulai dari diadakannya rapat sehingga diperolehlah struktur kepaniataan kegiatan, dilanjut  pembagian tugas masing-masing anggota. Saya sendiri menjadi tim transjin yang mana kala itu ditugaskan menyurvei tempat operasional, bersama Daffi sebagai tim transportasi dan izin (transjin) dan tiga pendamping lainnya kami pergi ke Desa Cijambu untuk mengecek dan menanyakan perihal urusan perizinan di daerah setempat. Selain Gunung Cijambu sebenarnya ada pilihan di daerah lain namun setelah banyak pertimbangan terpilihlah Gunung Cijambu, Kadaka dan Cibunar (masih satu daerah) sebagai tempat operasional. Setelah kurang lebih tiga pekan mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk melakukan kegiatan ini, pada hari Jumat kami berangkat menuju daerah Sumedang, Gunung Cijambu.

Keberangkatan angkatan Kelana Halimun untuk melaksanakan kegiatan Navdar-GH

Sekretariat ASTACALA, 04.00 WIB

Udara dingin menghampiri, bahkan ketika matahari belum muncul kami harus bangkit dari nyenyaknya tidur untuk mulai beraktivitas hari ini. Saya sebagai penanggung jawab (pj) bangun di kelompok 3 bangun sedikit lebih awal untuk membangunkan yang lainnya. Kami mulai bersiap-siap sambil menunggu keberangkatan, setelah salat subuh kami sarapan terlebih dahulu di lanjut mengecek semua perkap dan logistik masing-masing kelompok. Sekitar pukul 06.30 WIB dari pihak angkot sudah mengabari jika mereka sudah tiba di lokasi penjemputan, meskipun ternyata ada satu angkot yang sedikit terlambat karena harus mengisi bahan bakar.

Dua angkot (kelompok 2 & 3) menuju ke arah Desa Cijambu dan satu angkot lainnya menuju Desa Cibunar, dari kampus kami melewati Tol Buah Batu yang nantinya akan keluar di Cileunyi dan diteruskan ke arah Sumedang. Sekitar satu jam setengah, kami sudah sampai di Desa Cijambu, diawali dengan navigasi darat (navdar) kami menentukan dimana titik start kami. Setelah berdiskusi kami menentukan titik start kemudian dimulailah petualangan ini.

Mulai masuklah kami di jalan setapak menuju pintu rimba, namun sebelum masuk Bang Della memerintahkan kita untuk navdar terlebih dahulu karena kami masih belum terlalu yakin dengan hasil navdar sebelumnya. sekitar 30 menit lebih kami berkutat pada peta dan alat navdar, ditentukanlah posisi sementara kita menggunakan teknik resection dan intersection meskipun protaktor dari anam sempat hilang. Setelah menemukan proktaktor, perjalanan kami menuju titik berikutnya menyusuri punggungan. Karena suasana masih pagi keadaan sekitar masih terasa sejuk, sembari melewati perkebunan warga kami menyapa mereka. Setelah menemukan sumber air, kami mengisi penuh jirigen kami dengan air yang ada. Di lanjutlah perjalanan diiringi obrolan random sambil melihat pemandangan alam yang masih asri. Jalur mulai menanjak, melihat di peta kami merasa masih berada di plotingan jalur, namun setelah melanjutkan perjalanan kami mulai ragu sehingga kami melakukan navdar sekitar 30 menit. Ternyata kami mulai melenceng dari jalur awal, karena seharusnya di titik istirahat pertama ada daerah landai yang tak kunjung ditemukan.

Pengambilan air di titik air pertama

Gunung Cijambu, 12.00 WIB

Abdul sebagai koordinator di hari pertama memutuskan kita istirahat terlebih dahulu, kami menemukan tempat istirahat setelah sedikit membuka jalur dengan melewati lembahan. Dimana disana terdapat kolam buatan sehingga ada sedikit tanah yang landai sehingga kami bisa makan siang (sebelumnya sudah bawa dari awal perjalanan).  Sebelum melanjutkan perjalanan kami melakukan navdar lagi,  di lanjut dengan menaiki punggungan yang cukup curam ditambah harus menebas tumbuhan untuk membuka jalur. Jika dilihat jalur yang kita lewati memang bukan jalur yang biasa orang-orang lewati—meskipun terdapat jalan setapak yang mulai samar-samar hilang. Sekitar pukul 2 siang, kami mendekati puncak dan menemukan tempat landai yang sangat cocok untuk mendirikan camp setelah menaklukkan jalur yang terjal dan menguras tenaga. Kita para AM membagi tugas untuk mendirikan bivak alam, ada yang mencari kayu, ada yang mulai mendirikan bivak alam, ada yang membuat shelter api. Sementara para pendamping dan partisipan mereka mendirikan camp dan dapur menggunakan flysheet. Tak lama di titik camp hujan mulai turun, karena memang tempatnya yang cukup terbuka mengakibatkan angin dan hujan cukup besar.

