DAY 1

Malam sebelum berangkat, aku, Mega, Daffa, Rezo, dan Dimas tidur dulu di sekre. Walaupun niatnya mau tidur cepat, tetap aja sebelum tidur masih ada obrolan dan persiapan terakhir sebelum gh. Rasanya campur aduk antara excited sama deg-degan karena akhirnya GH juga besok.
Sekitar jam 03.00 pagi alarm rezo bunyi dan kita langsung bangun buat siap-siap. Setelah semuanya beres, kita sarapan bareng. Jujur aja sarapan pagi itu agak kurang memuaskan karena nggak ada ayam. Mana kelompok sebelah makan ayam bakar lagi. Mereka sempat ngeledekin kelompok kita sambil nunjuk-nunjuk ayamnya. Tapi ya udahlah yaa.. , yang penting perut terisi dan tenaga cukup buat jalan.
Setelah itu kami berangkat naik angkot menuju titik start di Masjid Desa Cijambu. Selama perjalanan suasananya masih rame, semua masih semangat. Sampai di masjid kami langsung bersiap, cek perlengkapan, ada yang ke toilet juga, lalu mulai berjalan. Perjalanan pertama dimulai dengan menuju titik air. Kami harus melewati sungai kecil untuk mengisi persediaan air sebelum masuk lebih jauh ke jalur. Setelah semua wadah penuh, perjalanan dilanjutkan menuju punggungan. Dan asli, hari pertama langsung disambut tanjakan yang nggak ada ampun. Rasanya dari pagi sampai sore kerjaannya cuma naik terus. Nafas ngos-ngosan, kaki mulai pegal, tapi mau nggak mau harus tetap lanjut.
Saat siang hari kami berhenti untuk makan di sebuah kebun milik warga. Duduk sebentar sambil makan rasanya nikmat banget setelah jalan cukup jauh. Setelah tenaga kembali, perjalanan dilanjutkan menuju titik camp. Menjelang sore kami akhirnya sampai di lokasi camp.

Begitu sampai kami langsung bagi tugas buat bikin bivak alam. Ada Daffa yang bikin rangka pake kayu-kayu yang ada di sekitar lokasi. Aku dan Rezo mencari daun-daun berjari untuk menutupi bivak. Sementara Dimas dan Mega mencari daun pisang. Kita udah bagi-bagi tugas masing-masing sampai hari mulai gelap. Sedikit demi sedikit bivak alam akhirnya berdiri. Setelah selesai, kami makan malam, evaluasi sebentar, lalu langsung istirahat karena badan sudah benar-benar capek.
DAY 2


Pagi hari kami bangun dan mulai beres-beres camp. Tapi sebelum perjalanan dimulai, ada kejadian yang bikin kita terhambat buat ke camp selanjutnya. Ternyata.... satu golok hilang. Semua langsung nyari ke sekitar camp karena golok itu penting banget selama perjalanan. Setelah dicari ke sana kemari, lumayan lama lah tuh nyari, ternyata golok yang dipakai Dimas Ketemu di dekat parit yang DIA SENDIRI buat kemarin. Ya ampun Dimas... Baru pagi udah bikin ulah. Setelah golok ketemu, kami lanjut perjalanan menuju Puncak Kadaka. Jalurnya lumayan bikin sengsara karena pacetnya banyak banget. Hampir setiap berhenti ada aja yang cek kaki masing-masing. Aku sendiri sempat kena pacet dan langsung geli pas lihat dia nempel. Sepanjang perjalanan kami terus berjalan naik turun sampai akhirnya tiba di lokasi camp berikutnya.
Nah, di sini kami mendapat tugas untuk membuat camp sendiri-sendiri. Posisi camp nya itu, Ada Pendamping di atas terus camp nya daffa, aku, mega, rezo dan Dimas ada di bagian bawah. Selain camp yang dibuat sendiri, api unggunnya juga harus dibuat sendiri-sendiri. Awalnya semua berhasil nyala api nya, tapi api kami nggak terlalu stabil. Kadang besar, kadang hampir mati, jadi harus terus dijaga.Menjelang malam, Mega mulai merasa takut kalau harus tidur sendiri. Setelah ngobrol sebentar akhirnya kami memutuskan buat tidur bareng aja. Karena udara mulai dingin, kami bikin satu api unggun di campku dan berkumpul di sana. Dimas sudah tidur lebih dulu, jadi yang masih nongkrong tinggal aku, Mega, Rezo, Daffa, dan Bang Abdul.

