Pendidikan Lanjut Peminatan Arung Jeram Sesi II

Related Articles

Astacala!!!

Perahu merah Astacala sudah diturunkan. Pemanasan sudah dilakukan. Scouting juga telah dilakukan. Semua persiapan sudah selesai. Singkat kata, semua persiapan telah siap untuk memulai pengarungan. Debit air sungai yang tampak lebih tinggi dari biasanya tidak menyurutkan semangat para peserta. Dan akhirnya, perahu merah milik Astacala dan dua perahu sewaan lainnya meluncur. Menyapa setiap jeram-jeram Sungai Cisangkuy yang sudah siap menyambut di hari Minggu itu, 18 Maret 2012.

Ini  adalah kegiatan arung jeram . Tetapi pengarungan kali ini bukanlah kegiatan jalan-jalan biasa. Melainkan bagian dari pendidikan lanjut peminatan olah raga arus deras, atau yang biasa disingkat dengan Diklan Orad.

Diklan Orad kali ini merupakan bagian dari rangkaian masa bimbingan anggota muda Astacala angkatan Angin Puncak. Sebelumnya, mereka telah menjalani beberapa rangkaian diklan yang lainnya, seperti navigasi darat, gunung hutan, fotografi dan jurnalistik, juga beberapa diklan lainnya.

Secara umum, konsep diklan angkatan sekarang ini masih mengikuti konsep masa bimbingan angkatan sebelumnya. Adapun beberapa perbedaan konsep yang diterapkan lebih banyak pada fase peminatan. Setelah menyelesaikan diklan-diklan sebelumnya, para anggota muda akan memilih salah satu divisi yang akan lebih dipedalam lagi pemahamannya oleh mereka. Divisi pilihan yang saat ini ada di Astacala ada tiga : caving atau penelusuran gua, orad, dan panjat tebing. Ketiga diklan ini dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.

Konsep pendidikan lanjut untuk peminatan divisi orad ini terbilang baru. Jika biasanya praktik lapangan diklan dilakukan hanya satu kali saja, kali ini dibuat ada dua sesi. Setiap sesi berlangsung hanya satu hari, tanpa menginap atau bermalam di lokasi kegiatan. Sesi pertama telah dilangsungkan dua minggu yang lalu di Sungai Citarum. Sedangkan sesi kedua kali ini dilaksanakan di Sungai Cisangkuy.

Dari segi materi, konsep diklan untuk angkatan kali ini juga telah banyak melakukan perubahan, tetapi masih tetap mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Lanjut Astacala. Praktik materi Orad ini dibagi dalam dua bagian, yaitu latihan olah raga arus lemah di danau kampus IT Telkom dan praktik lapangan langsung di sungai. Praktik lapangan ini, seperti yang telah disebutkan di atas, dibagi lagi dalam dua sesi, di Sungai Citarum dan Sungai Cisangkuy. Sesi pertama mempraktikkan materi teknik rescue dan renang jeram. Sedangkan sesi kedua mempraktikkan teknik skipper, sketsa jeram, dan teknik ferrying.

Meskipun jumlah personil yang ikut berpartisipasi dalam diklan kali ini berjumlah 17 orang, tetapi yang tercatat sebagai peserta diklan peminatan (divisi) hanya ada lima orang, yaitu Galih, Adit, Ilfan, Hadi, dan Ebol. Sisanya adalah instruktur dan peserta biasa (non peminatan). Selain itu juga terdapat dua orang simpatisan, bernama Rafael dan Gunnar, yang ikut dalam kegiatan ini. Kedua orang rekan Onie (anggota Astacala dan alumni IT Telkom) ini adalah mahasiswa pertukaran pelajar asal Jerman yang sedang kuliah di salah satu institut negeri di kota Bandung.

Pengarungan ini dimulai dari pukul sembilan pagi. Materi pertama adalah teknik skipper. Pada awal pengarungan ini terjadi sebuah insiden, di mana Adit, peserta peminatan orad yang berada di perahu ketiga terjatuh dari atas perahu. Padahal posisi jatuhnya Adit dari atas perahu ini hanya berjarak sekitar 10 meter dari titik start pengarungan. Menurut pengakuan Adit, posisi perahu ketika masuk jeram agak miring sehingga Adit yang sedang tidak berada posisi terbaiknya akhirnya terjatuh dari atas perahu.

Setelah materi teknik skipper ini, materi berikutnya adalah sketsa jeram. Materi di sini baru sekedar pengenalan dasar-dasar penggambaran sketsa jeram, dengan alat bantu berupa kompas dan alat tulis. Alat-alat ukur lainnya belum dipergunakan dalam pembuatan sketsa ini.

Di tengah pengarungan, ada praktik materi ferrying angle. Ferrying angle adalah tehnik menyeberangkan perahu melawan arus dengan posisi perahu menantang arus. Di sini terjadi insiden perahu hanyut.