Ternyata daerah tersebut persediaan akar untuk bahan tali sangat kurang, sehingga sedikit menghambat dalam pembuatan bivak alam. Meskipun diguyur hujan, kita harus terus bergerak agar tetap hangat dan cepat istirahat. Sekitar pukul 21.00 WIB kami baru selesai mendirikan bivak alam dan api sudah menyala—pendamping membantu untuk menyalakannya. Di lanjut makan malam, evaluasi hari pertama dan briefing untuk hari selanjutnya. Seharusnya malam ini kami melakukan tidur kalong, akan tetapi kondisi tidak mendukung sehingga intruksi dari pendamping ditunda terlebih dahulu. Setelah memastikan semuanya aman kami mulai istirahat.

Imam melakukan navdar sembari memegang peta dan kompas

Gunung Cijambu, 06.00 WIB

Cahaya sudah muncul menandakan jika hari beranjak pagi, kami mulai bangun untuk melanjutkan aktivitas. Ayyub sebagai pj masak mulai melakukan tugasnya dibantu oleh Anam, yang lain mulai merapihkan barang pribadi mereka. Imam mencoba menghidupkan kembali api semalam karena masih ada bara yang menyala, setelahnya saya menggantikan Imam untuk menstabilkan api tersebut karena Imam harus membereskan perkap pribadinya. Sembari menunggu sarapan matang, kami mulai membongkar camp dan bivak alam, mencicil pembagian perkap dan logistik yang nantinya dibawa masing-masing. Sarapan sudah tersaji, kami mulai melahapnya. Setelah selesai dan memastikan semua barang bawaan sudah terbawa, kami melakukan navdar dengan mengamati kontur. Karena puncak kearah Barat kami mulai jalan mendaki punggungan.

Puncak Gunung Cijambu (1881), 09.30 WIB

Kami tiba di puncak Gunung Cijambu, mesikpun sedikit tertutup pohon pemandangan Kota Bandung terlihat dari sana. Ternyata di puncak hewan pacet sangat merajalela, hanya sebentar singgah, pacet mulai menggapai ke sepatu dan kaki kami. Untuk mengabadikan momen, kami mengambil beberapa foto bersama yang kemudian dilanjutkan dengan navdar untuk melanjutkan ke arah titik berikutnya. Karena saya menjadi koordinator di hari tersebut saya menjadi navigator. Ternyata jalur kebawah tidak kalah curamnya dengan keberangkatan, bahkan kami sempat salah jalur yang seharusnya mengikuti punggungan, kami malah mampir ke lembahan yang ternyata itu kemungkinan jalur air yang kami anggap sebagai titik air. Medan yang cukup terjal mengakibatkan melambatnya perjalanan karena kami harus menaiki dari lembahan ke punggungan menggunakan webbing. Dibantu oleh pendamping, kami berhasil naik dan melanjutkan perjalanan. Karena tak kunjung menemukan tempat yang landai, kami memutuskan untuk istirahat dan makan siang di tempat yang sedikit landai. Mulai pukul 13.00  WIB hingga pukul 14.30 WIB kami beristirahat dan makan, dilanjut dengan navdar. Setelah berdiskusi, kami melanjutkan perjalanan yang ternyata harus putar balik, karena kearah kiri dari tempat istirahat sangat tidak memungkinkan untuk membuka jalur. Insiden kedua setelah hilangnya protaktor muncul. Ketika Abdul mencoba membuka jalur, ternyata golok yang ia gunakan salah mengarah, lutut Abdul menjadi korban, golok yang salah target ternyata menimbulkan luka yang cukup dalam. P3K dikeluarkan, pengobatan dilakukan. Setelah insiden tersebut kami melanjutkan perjalanan dengan putar arah.

Puncak Gunung Cijambu (1881)

 Gunung Cijambu, 15.30 WIB

Kami menemukan tempat untuk mendirikan tempat camp yang ternyata dekat dengan sungai. Di malam kedua ini kami melakukan pendirian camp sendiri-sendiri. Kami mulai mendirikan tenda, mencari kayu untuk membuat api. Ternyata hujan turun lagi, sambil mendirikan camp menggunakan ponco kami ditemani gemuruh hujan yang untungnya durasinya tidak selama malam pertama. Setelah mendirikan tenda dan shelter api, sekitar pukul 20.00 WIB kami ke sungai di bawah untuk mengambil air, suasana yang gelap dan jalan yang licin membuat kami harus berhati-hati. Selesai mengambil air dilanjut membuat api.  Ayyub, Anam dan Abdul bekerja bersama untuk menghidupkan api, meskipun pada akhirnya perintah dari pendamping harus perindividu. Karena makan malam sudah tersaji dan hari sudah larut diputuskan untuk makan, evaluasi dan briefing. Pukul 23.00 WIB semua sudah selesai dilanjut praktik tidur kalong.

