Prolog
Hai Aers! Kenalin nama gua Muh “Agung” Gustiansyah (AM-036-RM), angkatan Rintik Mentari yang masih AM, mahasiswa akhir yang tinggal menunggu waktu wisudanya di bulan November, dan mengisi waktu kosongnya dengan kegiatan bermanfaat seperti menyelesaikan pendidikan lanjut ASTACALA. Perjalanan wajib adalah salah satu dikjut yang perlu belum gua kelarin dan akhirnya gua punya kesempatan buat ikut walaupun ga bareng angkatan sendiri haha. Fyi, gua udah kelar GH sama PW, sisa operasional rafting. 2 dari 3 dikjut gua kelar cuy, bisa kali kelar semua dikjut sebelum wisuda. Habis itu tinggal ngajuin sidang ke badik buat dapat nomor (ekhem bisa kali yaa).
Gua ikut perjalanan wajib di angkatan Secercah Cahaya, satu tahun lebih muda dari angkatan gua. Diisi dengan orang-orang seru, plenger, kocak, dan penuh dengan hal-hal random mereka. Setiap orang ada aja keunikannya. Dimas dengan speech delay nya, Dapa dengan yapping nya, Alviana dengan medhok kental nya, Aura dengan suara bisik-bisiknya (sekarang udah mendingan), banyak deh orang-orang unik di angkatan SC. Orang-orang kaya gini yang bikin PW jadi lebih berwarna sih kata gua. Banyak banget pengalaman seru yang bakal gua ceritain hihi.
Perjalanan Wajib Secercah Cahaya mengangkat kegiatan pendataan Bulu Babi di Pulau Untungjawa dan Pulau Lancang Besar serta antropologi terkait kebudayaan Masyarakat Suku Betawi yang bertepatan di Kepulauan Seribu. Kegiatan dilaksanakan selama 10-16 Agustus + 2 hari agenda sekre yang berlangsung dari 17-18 Agustus. Emang bulu babinya mau diapain sih? Karena konteksnya hanya sebatas pendataan, kami hanya melihat ada berapa banyak bulu babi di kedua pulau tersebut. Tentunya dengan menggunakan metode khusus bernama transek kuadran, transek yang berarti lintasan lurus, dan kuadran menggambarkan plot pipa paralon yang berbentuk persegi 1x1 m. Pendataan dilakukan di empat arah mata angin, masing-masing arah akan ada tiga transek atau stasiun sepanjang 50 meter, di mana setiap interval 10 meter akan dipasang plot pipa paralon tadi untuk dilihat di dasar laut apakah ada bulu babi atau tidak.
Senin, 10 Agustus 2026 (Dinginnya Bandung dan Panasnya Pulau Untungjawa)
Hari pertama operasional perjalanan wajib angkatan Secercah Cahaya dimulai. Kami mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang dari kampus menuju Pelabuhan Tanjung Pasir menggunakan bus Telkom. Kami cukup beruntung karena transportasi bisa menggunakan bus ketimbang menggunakan truk TNI yang sempat menjadi opsi. Lumayan banyak ongkos yang terpotong karena bus Telkom. Sebelum mulai keberangkatan, kami foto bersama menggunakan banner dan dilanjutkan dengan briefing singkat oleh Badik. Setelahnya, kami mulai memasukkan tas carrier dan perlengkapan ke dalam bus secara estafet, duduk di kursi, dan memulai perjalanan. Aku duduk paling depan, bersebelahan dengan Erge (A-...-RM). Rute Bojongsoang - Pelabuhan Tanjung Pasir ditempuh selama kurang lebih empat jam. Banyak yang tidur selama perjalanan. Gua juga maunya gitu, tapi supir bus Telkom sepertinya bukan orang yang paham dan hafal dengan jalur-jalur di Jakarta jadi beliau cukup banyak bertanya selama perjalanan.
