Mengusap Ubun-Ubun Sang Putri Tidur


Dalam perjalanan kami menuju Desa Wonosari, Kabupaten Malang, tampak dari kejauhan sebuah deretan pegunungan yang megah nan memesona. Penduduk sini menyebutnya dengan sebutan “Putri yang tertidur” atau Sleeping Beauty Mountains. Ialah deretan pegunungan yang membentang dari Utara ke Selatan melintasi dua Kabupaten di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar.
Pemandangan dari puncak Gunung Butak. Terlihat sang Fajar terbit sejajar dengan siluet jajaran pegunungan Bromo-Tengger-Semeru.
Pemandangan dari puncak Gunung Butak. Terlihat sang Fajar terbit sejajar dengan siluet jajaran pegunungan Bromo-Tengger-Semeru.

Kami berangkat menuju Wonosari menggunakan moda transportasi angkutan perkotaan dari arah Kota Malang, dengan jarak tempuh sekitar 30 km. Dari dalam angkutan tampak di depan pandangan kami bentangan pegunungan mulai dari sisi Timur, yaitu Gunung Panderman (2045 mdpl) di posisi kaki, Gunung Kawi (2551 mdpl) sebagai badan, dan Gunung Butak (2868 mdpl) pada bagian Kepala di sisi Barat. Jika Kita cermati lagi, terlihat gugusan tersebut memang menyerupai posisi orang yang sedang tidur terlentang sambil melipat kedua tangannya di atas dada.

Tujuan kami adalah mendaki Gunung Butak. Dinamakan Gunung Butak konon katanya orang pertama yang menemukan gunung ini melihat puncaknya yang rata tidak ditumbuhi pepohonan menyerupai kepala gundul (botak). Gunung api stratovolcano (membentuk kerucut besar) bertipe ‘C’ ini secara administratif terletak di perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar. Namun banyak yang keliru mengenai penamaan gunung ini. Warga sekitar banyak yang mengenalnya dengan Gunung Kawi. Mungkin dikarenakan kepopuleran Wisata Ritual Gunung Kawi yang memilki latar belakang pemandangan sebuah gunung. Padahal jika ditilik dalam peta, latar gunung yang terlihat dari Pesarean Gunung Kawi adalah Gunung Butak yang notabene juga lebih tinggi dari Gunung Kawi.

“Mau cari pesugihan Mas di sana ?,” tiba-tiba terlontar pertanyaan dari supir angkutan yang Kami tumpangi. Mungkin si supir curiga atau hanya sekedar bercanda, saya pun hanya tertawa menanggapi pertanyaan supir tersebut. Memang kata ‘pesugihan’ sudah menjadi stigma yang melekat bagi nama besar Gunung Kawi. Kebanyakan masyarakat yang tidak mengetahui dengan sesungguhnya apa yang ada di objek wisata Gunung Kawi, atau hanya sekedar mendengar cerita dari orang lain, mengira tempat ini sebagai tempat untuk mencari pesugihan (memperkaya diri). Meskipun begitu, atribut pesugihan yang melekat pada Gunung Kawi, menurut saya, malah sukses membuat gunung ini masih jarang dikunjungi para penggiat kegiatan mendaki gunung. Adanya beberapa lokasi dan objek-objek yang dikeramatkan memberikan kesan angker tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Pesarean Gunung Kawi merupakan objek wisata religi yant terdapat di Desa Wonosari.
Pesarean Gunung Kawi merupakan objek wisata religi yang terdapat di Desa Wonosari.

Dengan segala macam keunikan dan kesakralan cerita di dalamnya, menjadikan gunung ini semakin menarik untuk Kami kunjungi. Sambil memandangi pesona keanggunan sang putri tidur, tak sabar rasanya ingin mengelus mesra ubun-ubun dari kepala sang putri tersebut.

Bermula di Keraton

Berfoto bersama dengan Bapak Kepala Desa Wonosari sebelum berangkat menuju ke Keraton untuk memulai pendakian.
Berfoto di depan “basecamp” kantor desa wonosari bersama dengan Bapak Kepala Desa Wonosari sebelum berangkat menuju ke Keraton untuk memulai pendakian.

