Adat Dalihan Natolu Suku Batak


BatakJika mendengar kata “Batak” dalam konteks budaya, apa yang Anda bayangkan? Jika saya yang orang Indonesia dari suku Batak tulen diberi pertanyaan seperti itu, dengan bangga saya akan menjawab Dalihan Natolu!

“Dalihan” dalam bahasa Batak memiliki arti harfiah yaitu tungku. Sedangkan “tolu” artinya tiga. Dalam kehidupan tradisional orang Batak, tungku terdiri dari batu alam (batu kali), jumlahnya ada tiga.

[more]

{nl}

Suku Batak adalah salah satu suku di Indonesia (dan dunia) yang mempunyai keunikan tersendiri. Keunikan-keunikan tersebut dapat berupa ragam budaya, pakaian, seni, makanan tradisional, dan masih banyak lagi yang lainnya. Beberapa di antara keunikan tersebut sudah terancam “punah” alias tak terlestarikan dengan baik.

Jika mendengar kata “Batak” dalam konteks budaya, apa yang Anda bayangkan? Jika saya yang orang Indonesia dari suku Batak tulen diberi pertanyaan seperti itu, dengan bangga saya akan menjawab Dalihan Natolu! “Dalihan” dalam bahasa Batak memiliki arti harfiah yaitu tungku. Sedangkan “tolu” artinya tiga. Dalam kehidupan tradisional orang Batak, tungku terdiri dari batu alam (batu kali), jumlahnya ada tiga. Batu yang akan dijadikan tungku biasanya dipilih yang besar tapi pipih. Hal ini dimaksudkan agar tungku yang dihasilkan kuat dan mampu menampung banyak kayu bakar. Jadi, dengan bahasa penulis, Dalihan Natolu memiliki arti harfiah tungku dengan kaki tiga.

Mengapa disebut Dalihan Natolu? Kembali ke bahasan tungku tadi, sebuah tungku tidak akan dapat dipakai apabila tediri dari dua buah batu saja, karena tidak akan mampu menahan wadah untuk memasak dengan stabil. Tetapi juga tidak efektif apabila terdiri dari lebih dari tiga tungku, karena akan mengurangi ruang udara di dalam tungku tesebut. Jadi, tiga itu sudah merupakan pilihan tepat, setidaknya lebih baik. Dan satu hal lagi, ketiga batu tersebut harus sama tingginya! Bisa Anda bayangkan sendiri bagaimana jadinya kalau ada batu yang lebih tinggi.

Secara filosofis, Dalihan Natolu juga terdiri dari tiga unsur, yaitu Dongan Tubu, Hulahula, dan Boru. Ketiga unsur inilah yang kemudian menjadi dasar dari budaya kekeluargaan dalam suku Batak. Bisa dikatakan apabila adat Dalihan Natolu ini (seandainya) punah, maka punahlah juga adat dari suku Batak. Karena dari Dalihan Natolu inilah muncul tutur-tutur kekeluargaan seperti tulang, namboru, semarga, bahkan pariban.

Baca juga:   Klungkung, Pusat Kerajaan Bali di Masa Silam

Dongan Tubu adalah semarga. Setiap orang Batak pasti punya marga. Marga adalah identitas keluarga dalam suku Batak. Karena bersifat patrilineal, maka marga hanya dapat “diturunkan” atau diwariskan oleh kaum lelaki saja. Di dalam realita kehidupan sehari-harinya, dongan tubu (semarga) memiliki tugas yang sangat penting dan sangat banyak. Baik suka maupun duka, dongan tubu akan tetap berkewajiban membantu. Misal dalam upacara pernikahan, dongan tubu lah yang harus pertama kali diberitahu rencana untuk melamar seorang gadis. Juga dalam upacara penguburan mayat, pihak semarga akan memegang peran yang sangat sentral dalam tata cara upacara adat penguburan mayat tersebut. Mengenai marga, akan dijelaskan lagi dalam tulisan “Marga”.

Hulahula secara singkat dapat digambarkan sebagai keluarga pihak mempelai wanita. Misal seorang gadis boru Siregar (dari keluarga marga Siregar) menikah dengan seorang pemuda bermarga Siahaan. Maka Hulahula dari pemuda bermarga Siahaan tersebut (dan keluarganya) adalah marga Siregar. Setelah terikat oleh pernikahan, si gadis akan masuk keluarga Siahaan, dan secara adat sudah menjadi tanggungan pihak keluarga Siahaan (pihak laki-laki). Dalam kehidupan sehari-harinya, Hulahula berperan sebagai pemberi pasu-pasu atau restu. Itu sebabnya jika manortor, Hulahula akan memposisikan tangannya dengan telapak menghadap ke bawah dan sedikit lebih tinggi dari bahu, atau sejajar dengan kepala. Gerakan ini disimbolkan sebagai pemberian restu atau berkat. Kalau bukan Hulahula, jangan coba-coba! Dalam kehidupan sehari-hari, Hulahula ditempatkan sebagai pemberi nasehat tertinggi di dalam adat.

Yang terakhir adalah Boru. Boru ini adalah kebalikan dari Hulahula. Misal, apabila ada sebuah keluarga bermarga Siregar memiliki seorang gadis yang kemudian menikah dengan marga Siahaan, maka marga Siahaan akan menjadi Boru bagi keluarga Siregar karena salah satu anggota keluarga mereka telah menikahi putri dari keluarga mereka.

Adat Dalihan Natolu ini memiliki peran yang sangat penting baik dalam adat maupun dalam pekerjaan sehari-hari. Apabila ada sebuah masalah yang berat atau tidak dapat diselesaikan oleh sebuah keluarga, maka kaum semarganyalah yang akan turut membantu dengan ikhlas. Dalam praktiknya akan terlihat budaya gotong royong yang kuat di dalam masyarakat batak. Tidak peduli apakah masalah itu urusan suka maupun duka, kaum semarga akan tetap membantu. Juga tidak memandang status sosial keluarga tersebut, kaya atau miskin, terpandang atau tidak, bukan jadi masalah. Apabila pihak keluarga tersebut menyembunyikan masalahnya atau tidak memberitahukan terlebih dahulu ke dongan tubunya, maka keluarga tersebut dianggap tidak sopan atau tidak menghormati adat. Jadi tidaklah berlebihan kalau ada umpama yang mengatakan “manat mardongan tubu” yang artinya berhati-hatilah menjaga perasaan kaum semargamu. Karena kalau sampai mereka tak menerima atau tak mengakuimu, maka repotlah kau.

Baca juga:   Tak Ternilai dengan Uang

Ketiga unsur Dalihan Natolu tersebut diciptakan dengan status sama tinggi, dengan tujuan menciptakan kedamaian dan keteraturan di dalam hidup masyarakatnya. Dalam artian tidak boleh ada unsur yang merasa lebih penting atau lebih tinggi derajatnya, karena masing-masing unsur telah mempunyai tugas dan fungsi masing-masing. Apabila ada masalah apapun, ada kaum semarga yang pasti akan membantu. Apabila butuh nasehat atau restu, maka datanglah ke Hulahula. Demikian juga terhadap Boru, mereka akan memposisikan diri sebagai pemberi nasehat.

Keselarasan dan kesimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, itulah yang dijunjung tinggi dalam adat Dalihan Natolu ini. Dalihan Natolu dan segala aturannya diharapkan mampu menciptakan kedamaian dan kebahagiaan bagi masyarakatnya. Azas kekeluargaan dan tolong menolong di dalam suka maupun duka sangat diaplikasikan dalam sistem ini. Sebuah keluarga tidak akan bertindak semena-mena didalam adat, karena adanya hubungan timbal balik yang adil dan saling menghormati, yaitu antara kaum semarga juga antara boru dan hula-hula. Hari ini mungkin ia akan dibantu semarganya, esok tugasnyalah untuk membantu yang lain. Hari ini ia sebagai boru akan meminta restu kepada Hulahulanya, mungkin esok gantian dia sebagai Hulahula memberikan restu kepada Borunya. Segalanya diatur serba seimbang dan adil.