Pra-operasional (23-27 Mei 2026)
Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 19.00 WIB, ROP GH SC Kelompok 1 secara perdana disampaikan di depan para penghuni sekre. Kelompok kami yang beranggotakan Misha, Aisyah, Fadli, Alvian, Hakim, dan saya sendiri dengan fisik dan mental yang cukup sudah siap menaklukan gagahnya Gunung Puncakbesar atau warga lokal biasa menyebutnya dengan nama Gunung Lungkawing. Adapun tiga pendamping dari angkatan Rintik Mentari (RM), Ali (A-214-RM), Cuca (A-216-RM), dan Dika (A-220-RM) yang siap menemani dan mendampingi kami untuk menghadapi kerasnya gunung hutan. Perjalanan panjang kami akan dimulai dari Desa
Uniknya seluruh peserta merupakan angkatan Secercah Cahaya (SC) kecuali saya sendiri yang berasal dari angkatan Rintik Mentari (RM). Sangat disayangkan karena saya tidak bisa mengikuti kegiatan Gunung Hutan bersama angkatan saya sendiri. Orang tua saya saat itu belum terlalu memberikan dukungan kepada anaknya terkait kegiatan alam. Bahkan sampai hari ini pun sepertinya mereka belum terlihat bahagia jika mendengar anaknya ingin naik gunung.
Karena presentasi ROP dilaksanakan pada tanggal 23 Mei, kami masih punya lima hari untuk mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebelum operasional (28 Mei), mulai dari packing perlengkapan pribadi dan kelompok, belanja logistik kering dan basah, serta print peta dan ROP. Tepat 27 Mei Idul Adha berlangsung, takbir berkumandang, banyak peserta GH yang kembali ke rumahnya masing-masing dan menyisakan saya serta Cuca yang punya waktu luang untuk belanja logistik. Hari itu cukup hectic karena ada cukup banyak kegiatan yang perlu dilakukan namun menyisakan kami berdua.
Bahkan di malam sebelum besoknya kami akan berangkat, masih ada perkap kelompok yang belum lengkap, yaitu satu kompor dan satu golok. Saya bersama Ali mencari kompor portable ke beberapa toko outdoor terdekat di Dayeuhkolot. Kami mengunjungi Eiger. Namun, hasilnya nihil. Mereka belum melakukan stok ulang kompor. Kemudian, kami mendatangi Malabar Outdoor. Ternyata tokonya tutup. Harapan kami tersisa ke satu toko outdoor di dekat Borma yang kami belum tahu apakah tokonya buka atau tidak. Jika melihat dari Google Maps sepertinya buka. Dengan menaruh harapan terakhir akhirnya kami memutuskan ke toko outdoor tersebut dengan dipandu Google Maps. Setibanya di sana, terlihat pintu toko masih sedikit terbuka. Saya dan Ali pun memasuki toko dan menanyakan terkait kompor portable yang bisa dibeli. Ternyata toko itu masih memiliki stok kompor portable yang biasa disewakan. Kompornya memang sudah bekas, tapi kondisinya masih bagus dan bisa dipakai. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli kompor bekas tersebut. Saya dan Ali kembali ke sekre dengan rasa lega karena akhirnya berhasil melengkapi kompor portable yang kurang.
Di sisi lain, Alvian dan Hakim juga berusaha melengkapi perkap golok yang masih kurang satu. Untungnya, salah satu teman angkatan mereka di SC, Robby, punya golok tidak terpakai. Mereka berdua memutuskan untuk meminjam golok tersebut dan mengambilnya di rumah Robby yang berada di Ujung Berung. Akhirnya semua perkap kelompok telah dilengkapi dan kami bisa tutup carrier.
Selesainya evaluasi dan briefing di malam hari itu, kami bersama penghuni sekre lainnya menikmati waktu kosong dengan membakar sate menggunakan daging Idul Adha yang diberikan oleh Hakim. Daging yang dibawakan ada cukup banyak hingga kami merasa kenyang dengan sate yang dimakan. Setelahnya, kita segera beristirahat agar bisa bangun pagi keesokan harinya sebelum berangkat operasional GH di Pegunungan Malabar.
Day 1 (28 Mei 2026)
03.51 WIB. Semuanya sudah bangun pagi. Beberapa ada yang pergi ke toilet untuk sekadar mencuci muka dan gosok gigi. Beberapa menikmati free time sambil bermain HP sebelum sarapan pagi di jam 04.00 WIB. Saya menyempatkan diri untuk melakukan dokumentasi menggunakan kamera sebelum akhirnya kita benar-benar berangkat.
Kebetulan kelompok 3 GH juga berangkat di hari yang sama dengan kami sehingga sarapan pagi dilakukan bersamaan dengan kelompok mereka. Dengan budget Rp15.000, mereka memesan nasi telor jamur dari munjul, sedangkan kami memesan nasi ayam bakar dari Catering PBB. Bahkan dengan budget yang sama, kami bisa mendapat makanan yang lebih enak dan kelompok mereka sempat merasa iri. Alvian juga memanas-manaskan kelompok sebelah yang hanya membeli makanan dari munjul. Sarapan di pagi hari itu ditemani tawa dan canda bersama kelompok 3. Sehabis sarapan pagi, kami melaksanakan salat subuh di sekre sebelum berangkat menggunakan angkot Pak Fuad yang telah menunggu sedari tadi.
Salat subuh telah ditunaikan dan kelompok kami berfoto terlebih dahulu di depan sekre dengan latar belakang perahu ORAD, kayak, serta bendera Eiger yang seringkali menjadi sponsor langganan. Dengan persiapan fisik dan mental yang cukup, kami menuju angkot Pak Fuad dan berangkat menuju daerah Pangalengan, tempat pegunungan Malabar berada. Perjalanan cukup panjang dan angin selama di jalan cukup kencang sehingga banyak dari kami yang tidur selama di angkot.
Hampir 2 jam perjalanan berlalu, akhirnya kami tiba di basecamp Gunung Malabar via Cinyiruan, titik start kami. Sesampainya di sana, kami bersapa dan ramah tamah dengan bapak penjaga basecamp. Kondisinya kelompok kami lupa membawa surat jalan karena tertinggal di loker saya sendiri. Syukurnya, kami tidak dimintai surat jalan oleh pihak basecamp dan tetap mendapat izin untuk mendaki karena perizinan juga sudah dilengkapi saat pra-operasional, meliputi surat ke desa, kecamatan, dan polsek.