Jam 11 siang kami sampai di Pelabuhan Tanjung Pasir. Jujur aja, cuaca di sana panas terik. Orang Kalimantan kaya gua yang seharusnya udah terbiasa dengan cuaca panas aja masih mengeluh dengan cuaca saat itu. Panas, gersang, terik, pohon jarang, bener-bener bertolak belakang dengan atmosfer Bandung yang adem itu. Kami mulai menurunkan barang-barang dari bus dan segera bertemu dengan bang Cocoy, nahkoda yang akan membawa kita dari Pelabuhan Tanjung Pasir menuju Pulau Untungjawa. Satu per satu naik ke kapal sambil membawa tas serta perlengkapannya, dan perjalanan laut pun dimulai. Emang ga makan waktu lama sih buat sampe di Untungjawa, sekitar 30-40 menit. Kalau diingat-ingat, udah lama aku tidak naik kapal, rasanya terakhir aku lakukan saat masih SD. Aku duduk dengan tenang, menjuntaikan tangan ke permukaan air yang dingin itu, hembusan angin kencang, dan suara mesin kapal yang cukup berisik. Tidak lupa memutar lagu Sailor Song - Gigi Perez sebagai mandatory song selama melewati laut. Momen yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. “Ini aku beneran berangkat PW?”, gumamku dalam hati. Detik itu aku masih ga percaya ternyata aku sedang melakukan perjalanan wajib. Semudah itu ternyata meminta izin dan mengabari orang tua untuk melakukan kegiatan ASTACALA (selama ga naik gunung).
40 menit perjalanan laut itu berlalu. Kami pun tiba di Pulau Untungjawa, disambut dengan teman-teman divisi diving yang sudah lebih dulu tiba karena mereka berangkat dari tanggal 8 Agustus. Tali perahu telah dikaitkan ke pasak, kami pun turun dari perahu sambil berjalan menuju GSG, tempat kami akan tinggal selama di pulau. Rupanya ada mahasiswa dari kampus lain yang sedang melakukan penelitian dan uji coba alat juga di sana. Selama berjalan ke GSG, sudah terbayang kegiatan apa yang akan kita lakukan di sore hari nanti. Berenang, hanya itu yang kami pikirkan. Orang-orang Bandung yang sudah bosan dengan merput, ngepunk tiap malam, dan sekre ini ingin segera berenang sore harinya. Tiba di GSG, kami meletakkan tas dan semua perlengkapan, istirahat sejenak, kemudian melanjutkan aktivitas dengan menyapa warga sekitar, berkunjung ke kantor kelurahan, dan melihat aktivitas sehari-hari masyarakat di sana. Ada yang sedang memancing, membersihkan kapalnya, warga yang sekadar duduk dan berbincang bersama tetangganya, ada yang bermain bersama kucing, juga bocil-bocil kompleks yang bermain sepeda.
Setelah melakukan silaturahmi dan berkeliling di pulau Untungjawa, kami menghabiskan waktu di sore hari dengan berenang di arah barat. Hanya makan waktu beberapa menit jalan kaki untuk sampai di spot berenang kita di barat. Ada yang menggunakan fins, kacamata renang dan snorkel, ada juga yang barefoot. Anak-anak langsung saja nyebur ke pinggir pantai yang tingginya paling dalam seleher. Seru sekali sore itu, ditemani dengan pemandangan matahari terbenam dan music box yang melantunkan lagu anak senja, lagu timur, semua lagu deh.
Hari mulai gelap, kami sudahi main airnya dan segera kembali ke istana megah kami a.k.a GSG. Ternyata kamar mandi yang bisa digunakan di sana untuk kami hanya ada 3, dua ada di dekat GSG, satu lagi di dekat mess yang berdekatan dengan GSG. Mau tidak mau kami harus antri mandi. Selesai mandi, kami makan malam, dilanjutkan dengan eval dan briefing untuk kegiatan penelitian esok pagi. Briefing cukup lama karena teknis penelitian besok harus dijelaskan dengan rinci agar semua peserta tahu apa yang harus dilakukan. Briefing berakhir dengan diucapkannya ASTACALA, kami menghabiskan waktu malam dengan berbincang santai, merokok, jajan ke warung-warung terdekat, sampai akhirnya kami semua beristirahat untuk memulai penelitian esok pagi.
