Awan Rinjani (Part 2)

Awan Rinjani (Part 2)

Pemandangan dari Puncak Rinjani

“Hiduplah… Indonesia Raya…”, lagu Indonesia Raya pertama di Puncak Rinjani hari itu, telah selesai dinyanyikan. Mengalun bersama angin puncak yang berhembus kencang meniup kami. Mentari meninggi memperlihatkan keperkasaannya. Mentransfer panas untuk siapa saja yang tak terlindungi, termasuk kami. Tak ada pohon rindang untuk berteduh. Hanya ada batu dan pasir yang berasal dari bongkahan batu-batu yang pecah. Tak ada air yang melintas untuk membasahi tenggorokan. Hanya air di botol minum kami yang akan kering tak lama lagi. Semua itu mengisyaratkan kami untuk turun. Jalan yang kami tempuh saat turun tak berbeda seperti saat kami naik tapi jauh terasa lebih ringan. Kami menyusurinya dengan berjalan kaki. Bukan, tapi jalan cepat. Atau berlari? Yang pasti kami ingin cepat sampai di camp. Di tengah perjalanan turun ke camp, kami berjumpa dengan tim kloter kedua. Mereka terlambat karena menunggu salah satu teman kami yang fisiknya kurang kuat. Aku merasa ada yang mengganjal di hati. Bagaimana bisa aku tega lebih dulu ke puncak meninggalkan teman-temanku yang lain. Melalui tulisan ini aku mohon maaf.

Suasana Camp Plawangan Sembalun

Setelah berjalan kurang lebih satu jam, akhirnya tim pertama tiba di camp (Plawangan Sembalun). Kami istirahat sejenak, kemudian bergegas menyiapkan makan untuk kami sendiri dan teman kami yang datang belakangan. Puas bercampur haru, rasanya tidak percaya bahwa tadi kami berada di puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia. Kami menunggu tim kedua namun tak kunjung tiba. Akhirnya kami memutuskan untuk makan lebih dulu dan menyisakan sebagian untuk tim kedua. Batas siang telah terlewati, mereka belum juga datang. Rasa was-was serta merta menyergap kami yang sedari tadi menganalisa apa yang sebenarnya terjadi. Dari kejauhan terdengar teriakan “Astacala…!!!”. Beberapa dari kami menyambangi suara itu dan datang dengan membawa satu botol besar nutrisari berjaga-jaga jika mereka dehidrasi. Mereka terlambat karena ada anggota tim yang bermasalah dengan kakinya. Waktu menunjukan pukul 15.00 WITA. Tidak cukup waktu untuk menuju Danau Segara Anak. Keputusan kami adalah ngecamp satu malam lagi di Plawangan Sembalun.

Baca juga:   Sepenggal Perjalanan ke Rinjani
Dari Plawangan Sembalun ke Segara Anak
Danau Segara Anak yang Mengintip

Esok pagi mentari pun menjemput kami kembali dari tidur kami yang nyenyak di balik tenda-tenda yang berdiri menantang angin pegunungan yang menyapa. Santap pagipun kami lahap dengan semangat karena kami tahu hari berat yang berakhir indah telah menanti di depan mata. Bergegas kami membereskan semua peralatan dan memasukkannya ke dalam ransel-ransel 80 liter kami. Deru sepatu mulai kami mainkan menuju danau segara anakan. Jalan menurun berbatu dan terjal sudah menantang kami tak lama setelah kami berjalan. Beban dan rasa lelah menjadi musuh yang harus kami taklukan dengan semangat. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan, pesona biru terlihat tersenyum di balik bukit-bukit yang berusaha menyembunyikannya. Langkah kami semakin cepat, tak sabar rasanya mencumbui keindahan yang Tuhan ciptakan itu. Dan akhirnya aku menyentuh sejuknya air Danau Segara Anak. Namun sayang, di tepi-tepinya banyak sampah yang berserak. Buah tangan manusia-manusia yang tidak mengerti bagaimana cara mensyukuri keindahan yang diberikan Tuhan. Kami mendirikan tenda di bibir danau yang tengah sariawan akibat ulah congkak manusia.

Segara Anak
Suasana Santai

Dari tepi danau tampak Puncak Rinjani yang kemarin kami daki. Di tengah danau berdiri gunung kecil yang masih aktif yang disebut Gunung Baru. Terkadang awan putih kelabu terbang rendah di atas danau dan menabrak Gunung Baru. Airnya berwarna biru, cerminan awan yang ada di atasnya. Terlihat pula orang-orang ramai menaruh pancingnya ke danau. Memang Danau Segara Anak memiliki ikan yang cukup banyak sehingga menjadi surga bagi para pemancing. Aku teringat cerita temanku yang pernah ke sini. Katanya di sini terdapat sumber air hangat. Aku dengan beberapa orang teman mencari lokasi air hangat itu. “Nah, itu dia” kataku ketika melihat sumber air hangat itu. Tak ayal kami pun langsung membenamkan diri di hangatnya air. Terasa sangat nikmat, setelah selama tiga hari menggendong ransel, menelusuri jalan menanjak, berjibaku dengan pasir, bertarung dengan dingin malam, dan bergelut dengat angin kencang. Badan telah segar, dan kami siap untuk menikmati keindahan alam. Ya, memang saat-saat di danau kami plot untuk bersenang-senang. Ada yang memancing, bersantai, masak, tidur, bahkan kelayapan entah ke mana. Semua kami lakoni dengan azas bersenang-senang. Bahkan di malam hari pun teman-temanku masih ada yang memancing. Malam dingin yang cerah, tak ada kabut. Kembali aku lihat bintang jatuh di angkasa menambah lengkap keindahan malam itu. Yeeeaaahh… Subhanallah sekali.