Sebelum memulai pendakian, kami melakukan navigasi darat dengan mengandalkan peralatan navigasi yang kami miliki, serta melakukan orientasi medan dengan memperhatikan bangunan-bangunan di sekitar seperti masjid, sekolah, perumahan warga, juga puncakan-puncakan yang masih tampak dengan jelas diiringi cuaca pagi yang cerah dan bersinar. Navdar dan ormed telah dilakukan, semua peserta juga sudah menandai posisi mereka di peta. Setelahnya kita mengisi air di masjid terdekat untuk kemudian lanjut berjalan menuju titik ishoma terdekat sambil memperhatikan plotting jalur yang telah kita buat sebelumnya. Kami juga sudah membagi tugas siapa yang menebas, navigator, dan follower.


Selama perjalanan kita disuguhkan dengan suasana perkebunan dan langit yang begitu biru dan cerah. Suhunya terasa sejuk, air sungai yang kami lewati begitu segar. Di jalan kami juga menemukan banyak tanaman-tanaman yang menarik atensi kami, seperti beri hutan, wortel, bunga-bunga yang begitu cantik, pakis, dan ekor monyet.
Perjalanan masih terasa mudah karena jalur setapak masih terlihat dengan jelas. Sampai akhirnya kita bertemu dengan salah satu warga lokal yang memang sangat mengenal daerah Gunung Puncakbesar. Kami sempat menanyakan ke mana arah puncak gunung tersebut. Setelah mendapat arahan, kami berusaha memahami dan mengikuti apa yang bapak tadi katakan. Di sinilah kami mulai keluar dari plot jalur yang telah ditentukan sedari awal. Hal ini juga yang membuat kami harus ishoma di titik yang bukan seharusnya. Kami memutuskan untuk ishoma di jam 11.16 karena telah menemukan tempat yang lumayan landai dan semua peserta juga sudah merasa lelah. Kami menikmati bekal catering nasi ayam bakar sambil minum nutrisari yang telah dibuat oleh pendamping ketika di sekre. Ishoma berlalu begitu saja, nasi ayam bakar telah habis ludes oleh kami yang begitu lapar. Saatnya melanjutkan perjalanan menuju titik camp pertama.