Selasa, 11 Agustus 2026 (Hari Pertama Penelitian)
Hari kedua pun tiba. Waktunya kami melakukan penelitian dan wawancara untuk pertama kalinya. Perbincangan ringan dengan warga kemarin sekaligus cara kami mendapat informasi terkait kondisi perairan dan bulu babi di sana. Dari informasi yang didapatkan, akhirnya diputuskan bahwa pembuatan transek hanya terpusat di dua arah mata angin, yaitu timur dan barat. Kelompok 1 yang diisi dengan orang-orang hebat (Hakim, Aisyah, Rifky, dan Aku sendiri) mendapat penelitian di bagian timur bersama dengan kelompok 2 (Dimas, Dhiya, dan Syifa). Kami berangkat bersama dari GSG menuju lokasi penelitian, ditemani dengan beberapa pendamping keren nan kece, Cuca, Dika, dan Pram.


Pendataan bulu babi di sisi timur tidak terlalu membuahkan hasil. Penelitian memang terbilang cukup cepat, satu transek hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Namun, kami sangat jarang menemukan bulu babi di masing-masing transek, begitupun dengan kelompok 2. Jikapun ketemu, itu pasti di luar plot yang sudah ditentukan dan jumlahnya sangat sedikit. Kami menyelesaikan penelitian dengan tangan kosong dan memutuskan untuk berjalan-jalan ke arah utara dan tidak sengaja berpapasan dengan kelompok barat. Setelahnya, kami kembali ke GSG, isoma, kemudian melanjutkan kegiatan di siang hari dengan keliling pulau sambil bercengkrama dengan masyarakat sekitar.


Waktu Indonesia Senja pun tiba. Sudah menunjukkan kurang lebih jam 5 sore. Karena target kami hari ini udah kelar, beberapa di antara kami ada yang menuju ke barat untuk berenang. Yap kegiatan ini lagi, berenang sambil menikmati sunset, ditemani dengan musik-musik anak kemarin sore. Setelah puas berenang dan hari mulai gelap, kami kembali ke GSG untuk mandi dan bersih-bersih. Dilanjutkan dengan masak-memasak bagi tim dapur sambil menunggu eval dan briefing. Eval hari ini lumayan lama karena kelompok timur tidak mendapat banyak hasil bulu babi di titik lokasi sehingga keesokan harinya kami perlu melakukan transek kembali di titik yang berbeda namun tetap di arah timur. Eval briefing selesai, kami pun beristirahat untuk kegiatan esok pagi.
Rabu, 12 Agustus 2026 (Tertusuk Duri Bulu Babi, Teripang Lover)
Penelitian hari ini juga terbilang cukup cepat karena anak-anak sudah dapat gambaran dari hari sebelumnya sehingga alur pengerjaannya bisa lebih efektif dan efisien. Kelompok kami bisa menyelesaikan enam transek sekitar 2 jam, tiga transek di dekat sakura dan tiga transek lagi di depan SMP. Hari ini sepertinya dewi fortuna sedang bersama kami karena ada banyak bulu babi yang berhasil kami temukan. Bahkan aku mencoba untuk memakannya mentah-mentah. Dari segi rasa, asin dan seafood banget, cuma itu yang bisa aku deskripsikan ketika mencoba memakan isian bulu babi mentah yang berwarna kuning pucat itu.
Uniknya, saat melakukan penelitian ada beberapa anak yang terkena duri bulu babi, ada yang ga sengaja terinjak, durinya tertusuk di tangan, ada juga yang tertusuk di daerah tubuh yang agak janggal (ytta wkwk). Ada juga yang kecintaan banget sama teripang, setiap main ke air pasti selalu berburu teripang, mencari mana yang ukurannya paling besar, hitam, dan panjang. Sebut saja pecinta teripang itu dengan nama Iky. Ditinggal sebulan di Untungjawa juga sepertinya sudah bisa memberi nama seluruh teripang di sana.

