Mendaki Gunung Slamet

Related Articles

Sedikit ingin berbagi informasi dan pengalaman perjalanan menuju puncak Gunung Slamet, beberapa bulan yang lalu di tahun 2008. Postingnya agak sedikit tertunda, dan baru sekarang dapat saya publish catatan perjalanan ini.

Liburan kantor yang cukup panjang membuat hati ini ingin sekali bergerak menyapa hutan, menyusuri jalan dan melihat kota dari ketinggian puncak. Kali ini pilihan jatuh pada Gunung Slamet. Beberapa anak sekretariatku memang sudah berencana ingin melakukan perjalanan. Setelah melakukan negosiasi akhirnya mereka mau untuk mendaki Gunung Slamet. Perjalanan kali ini terdiri dari empat orang yaitu saya sendiri, Monov, Pinot, dan Dwita (non Astacala). Segala persiapan dilakukan oleh orang-orang sekre dan saya berusaha membantu semampunya setiba di Bandung.

Sabtu, 27 September 2008

Pagi itu saya langsung bergegas menuju pool travel X-trans menuju Bandung. Setiba di Bandung, berbagai persiapan standar segera dilakukan. Rencana Operasional (ROP) awal kami akan menuju Purwokerto hari Senin, namun saat itu saya mengusulkan agar dipercepat saja, hari Minggu menuju Purwokerto. ROP akhirnya diubah dan kami berangkat dari Bandung menuju Purwokerto pada hari Minggu, 28 September 2008.

Minggu, 28 September 2008

Pagi itu kami berangkat dari sekre sekitar pukul 09.00 pagi naik taxi menuju terminal Cicaheum. Ongkos taxi blue bird dengan tarif awal Rp 6000,00 mencapai sekitar angka Rp 43000,00. Lumayan bila dibagi empat, ongkosnya bakalan sama bila naik angkot. Saat itu situasi terminal masih belum begitu padat, bus yang menuju Purwokerto saat itu ada dua, yang pertama bus ekonomi, aladin; dan bus AC, Mandala. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memilih bus AC Mandala dengan harga Rp 70000,00 tujuan Surabaya. Karena jumlah seat tinggal sedikit, akhirnya kami berempat duduk berpencar. Saya dan Monov kebetulan bisa duduk berseberangan.

Perjalanan cukup menyita waktu dan kesabaran. Berangkat dari terminal tepat pukul 10.00 namun hingga pukul 13.00 kami belum juga bisa keluar dari Nagrek. Macet sangat parah dan kondisi di dalam bus sungguh tidak menyenangkan. Cewek sampingku muntah sudah entah berapa kali. Tidak lama kemudian bapak di depanku juga muntah berkali-kali. Akhirnya karena capek dan stress, saya memutuskan untuk tidur sambil menunggu bus bisa keluar dari macet. Terbangun dan dikagetkan oleh Monov yang menunjuk ke arah belakang kursi. Kulihat muntahan berwarna merah muda menyebar dibelakang kursiku. Ouuuhgg, muntah di mana-mana. Kiri, depan, belakang, semua muntah dan menimbulkan bau-bau yang sungguh membuat kepala pusing.

Bus Mogok
Bus Mogok

Setelah menahan kesabaran akhirnya bus mencapai kota Majenang. Sekitar 2 jam lagi bisa sampai ke Purwokerto. Sepanjang perjalanan, dari awal bus tidak pernah berhenti istirahat. Akhirnya malam itu saat jam menunjukkan pukul 19.00 bus berhenti di tepi jalan, bukan di tempat peristirahatan untuk makan atau buang air, tapi karena mogok. Kopling dan remnya bermasalah, jadi bus kami berhenti untuk melakukan perbaikan. Perbaikan memakan waktu cukup lama dan membuat jalan yang hanya bisa dilalui dua mobil itu akhirnya macet. Sekitar hampir sejam kami menunggu, belum ada tanda-tanda bus akan jalan lagi. Kenek pun memutuskan penumpang tujuan Purwokerto agar dioper saja. Kami pun dengan pasrah dioper ke bus ekonomi, Aladin. Yah, daripada semakin lama tidak sampai ke Purwokerto, tidak masalah dioper ke bus yang tidak setara dengan sebelumnya.

Pukul 22.00 akhirnya sampai di terminal Purwokerto. Perjalanan yang seharusnya bisa dicapai dengan waktu 6-7 jam kini karena terkena arus mudik mencapai hingga 12 jam.

