Marga Batak


{nl}

Salah satu dari warisan kebudayaan Suku Batak yang sampai sekarang masih terlestarikan (meski mulai terlupakan oleh sebagian orang) adalah budaya “marga”. Ini adalah budaya yang unik, karena tidak semua suku di dunia “secara resmi” punya marga. Beberapa di antaranya bahkan hanya punya “nama keluarga”. Marga adalah nama keluarga yang berasal dari nenek moyang, yang akan melekat pada nama belakang pemiliknya. Marga ini akan dibawa sampai akhir hayatnya, dengan kata lain seseorang tidak dapat mengganti marganya sesuai dengan keinginannya. Karena marga adalah sesuatu yang bersifat ikatan darah yang tidak dapat diubah ataupun dihilangkan.

[more]

{nl}

Samosir Salah satu dari warisan kebudayaan Suku Batak yang sampai sekarang masih terlestarikan (meski mulai terlupakan oleh sebagian orang) adalah budaya “marga”. Ini adalah budaya yang unik, karena tidak semua suku di dunia “secara resmi” punya marga. Beberapa di antaranya bahkan hanya punya “nama keluarga”. Marga adalah nama keluarga yang berasal dari nenek moyang, yang akan melekat pada nama belakang pemiliknya. Marga ini akan dibawa sampai akhir hayatnya, dengan kata lain seseorang tidak dapat mengganti marganya sesuai dengan keinginannya. Karena marga adalah sesuatu yang bersifat ikatan darah yang tidak dapat diubah ataupun dihilangkan.

Kebudayaan suku Batak bersifat patrilineal. Oleh karena itu marga hanya akan diturunkan oleh seorang ayah kepada anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Kelak anaknya yang laki-laki juga akan menurunkan marganya tersebut kepada keturunan berikutnya. Bagaimana dengan anak perempuan? Dalam adat Batak, seorang perempuan yang menikah akan mengikuti marga suaminya. Mengikuti di sini memiliki artian menjadi bagian dari keluarga pihak suami. Marga asal sang perempuan (istri) akan menjadi Hulahula.

Sejarah lahirnya marga-marga diwariskan secara turun temurun oleh para orang tua. Sejarah tersebut dapat menyerupai legenda atau dalam bahasa batak disebut dengan turi-turian. Mulanya marga tersebut adalah nama dari para raja Batak. Nama tersebut kemudian diwariskan secara turun temurun kepada keturunannya dan dikenal dengan sebutan marga. Raja yang empunya nama asli tersebut kemudian disebut sebagai generasi pertama. Anaknya akan disebut dalam marga ayahnya sebagai generasi kedua ,kemudian cucunya akan disebut sebagai generasi ketiga, demikian seterusnya. Seperti saya (penulis – bernama asli Anatoli marbun) adalah marga Marbun ke-17. Hal ini berarti saya adalah generasi ke-17.

Baca juga:   Boyongan Pasar Antik Triwindu – Solo

Mengetahui Tarombo sangatlah penting. Dari tarombo kita dapat mengetahui marga-marga kita dan marga kerabat kita. Saya memang bermarga Marbun, tetapi saya juga bermarga Naipospos. Kakek saya bermarga Lumban Gaol. Lho? Bingung? Nanti akan saya jelaskan. Dari Tarombo, juga dapat diketahui tingkatan generasi seseorang di dalam marga .Sesama satu generasi memiliki status abang/kakak-adik. Kalau berbeda satu generasi, statusnya adalah ayah/bapa dan anak (bukan paman dan ponakan), jadi dibedakan.

Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan “marga-marga” dan “marga-marga kerabat”? Jadi begini, karena dahulu marga itu adalah nama dari seseorang (raja), maka sebagaimana normalnya manusia yang lain, maka ia juga mempunyai anak yang lebih dari satu.

