Liang Bua, Justru Tenggelam di Negeri Sendiri

Related Articles

Tanpa terasa sudah lebih dari satu pekan saya berada di Pulau Flores, tepatnya di daerah Kabupaten Manggarai. Bukan perjalanan atau destinasi yang saya rencanakan sebetulnya, tapi pekerjaan lah yang membawa saya sampai di kota yang berada pada ketinggian 1200 mdpl ini. Dan pekerjaan pula lah yang akhirnya membawa saya ke salah satu situs peninggalan zaman purbakala yang beberapa tahun terakhir seringkali menjadi bahan pembicaraan ahli purbakala dunia, Situs Liang Bua.

Waktu itu, 9 Oktober 2012 adalah hari ke 8 saya di Manggarai. Melihat pada list tugas survey, daerah yang akan saya jelajahi selanjutnya adalah Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara. Setelah menempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi, dengan medan sempit dan jalur yang menanjak, akhirnya kami melintasi sebuah gerbang yang menerangkan bahwa saya telah memasuki obyek wisata Liang Bua.

Gerbang Liang Bua

Saya pun masuk ke lokasi yang merupakan sebuah gua yang berukuran cukup besar, sekitar 50 meter panjang ke dalam, lebar 40 meter dan tinggi sekitar 25 meter. Tidak banyak yang saya mengerti kecuali stalaktit yang berjuntai-junta menghiasi atap gua tersebut. Beruntung saya bertemu Cornelis Jangga (38 tahun) seorang pemandu di Liang Bua yang sedikit banyak mengetahui sejarah Liang Bua.

Liang Bua, yang dalam bahasa Manggarai berarti gua dingin atau gua es, inilah yang dipercaya sebagai tempat tinggal Hobbit Flores, julukan Homo Floresiensis, lebih dari 10 ribu tahun lalu. Bagi anda penggemar film, tentu tidak asing dengan kaum Hobbit. Kaum bertubuh kerdil inilah yang menjadi tokoh utama dari trilogi The Lord of the Rings karangan J.R.R Tolkien. Dalam kisah tersebut, Hobbit adalah manusia kerdil setinggi tiga kaki atau sekitar 1 meter. Mereka hidup berdampingan di Bumi Tengah (Middle Earth) bersama kaum Elf (peri), Dwarf (kurcaci), Wizards (penyihir), dan manusia. Selain pendek, para Hobbit punya telapak kaki lebar, rambut keriwil-keriwil, plus ujung telinga runcing. Dan deskripsi seperti inilah yang terbayang dalam pikiran saya ketika berada di Situs Liang Bua, di lokasi yang diyakini menjadi sejarah lahirnya manusia Flores.

Liang Bua From Inside
Liang Bua From Outside

Pusat arkeologi nasional telah melakukan berbagai penelitian mengenai situs ini, setidaknya dimulai pada 1978-1989 dan kemudian dilanjutkan kembali mulai 2001 hingga saat ini. Arkenas terus berupaya menyingkap tabir kehidupan masa lalu di Liang Bua. Sejauh ini temuan yang paling fenomenal dan banyak menimbulkan sisi kontroversi adalah Hobbit Flores yang ditemukan pada 2004, saat itu Arkenas menjalin kerja sama dengan University of New England dan Wollongong University, keduanya dari Australia.

Kerangka pertama Homo Floresiensis relatif komplet. Tengkoraknya nyaris utuh. Tulang bahu, lengan, panggul, kaki, hingga jemarinya juga ada. LB 1 (julukan Homo Floresiesis) adalah perempuan. Itu terlihat dari panggulnya yang besar. Diperkirakan usianya sekitar 20-30 tahun. Secara anatomi, ada kelainan fisik pada kerangka tersebut. Ukurannya begitu kecil. Tingginya hanya 115 sentimeter. Itu kira-kira setinggi panggul orang dewasa. Volume otak kerangka itu hanya 400 cc, sekitar sepertiga otak manusia modern, jauh lebih kecil katimbang otak simpanse.

Sampai sekarang daya tarik Homo Floresiensis masih begitu kuat. Ahli-ahli kepurbakalaan di seluruh dunia masih terus memperbincangkannya, misalnya seperti Matthew Tocheri, staf Smithsonian Institute National Museum of Natural History, Amerika Serikat dan peneliti dari Smithsonian Institute pada 2008. Bahkan kini warga Liang Bua turut disertakan dalam penelitian yang sampai saat ini masih dilakukan oleh Pusat Arkeologi Nasional.

Museum

Sekitar 200 meter dari Liang Bua ada semacam rumah permanen atau museum kepurbakalaan, namun ketika saya berkunjung kesana museum itu tertutup rapat, tanpa ada satupun informasi yang jelas. Menjadi miris karena meski sudah terkenal di berbagai belahan dunia sebagai tempat penelitian Homo Floresiensis dan tempat wisata, nyatanya tempat ini masih begitu sepi pengunjung. Begitu sayang karena dengan pengelolaan yang tepat sebenarnya tempat ini memiliki peluang menjadi tempat rekreasi arkeologis seperti halnya di Sanggiran, Jawa Tengah.

Lebih detail tentang Homo Florensies: www.jpnn.com/read/2012/09/27/141092/Liang-Bua,-Rumah-Hobbit-Flores-yang-Terus-Digali-

Foto dan tulisan oleh Muhammad Amin

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Fun Rafting Palayangan

Hari Minggu lalu (13 Agustus 2006), para A’ers mengarungi Sungai Palayangan yang berlokasi di area wisata Situ Cilenca, Pangalengan. Pengarungan kali ini merupakan fun...

Kisahku di Sancang Conservation Service Camp

Sancang Conservation Service Camp (SCSC) ini bertujuan untuk membentuk kader konservasi yang terlatih dan berintegritas dalam melindungi lingkungan. Dalam acara tersebut kami belajar bersama mahasiswa dari perguruan lain dan komunitas pecinta lingkungan.

Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala XXIV

Bandung (20/11/2015) – Pembukaan Pendidikan Dasar Astacala (PDA) merupakan suatu agenda tahunan untuk merekrut anggota baru di Astacala. Kegiatan ini diadakan pada 16 November...