Sebelumnya saya sudah menghubungi Indun untuk menginap di rumahnya. Malam itu pun kami dijemput oleh Indun dan temannya, Ojay. Naik taxi ke rumah Indun Rp 15.000,00. Sampai di tempat Indun langsung mandi dan makan sate. Setelah melakukan briefing untuk besok saya pun langsung tidur dengan nyenyak.

Ford Ranger
Ford Ranger

Sesuai dengan briefing semalam, kami berencana bergerak menuju Pertigaan Serayu pada pukul 10.00 untuk kemudian menyewa kendaraan menuju basecamp Bambangan, dengan dispensasi waktu satu jam sambil menunggu kabar dari teman Indun yang kemungkinan bisa mengantarkan kami naik mobil menuju basecamp Bambangan. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 namun Indun masih belum bisa memastikan bisa mengantarkan kami. Kami pun bersiap-siap untuk segera menuju terminal. Saat itu Monov dan Dwita sudah naik motor hendak diantar, dan kabar baik datang. Ternyata mobil operasional kantor Indun bisa dipakai. Hore! Kami akhirnya diantar oleh temannya Indun, Indun dan adiknya, si Hanif, naik Ford Ranger. Keren! Kapan lagi naik gunung diantar sampai basecamp dengan Ford Ranger. Matching banget dah!

Pintu Gerbang Bambangan
Pintu Gerbang Bambangan

Berangkat dari rumah Indun pukul 11.30 dan tiba di basecamp Bambangan, koordinat 7°13’34,7”LS, 103°15’57,7”BT pukul 13.30. Basecamp Bambangan sebenarnya adalah rumah Ibu Sugeng. Di sana pendaki bisa beristirahat dan memesan makanan sebelum melakukan pendakian. Biaya pendakian tiap orang adalah Rp 3500,00. Di sana kami juga bertemu dua orang pendaki dari Jawa Tengah. Mereka hendak melakukan pendakian setelah berbuka puasa, berhubung mereka adalah muslim. Setiap orang membawa lima liter air, sebab menurut informasi, mata air sedang kering karena belum hujan selama tiga hari. Setelah ramah tamah, silaturahmi, ngobrol, foto-foto, kami pun bersiap-siap untuk menyicil perjalanan. Setidaknya hari ini kami bisa mencapai pos 1 jadi besoknya kami bisa jalan lebih santai menuju pos 5. Pukul 15.00 kami berpamitan dan dimulailah perjalanan pendakian perdana kami di Gunung Slamet.

Dari pintu gerbang kami melakukan kesalahan fatal, seharusnya belok ke kanan tapi kami  malah belok ke kiri. Dari sana ternyata nyasar sampai dua punggungan. Akhirnya kami bisa kembali ke jalan yang benar dan mendapatkan sedikit petunjuk dari dua orang bapak-bapak yang kami temui di jalan. Beliau banyak bercerita mengenai Gunung Slamet. Banyak hal yang menurutku seharusnya tidak disampaikan malah disampaikan secara terang-terangan oleh Bapak itu. Suatu hal yang kurang lazim kurasakan, sebab Bapak tersebut boleh dibilang cukup berumur dan bijak, tetapi malah menceritakan segala hal aneh dan mistis di gunung sebelum kami memasuki hutannya. Hal itu sempat membuatku sedikit merasa aneh, mungkin bapak tersebut ingin memperingatkan kami, dan saya yakin beliau lebih tahu apa yang harus dan tidak disampaikan kepada kami.

Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan menyicil hingga koordinat 7°13’35” LS, 103°14’54” BT. Mendirikan camp sekitar pukul 17.30, mencari kayu bakar, dan memasak makan malam, hal standar yang kurindukan. Ngobrol sambil menikmati hangatnya api unggun, sambil menikmati segelas teh hangat dan memandang bintang-bintang. Malam itu sangat cerah, sehingga kami bisa melihat bintang-bintang nun jauh itu dengan sangat indah.

Camp I
Camp 1

Selasa, 30 September 2008

Bangun pagi-pagi, masak, packing, dan melaksanakan panggilan pagi hari di balik semak semak ilalang. Cukup sulit menemukan lokasi yang strategis sebab kami masih berada di sekitar ladang penduduk, sekitaran adalah padang yang cukup terbuka. Setelah puas membuang isi perut semalam, saya pun bergegas membantu packing.

