Puasa di Gunung Lawu

Puasa di Gunung Lawu

Bulan Puasa, sepertinya bulan ini menggambarkan kondisi tubuh kita yang terasa lemah, lesu, dan malas berkegiatan yang berat karena tubuh kita tidak disupport oleh makanan dan minuman lebih dari dua belas jam. Coba bayangkan, bagaimana rasanya naik gunung dalam kondisi puasa. Tidak puasa saja sudah melelahkan, apalagi dalam kondisi puasa. Ternyata setelah saya menjalaninya sendiri, rasanya hal tersebut tidak seberat dan sesusah menegakkan benang yang basah.

Salah satu jalur pendakian di Cemoro Kandang

13 Agustus 2010, awal mulanya perjalanan ini adalah untuk survey gua di Pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Tim survey berjumlah lima  orang, yaitu saya sendiri Widi (Pari), Ikhsan (Tumingkel), Bayu (Cirit), Deni (Engkong) dan Wida. Dengan jasa transportasi langganan kereta ekonomi kami berangkat dari stasiun Kiara Condong pukul 21.30 WIB. Sesampainya di Pulau Nusa Kambangan kami belum memperoleh izin yang lengkap karena proses perizinan di Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah belum selesai. Malam harinya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Lawu karena terasa tanggung sudah sampai di Jawa Tengah dan sekalian menghabiskan logistik yang sudah dibawa. Esok harinya kami langsung meluncur ke rumah Cirit di Solo sebagai tempat istirahat dan menyusun rencana operasional perjalanan Gunung Lawu sebelum melakukan pendakian esok harinya.

Basecamp Gunung Lawu jalur Cemara Kandang

16 Agustus 2010, kira–kira pukul 09.00 WIB kami memulai pendakian dari base camp jalur Cemoro Kandang. Tempo perjalanan memang lebih lambat dari pendakian di hari–hari biasa dan terasa lebih melelahkan. Tetapi sambil bercanda tawa dan mencela antar rekan seperjalanan, rasa capek jadi tidak begitu terasa. Pukul tiga sore kami sampai di Pos 3 dan mendirikan camp di sana. Tak lama berselang, camp pun jadi, kayu untuk api unggun sudah terkumpul dan santapan buka puasa sudah siap. Alhamdulillah saat buka puasa tiba. Begitu nikmatnya seduhan minuman hangat dan nasi sayur asem dengan lauk nugget ditambah hisapan rokok seusai makan di suasana dingin di dekat api unggun. Malam harinya kami tidur agak cepat setelah menanak nasi untuk sahur. Karena bangun untuk sahur yang terlambat, akhirnya kami sahur dengan nasi goreng yang pembuatannya tidak banyak menghabiskan waktu.

Baca juga:   Ah, Gunung Ini Terlalu Indah untuk Dinikmati dengan Waktu Dua Hari

Memasak untuk buka puasa di camp

Di HUT kemerdekaan RI yang ke 65, kami melanjutkan pendakian menuju puncak Gunung Lawu. Perjalanan yang sangat melelahkan karena cuaca sangat panas, apalagi kami sampai di puncak tepat tengah hari. Setelah istirahat sebentar dan menikmati indahnya puncak di siang hari, kami melanjutkan perjalanan untuk turun melalui jalur Cemara Sewu. Jalur ini berupa bebatuan rapi yang membentuk jalan rata dan bertingkat membentuk tangga. Jalur ini merupakan jalur yang biasa digunakan oleh para keturunan Kerajaan Majapahit untuk melakukan ritual tahunannya di makam Raja Brawijaya V yang terletak di dekat Puncak Gunung Lawu. Di dekat makam tersebut juga terdapat warung–warung tempat istirahat dan makan para pendaki.

Suasana pagi di Pos 3 Cemoro Kandang

Pemandangan dari Puncak Gunung Lawu

Setelah melewati ribuan tangga kami akhirnya sampai di daerah ladang, di mana hal ini menunjukkan bahwa base camp Cemoro Sewu sudah dekat. Setelah ladang terlewati, suasana berubah dengan pemandangan pohon cemara yang banyak. Karena banyaknya cemara inilah yang menyebabkan base camp ini dinamakan Cemoro Sewu, yang artinya cemara seribu. Pukul 17:30 kami sampai di base camp. Setelah istirahat sebentar kami menuju rumah Cirit lagi. Tidur malam itu terasa sangat nyenyak, sepertinya rasa lelah menumpuk di malam itu. Hari Kamis siang kami pulang menuju Bandung setelah malam sebelumnya ketinggalan kereta karena kurang update jadwal kereta dari Stasiun Jebres – Solo. Kamis tengah malam kami pun sampai di Sekretariat Astacala tercinta. Dengan perjalanan ini, saya pun berangan–angan kalau puasa tahun depan ingin merencanakan perjalanan lagi. Bulan puasa bukanlah penghalang untuk berkegiatan seperti hari–hari biasa. Justru dalam bulan puasa akan menemukan lebih banyak cerita dan pengalaman yang tidak di dapat di hari–hari biasa.

Tulisan oleh Widi Widayat
Foto oleh Widi Widayat dan Widdha Mellysa

  • special to pari : *no mana??gk ikut ya? :p

  • hahahahahahahaha. fatal bgt ni keslahan pari.

  • 071

    @onie : ora ono..yowes,ojo ngonolah..
    wakakakakaka