Hari terasa menyenangkan sebelum akhirnya kita mencapai jalur dengan vegetasi yang tertutup sangat rapat. Terdapat pepohonan lebat yang membuat tim kita harus membuka jalur. Saya dan Alvian menjadi tim tibas, Aisyah dan Misha sebagai navigator, dan sisanya termasuk pendamping sebagai follower. Awalnya jalur cukup mudah untuk dibuka karena vegetasinya masih dihalangi oleh tanaman ilalang. Proses buka jalur sempat melambat karena akhirnya kita bertemu dengan pohon-pohon kecil dengan batang kayu yang begitu keras. Saya dan Alvian sempat kewalahan saat membuka jalur dan akhirnya memutuskan untuk bergantian dengan Fadli dan Hakim.



Vegetasi yang begitu rapat juga mengharuskan kami menerapkan man-to-man dengan dipandu oleh Misha sang navigator. Setelah memakan waktu cukup lama, kami pun sampai di saung yang sudah lama tidak terjamah dan beristirahat sejenak. Beberapa menit berlalu, sudah cukup istirahat dan minumnya, kami melanjutkan perjalanan dengan kembali membuka jalur. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.30 WIB dan kami masih berupaya membuka jalur. Saya sempat merasa pesimis bisa sampai titik camp sebelum matahari terbenam. Namun, setelah melihat terdapat daerah landai, kami pun merasa senang dan akhirnya bergegas menuju titik camp 1.
Sesampainya di titik camp 1, kami melakukan aktivitas camp, membangun camp ponco dan shelter api masing-masing, sembari pendamping masak untuk makan malam kami. Malam hari itu makanan apapun yang saya makan terasa nikmat karena terbayar dengan lelahnya perjalanan menuju camp. Kami juga menikmati buah kaleng yang begitu dingin dan segar. Ini juga menjadi momen pertama kalinya anak-anak SC mencoba buah kaleng di gunung hutan dan memang seenak itu. Setelah makan malam dan eval briefing di malam hari itu, peserta diperbolehkan untuk lanjut membuat api di camp ponco masing-masing sebagai penghangat dan agar jauh dari hewan buas. Saat aktivitas camp di sore hari tadi aku juga sudah menyiapkan sedikit kayu yang akan digunakan untuk membuat api di camp api nantinya, walaupun pada akhirnya saya memilih untuk tidur cepat karena mata rasanya sudah tersisa 5 watt. Sebelum tidur Fadli sempat mendatangi camp saya untuk meminjam jam tangan agar besoknya mudah untuk melihat waktu karena Fadli bertugas untuk membangunkan seluruh peserta besok pagi.
Day 2 (29 Mei 2026)

Hari pertama terlewati begitu saja. Istirahat kami cukup panjang sebelum akhirnya kami dibangunkan oleh PJ Bangun, Fadli, sekitar pukul 04.30 WIB. Beberapa peserta yang sudah bangun langsung merapat ke camp panitia, tempat kita akan memasak untuk sarapan. PJ Masak pagi itu adalah Misha, ditemani oleh Aisyah dan saya sendiri, dengan menu sarapan yang cukup membuat kerongkongan sulit menelan makanan. Roti lapis dengan isian telur orak arik, dilengkapi dengan beberapa potongan buah apel. Andai saja waktu itu kita membawa saos sambal, mungkin makanan itu masih bisa dinikmati sambil minum kopi dan teh hangat. Ah sudahlah, yang penting perut kami pagi itu tidak kosong dan sudah ada energi untuk memulai perjalanan panjang. Perut sudah terisi, waktunya kami packing dan persiapan materi GPS oleh Ali dan memulai perjalanan panjang menuju camp 2.