Jujur, malam itu jadi salah satu momen paling seru selama GH. Nggak ada HP. Nggak ada internet. Nggak ada yang sibuk scroll TikTok atau Instagram. Cuma ada suara api unggun, suara malam dari hutan, dan obrolan kami. Kami cerita banyak hal. Dari pengalaman lucu, cerita organisasi, pengalaman hidup, sampai hal-hal random yang nggak penting tapi bikin ketawa terus.
Nah waktu Nggak terasa malam makin larut. Satu per satu mulai tidur. Aku dan Mega akhirnya tidur bareng. Saat tengah malem kami lagi terlelap tiba-tiba
"Hihihi..." Jujur aja agak merinding. Ternyata mega juga denger tapi kita sama-sama ga bangun karena kita sama-sama takut, jadi aku mutusin buat bilang besok aja
Sekitar jam 3 pagi aku mendengar suara dari kejauhan.
"Kuluk... kuluk..." Awalnya aku kira cuma buat bangun aja.
"Kuluk... kuluk..." Terus ada yang manggil.
"Syifa..."
"Rezo..." Tau lah ya itu siapa...
Entah gimana ceritanya dia malah nyasar sampai ke bawah. Padahal posisi camp kita semua ada di atas. Sampai sekarang aku masih nggak ngerti dia bisa nyasar ke sana gimana Karena kejadian itu, semua langsung bangun. Pas semuanya sudah beres, matahari malah mulai terbit.
DAY 3
Karena tidur kalong yang seharusnya dilakukan jam 3 pagi gagal kita laksanakan, Bang Azhar akhirnya memutuskan untuk menambah satu hari perjalanan. Awalnya kami cukup kaget karena yang tadinya tiga hari jadi empat hari. Tapi setelah dipikir-pikir memang itu keputusan yang paling masuk akal. Dan ternyata hari ketiga ini malah jadi salah satu hari paling santai dan SERUUUU. Dari pagi kami makan bareng sambil ngebahas kejadian semalam. Pasti aja Dimas jadi bahan bercandaan utama pagi itu. Setelah sarapan, para cowok pergi mencari air. Aku dan Mega tinggal di camp buat beberes perlengkapan. Setelah semuanya selesai, kami malah rebahan dan tidur lagi. Rasanya enak banget bisa santai setelah dua hari jalan terus.
Beberapa jam kemudian para cowok balik ke camp sambil ribut sendiri. Katanya mereka nemu jejak Rawrrr alias MACAN. Hari itu benar-benar terasa santai. Nggak ada buru-buru jalan, nggak ada target yang harus dikejar. Kita lebih banyak menikmati waktu di camp dan ngobrol bareng.
Menjelang malam kami masak dan makan bersama. Setelah semuanya siap, akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tungg
Tidur kalong. Awalnya aku lumayan deg-degan. Tapi ternyata pas dijalani malah seru banget. Daffa dapet pohon paling tinggi. Rezo ada di pohon sebelahnya. Aku sama Mega dapet di satu pohon yang sama jadi kita bisa saling lihat. Sedangkan Dimas mendapat posisi yang paling dekat sama pendamping.
Sepanjang malam kita saling sahut-sahutan.
"MBG?"
"Mas Bahlil Ganteng"
"Ngantuk nggak?"
"Bang cepet bang kebelet"
Suasana yang awalnya aku kira bakal serem malah jadi rame dan menyenangkan bgttt. Kita ketawa- ketawa dari pohon masing-masing sampai akhirnya mulai mengantuk.
Tidur kalong yang awalnya gagal justru jadi salah satu momen paling berkesan selama perjalanan.


DAY 4
Pagi hari setelah tidur kalong selesai, kami kembali berkumpul dan beres-beres camp untuk perjalanan pulang. Jujur aja badan sudah mulai terasa capek. Kaki pegal, bahu juga mulai kerasa karena beberapa hari bawa carrier. Tapi di sisi lain ada rasa senang karena semua kegiatan akhirnya selesai dilaksanakan.
Setelah sarapan dan packing, kami mulai berjalan menuju titik akhir perjalanan. Sepanjang jalan isinya cuma ngobrol dan ketawa-ketawa sambil mengingat kejadian-kejadian selama GH Di hari ke 1,2,3.
Mulai dari sarapan tanpa ayam yang diceng-cengin kelompok lain. Tanjakan hari pertama yang nggak ada habisnya. Golok Dimas yang hilang. Pacet yang nempel di kaki. Suara musang yang bikin kami merinding. Dimas yang nyasar tengah malam. Sampai keseruan tidur kalong yang akhirnya jadi terlaksana.
Nggak terasa kami akhirnya sampai di titik finish. Rasanya campur aduk. Senang karena akhirnya selesai, bangga karena berhasil melewati semua prosesnya, tapi juga agak sedih karena petualangan GH ini harus berakhir. Dari kegiatan GH ini aku belajar banyak hal. Bukan cuma soal bertahan hidup di alam, tapi juga soal kerja sama, tanggung jawab, dan kebersamaan. Dan kalau ada satu hal yang paling bakal aku ingat dari perjalanan ini, mungkin jawabannya adalah...
Mungkin jawabannya adalah kebersamaan yang tercipta selama perjalanan. Karena yang membuat GH ini berkesan bukan hanya gunung, hutan, atau medan yang kami lewati, tapi orang-orang yang berjalan bersama, saling membantu saat lelah, saling menguatkan saat kesulitan, dan berbagi cerita di setiap malam tanpa gangguan dunia luar. Momen-momen sederhana itulah yang justru menjadi kenangan paling berharga.