Perjalanan kali ini cukup berat untukku. Karena sudah tidak begitu aktif berkegiatan (off enam bulan semenjak lulus dan bekerja), badan terasa cepat sekali lelah. Mengatur nafas dan irama jalan cukup lama bisa kulakukan. Biasanya tidak begitu lama setelah berjalan saya sudah bisa mendapatkan irama dan nafas yang pas untuk berjalan dengan lebih nikmat. Tapi pagi itu terasa begitu melelahkan. Setapak demi setapak terasa sangat berat, di mana staminaku yang tak seberapa itu? Sedikit demi sedikit akhirnya bisa mengatur nafas dan irama.

Lewat Pos 2, Pondok Lawang, koordinat 7°13’45,8” LS 109°14’28,1” BT tercium bau wangi-wangian bunga. Harum sekali dan tercium cukup lama. Kupikir itu mungkin baru dari bunga-bungaan yang ada disepanjang jalan. Akhirnya saya bertanya kepada Dwita, “Ta, wangi banget ya?”. “Iya nih, kayaknya bau bunga yang ini deh”. Memang terdapat dua jenis bunga saat itu, ada yang putih dah hijau. “Bunga yang putih ya?” “Gak, yang ijo, coba deh cium”, sambil berhenti sejenak dari langkah aku mencium bunga yang dimaksud. “Iya deh bunga yang ini”. Begitulah sepenggal pembicaraan yang membangun pikiran positif dalam kepala kami. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, setelah saya tahu bahwa ternyata kami berempat mencium wangi yang sama. Setelah cukup lama mencium wangi kami pun sempat mencium bau amis, namun hanya sebentar.

Pos III - Pondok Cemoro
Pos 3 – Pondok Cemoro

Akhirnya kami sampai di Pos 3, Pondok Cemoro, koordinat 7°13’51,9” LS 109°14’11,1” BT. Di sana kami beristirahat dan sedikit melakukan pose. Menurut cerita orang, bila pendaki kemalaman sebaiknya mendirikan tenda di Pos 3 saja dan tidak usah melanjutkan perjalanan ke Pos 4. Dan apabila pendaki kemalaman dan sampai ke pos 4, sebaiknya perjalanan tetap dilanjutkan ke Pos 5 dan tidak mendirikan tenda di Pos 4.

Pos IV - Pondok Samarhantu
Pos 4 – Pondok Samarhantu

Entah kenapa Pos 4 sangat tidak disarankan untuk mendirikan tenda dan bermalam. Namun hal ini sangat erat kaitannya dengan hal mistis yang kuat. Sebagai pendaki kami sangat mematuhi dan menghormati segala bentuk aturan dan pantangan yang ada di daerah yang kami datangi. Sebab biar bagaimanapun juga, kami tetaplah tamu di rumah orang. Kira-kira kurang dari dua jam, kami tiba di pos 4, Pondok Samaranthu, koordinat 7°14’00” LS 109°14’00” BT. Di sana terdapat pohon tumbang yang terlihat terbakar karena petir. Kami pun sempat beristirahat sejenak dan melakukan sedikit pose.

Perjalanan kami lanjutkan hingga menuju pos 5 dan memutuskan untuk mendirikan camp. Kami sampai di Pos 5, Pos Sanghyang Rangkah (Pos Mata Air) pada jam 15.00. Koordinat 7°14’07,9” LS 109°13’51,5” BT.

Pos 5 - Sanghyang Rangkah
Pos 5 – Sanghyang Rangkah

Sore itu terasa begitu sepi. Tidak ada pendaki lain selain kami saat itu. Semua pendaki sudah turun dan sempat sedikit bertegur sapa saat kami naik tadi. Tentu saja sangat sepi, besok adalah Hari Raya Idul Fitri, kebetulan kami berempat tidak ada yang merayakannya, maka di sinilah kami menjadi empat pendaki yang kesunyian di Gunung Slamet.

Sesuai dengan rencana, kami bangun jam 03.00 dan mulai melakukan sedikit persiapan, packing barang-barang yang sudah disiapkan sebelumnya (kompor, spritus, air, dan snack). Barang-barang yang lain kami tinggalkan di camp. Pagi itu ingin rasanya memasak sedikit mie atau bihun, tapi karena beberapa faktor saya tidak melakukannya dan akhirnya hanya membuat sebotol susu coklat yang saya bawa untuk bekal saat naik ke puncak.

Dingin malam itu merasuk, jaket polar merah Astacala dan raincoat kuning yang kutemukan di sekre melindungiku dari dinginnya hawa saat itu. Tak lupa juga syall kuning merah harry potter yang akhir-akhir ini sering saya ajak ke puncak-puncak gunung.