Tidur kalong dibagi menjadi dua kloter, kloter pertama terdiri dari saya, Ayyub, dan Imam. Konsepnya kami tidur dipohon dan tubuh diikat menggunakan webbing ke dahan pohon dan tubuh di tutupi ponco sembari memegang lilin didalam ponco, tujuannya untuk mengihndari dari serangan hewan buas namun keadaan masih setengah terjaga. Pendamping menjelaskan terlebih dahulu ikatan webbing yang dipakaikan di tubuh lalu menggunakan ponco, ketika sudah di pohon webbing diikat ke pohon dan lilin dinyalakan agar tetap hangat. 3 jam diatas pohon sambil menahan kantuk bukanlah keadaan yang nyaman, terlebih jarak saya dengan Imam dan Ayyub (mereka masih satu pohon) cukup jauh sehingga susah untuk mengobrol. Setelah selesai saya sendiri langsung menuju camp kemudian ganti pakaian kering dan tidur. Di lanjut kloter ke dua.

Gunung Cijambu, 07.00 WIB

Kami mulai bangun, langsung merapihkan tenda masing-masing. Anam sebagai pj masak sekaligus koordinator hari ke tiga langsung mengambil alih komando. Setelah sarapan tersaji kami mulai makan dilanjut pembagian perkap dan logistik yang akan dibawa masing-masing. Pukul 10.00 WIB praktik GPS dan fotografi dilakukan sembari melakukan navdar untuk melanjutkan perjalanan, sebelum berangkat kami membayar seri karena terlambat tidak sesuai jadwal di ROP. Ketika turun sebenarnya tinggal melipir punggungan, namun karena salah membaca peta akhirnya kami harus menyebrangi beberapa sungai hingga akhirnnya menemukan perkebunan milik warga yang artinya kami sudah dekat dengan jalan setapak. Setelah menemukan jalan setapak kami cukup bahagia karena sudah berada di jalur plotingan ditambah tinggal mengikuti jalan setapak yang diujung jalan setapak tersebut adalah titik finish.

Membayar seri dengan pushup carrier

Seharusnya kami melakukan makan siang telebih dahulu namun melihat jarak yang cukup dekat kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Ternyata jalan setapak yang dilalui cukup jauh, pukul 12.00 sebelum dititik finish kami istirahat di warung terdekat sambil membayar sisa seri. Saya sebagai tim transjin mulai menghubungi sopir angkot agar dapat menjemput di titik finish (kantor desa). Namun karena sopir angkot sempat tersesat dan makan dahulu, barulah sampai di titik penjemputan  pada pukul 15.00 WIB.

Sekretariat ASTACALA, 16.00 WIB

Sekitar satu jam di perjalanan menuju kampus, kami langsung membongkar semua perkap dan logistik untuk di data ulang. Setelah memastikan perkap masih utuh seperti sedia kala, kami beristirahat sampai waktu maghrib. Untuk mengakhiri kegiatan hari ini, kami mengadakan evaluasi kelompok dan pembagian jatah mencuci perkap. Hari yang melelahkan, setelah bubar kami kembali ke tempat peristirahatan masing-masing.

Perjalanan pulang menuju Sekretariat Astacala

Begitulah kira-kira cerita dari pandangan saya, masih panjang perjalanan kami untuk menyelesaikan pendidikan lanjut ini, masih banyak ilmu dan skill yang harus kami asah seriring berjalannya waktu dan jam terbang.

Abdul, Nizam, Imam, Anam, Ayyub Kelompok 3

Tulisan Oleh: Nizamuddin Aulia Ghifari | AM-017-KH

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

13.450 Hektare Hutan Talang Mamak Dialihfungsikan

        Sebanyak 13.450 hektare hutan alam tempat bermukimnya komunitas suku{nl}terasing Talang Mamak di Kecamatan Peranap dan Rakit Kulim, Indragiri{nl}Hulu, Riau dirambah liar sejak...

95 Km Tour de Baduy

... "Di Tahun 2014 kita kembali akan mengadakan touring ke Baduy dengan menggunakan sepeda tujuan utama ke daerah Ciboleger, tepatnya Desa Kanekes (Badui Luar)....

Astacala Raih Juara di Rock Expert South East Asia Climbing Festival

Anggota Astacala berhasil naik podium pada perlombaan Rock Expert South East Asia Climbing Festival pada (28/10) yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda. Kompetisi ini bertempat di Venue Wall Climbing Mahapala Universitas Negeri Semarang (UNNES), Gunungpati, Kota Semarang.