Lereng Gunung Kawi sudah dikenal masyarakat Jawa Timur sebagai tempat ritual dan peribadatan berbagai macam keyakinan. Di Desa Wonosari, tepatnya di komplek Pesarean, terdapat tempat peribadatan umat Muslim, Konghucu dan Budha yang letaknya berdampingan. Tidak jauh dari sana, kira-kira 3 kilometer di barat laut Wonosari, berdiri komplek peribadatan yang bernama Keraton Gunung Kawi. Keraton Gunung Kawi berada di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, yang dulunya masih satu kecamatan dengan Wonosari sebelum berpisah menjadi Kecamatan Wonosari pada 1982. Hampir mirip dengan Temple of All Religions di Kazan, Rusia, di dalam komplek peribadatan Keraton terdapat tiga bangunan peribadatan berupa, Kelenteng, Vihara, dan Pura, serta Petilasan Makam leluhur masyarakat setempat yang beridiri dalam satu area. Bangunan-bangunan tersebut berdiri saling berdekatan dengan arsitektur yang berbeda-berbeda. Jika di Temple of All Religions bangunan tersebut hanya dijadikan landmarks Kota Kazan, berbeda dengan Keraton yang memfungsikan bangunan-bangunan tersebut sebagai tempat kegiatan keagamaan dan ritual dari masing-masing agama pengguna bangunan tersebut.

Konon area Keraton Gunung Kawi ini dibangun oleh Mpu Sindok yang merupakan seorang ratu dari India, yang bernama asli Kusuma Wardhani, pada abad ke-9 Masehi. Lokasi ini kemudian pernah dijadikan tempat bertapa para petinggi-petinggi kerajaan di ranah Jawa pada masanya, sebut saja Ken Arok dan Patih Gajah Mada yang termahsyur itu, serta nama-nama lainnya.

Keraton ini juga pernah ditutup pada awal masa Order Baru karena diduga menjadi sarang persembunyian anggota PKI. Dan dibuka kembali secara resmi oleh Pemerintah Indonesia pada 1974, walaupun kemudian pernah terbakar hingga salah satu bangunan rata dengan tanah pada 2002 silam.

Sesudah berpamitan dengan Kepala Desa, Bapak Kuswanto, dan beberapa pegawai  desa, kami langsung bertolak meninggalkan basecamp, yang selama dua hari kami tempati, di kantor desa menuju Keraton. Dengan menggunakan mobil dinas Kantor Desa Wonosari, kami diantarkan Pak Sugeng, menyusuri jalanan aspal berkerikil, kadang juga berlubang, berkelok melewati tanjakan demi tanjakan.

Tak banyak pemandangan yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan menuju Keraton. Dalam perjalanan kami hanya disuguhi barisan pohon pinus milik Perhutani yang berdiri rapih di kedua sisi jalan. Pengguna jalan juga jarang kami jumpai, hanya ada sebuah truck yang menepi untuk mengisi muatan berupa potongan kayu pinus yang telah ditebang.

Setelah menempuh waktu sekitar 45 menit, akhirnya kami tiba di lapangan parkir Keraton Gunung Kawi. Kedatangan Kami di sambut kawanan anjing yang jumlahnya cukup banyak. Area yang berada di ketinggian 1115 Mdpl ini berudara sejuk, selain juga karena  dikelilingi pohon-pohon pinus yang cukup tinggi. Pengunjung Keraton pagi itu terlihat sepi sekali, hanya ada dua orang pengunjung yang hendak beribadah ke Vihara Kwan Iem dan seorang petugas penjaga Keraton.

Baca juga:   Gunung Butak (2868 mdpl) via Wonosari

Berbeda dengan Pesarean Gunung Kawi yang bersuasana riuh, suasana di sini sangat hening sekali dan terkesan sakral. Mungkin karena suasana yang hening dan sakral tersebut maka banyak orang yang beranggapan komplek Keraton Gunung Kawi ini justru lebih manjur untuk memanjatkan do’a agar cepat terkabul.

Sebelum melakukan pendakian kami memanjatkan do’a terlebih dahulu menghadap gapura setinggi 3-4 meter berukiran mirip seperti ukiran-ukiran khas Bali
Gapura berukiran khas Bali setinggi sekitar 3-4 meter ini merupakan gerbang awal kami memulai pendakian menuju Gunung Butak.

Sebelum melakukan pendakian kami memanjatkan do’a terlebih dahulu menghadap gapura setinggi 3-4 meter berukiran mirip seperti ukiran-ukiran khas Bali. Menurut penjaga Keraton, kegiatan tersebut merupakan ritual yang biasa dilakukan pendaki sebelum melakukan pendakian ke Gunung Butak/Kawi agar dilindungi oleh roh-roh yang bersemayam di Gunung Kawi. Kami pun melakukan ritual tersebut sebagai bentuk penghormatan atas kearifan lokal setempat. Kemudian saya dan anggota lainnya mulai menyusuri susunan anak tangga menuju jalur masuk pendakian yang berada di samping Pura Peribadatan Gunung Kawi.

