Awan Rinjani (Part 1)

Related Articles

Puncak Rinjani Dilihat dari Jalur Sembalun

Jauh sebelum hari itu, semua telah dipersiapkan. Persiapan perlengkapan, logistik, sampai kronologis sudah menu wajib kami sebelum berangkat ke lapangan. Perjalanan ini menyimpan prestis tersendiri untukku. Rinjani, siapa tak kenal gunung itu? Gunung setinggi 3765 mdpl yang indah dan selalu mesra menyapa hasrat para pendaki. Terlebih gunung ini terletak di Lombok, pulau yang sangat eksotis yang menyimpan sensasi keindahan yang misterius. Tak ayal kami pun rela menempuh perjalanan jauh dari Bandung melintasi Jawa dari barat hingga timurnya, melewati Selat Bali, melampaui pulau dewata, dan akhirnya tiba di Lombok. Transportasi darat yang sambung-menyambung yang melelahkan termakan oleh keceriaan dan misteri. Ya, misteri yang tak dapat kujelaskan di lembaran ini.

Tim Pendakian

Malam sebelum berangkat kami saling bergurau di rumah seorang sahabat tempat kami menginap selama di Lombok, “Rinjani Boy, Rinjani”. Deru semangat yang tak sabar bagai pembalap yang berjajar menunggu lampu hijau tanda balapan dimulai menyala. Mengira-ngira keindahan macam apa yang akan kami saksikan di gunung yang kami rindukan selama ini. Aku tak nyenyak tidur walaupun ini bukan gunung pertama yang kudaki, entah yang lain. Hingga akhirnya pagi menjelang. Setelah menyantap makan pagi, mini bus pengantar kami pun tiba. Bus itu, bus yang kami sewa seharga Rp 700.000 yang uangnya kami himpun dari anggota tim yang berjumlah 16 orang. Bus itu melaju menyusuri jalan-jalan yang berujung di Sembalun, pos pendakian, awal pendakian kami.

Jalur Sembalun

Setelah registrasi tiket masuk dan mengisi air, langkah pertama pun terjadi. Langkah demi langkah di padang rumput sembalun yang berwarna kuning kecoklatan. Kami berjajar gagah bak serdadu yang hendak perang, dengan ransel-ransel 80 liter di punggung, dengan sepatu-sepatu bersol kuat yang mampu mencengkram jengkal tanah yang dipijak. Masih landai, jalur yang kami lalui di hari pertama belum memaksa kami untuk mendaki, namun beban yang kami bawa membuat kami cukup lelah, maklum packingan sama sekali belum dibongkar. Sesekali para turis asing melintas, kebanyakan mereka turun dan disertai porter. Dengan kata-kata sederhana kami menyapa mereka, “Hi mister, where do you come from? Is there beautiful?” Kami ingin membuktikan kalau Indonesia negeri indah yang manusianya ramah.

Pos 2 Sembalun
Hari mendekati senja, kamipun memutuskan beristirahat di Pos 2 yang memiliki sebuah shelter. Langit malam menyajikan panorama yang sangat indah. Begitu cerah disertai awan tipis yang sesekali melintas. Tak terhitung berapa jumlah bintang yang terbit malam itu. Sangat banyak bagai taburan coklat bubuk dalam segelas cappuccino hangat. Aku pun melihat peristiwa yang jarang terjadi di hidupku. Bintang jatuh kulihat dua tiga kali melintasi camp. Sungguh keindahan yang, ah… entah bagaimana aku mengatakannya. Setelah makan makanan khas orang kemping, kami berkumpul mengelilingi api unggun sambil menyeruput kopi panas bergiliran ditemani lintingan tembakau serta tawa canda yang hangat menambah sensasi keindahan yang sangat menyenangkan.

Sunset Plawangan Sembalun
Mentari pagi akhirnya menampakkan senyumnya. Menandakan kami harus berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Target kami adalah Plawangan Sembalun. Satu pos yang terdekat dengan puncak. Jalur yang kami lalui semakin menanjak. Suasana jalur dari Pos 2 hingga Plawangan Sembalun didominasi padang rumput yang gersang. Hanya sedikit pohon cemara kami temui. Di depan kami terlihat tiga bukit yang menyambung, para pendaki mengenalnya sebagai bukit penyesalan. Ya, karena bukit itu terasa tak ada ujungnya dan membuat pendaki putus asa. Kami berjalan beriringan. Apabila yang di depan merasa yang bdi elakang terlampau jauh, mereka menunggu sambil istirahat. Begitu seterusnya, susul menyusul. Saat itu Rinjani sedang ramai-ramainya. Entah berapa puluh turis asing dan lokal berpapasan dengan kami. Hingga siang menjelang sore kami belum juga sampai di Plawangan Sembalun. Kami terus berjalan, dan akhirnya kami melihat biru di antara hijau. Benar, itulah Danau Segara Anak. Di tengahnya terdapat gunung kecil yang mengeluarkan asap. Gunung Baru namanya. Sungguh indah lukisan dari tangan Sang Pencipta segala.