Penelitian selesai, kemudian kami bersantai di saung dekat pohon sakura sambil menikmati pemandangan kembali ke GSG menggunakan kendaraan semacam tuc-tuc kalo di Telkom yang per kepalanya bayar sejumlah Rp5.000. Sesampainya di GSG, aku segera bilas diri dan makan siang. Karena poin wawancara masih ada yang belum tercapai, akhirnya siang itu kami dibagi menjadi kelompok berisi 2 orang yang disebar untuk mencari minimal satu warga untuk diwawancarai. Aku bersama Nadya kembali menuju ke daerah pohon Sakura untuk mencari warga untuk sekedar ngobrol santai. Setelah target wawancara selesai, aku bersama anak-anak yang lain duduk santai dengan warga juga sambil ngobrol-ngobrol, Syifa yang bermain dengan anak kecil, sisanya ada Aku, Dapa, Nadya, Alvian, dan Alviana hanya bersandar di pohon, menikmati angin sepoi-sepoi pantai, dan membakar rokok sebelum akhirnya kembali ke GSG.
Makan malam hari ini cukup enak karena kami dapat MBG dari warga lokal berupa kepiting-kepiting kecil yang dilumuri dengan bumbu yang aku gatau apa aja bahannya, yang penting saat dimakan enak dan aku doyan banget makan hahaha. Seperti biasa, malam diisi dengan eval briefing yang sangat lama dan boring karena pembahasan selalu berputar dan seperti tidak ada ujungnya. Sampai akhirnya kegiatan boring itu selesai, kami menghabiskan waktu malam dengan, duduk santai di pinggiran GSG, beberapa ada yang pergi ke warung paling nyaman se-Untungjawa, warung Bayu Samudera yang bisa QRIS itu, beberapa duduk santai di pinggiran pantai, dan beberapa memutuskan untuk tidur cepat. Besok kami sudah akan meninggalkan Pulau Untungjawa dan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Lancang Besar.
Kamis, 13 Agustus 2026 (Goodbye Untungjawa, Welcome Lancang Besar!)
Sarapan pagi ini ala-ala English Breakfast, roti lapis dan telur dadar ditemani sambal terasi agar makanan ini tidak terasa hambar. Kalo ditanya kenyang apa engga, ya engga, ini mah masuk ke perut cuma ngomong punten, habis itu keluar. Makanan pagi ini emang cukup sederhana karena kami juga sudah mau meninggalkan Pulau Untungjawa. Kami berpamitan dengan beberapa orang yang kami kenal, seperti Pak Budi Polhut, orang-orangan kelurahan, dan warga lokal yang rasanya jika kami menetap lebih lama akan jadi bestie parah. Sembari menunggu kapal menjemput di dermaga, kami berswafoto bersama orang-orang kelurahan dengan membawa banner, duduk santai di pinggir pantai, sampai akhirnya kapal datang dan kami segera menaikinya. Goodbye Untungjawa and welcome to Lancang Besar! Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam sampai akhirnya kami tiba di dermaga Lancang Besar. Kami juga sudah bisa melihat titik camp tempat kami akan menginap hingga tanggal 16 Agustus nanti.Namanya Gusung Klanceng. Cuacanya tetap sama, panas dan terik. Untungnya di camp ada banyak pohon yang menutupi sinar matahari sehingga kami bisa beristirahat di bawah pepohonan dengan teduh dan nyaman. Sampai di camp kami langsung membagi tugas, ada kelompok camp, kelompok masak, dan kelompok yang mengabari orang balai desa bahwa kami telah sampai.