“Jadi ceritanya Si Hadi lagi sendirian di atas perahu, mau menyeberangkan perahu dengan tehnik ferrying angle. Pas tali rescue pertama dilempar, ternyata meleset, tidak tepat sasaran. Tali rescue kedua, yang dilempar Ocul tepat di atas kepala Hadi, tetapi gagal ditangkap oleh Hadi. Tali ketiga dilempar lagi, kali ini dapat. Tapi posisi perahu sudah berada tepat di atas jeram. Hadi yang sudah memegang tali resque ternyata tidak kuat menahan perahu melawan arus. Akhirnya, Hadi terjatuh ke dalam sungai dan perahu pun hanyut terbawa arus dan tanpa penumpang. Untungnya tim rescue sudah siap, jadi Hadi dan  perahu yang berhasil diselamatkan,” demikian kata Adit yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.

Sekitar pukul 12 siang, ketiga perahu telah tiba di titik makan siang. Beberapa puluh meter menjelang titik finish makan siang, terjadi insiden lagi. Salah satu perahu mengalami wrap atau tersangkut pada batu. Setelah beberapa menit lamanya ditangani oleh anggota Astacala dan operator akhirnya perahu bisa dikembalikan ke posisi semula.

Selesai makan siang, materi kembali dilanjutkan. Kali ini materi yang akan dipraktikkan adalah teknik ferrying. Setiap perahu diawaki oleh dua orang akan diseberangkan melawan arus air. Ternyata materi ini cukup sulit juga bagi para peserta. Seperti misalnya Ebol yang kewalahan melawan arus sungai, sampai akhirnya menyerah menunggu tali resque, sambil berpegangan pada pohon bambu.

Pengarungan ini akhirnya selesai pukul setengah tiga sore.

Sungai Cisangkuy merupakan sungai terdekat dari Kota Bandung yang dapat diarungi. Pengarungan di sungai ini lumayan mengasyikkan. Dengan jumlah jeram yang terbilang banyak dan selalu ada di sepanjang jalur sungai menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pemandangan sepanjang jalur pengarungan juga sangat bagus. Dengan lanskap khas Jawa Barat, di sepanjang sungai kita akan melihat sawah sengkedan dan ladang milik warga yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang indah. Sayang sekali, objek wisata arung jeram ini belum begitu populer bagi masyarakat umum.

Demikianlah cerita singkat dari sisi selatan Bandung dan berikut beberapa foto selama kegiatan.

Para peserta bersiap-siap untuk melakukan tehnik ferrying

Ilfan dan Galih. Kedua peserta diklan peminatan ini sedang berduet untuk melakukan tehnik ferrying.

Tehnik ferrying yang melawan arus memang lumayan menguras tenaga. Ebol terlihat menyerah dan menunggu tali rescue. Sementara Adit berteriak dari seberang sungai : “Dayung yang benerlah, Coi!! Padlenya masukin ke dalam air lah!!!”

Dua buah perahu beserta masing-masing awaknya sedang berusaha melakukan tehnik ferrying.

Sebuah perahu terlihat sedang dalam posisi yang tidak normal ketika berada di atas jeram. Skippernya, Adit, berusaha membetulkan posisi perahu dengan sekuat tenaga.

Evaluasi juga langsung dilaksanakan di lapangan, tepat sesudah pengarungan. Evaluasi mencakup persiapan panitia dari pra-operasional sampai operasional. Hal ini juga merupakan terobosan baru dalam diklan kali ini.

Tulisan dan Foto oleh Bolenk Astacala

Comments

  1. @gondez silahkan dibaca lagi paragraf ke tujuh baris ke tiga. 🙂

    Sayang banget Leng fotonya waktu perahu gw miring..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Kebo dalam Kenangan

Kebo, saya mengenalnya belasan tahun silam. Kulitnya legam bermata tajam. Ia di Astacala sebagai angkatan API, yang di kemudian hari didapuk sebagai Ketua (periode ke-4). Konon, nama yang disematkan kepadanya bukan tanpa alasan. Staminanya yang kuat, keberaniannya di lapangan menjadi musabab itu. Sekuat kerbau yang terkenal itu. Ada juga yang menyangkut-pautkannya dengan asal daerahnya, Kebumen. Kebo-man alias orang Kebumen.

Longsor Ciwidey

Longsor di Perkebunan Teh Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang terjadi pada hari Selasa pagi tanggal 23 Februari 2010 menimbun sedikitnya...

Menjaga Alat Navigasi

Dalam suatu kegiatan pendidikan dasar, khususnya pada medan gunung hutan, seringkali penulis menemui kejadian dimana siswa pendidikan dasar tidak bisa melakukan navigasi karena kerusakan...