Mengintip Danau Segara Anak
Dari tempat itu sudah terlihat Plawangan Sembalun. Ramai sekali nampaknya. Aku dan beberapa anggota tim bergegas mencari tempat mendirikan tenda, sementara yang lain kutinggal di belakang. Alhamdulillah, kami mendapat tempat di sana. Tempat yang jika sore tiba sunsetnya begitu indah. Kembali kubersyukur bisa melihat keindahan ini. Setelah semua datang, kami bergegas membuat tenda. Angin begitu kencang hingga membuat frame doome melengkung. Kami semua merasa sangat dingin. Memasak pun sulit. Api trangia dan paraffin tertiup oleh angin. Dengan sabar kami melakoni kegiatan memasak ini. Setelah beberapa saat yang terasa lama, akhirnya kami makan lalu tidur di doome masing-masing. Kami tidak tahan jika harus di luar terlalu lama. Malam itu telah bulat keputusan tim untuk summit attack besok pukul 2 pagi.

Di Puncak Rinjani

Aku tidur nyenyak, sangat nyenyak hingga tak sadar teman-teman sudah sibuk menyiapkan summit attack. Aku terbangun dan ikut larut dalam kesibukan itu. Perbekalan telah siap, anggota pun telah lengkap, ayo jalan. Jalan menanjak menanti kami di depan. Angin kencang bercampur debu dari jalan yang berpasir menemani kami sepanjang jalan. Sangat berat berjalan di pasir. Naik tiga langkah turun selangkah. Anggota terbagi, ada tim belakang untuk menemani anggota yang lambat dan tim depan. Aku di tim depan. Jalan semakin tidak wajar, terus menanjak dan makin berpasir. Tapi dalam hati bertekad, aku harus menjelangnya. Ya, dia. Sunrise. Matahari sudah mengintip, aku mempercepat langkahku. Akhirnya aku tiba di puncak tepat saat matahari setengah muncul. Puncak yang di sisi selatannya terlihat Danau Segara Anak yang biru, di sebelah timurnya terdapat sajian sunrise dan awan yang berarak bagai domba-domba yang berjajar. Terasa semua beban hilang, jiwa melayang, bagai melihat surga. Aku berteriak, “Rinjani, aku mencapai puncakmu!”. Kunikmati puncaknya dan sunrisenya dengan hisapan rokok. Ah, betapa nikmatnya hisapan rokok yang terakhir di Puncak Rinjani dan ditemani sunrise. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya di Puncak Rinjani. Di tengah-tengah belasan warga asing. Biar mereka tahu betapa rakyat rakyat Indonesia mencintai negeri tercintanya. Tubuhku merinding campur haru menyanyikannya.

Tulisan oleh Eko Wahyudi
Foto oleh Tim pendakian Rinjani

More on this topic

Comments

  1. I am not sure where you arre getting your information, but gresat
    topic. I needs to spend some time learning much more or understanding
    more. Thanks for excellennt information I
    was looking for this information for my mission.
    web page

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular stories

Teungku Krueng Meureubo

Saya menyapa pak tua yang berkopiah itu dengan sapaan Teungku. Entah Teungku apa, seperti kebanyakan pemuda memanggilnya. Saya sebut saja Teungku Krueng Meureubo, dan...

Astacala Ikut KKN Tematik Citarum Harum Sektor 6

Acara disambut meriah oleh masyarakat sekitar. Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Pangdam Siliwangi dan Rektor Telkom University. Kemudian penanaman 500 pohon, lomba perahu karet dan kayak, demo robot pengukur kadar air, dan ditutup dengan penyerahan koleksi Perpustakaan Lingkungan.

Negeri Kepulauan yang Lupa Jati Dirinya…

Kini di dunia hanya dua negara yang menyisakan hamparan hutan terbesar, yakni Brasil dan Indonesia. Brasil punya hamparan hutan terluas yang berada di cekungan...