Target kami hari ini hanya ada dua, yaitu menemukan titik air sesuai plotting dan mencapai camp 2 tepat waktu. Seperti biasa, kami melewati jalur dengan vegetasi cukup rapat sehingga diperlukan tim tebas untuk membuka jalur agar peserta dan pendamping bisa lewat. Kali ini kami memberi kesempatan kepada Fadli untuk menjadi navigator selama perjalanan hari kedua. Naik turun elevasi serta rapat renggangnya vegetasi kami lalui begitu saja hingga akhirnya sampai di titik air yang terlihat masing asing dan belum tersentuh. Saat itu juga Ali merasa seperti berada di suasana Jurassic Park. Kami pun sempat melakukan dokumentasi singkat, mengisi jerigen kami dengan air, dan istirahat sejenak sambil menikmati puding cokelat yang sudah dibuat saat masak tadi pagi. Nikmat sekali, tiap suapan puding rasanya tidak pernah merasa puas. Ingin menambah sesuap lagi, lagi, dan lagi tapi harus sadar diri bahwa masih ada sendok lain yang menunggu.
Energi kami pulih, waktunya melanjutkan perjalanan. Elevasi perlahan semakin naik, energi terkuras, harus tetap terhidrasi agar tidak pingsan. Kami juga menemukan ada beberapa pohon besar yang sudah tumbang saat perjalanan menuju camp 2. Waktu berjalan begitu cepat dan kami pun akhirnya sampai di titik camp 2 yang lagi-lagi tidak sesuai dengan plot karena dari briefing memang sudah ditentukan bahwa kami tidak akan menuju titik camp 2 awal karena beberapa pertimbangan.
Kali ini camp kami harus menggunakan sumber daya dari alam karena untuk keperluan implementasi bivak alam. Seperti biasa, kami membagi tugas, pendamping sibuk dengan camp mereka, kami para peserta ada yang mencari daun menjari dan daun kadaka untuk atap bivak, ada yang mencari kayu panjang serta menentukan gawang bivak, dan ada juga yang mencari sulur.


Setelah melihat kerangka bivak alam terbentuk, baik peserta maupun pendamping cukup terkejut karena ukurannya yang terbilang sangat besar. Tidak seperti bivak, rasanya malah seperti sedang membangun saung atau bahkan gawang bola. Besarnya ukuran bivak kami membuat pengumpulan daun-daun untuk atap memakan waktu lama. Kami bahkan perlu bolak-balik mencari daun-daun menjari 3-4 kali sampai akhirnya atap tertutup. Jika dipikir-pikir kembali, kami menghabiskan waktu kurang lebih lima jam hanya untuk membangun gawang bola yang begitu besar. Itupun hanya 3 dari 6 orang yang akhirnya tidur di bivak karena Aisyah dan Misha kedinginan dan memutuskan untuk tidur di dekat camp api sambil Alvian menjaga baranya tetap menyala hingga dini hari.


Bivak alam sudah jadi, kami akhirnya melakukan evaluasi dan briefing malam dan dilanjutkan cerita santai di depan api. Malam begitu terang karena cahaya rembulan yang sangat bersinar tanpa kami menggunakan headlamp. Sesi cerita di depan api begitu hangat dan dipenuhi dengan canda tawa sambil kami menikmati sate daging sapi pemberian Hakim. Senang sekali rasanya malam itu semua bisa merasa terbuka dan menceritakan senang sedihnya mereka di ASTACALA.
Sudah pukul 21.00 WIB. Mata sudah tersayu-sayu. Waktunya kami tidur. Suhu malam kali ini sedikit lebih baik dibanding apa yang saya rasakan saat camp ponco kemarin. Rasanya hari ini lelah sekali, aku tertidur lelap sampai tidak sadar bahwa udaranya begitu dingin. Untungnya malam kedua kami percaya diri tidak akan turun hujan.
Day 3 (30 Mei 2026)
03.30 WIB. Kami bangun pagi dan persiapan untuk melaksanakan tidur kalong di pohon yang telah ditentukan oleh pendamping. Posisi pohon tidak terlalu jauh dari camp. Pendamping mengajari kami cara membuat webbing harness dan kami perlahan mengikuti cara membuatnya. Setelah semua memakai harness, kami dibekali ponco dan lilin untuk tidur kalong lalu berjalan beberapa menit ke belakang daerah camp dan akhirnya sampai di lokasi tidur kalong. Satu per satu dari kami mulai diarahkan untuk memanjat pohon, lilin dinyalakan, dan kami menyelimuti diri dengan ponco. Api dari lilin menjadi penghangat kami di tengah-tengah hutan yang begitu sunyi dan gelap gulita. Pendamping memperbolehkan kami untuk turun dari pohon apabila api dan lilin yang kami pegang telah habis. Karena sedari awal tidak ada ketentuan untuk cara memegang lilin, saya melakukan sedikit trik dengan membalikkan lilin agar lidah apinya membakar batang lilin dengan cepat. Lilin saya yang paling pertama habis, sedangkan yang lainnya masih setengah batang. Pendamping akhirnya memberikan saya lilin kembali, membakarnya, dan memerintahkan saya untuk jangan membalikkan lilinnya agar tidak cepat habis.



