Summit Atap Sumatra: Cerita dari Lereng hingga Puncak Kerinci

Rencana perjalanan ini bermula dari obrolan santai di sela operasional pemintanan RC Citatah. Kala itu, saya, Agyl si kepala batu, dan Juna dari angkatan Kelana Halimun, tengah membicarakan keinginan untuk sejenak melepas penat kuliah dan lelahnya Pendidikan Dasar ASTACALA ke-32 yang baru saja usai. Obrolan ringan itu perlahan menjelma menjadi rencana matang: pendakian ke Gunung Kerinci, sang atap Sumatra.

Semakin hari, wacana itu makin serius. Kami mulai mengajak beberapa rekan untuk bergabung. Akhirnya, lima orang siap menjadi tim pendaki: saya sendiri, Agyl, Kurnia, Abdul, dan Devro (anggota muda ASTACALA yang baru). Agyl menjadi otak utama perjalanan ini, menyusun Rencana Operasional Perjalanan (ROP) dengan judul “Summit Atap Sumatra”. Setelah ROP rampung, kami mempresentasikannya secara daring via Zoom di sekretariat ASTACALA kepada dua DP, Bang Ayub dan Bang Kuman.

Perjalanan Dimulai

Minggu malam, 26 Januari 2025, kami berkumpul di kontrakan Agyl untuk packing carrier. Setelah semua perlengkapan lengkap dan tas tertutup rapat, kami beristirahat demi keberangkatan esok pagi.

Senin subuh, 27 Januari, pukul 05.00, kami berangkat menggunakan Grab menuju PO Bus ANS di Bandung. Setelah sarapan sederhana di warteg dekat PO, kami menukarkan tiket dan menunggu keberangkatan yang sempat molor hingga pukul 09.30.

Perjalanan panjang pun dimulai. Kami menempuh jalur darat menuju Pelabuhan Merak, lalu menyeberangi Selat Sunda dengan kapal ferry menuju Bakauheni. Dari sana, perjalanan darat dilanjutkan menuju Padang. Namun nasib berkata lain. Kami terjebak kemacetan parah di Sitinjau akibat kecelakaan truk. Seharusnya tiba 28 Januari malam, kami baru sampai di Padang pada 29 Januari pukul 5 pagi.

Padang: Menikmati Kota Sebelum Gunung

Setelah mencicipi masakan Padang asli untuk sarapan, kami menuju penginapan untuk tidur dan memulihkan tenaga. Siang harinya, saya bersama Kurnia, Abdul, dan Devro berjalan-jalan menikmati suasana Padang, ngopi santai, lalu berburu sunset di Pantai Air Manis dan berkunjung ke batu legendaris Malin Kundang. Sementara itu, Agyl memanfaatkan waktu bertemu sang kekasih.

Keesokan harinya, kami belanja logistik kering untuk pendakian, lalu malam harinya berangkat ke basecamp Gunung Kerinci menggunakan travel yang sudah dipesan. Tiba di basecamp Bude Rani, kami disambut hangat. Setelah istirahat, Abdul dan Devro berbelanja logistik basah ke pasar, dilanjut pengecekan perlengkapan oleh petugas basecamp, dan kemudian packing ulang carrier. Malam itu kami tidur dengan semangat menanti pendakian esok hari.

Menapaki Lereng Kerinci

1 Februari 2025 – Hari pendakian dimulai. Sekitar pukul 10 pagi, kami naik pickup dari basecamp menuju pintu rimba. Pendakian berlangsung menyusuri pos demi pos, hingga akhirnya tiba di Shelter 1 dan mendirikan tenda di sana. Malam itu kami menikmati makan malam hangat, lalu beristirahat.

2 Februari – Setelah sarapan, kami melanjutkan pendakian menuju Shelter 3, melewati medan yang lebih berat. Di Shelter 2, kami berhenti makan siang dan mengisi persediaan air. Jalur menuju Shelter 3 benar-benar menantang: akar-akar besar dan tanjakan curam menguji stamina dan teknik kami. Bahkan ada beberapa titik yang harus ditaklukkan dengan bantuan webbing.

Shelter 3 menyambut kami dengan angin kencang dan hawa dingin menusuk. Kami berjuang mendirikan tenda dalam kondisi terbuka dan tidak bersahabat. Malam itu, kehangatan datang dari semangkuk rendang yang kami santap bersama – sederhana, tapi nikmat luar biasa. Kami tidur dengan perlengkapan summit sudah siap.

Menuju Puncak Atap Sumatra

3 Februari – Hari penentuan. Pukul 5 pagi, setelah sarapan mie telur, kami mulai summit attack. Hawa dingin semakin terasa, menembus jaket dan sarung tangan. Namun semangat tetap menyala. Setelah beberapa jam menapaki lereng berkerikil dan tertutup kabut, akhirnya… kami tiba di puncak Gunung Kerinci, titik tertinggi di Sumatra.

Rasa haru, bangga, dan syukur bercampur dalam udara tipis di ketinggian 3.805 meter. Foto-foto singkat kami abadikan, lalu segera turun ke Shelter 3 karena udara yang dingin.

Setelah makan siang oseng bakso buncis, kami bereskan camp dan memulai perjalanan turun. Melewati pos demi pos sambil menikmati pemandangan yang indah dan megah, kami tiba kembali di pintu rimba. Pickup menjemput, dan malam itu kami kembali ke basecamp. Mandi, makan malam, lalu istirahat sambil menanti travel ke Padang.

Kembali ke Kota, Pulang ke Rumah

Tanggal 4 Februari dini hari, kami pamit kepada Bude Rani. Travel membawa kami kembali ke Padang. Kami singgah di Masjid Raya Sumatera Barat untuk salat subuh, lalu sarapan sate Padang yang lezat. Setelahnya, kami kembali ke penginapan untuk istirahat.

Malamnya, kami jalan ke pantai membeli oleh-oleh khas Padang dan makan malam terakhir di tanah Minang.

5 Februari – Hari perpisahan. Kurnia pulang ke Kalimantan, Agyl ke Palembang, Devro ke Bangka. Saya dan Abdul menjadi dua terakhir yang pulang ke Bandung via bus. Setelah 1 hari perjalanan darat dan transit di Terminal Kampung Rambutan Jakarta, kami akhirnya sampai di Telkom University, membawa pulang kenangan luar biasa dari puncak Sumatra.

Penutup

Perjalanan ini bukan sekadar pendakian. Ia adalah pelarian sejenak dari hiruk pikuk akademik, bentuk syukur atas selesainya pendidikan dasar, dan ikatan kebersamaan yang terjalin di alam bebas. Di ketinggian Kerinci, kami belajar tentang batas diri, kerja sama, dan makna “pulang”.

DENI | A-210-RR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *