Perjalanan Si Bolenk (Episode 1 : Gunung Kerinci)


Awal Yang Berat dan Panjang

Perjalanan tampaknya masih jauh dan mulai membosankan. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Pulau Sumatra, objek ladang, kebun, dan hutan sudah menjadi menu wajib sepanjang perjalanan ini. Hampir sepanjang perjalanan didominasi oleh panorama kebun dan hutan. Mulai dari perkebunan karet, sawit, tebu, bahkan jati sudah setiap hari menjadi tontonan. Berbeda jika halnya melakukan perjalanan di Pulau Jawa, kadang pemukiman, kadang sawah, kadang kota, kadang perkebunan, tetapi sangat jarang melihat hutan.

Akhirnya, jalanan beraspal yang menanjak itu pun berakhir. Yang lebih mempesona lagi ketika melihat perkebunan teh di sepanjang kiri kanan perjalanan. Sebagai orang asli Sumatra, pemandangan kebun teh ini termasuk langka di pulau yang terbesar ke-3 di Indonesia ini. Tak lupa, Arnan dan Memet saya bangunkan dari tidur pulasnya untuk melihat pemandangan yang baru ini. Dan yang paling dahsyat, jauh di ujung barat sana, Gunung Kerinci 3805 mdpl, terlihat berdiri dengan gagah dan menantang. Rasa lelah dan bosan selama enam hari perjalanan dari Bandung akhirnya terbayar juga. Padahal baru melihat pucuk sang gunung api tertinggi di Indonesia itu dari kejauhan.

Wajar saja jika ada perasaan seperti itu. Bayangkan, di saat semua persiapan sudah beres dan siap berangkat, saya masih harus berdebat dengan pihak kampus. Proposal yang sudah berminggu-minggu sebelumnya diajukan dan sudah dua kali direvisi,masih diminta untuk direvisi lagi. Sementara kami, tim Kerinci adalah tim terakhir dari Sekretariat Astacala yang belum berangkat. Saya pun naik pitam. Janji yang sudah lama saya pendam dalam hati, yaitu tidak akan menginjakkan kaki di gedung ruang bekas perpustakaan itu sebelum lulus kuliah, terpaksa diingkari. Debat pun tak terelakkan. Saya tidak terima “dipingpong” seperti ini. Masa revisi tidak cukup hanya sekali? Sangat tidak efisien! Tapi akhirnya saya merasa kalah dalam debat yang dibumbui dengan banting meja tersebut, saat beliau menjawab : “Kalau kalian bisa melakukan kegiatan tanpa menunggu proposal terlebih dahulu, kenapa harus minta dana ke kampus? ”. Entah beliau emosi atau tidak, saya merasa kalah. Bukan karena beliau banting meja.

Akhirnya, kami pun berangkat. Tetapi perjuangan belum berakhir.

Di Bandar Lampung, kami harus menunggu sehari lagi karena ketinggalan kereta api. Jadwal kereta api adalah pukul sembilan, dan kami baru memasuki batas kota pelabuhan itu pukul sembilan juga. Kereta api ekonomi Bandar Lampung – Palembang tak mungkin terkejar. Sementara kereta api ekonomi jurusan tersebut hanya ada sekali dalam sehari. Di Palembang, kami tiba pukul sembilan malam dengan menggunakan kereta api ekonomi, tetapi bus menuju Jambi terakhir adanya pukul tujuh malam.  Akhirnya, enam hari kami habiskan hanya untuk diperjalanan.

Baca juga:   Gunung Kerinci 3805 Mdpl

Dan kini, gunung itu telah berdiri di depan mata. Wajarlah kalau ada kebahagian walaupun baru melihat pucuknya dari jauh. Sekarang gunung itu tampak nyata. Tanggal 1 Juli 2012 berangkat dari Bandung dan tiba di desa terakhir tanggal 6 Juli 2012. Perjalanan yang panjang. Dan berat tentunya.

Menapaki Hutan Eksotis Gunung Kerinci

Kami turun di depan Tugu Macan. Monumen ini merupakan ciri khas dari jalur pendakian sisi selatan Gunung Kerinci. Tugu ini terletak di Desa Kayu Aro, Kecamatan Kersik Tuo, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Konon, teh produksi dari daerah ini adalah yang terbaik di dunia.

Awal pendakian harus melewati jalanan berbatu di sepanjang perkenunan teh dan ladang sayur. Berkali-kali kami berpapasan dengan gerobak kayu yang membawa hasil panen milik warga. Gerobak itu ditarik oleh sapi. Sapi dari daerah sini bagus-bagus, terlihat gemuk, besar, sehat dan kuat.

Kami akhirnya tiba di batas hutan pukul lima sore. Di sana, di batas hutan tersebut, terdapat sebuah pos. Biasa disebut dengan Pos Pintu rimba. Suasana hutan di sini cukup berbeda dengan yang biasa ditemui di Pulau jawa. Hutannya lebih basah dan lebih lebat.