Lilin tersisa seukuran kelingking jari, rasanya mulai sulit untuk terus memegangnya di tangan. Lelehan lilinnya terasa di sela-sela jari. Aku meletakkan lilinnya di batang pohon yang diselimuti oleh lumut-lumut kering. Sempat ada api yang menyambar ke lumut-lumut kering itu dan aku sedikit panik karena takut apinya akan semakin merembet. Tetap tenang, aku meniup api yang menyala di lumut tersebut sambil tetap menjaga api di lilin tetap menyala. Akhirnya lilin aku habis dan apinya pun mati. Aku turun dari pohon dengan merosot ke bawah. Kakiku mati rasa, seperti tidak punya kaki. Aisyah sempat membantu menghilangkan rasa kesemutan pada kaki aku hingga aku merasa punya kaki lagi. Akhirnya kami semua kembali ke camp, persiapan masak untuk sarapan pagi.
Pagi ini kami makan bubur instan dilengkapi dengan crackers atau yang biasa orang Indonesia sebut dengan kerupuk. Sebenarnya aku tidak mau makan terlalu banyak pagi itu karena takut tidak kuat menahan buang air besar ketika perjalanan nantinya. Sarapan pagi itu lumayan enak, aku merasa cukup kenyang. Selanjutnya, pendamping memberikan materi trap jerat kepada kami. Setiap peserta mencoba membuat trapnya masing-masing. Setelah semuanya berhasil, kami pun packing dan bersiap meneruskan perjalanan menuju titik finish.
Dituntun oleh Hakim sebagai navigator hari ketiga, serta Aisyah dan Misha yang kali ini berperan sebagai pembuka jalur, kami melewati rintangan vegetasi gunung Malabar yang cukup rapat. Ada beberapa pohon dengan kayu keras yang perlu ditebas dan butuh waktu cukup lama untuk memotongnya. Agar tidak memakan waktu lama, kami melakukan pertukaran pemain untuk pembuka jalur. Kembali ke setelan awal, aku dan Alvian menjadi tukang tebas agar jalur cepat terbuka dan waktu perjalanan kita tetap efisien.
Hari ini kami lebih banyak menemui jalur dengan elevasi menurun karena memang jalur ke titik finish kebanyakan menurun ke bawah mengarah ke Berg Puntang, tempat tongkrongan barudak Bandung skena dan kalcer. Kami juga sempat menemui jalur yang sudah terbuka dengan jelas, tapi sangat curam ke bawah. Beberapa di antara kami sempat terperosot ke bawah. Pergerakan kami sedikit terhambat dan harus berhati-hati agar tidak jatuh terlalu jauh. Misha sempat melempar carriernya ke bawah hingga terguling-guling dan botol minumnya juga ikut terpental ke arah yang berbeda. Alvian yang mendegar suara carrier jatuh dengan sigap langsung menangkap carrier Misha.
Di jalur yang begitu curam ini kami banyak menyebut callout “Rock! Rock!” karena cukup banyak batu-batu kecil yang menggelinding ke bawah dan callout tersebut berguna agar orang yang berada di depan menyadari ada batu yang sedang menggelinding ke bawah dan bisa segera menghindar. Tidak habis pikir bagaimana orang-orang PGPI dahulu membuka jalur yang begitu curam ini. Aku yakin jika ada proses evakuasi melewati jalur ini juga akan terasa sangat sulit bahkan oleh tim SAR yang sudah ahli dan berpengalaman.
Setelah menemukan jalur yang cukup landai dan terbuka serta ada sinyal, aku segera meminta HP ke Dika yang kebetulan memegang HP seluruh peserta agar secepatnya berkabar ke orang tua. Sejujurnya sedari awal aku mengikuti dikjut Gunung hutan ini aku belum meminta izin sama sekali ke orang tua. Hanya sekadar menitipkan WhatsApp via browser ke teman yang bisa aku percaya agar ia bisa membalas pesan jika ada yang masuk, terutama pesan dari kedua orang tua aku. Namun, ternyata kemungkinan terburuk itu tetap saja terjadi. Orang tua aku akhirnya tahu bahwa aku naik gunung tanpa izin, notifikasi HP aku berdering begitu cepat, ada banyak spam call dari ibu dan bapak, dan selama perjalanan menuju titik finish aku hanya bisa memasang muka murung sambil membayangkan betapa emosinya orang tua aku nanti ketika aku menelepon mereka.
Hahaha, kejadian ini sudah seringkali aku lakukan. Bahkan saat Pendidikan Dasar, aku meminta izin orang tua H-1 sebelum keberangkatan. Sepertinya teori “Lebih baik minta maaf daripada minta izin.” itu memang harus selalu aku terapkan setiap kali mau naik gunung. Sudah pukul 12.00 WIB. Kami beristirahat di dekat curug yang alirannya lumayan deras dan airnya begitu segar ketika dibasuh di muka. Kami memutuskan untuk hanya makan makanan ringan saja karena sepertinya perjalanan kami sebentar lagi akan berakhir dan mulai terlihat tanda-tanda mendekati titik finish. Tidak lupa setelah makan kami melakukan dokumentasi kecil-kecilan sebelum melanjutkan perjalanan.