Aura, Rezo, Khairy, Cuca, dan Aku menjadi kelompok yang menuju ke balai desa untuk bertemu dan menyapa Pak Yusup, lurah Pulau Lancang Besar. Sesampainya di kantor lurah, kami disambut hangat, diajak untuk masuk ke ruangan beliau untuk bercengkrama dan bersilaturahmi. Setelahnya, kami diajak berkeliling Pulau Lancang, diperkenalkan dengan fasilitas yang ada, ditunjukkan tempat konservasi terumbu karang, dan sempat ditawarkan bantuan perahu dan motor apabila diperlukan selama penelitian nanti. Tentu ini jadi kabar gembira untuk kita karena akan sangat memudahkan jalannya penelitian. Karena Pak Yusup orang yang produktif dan lagi sibuk-sibuknya saat itu, jadi beliau tidak punya waktu banyak dan harus segera pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Kami pun juga langsung kembali ke titik camp melewati jalan utama sambil melihat sekeliling, mengenali warung mana saja yang bisa bayar menggunakan QRIS, warung yang bisa tarik tunai, warung yang jual logistik basah, jajanan, dan rokok.
Sampai di titik camp, kami punya banyak waktu luang, bisa rebahan bentar, sekedar main ayunan, atau jajan di warung Bu Evan yang kebetulan sangat dekat dari Gusung kami. Beberapa di antara kami juga ada yang berenang di arah timur yang kebetulan dekat dengan Gusung. Pelampung, fins, kacamata renang, dan snorkel, semua dikeluarkan dan dibawa dengan penuh gembira dan semangat buat segera menyebur ke air laut. Nampaknya orang-orang kota ini memang sesenang itu bertemu dengan laut. Wajar saja, di Bandung tidak ada pantai.
Puas berenang dan matahari terbenam. Kami segera naik menuju permukaan air laut dan langsung antri kamar mandi karena hanya ada satu yang dekat dengan camp, kamar mandi yang proper posisinya sedikit lebih jauh, dekat gapura Gusung Klenceng. Sebenarnya, ada beberapa opsi kamar mandi lagi yang aku tahu, kamar mandi belakang warung Bu Evan, kamar mandi warung 2 Putri, dan kamar mandi di rumah Pak Nunu. Dari sekian banyaknya opsi kamar mandi tersebut, aku lebih memilih untuk ga mandi hehe. Malam hari sama seperti biasanya, berbincang, menyalakan sebatang rokok ditemani dengan kopi hitam, sambil menunggu makan malam jadi, kemudian dilanjutkan dengan eval briefing untuk penelitian perdana besok di Pulau Lancang Besar. Kegiatan membosankan dan mengantuk itu selesai, kami langsung menuju spot santai sambil menikmati angin malam yang rasanya pas, tidak dingin dan tidak panas, dan juga kopi hitam tentunya sambil lanjut bercerita bersama anak-anak. Ada yang memilih spot ayunan dan platform kecil di atasnya, duduk di pinggir pagar pembatas, ada yang pergi memancing tengah malam a.k.a Saudara Erge, dan kegiatan-kegiatan gabut pengisi malam yang tenang itu. Mari kita tutup malam ini dengan beristirahat kembali untuk menghadapi kegiatan besok.
Jumat, 14 Agustus 2026 (Lupa Salat Jumat, Penelitian Satset, Hampir Hanyut)
Ga kerasa ternyata udah hari Jumat aja (kerasa banget sih sebenarnya). Siang nanti aku harus ke masjid untuk melaksanakan salat Jumat. Aku selalu ingat pesan orang tua aku, di manapun dan kegiatan apa pun yang kamu lakukan, jangan pernah lupakan salat. Pagi itu aku bersama Uman dan Misha menuju arah barat laut kalau tidak salah untuk memulai pendataan bulu babi. Kondisi air di titik tersebut bisa dibilang cukup kotor dan visibilitasnya kurang. Kami bertiga membagi tugas, Misha sang navigator memegang kompas dan mengarahkan lurus tidaknya transek, Aku dan Uman menarik tali setiap 10 meter selama proses penelitian dan bergantian untuk melihat ke plot yang telah ditandai apakah ada bulu babi di bawahnya atau tidak.
Kami sempet menemukan bulu babi berduri putih yang memang agak jarang ditemukan saat di Pulau Untungjawa. Sayangnya bulu babi yang kami temukan kebanyakan berada di luar plot. Walaupun Uman dan Misha baru pertama kali kebagian menjadi tim pendataan (sebelumnya mereka jadi tim wawancara), aku bisa bilang penelitian hari ini terbilang cukup cepat karena aku sudah terbiasa melakukannya saat di Pulau Untungjawa. Aku bantu mengarahkan Misha dan Uman agar pendataan bisa berjalan dengan lancar hari itu. Aku ingin penelitian hari ini cepat selesai agar aku punya waktu untuk mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke masjid untuk salat jumat.