Saat itu kami berangkat dari camp pukul 04.00 dengan posisi paling depan Monov, Dwita, saya, dan Pinot. Perjalanan menuju puncak cukup membuatku kelelahan, nafas yang tersengal-sengal dan juga mungkin karena faktor tidak sarapan membuatku cukup lelah. Beberapa kali saya merasa kami berjalan terlalu cepat sehingga meminta untuk beristirahat sejenak, padahal saat itu kondisi lagi tidak mengangkat beban. Sungguh pagi ini terasa lebih berat. Sudah hampir 2 jam kami berjalan, matahari sudah mulai keluar dari balik gunung di sebelah timur. Terlihat ada dua tiga gunung yang menjulang tinggi melewati hamparan karpet awan. Dua gunung terlihat agak sejajar, bisa saya simpulkan itu Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, satu lagi terlihat lebih agak lebih jauh dari dua gunung sebelumnya. Dari puncaknya terlihat kepulan asap terus keluar. Bisa jadi itu Gunung Merapi. Tapi tidak terlihat Gunung Merbabu yang merupakan pasangannya. Entahlah saya tidak begitu yakin dengan gunung yang ini.

Sun Rise
Sun Rise

Kami masih di batas vegetasi, beberapa meter di bawah Pelawangan saat kuning telur itu menyapa kami dari balik Gunung Sindoro. Ah, indah sekali bulatan kuning itu. Hari itu kami diberikan cuaca yang sangat cerah yang memberikan kesempatan bagi kami untuk melihat salah satu keindahan alam ciptaan-Nya. Beberapa menit terus berlalu dan setelah puas mendokumentasikan mentari di ufuk timur, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Perjalanan yang melewati batas vegetasi dengan kondisi pasir berbatu membuat tenaga cukup terkuras, apalagi saat itu saya tidak sarapan. Kondisi medan cukup rapuh dengan batu-batu merah besar dan kecil. Bila tidak hati-hati memegang batu untuk memanjat naik, bisa-bisa mendapatkan batu yang labil dan bisa terjatuh. Beberapa kali saya berhenti sejenak dan duduk melepas lelah.

Pagi itu matahari menyinari kami sungguh terik dan panas, padahal saat itu waktu masih menunjukkan pukul 06.30. Susu coklat dalam botol sudah menipis, saya hanya bisa berkata pada diri sendiri saat itu “Ayo Onie, kamu bisa!!! Ayo jalan, sebentar lagi puncak!”. Lalu saya kembali berjalan setapak demi setapak. Anak-anak yang lain sudah terlebih dahulu meninggalkan saya di belakang, sebelumnya saya masih bisa melihat mereka memanjat di atas, namum setelah beberapa saat saya sudah tidak dapat melihat mereka, mungkin mereka sudah mencapai puncak. Saya berjalan lagi dan terus memotivasi diri agar tidak terlalu banyak berhenti dan beristirahat, “Ayo Onie, yang lain sudah menunggumu di puncak, ayo jangan terlalu lama berhenti”. Itulah yang terus menjadi motivasi saya. Entahlah, berbeda dengan perjalanan-perjalanan saya sebelumnya, perjalanan kali ini terasa sedikit berat dari biasanya.

Di Puncak Gunung Slamet
Di Puncak Gunung Slamet

Terima kasih Tuhan. Akhirnya puncak punggungan ini kutemui, terlihat Monov dan Pinot sedang duduk di samping batu-batu yang menyerupai tugu. Sedangkan Dwita terlihat sedang di bawah turun ke kawah. Puncak. Here I come! Indah. Cuaca cerah mendukung pemandangan yang sungguh indah ini. Perjalanan berat yang sungguh melelahkan tadi langsung sirna dengan segala keagunan cipataanNya. Pinot dan Dwita menyempatkan diri untuk berdoa dan menyalakan dupa sesuai dengan tradisi keagamaan Hindu. Setelah berdoa, kami pun mengisi perut sedikit dengan memasak dua bungkus bihun. Hhhmmm… Nikmat sekali. Meskipun hanya bihun instant, namun terasa begitu berarti untuk menambah tenaga dan mengisi perut kosong bekal perjalanan turun ke pos 5, kembali ke camp.

Punggungan Puncak Gunung Slamet
Punggungan Puncak Gunung Slamet

Hari itu terasa sungguh hening, tak ada angin padahal kami berada pada ketinggian 3432 mdpl. Keheningan itu didukung dengan keberadaan kami saja tanpa pendaki lain.

Hari ini, Rabu 01 Oktober 2008

Umat muslim di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mungkin ini salah satu sebab mengapa tidak ada pendaki lain selain kami pada hari ini. Selepas mengisi mengisi perut dan mengambil gambar, kami bergerak turun, waktu saat itu menunjukkan pukul 08.00.

Selamat tinggal Puncak Slamet, keindahan dan keheninganmu di pagi ini sudah merajut indah dalam ingatanku. Entah kapan dan bagaimana saya dapat kembali menyapamu di tengah kesibukanku kini yang sangat tidak memberikanku waktu yang cukup banyak untuk kembali melakukan sebuah perjalanan ke puncak-puncak gunung. Entah kapan.

Terik matahari dan debu menemani perjalanan kami menuruni jalur yang sama saat kami naik tadi pagi. Setelah satu jam perjalanan dengan sedikit beristirahat di Pos SAR di atas Pos 5 kami pun sampai kembali ke camp. Pinot dan Dwita masak makan siang. Saya dan Monov membereskan camp, packing gantian. Tepat pukul 11.00 kami pun bergerak turun menuju basecamp Bambangan di rumah Ibu Sugeng.

Kami sempat bertemu dengan sembilan orang pendaki dari Palawa, Atmajaya Yogjakarta. Salah seorang dari mereka mengenal adikku saat Kursus Dasar Lanjutan Hikespi. Ah, jadi teringat adikku itu. Dia terlalu cepat memutuskan untuk meninggalkan kami yang telah melahirkannya, sungguh banyak penyesalan saat kau memutuskan perg. Namun kini aku sadar bahwa sebuah pilihan tetaplah harus dihormati namun kenangan saat masih bersama akan terus ada bersama kami. Ingat saudaraku, tali persaudaraan ini tak kan habis dimakan waktu.

Mencapai Pos 2 kami memutuskan untuk sedikit beristirahat, makan snack dan ngobrol. Entah ada angin apa, tiba-tiba topik pembicaraan kami mulai menjurus kearah mistik. Biasanya saya tidak pernah mau menceritakan pengalaman mistik selama masih berada di gunung, tapi saat itu pembicaraan mengalir begitu saja. Kami ngobrol mengenai pengalaman mistik selama di Gunung Agung dan Gunung Argopuro. Sekejap setelah saya menceritakan mengenai perjalan di Argopuro, seketika langit mendung dan mendadak dari cuaca cerah menjadi mendung mau hujan. Pinot langsung mengajak untuk turun. Saya, Monov, dan Dwita tanpa pikir panjang langsung mengangkat carrier dan turun meninggalkan Pos 2. Selama perjalanan kami diguyur hujan. Sungguh aneh padahal sebelumnya cuaca sangat cerah dan terik.

Tungkai sangat lelah, apalagi karena saat turun saya memutuskan untuk memakai sandal gunung saja. Untuk jalanan yang kering tidak masalah, tapi bila jalan hujan dan becek, memakai sandal gunung sungguh menyiksa. Akhirnya setelah kurang lebih empat jam perjalanan, kami pun sampai di basecamp Bambangan

Ganti baju, makan dan sedikit beristirahat sambil menunggu mobil Ibu Sugeng yang sudah kami sewa Rp 200.000 untuk mengantarkan kami menuju Purwokerto, basecamp rumah Indun.

Perjalanan sebenarnya belum berakhir, sebab beberapa jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Dapat dikatakan perjalanan yang sangat melelahkan. Terkena arus mudik, sekitar 10 jam harus kami lalui untuk mencapai Terminal Cicaheum. But, I love all my adventure, no matter how it cause. []

Oleh Vonny Pinontoan

Previous articleLebak Jero
Next articlePerjalanan Kartini

Comments

  1. wah, sekarang gunung Slamet tertutup sementara untuk pendakian. beruntung sekali Anda, masih sempat ke sana akhir tahun lalu. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Cerita dari Musyawarah Anggota

Musyawarah Anggota alias Musang yang dihadiri oleh seluruh angkatan Astacala (seharusnya) ini sebenarnya direncanakan akan berlangsung dua hari yaitu pada tanggal 17 dan 18...

Puncak Mangu

Salah satu gunung yang ada di Bali adalah Gunung Catur. Merupakan gunung tertinggi keempat di Pulau Dewata. Tingginya 2.096 meter dari atas permukaan laut...

Just Dive when You Feel Bored with The Land

Sebuah Kisah yang Kunanti Terukir dalam Perjalanan Kehidupanku Hari itu, tanggal 20 dan 21 February 2010, saya menyelam di kedalaman laut. Melihat kehidupan laut yang...