Karena perjalanan masih terlalu tanggung, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 1, untuk kemudian mendirikan tenda. Susana hutan di Pos 1 semakin lebat. Jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan. Malam pun mulai datang merayapi hutan Kerinci.

Besok paginya, saya bangun sekitar pukul lima. Memet dan Arnan masih tertidur pulas. Saya mulai menyiapkan trangia untuk memanaskan air, sekedar untuk menyeduh segelas kopi susu. Tiba-tiba terdengar suara kera bersahut-sahutan dari atas pohon. Kera-kera itu bukannya menjauh karena keberadaan manusia, tetapi malah mendekat. Penasaran. Hal seperti ini tidak pernah saya temui selama mendaki gunung di Pulau Jawa. Benar-benar pengalaman yang baru.

Pagi itu kami meneruskan perjalanan pukul sepuluh pagi. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki lainnya. Yang membuat kami sedikit kaget, ternyata jalur pendakian di Gunung Kerinci tidaklah terlalu panjang. Para pendaki yang datang biasanya hanya bermalam dua kali saja, atau tiga hari perjalanan, naik dan turun puncak. Bahkan, sekelompok anak remaja yang kami temui hanya membutuhkan satu kali menginap, mulai dari titik start pendakian sampai kembali lagi ke titik start tersebut. Dan mereka hanya bermodalkan sepatu kets, celana pendek (itu pun berbahan jeans), beberapa botol mineral, dan tas punggung kecil yang biasa mereka pakai buat bersekolah. Di lain kesempatan, kami berpapasan dengan rombongan pendaki dari Kota Padang, jumlahnya lumayan banyak. Saya tidak ingat berapa, tapi kira-kira sepuluh orang lebih. Menurut mereka, pendakian selama tiga hari dan dua malam sudah cukup santai sekali.

Baca juga:   Perjalanan Si Bolenk (Episode 3: Pemanjatan Tebing Parang Ndog)

Dalam hati saya hanya bisa bergumam, takjub. “Enam hari lamanya perjalanan dari Bandung, dengan menghabiskan biaya terbesar sepanjang perjalanan hidup saya, hanya untuk tiga hari di hutan Kerinci ini? Gunung Ciremai yang berada di Jawa Barat saja membutuhkan waktu empat hari pendakian.”

Bagi saya, hutan tropis Gunung Kerinci yang eksotis terlalu sayang jika hanya dilewatkan selama tiga hari saja. Tanpa sadar, hal ini menjadi “sumber masalah” di kemudian hari bersama kedua orang rekan seperjalanan saya.

Pada malam ketiga, kami mendirikan tenda di Shelter 2. Sebenarnya hari masih siang, masih pukul dua belas siang ketika kami mendirikan tenda. Itupun setelah menghabiskan waktu berfoto narsis ria. Posenya? Tak usah dilihat, apalagi dicari, nanti bisa kena UU Anti Pornografi.

Kondisi fisik kami masih segar, belum terlalu lelah. Memang harus saya akui, jalur pendakian ke Kerinci ini tidak seberat Gunung Ciremai, apalagi Gunung Sumbing yang nyaris memaksa pendakinya cium lutut sendiri. Bayangkan saja, kami baru memulai perjalanan dari Tugu Macan pada sore hari sekitar pukul dua, bermalam di Pos 1 pukul lima sore. Esoknya berangkat pukul sepuluh pagi, mendirikan tenda lagi pukul tiga sore. Hari ketiga berangkat pukul sembilan pagi, mendirikan tenda jam dua belas siang. Jalur pendakian juga tidak terlalu terjal, jika perbandingannya adalah Gunung Ciremai dan Gunung Sumbing.

Shelter 2, tempat kami bermalam, adalah tempat terakhir sebelum puncak yang memungkinkan untuk mendirikan tenda. Setelah ini, masih ada Shelter 3, tetapi di sana sudah tidak ada lagi pohon yang akan melindungi dari terpaan angin. Unik juga kalau dipikir-pikir, Shelter 2 yang notabene sudah berada di ketinggian 3000 mdpl masih ditumbuhi pohon yang rimbun. Mirip dengan puncak Gunung Pangrango, hanya saja tidak ada alun-alun edelweisnya. Shelter 3 yang sudah berada di ketinggian 3300 mdpl juga masih ditumbuhi edelweis dan cantigi yang sangat lebat, meski bergerombol.

Rekor : Sholat di Titik Tertinggi

Malamnya, saya memaksakan untuk berangkat pukul dua belas malam atau pukul nol dini hari, dengan tujuan untuk mengejar sunrise. Ide saya ini ditentang oleh Arnan. Menurutnya itu terlalu cepat. Tapi saya tidak mau ambil pusing, lebih baik menunggu di puncak daripada nanti menyesal seumur hidup karena terlambat mengejar momen matahari terbit. Kami pun berangkat pukul dua belas malam.