Kita ambil contoh marga penulis, marga Marbun. Dahulu, Si Raja Marbun mempunyai tiga orang anak, secara urut mereka adalah Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol. Si Raja Marbun adalah anak kedua dari Si Raja Naipospos. Si Raja Marbun mempunyai seorang saudara namanya Si Raja Toga Sipoholon. Raja Toga Sipoholon mempunyai empat orang anak, secara urut mereka adalah Bagariang, Hutauruk, Manungkalit, dan Situmeang.

Jadi yang mana “marga-marga” si penulis? Jawabannya adalah Naipospos, Marbun, dan Lumban Gaol. Sedangkan “marga kerabat” adalah Toga Sipoholon, Bagariang, Hutauruk, Manungkalit ,Situmeang. Apa bedanya? Saya boleh (dan sah-sah saja) mengaku dari salah satu dari ketiga marga tersebut (Naipospos, Marbun, atau Lumban Gaol). Tetapi saya tidak mungkin mengaku (dan memang tidak boleh) bermarga salah satu dari empat marga tersebut (Toga Sipoholon, Bagariang, Hutauruk, Manungkalit ,Situmeang).

Apabila suatu hari saya bertemu dengan salah satu dari marga tersebut, maka mereka adalah saudara sedarah saya. Dengan berbekal tarombo, akan diketahui seberapa dekat kekerabatan yang ada. Yang bermarga Lumban Gaol otomatis akan lebih dekat kepada marga Lumban Batu daripada dengan marga Bagariang. Apabila ternyata marganya masih sama (misalnya sama-sama Lumban Gaol), maka dengan adanya tarombo, akan dapat dicari perbedaan kekerabatannya. Karena di dalam tarombo tercatat silsilah keluarga sampai generasi yang terakhir. Selain mengetahui hal di atas, sangat perlu juga untuk mengetahui tingkatan generasi. Sehingga apabila bertemu semarga nantinya dapat menentukan tutur semarga. Apakah abang, adik, bapauda, bapatua, oppung, anak, atau cucu. Tidaklah heran apabila ada seseorang memanggil uda, bahkan kakek kepada orang yang lebih muda dari segi umur. Hal itu lumrah dan tidak bisa ditawar.

Baca juga:   Berkunjung ke Kampung Naga

Seperti yang saya katakan di atas ,saya adalah Marbun ke-17, maka berapa silsilah saya dalam marga Naipospos dan Lumban Gaol?

Selain tarombo tersebut, masih ada satu lagi yang tidak dapat dilupakan dari adat “marga”. Yaitu “padanan”. Dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas padanan untuk marga saya sendiri.

Menurut ceritanya, dari penuturan orang-orang tua, padanan ini muncul karena suatu kejadian atau kisah yang menyebabkan dua orang raja (yang menurunkan marga) mengikrarkan sebuah janji sehidup semati yang akan dipegang terus sampai kepada keturunannya. Janji tersebut adalah ikrar yang menyatakan bahwa mereka dan keturunannya adalah saudara. Dalam kehidupan modern hal ini dapat lebih dipahami dengan istilah “saudara angkat”. Dalam pendeklarasian sumpah semarga, setiap marga mempunyai cara yang berbeda-beda, tetapi umumnya mereka melakukannya dengan upacara dan pesta adat yang dilakukan secara besar-besaran. Yang pasti dalam upacara ini akan ada “Ulos” dan hewan persembahan/sembelihan sebagai pengikat janji mereka.

Apa bedanya semaraga dengan marga padanan? Sama saja. Harus saling membantu di saat kesusahan, berbagi di saat bahagia, dan saling mendukung. Dan satu lagi, “dang boi marsibuatan!!” alias dilarang keras menikahi satu marga/padanan.

Kita ambil contoh marga penulis. Marga Marbun padanannya dengan marga Sihotang. Marga Lumban Batu dengan marga Purba, marga Banjarnahor dengan marga Manalu, dan marga Lumban Gaol dengan marga Debata Raja(Simamora).