Kami menyusuri pinggiran aliran sungai hingga mengarah ke perkebunan karet dan kopi. Kami semakin yakin bahwa hari ini adalah hari terakhir kami melaksanakan gunung hutan. Mulai terlihat tanda-tanda keramaian sampai akhirnya kami melihat lapangan parkir kendaraan yang cukup luas dan sampailah kita di depan Berg Puntang yang menandakan akhir dari perjalanan panjang kami. Senang rasanya tidak menambah hari. Aisyah sebagai PJ Angkot segera menghubungi Pak Fuad untuk segera menjemput di lokasi kami. Tidak lupa kami berfoto di depan gerbang Bumi Perkemahan Gunung Puntang, titik finish kami, dengan gaya tangan mengadah ke depan dan muka yang menunjukkan rasa syukur bahwa kami sudah sampai di titik finish. Iya, ini hanya muka gimik kok. Sembari menunggu jemputan, kami menikmati jajanan pinggir jalan sambil bermain HP. Setiap peserta sibuk memberi kabar ke orang-orang terdekat, kerabat, dan orang tua bahwa mereka sudah turun gunung dan sedang menunggu jemputan untuk kembali ke sekre.

Selang beberapa puluh menit kemudian, akhirnya Pak Fuad tiba di lokasi, aku menaikkan tas carrier seluruh peserta dan pendamping satu per satu, dan akhirnya semua peserta menaiki angkot. Kami pun berangkat menuju sekretariat ASTACALA. Lelah sekali hari ini, akhirnya kami bisa istirahat dengan tenang dan tertidur pulas di dalam angkot sembari menunggu tiba.
Hujan sedang membasahi daerah Dayeuhkolot sampai akhirnya kita sampai di sekre. Kami turun dari angkot dengan membawa carrier masing-masing, berjalan dengan rasa bangga menuju sekre, dan disambut hangat oleh teman-teman penghuni sekre. “Alhamdulillah ga nambah hari!” Ucap anak sekre yang aku tidak tahu siapa yang mengucapkannya. Kami membongkar seluruh isi carrier, menyisihkannya di open space SH, kemudian melanjutkan evaluasi kegiatan. Alhamdulillah Pendidikan Lanjut Gunung Hutan Kelompok 1 berjalan dengan lancar, semua berangkat dan pulang bersama, serta tiba di sekre dengan selamat. Evaluasi selesai, semua kembali ke rumah masing-masing. Dan begitulah akhir dari cerita perjalanan dari POV aku. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca yappingan ini.