Baca juga:   Menapaki Kerinci, Gunung Berapi Tertinggi di Indonesia

Kemudian, saya menyesali keputusan itu.

Kami tiba di puncak pukul setengah enam, setelah beristirahat selama sejam ditengah pendakian, kedinginan. Yang tidak saya perhitungkan dari awal adalah adanya bau belerang. Untung baunya tidak sampai mengganggu kesehatan, meskipun diam-diam kepala saya agak pusing dan perut saya mual dibuatnya. Meskipun demikian, ada juga keindahan yang dapat kami nikmati. Sambil beristirahat, kami bisa melihat lampu-lampu yang menyala dengan indahnya dari kejauhan. Tidak seperti di Pulau Jawa yang pemukimannya padat, disini penduduknya masih jarang, setidaknya lebih sedikit dari yang ada di Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari pola lampu yang berjauhan. Bertaburan, seolah-olah bumi adalah cermin yang memantulkan keindahan bintang-bintang di langit.

Pemandangan dari puncak Kerinci sebenarnya tak terlalu memuaskan. Kalau hanya sekedar melihat matahari terbit dari balik awan, karena pagi itu cuaca berawan, saya sudah berkali-kali melihat hal tersebut. Yang saya harapkan dari pemandangan di Puncak Kerinci adalah : Samudra Hindia! Saya ingin melihat samudra yang terkenal liar itu. Sayangnya, cuaca tak berpihak pada tiga pendaki muda berslayer merah saat itu.

Rasa tidak puas itu akhirnya terbayar juga ketika melihat sebuah pemandangan unik dan langka, namun ternyata membahayakan. Di dasar kawah, sesekali terlihat pijar merah menyala disela-sela bau belerang yang menusuk hidung. Sayangnya, alat dokumentasi yang kami bawa tidak cukup bagus untuk  mengabadikan momen itu.

Perayaan di puncak adalah seperti biasa, berfoto. Yang unik : Memet sholat. Sholat di ketinggian 3805 mdpl. Saya berani bertaruh, dia telah memecahkan rekor nasional sholat di titik tertinggi dari permukaan laut, di bumi nusantara. Saya yakin belum ada manusia yang membuat rekor itu! Mau mengalahkan rekornya? Sholatlah di Puncak Cartenz! Berani? Kalau berani, saya akan menemani Anda.

Berhasil dengan Selamat

Setelah turun dari puncak, kami masih bermalam dua kali lagi. Dalam perjalanan pulang, Puncak Kerinci terlihat masih tertutup oleh awan. Arnan menerima pesan singkat dari temannya, katanya Gunung Kerinci sedang aktif. Wah…

Baca juga : Data Operaional “Gunung Kerinci 3805 mdpl”

Para pemuda desa tampak sedang bermain bola di sebuah dusun di kaki Gunung Kerinci. Sementara Gunung Kerinci terlihat mengeluarkan asap. Kami sempat singgah selama beberapa hari di dusun tersebut. Menurut warga, letusan Gunung Kerinci tidak pernah merusak kampung mereka. Dan gunung api ini kembali aktif tepat setelah kami tiba di bawah.
Suasana di stasiun kereta api di salah satu sudut kota Bandar Lampung, di dekat kampus Unila. Kami harus menempuh perjalanan enam hari lamanya menuju Gunung Kerinci, melenceng tiga hari dari yang kami rencanakan.
Memet sedang belanja logistik di kota Sungai Penuh, kota terdekat dengan Gunung Kerinci. Perbedaan budaya dan karakter masyarakat menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan kali ini.
Tugu Macan, dengan latar belakang pemandangan Gunung Kerinci di belakangnya. Butuh sekitar dua jam untuk berjalan kaki menuju batas hutan (Pintu Rimba).
Pos 3 Jika cuaca cerah, kita dapat melihat pemandangan Danau Gunung Tujuh di seberang Gunung Kerinci ini.
Akhirnya perjalanan kami sampai di Puncak Gunung Kerinci, 3805 mdpl. Gunung Api tertinggi di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.
Memet sujud menunaikan ibadahnya. Ada yang pernah sholat di atas ketinggian 3805 mdpl?
Arnan belajar menggunakan GPS dari Memet. Penggunaan alat navigasi seperti ini lebih efektif dari pada peta manual, karena sepanjang jalur pendakian, kita akan menemui hutan yang lebat. Dan itu menyulitkan jika bernavigasi manual.

Tulisan dan Foto oleh Bolenk Astacala

  • Mantep om bolenk ceritanya..wah 6 hari ya perjalanan gile 😆

  • wih..nak wira..
    mantau ternyata.
    Iya tuh, nambah 3 hari.
    tapi lumayan, jadi nambah teman selama perjalanan.

  • om klo ada no telf porter boleh minta dong… sms ke 081298782899 makasih