Kembangkan Sayap, Paralayang!


Paralayang adalah salah satu cabang olahraga terbang bebas. Paralayang biasanya lepas landas dari sebuah lereng bukit atau gunung dengan memanfaatkan angin. Paralayang mulai muncul di Indonesia pada Januari 1990 ditandai dengan berdirinya kelompok terjun gunung Merapi di Yogyakarta. Tahun 1998/1999, Dedy Ariefijanto yang ikut dalam perintisan Astacala, aktif dalam olahraga paralayang.

Paralayang
Paralayang

Ketertarikan akan dunia panjat tebing membuat Dedy berkeinginan mengembangkan divisi Rock Climbing di Astacala. Dimulai dari beberapa orang yang latihan panjat dinding di toko peralatan outdoor Cihampelas dengan modal 3 karabiner dan 1 tali-hasil saweran dan pengalihan dana sepatu untuk mengikuti Infanteri Run-ditambah sumbangan chalk bag dari Pak Gendut yang juga anggota Astacala. Hingga akhirnya rutin mengadakan latihan di Tebing Citatah.

Seiring dengan perkembangan ia dikenalkan dengan olahraga paralayang. Sebagai seorang perintis, tentu saja memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga dan mengembangkan organisasi. Karena menurutnya lebih mudah mengawali daripada mengembangkan, sehingga tanggung jawab yang lebih besar ada pada fase mengembangkannya. Hal ini menggeser dirinya dari olahraga panjat tebing ke paralayang dengan maksud mengembangkan divisi lain di Astacala. Panjat tebingpun tidak lantas dilupakan pengembangannya. Melihat banyaknya anggota lain yang bisa mempelajari dan mengembangkan panjat tebing.

Awalnya pelatihan dilakukan secara informal. Dengan rekan pengajar yang sebenarnya baru menyelesaikan pelatihan paralayang. Melakukan pelatihan ground handling hampir setiap hari selama kurang lebih empat bulan. Ia ditargetkan sudah melakukan penerbangan beberapa kali oleh pengajarnya. Dana yang terbatas tidak menjadi hambatan baginya untuk menggeluti paralayang. Ia meminjam dana membeli parasut pertama dari sang pengajar sebelum terbang ke New Zealand. Memaksakan dan butuh perjuangan memang.

Sekitar tahun 1999 ia berhasil melakukan beberapa kali penerbangan. Semakin lama menggeluti paralayang, semakin besar pula ketertarikannya. Walaupun ditinggalkan pengajarnya ke New Zealand, ia tetap mengembangkan dirinya di dunia paralayang. Pada tahun 2000 ia mengikuti pelatihan dengan instruktur yang kompeten bersama beberapa anggota lainnya. “Dengan paralayang kita belajar banyak hal; iklim, cuaca, aviasi, dan sebagainya, juga semakin merasa kecil sebagai makhluk Allah” tutur Dedy.

Juara 3 PORDA Jawa Barat 2014
Juara 3 PORDA Jawa Barat 2014

Siapa yang menabur benih dia akan menuai. Keteguhan menggeluti dunia paralayang bertahun-tahun. Olahraga yang masih belum banyak digeluti atau bahkan dikenal oleh khalayak. Rentetan prestasi dalam dunia paralayang berhasil diraih. Beberapa medali Pra Pekan Olahraga Nasional (PON), PON dan Kejurnas di bidang ketepatan mendarat, kecepatan luncur dan lintas alam jarak terbuka pernah diraih. Menjadi pemain cadangan Asian Beach Games pada tahun 2008. Hingga memecahkan rekor penerbangan dengan paralayang terlama yaitu 9 jam 9 menit 9 detik pada 9 September 2009. Penerbangan dilakukan di Denpasar mulai pukul 09.21 – 18.30 WITA. “Tahun 2015 ini saya tidak lolos dalam seleksi Atlet PON Jawa Barat 2016. Mungkin sudah saatnya diteruskan oleh A’ers-sapaan kepada sesama anggota Astacala-generasi selanjutnya. Tapi saya belum ingin berhenti berlatih dan berprestasi. Mungkin suatu saat nanti kita masih bertemu dalam kompetisi paralayang dari beberapa generasi Astacala, karena saya masih terus menempa diri” tutup Dedy ketika menceritakan raihannya dalam paralayang.

Apa yang telah diraih tak lantas menjadikannya lupa daratan. Kesederhanaan masih tertanam dalam dirinya. Dari sekian banyak medali hanya tersisa beberapa yang disimpan. Menjaga hati agar tak terlalu disilaukan kemilau medali. Namun harapan juga masih terjaga dalam angan. Untuk mengembangkan divisi paralayang di Astacala. Untuk menjadikan Astacala sebagai lumbung atlet paralayang nasional.

Medalinya ada dalam diri kita. Kalau kita ingin maju, niat, berarti kita sudah memakai medali – Dedy Ariefijanto.

Tulisan oleh Fitra Ariffanto (A – 108 – LH)

Narasumber Dedy Ariefijanto (A – 009 – PR)

Foto Paralayang

Sumber ParalayangSejarah di IndonesiaRekor MURI