Baca juga:   Awan Rinjani (Part 1)
Air Panas
Berfoto dengan Pendaki Lain

Pagi tak bisa kami bendung untuk datang, dia kembali membangunkan kami dari tidur yang penuh senyuman. Wuih… Malam yang panjang. Kami merencanakan untuk bergerak setelah makan siang karena memang kami ingin lebih lama bercumbu dengan Segara Anak. Setelah makan siang, semua peralatan masuk ransel dan kami berpamitan dengan sahabat-sahabat baru yang notabene sesama pendaki yang kami temui di danau. Kami pun mulai melangkah. Tujuan camp kami selanjutnya adalah Plawangan Senaru. Sejak pagi kabut telah menyelimuti danau dan mereka pun mengikuti kami sepanjang perjalanan ke Plawangan Senaru. Tipe jalur ke Plawangan Senaru hampir sama seperti saat turun ke danau, namun kami harus memandangnya terbalik. Jika jalur terjal ke danau menurun, jalur ke Plawangan Senaru sama terjal tetapi mendaki. Kami tergopoh-gopoh menaikinya. Sesekali para porter mendahului kami. Mereka mendaki dengan cepat meski membawa barang-barang yang tidak ringan hanya dengan pikulan keranjang. Kami terasa tidak ada apa-apanya dari segi kekuatan dibanding mereka. Sebuah kenyataan seleksi alam, bisa karena biasa. Kali ini aku berada di rombongan belakang. Empat jam kami lalui dan akhirnya sampai di Plawangan Senaru. Hari telah sore saat kami tiba. Pemandangan menakjubkan kembali kami saksikan. Sunset yang begitu bulat berlatar belakang awan yang menyerupai domba-domba di padang rumput menyapa dengan ramah. Di arah berlawanan tersaji pemandangan Danau Segara Anak yang ditemani Gunung Baru yang berwarna keemasan akibat bias matahari sore. Sunset turun dan berganti malam.

Sunset Plawangan Senaru
Panorama dari Plawangan Senaru

Seperti biasa, malam tiba dengan dinginnya dan kami berusaha menampiknya dengan berlindung di dalam tenda dan makan. Di saat masak, sebagian dari kami yang tidak ada kerjaan bermain kartu atau bernyanyi. Karena terlalu senang, Handung, Kiting, dan Engkong bernyanyi terlalu keras dan memekakan telinga sehingga lemparan pasir pun datang dari seorang porter ke tenda kami. Mereka pun diam dan kami tidak berisik lagi, merasa tidak enak karena telah mengganggu. Ini suatu pelajaran untuk kami untuk menghargai orang lain. Malam itu aku tertidur nyenyak, mungkin karena terlalu lelah hingga melewatkan momen saat mentari terbit. Pukul 09.00 WITA kami mulai bergerak meninggalkan Plawangan Senaru, meninggalkan tawa bule-bule itu, serta meninggalkan kenangan tentang lagu dan pasir.

Baca juga:   Puasa, Dari Bali Hingga Rinjani
Gerbang Senaru

Jalur Senaru jauh berbeda dengan jalur Sembalun. Di jalur Senaru hamparan pohon cemara disambung dengan pohon-pohon khas hutan hujan tropis berjajar menaungi jalur dari Pos 4 sampai gerbang di Senaru. Medan pun beralih dari pasir ke tanah merah yang lembab. Sebagian kami beradu lari sampai ke gerbang Senaru. Di sepanjang jalan masih sering kami jumpai bule-bule dan pendaki lokal yang baru naik. Sekitar pukul 14.00 WITA rombongan pertama sampai di gerbang. Ternyata dari gerbang hingga ke tempat bus kami yang menunggu masih jauh. Setelah rombongan pertama sampai di tempat pemberhentian bus, kami menunggu rombongan kedua datang. Cukup lama waktu kedatangan rombongan pertama dengan rombongan kedua. Akhirnya mereka datang juga, bus menyalakan mesin bersiap untuk berangkat. Ban mulai bergerak, dan kami mengucapkan salam perpisahan kepada Rinjani dalam hati masing-masing. Selamat tinggal puncak mahabiru, sampai jumpa Danau Segara Anak. Terima kasih Tuhan atas keindahan yang sempurna yang telah engkau ciptakan.

Tulisan oleh Eko Wahyudi
Foto oleh Tim Pendakian Rinjani