Sekitar jam 10 lewat pendataan kelompok kami di sisi Barat Laut telah rampung, kami pun kembali ke Gusung dan bersih-bersih serta persiapan salat. Menariknya, sesampainya di Gusung, aku melihat ada tiga orang hebat dan berani yang sedang melakukan ekspedisi kecil-kecilan menuju Pulau Lancang Kecil. Tiga orang hebat itu ada Bang Minur, Bang Ayyub, dan Syarif. Mereka menyebrang menuju Lancang Kecil hanya dengan bermodalkan pelampung dan mental. Tidak habis pikir. Kami sempat menanyakan ke warga lokal dan sempat diperingatkan untuk tidak ke sana. Ah biarlah. Itu momen sekarang atau tidak sama sekali yang harus mereka lakukan. Biasa anak muda.
Oiya, jarak dari Gusung ke masjid terdekat bisa dibilang hanya memakan waktu sekitar 6-7 menit. Ada beberapa yang ketiduran dan tidak ikut salat jumat. Entahlah, itu urusan mereka dengan yang di atas. Beberapa di antara kami bergegas menuju masjid karena sudah mulai ceramah. Selepas salat jumat, kami kembali ke Gusung, istirahat sejenak, kemudian melanjutkan aktivitas masing-masing kelompok yaitu wawancara dan antropologi ke masyarakat sekitar hingga sore pun tiba. Seperti biasa, sore hari kami gunakan untuk berenang di dekat Gusung. Setelah puas bermain air, kami kembali ke camp, mandi, dan bersiap untuk makan malam. Eval briefing tiba, tiap kelompok memaparkan hasil pendataan dan wawancara di hari itu. Kami juga sudah tahu persis apa yang harus dilakukan.
Menariknya, kami sempat dapat cerita lucu saat eval briefing dimana kelompok sisi Utara (Dhiya, Dimas, dan Syifa) kesulitan untuk melakukan pendataan karena arus air yang kencang dan tinggi padahal baru sekitar 20-30 meter dari titik awal transek. Mungkin kalau saat itu mereka tidak didampingi oleh Bang Minur, bisa saja tiga orang itu tidak kembali ke camp. Untungnya perjalanan wajib kami tidak berubah jadi misi penyelamatan tiga orang itu wkwk.
Perubahan rencana, besok akan ada banyak orang yang dikerahkan di sisi utara untuk membantu proses pendataan bulu babi. Pendamping juga banyak yang turut membantu nantinya. Kita juga harus berangkat lebih pagi agar air belum terlalu pasang dan kami masih memungkinkan untuk melakukan pendataan dengan transek. Eval briefing berakhir dengan ucapan keras ASTACALA, kami pun bersantai seperti biasanya sebelum beristirahat. Esok adalah penelitian kedua kalinya di Pulau Lancang. Jangan lupa menyiapkan energi dan mental untuk menghadapi deras dan kuatnya air laut utara.
Sabtu,15 Agustus 2026 (Ganasnya Utara, Protein Berlimpah di Setiap Suapan)
Mari memulai hari Sabtu dengan kembali melakukan penelitian bulu babi! Jujur udah mulai suntuk dan bosan karena kegiatannya repetitif dan begitu-begitu aja. Pengen rasanya cepat-cepat kembali ke Bandung, nongkrong di merput lagi, ngepunk, dan menghirup hawa dingin Bandung. Tapi yahh, perjalanan wajib ini belum selesai. Masih ada beberapa target yang harus dikejar. Kami berjalan berbondong-bondong menuju sisi utara yang jujur saja perjalanannya cukup lama, ada kali sekitar 30 menitan. Sesampainya di titik pendataan, kami mulai melakukan transek secara paralel agar cepat selesai dan bisa kembali ke camp. Kali ini orang-orang yang turun untuk pendataan ada Aura, Uman, Iky, Nadya, Alviana, Rezo, gua sendiri, dan ditemani pendamping Bang Minur, Bang Ayyub, dan Syarif. Saat pembuatan transek pertama aku lumayan banyak kelelep air wkwk. Untungnya saat itu aku dilengkapi dengan fins jadi gampang buat naik lagi ke permukaan air. Setelah transek pertama selesai, transek berikutnya langsung dibantu oleh Bang Minur agar efisiensi waktu.
Selang beberapa puluh menit, seluruh transek berhasil diselesaikan. Pas banget kelompok pendataan dari sisi yang lain juga menyusul ke utara. Akhirnya kami kembali ke camp. Kami tiba di camp, seluruh target penelitian sudah tercapai dan jujur saja hari itu kami banyak free time. Aku punya banyak waktu buat nongkrong di warung Bu Evan atau sekedar berkeliling pulau sembari menunggu sore hari untuk berenang.
Menu makan malam hari ini kami makan enak banget. Ikan tongkol yang jumlahnya benar-benar banyak banget. Bahkan saat kuluk-kuluk, setiap suapan selalu ada potongan ikan tongkol yang sangat besar dilengkapi dengan sambal buatan Cuca. Kuluk-kuluk ternikmat selama perjalanan wajib kami. Biasanya aku tidak makan terlalu banyak (bohong). Tapi kali ini aku benar-benar bertahan sampai seluruh makanan habis sampai butir nasi terakhir.
Setelah puas dan kenyang, kami melanjutkan kegiatan eval briefing harian. Hari ini Arshaka (Telkom Cabang Jakarta) juga ikut andil dalam dalam eval briefing karena besoknya akan ada kegiatan yang mengajak masyarakat sekitar sekaligus kolaborasi.konten antara mapala ASTACALA dan Arshaka, yaitu Beach Clean Up.
Minggu, 16 Agustus 2026 (Operasi Semut Pesisir Pantai Pulau Lancang)
Karena hari ini ada kegiatan yang cukup penting, maka semua peserta BANGUN PAGI untuk mempersiapkan kegiatan Beach Clean Up bersama pasukan oren di sana. Untungnya lokasi titik kumpul sangat dekat, berada di tempat bakar-bakar di Gusung Klenceng. Semua partisipan sudah hadir di Gusung, kami melakukan briefing singkat dipimpin oleh Alia. Setelah briefing, kami mulai menyisir pinggiran pantai terdekat. Beberapa sampah mulai diambil dan dipilah. Ada sampah plastik dan lamun yang dipisah ke trash bag berbeda. Ada cukup banyak perolehan sampah yang kita kumpulkan. Ada kali sekitar 20-25 trash bag yang terkumpul. Agar peserta semakin semangat untuk membersihkan pantai, diadakan juga kompetisi trash bag siapa yang paling berat. Pemenang juga mendapat piala serta souvenir.
Setelah kegiatan selesai, kami memberikan piagam penghargaan kepada pihak lurah sebagai bentuk apresiasi dan kenang-kenangan kegiatan Beach Clean Up. Setelah itu kami punya banyak sekali waktu bebas. Yaudah, seperti biasanya, kami menghabiskan waktu bebas dengan nongkrong di pinggir pantai, berenang, jajan ke warung sekitar, dan menikmati rokok dan kopi hingga waktu eval briefing tiba. Tanggal 17-18 Agustus sudah bukan lagi rangkaian kegiatan Perjalanan Wajib angkatan Secercah Cahaya dan mulai diambil alih oleh DP. Seharusnya tanggal 17 Agustus menjadi acara puncak karena kita merayakan kemerdekaan di SMP dekat kantor lurah sekaligus pengibaran bendera di bawah air, lalu 18 Agustus kembali ke Bandung. Namun, karena ada beberapa miskom, akhirnya anggota ASTACALA yang mengikuti upacara pengibaran bendera di SMP hanya ada beberapa orang, itu pun kami telat datangnya.