Tanjakan Pengujian

Jawa Timur terkenal dengan daerah pegunungannya yang kering dan gersang, tidak seperti Jawa Barat yang mayoritas bertanah basah karena intensitas curah hujan yang tinggi. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar jika Kita menjelajahi Butak.

Jalur gunung berapi yang tidak terdapat catatan mengenai letusan terakhirnya ini memilki kelembapan tanah yang relatif sedang sampai dengan tinggi, dibuktikan dengan kondisi tanah yang selalu basah saat Kami melewatinya. Di sepanjang awal jalur pendakian ditumbuhi pepohonan khas pegunungan yang cukup tinggi yang intesitasnya cukup rapat seperti gunung-gunung di Jawa Barat.

Break!” Terdengar teriakkan dari barisan di depan saya. Ternyata bukan saya saja yang sudah kelelahan, anggota Perjalanan Wajib yang lainnya juga terlihat tidak beraturan lagi nafasnya. Keringat deras terus mengucur di sekujur tubuh membasahi seragam lapangan yang Saya kenakan. Malahan ada yang sudah tergeletak lemas di tepi jalur pendakian. Segera kami menenggak air perbekalan yang sudah disiapkan dalam jerigen dan sejenak mengatur kembali nafas yang kian terengah-engah.

Sudah dua setengah jam kami mendaki, namun jarak yang ditempuh masih sepertiga dari target rencana operasional untuk mencapai koordinat camp. Saya teringat ucapan Mba Ika, warga lokal yang beberapa kali mendaki Butak, ”Jalurnya enak kok Mas, pemandangannya bagus. Cuma diawal-awal pendakian memang jalurnya benar-benar menguji mental Kita,” begitu kira-kira ucapannya yang saya ingat.

Benar saja, dari awal pendakian kami langsung dihadapkan tanjakan terjal dengan kemiringan berkisar 45 – 75 derajat yang tak henti-hentinya. Pepohonan yang rimbun menghalangi sinar matahari menembus celah-celah ranting daun. Awan biru sukar tertangkap kelopak mata, menyiratkan Kami masih berada di ketinggian yang relatif rendah. Kondisi seperti itu dirasakan memang benar mengikis mental kami. “Biasanya pendaki yang mentalnya sudah keganggu, akan merasa bahwa tanjakan tersebut tidak selesai-selesai dilewati. Pada kondisi seperti itu Saya menyarankan untuk menghentikan pendakian dan lebih baik kembali ke bawah,” cerita Mba Ika mengisahkan kelompok pendaki yang pernah mengalami hal tersebut.

Bulir-bulir air mulai turun dari langit membasahi setiap apa yang disinggahinya. Jam tangan yang saya gunakan sudah menunjukkan jarum pendek ke arah 4. Kami masih belum juga menemukan batas vegetasi hutan pinus yang menandakan akan segera mencapai Pos Meja Bundar tempat kami menghabiskan malam nanti.

Melihat hari yang semakin gelap dan kondisi jalur yang belum Kami ketahui, kami memutuskan untuk mendirikan camp di tengah jalur pendakian yang kondisinya miring dan sempit, dan akan melanjutkan pendakian esok pagi. Mau tidak mau pilihan itu harus kami ambil, karena memang tidak terdapat tanah datar yang luasnya cukup untuk mendirikan camp berkapasitas enam orang. Sekaligus untuk mengisi kembali mental dan tenaga kami. Mendaki pada kondisi cuaca yang cerah tentunya lebih memberi kesan baik dan yang pasti lebih aman dibandingkan dengan kondisi hujan dan gelap.

Malam itu kami tidur dengan keadaan seadanya, diselimuti perasaan was-was, semoga saja alam bersahabat agar kami dapat melewati ujian ini.

Dari Puncak Pitrang ke Savana

Jalur pendakian Butak melalui Keraton memang terkenal sulit di kalangan pendaki. Di antara ke-4 jalur lainnya, jalur Keraton memiliki medan tanjakan terjal dan waktu tempuh yang tergolong lama. Wajar saja demikian, untuk menuju Butak melalui Keraton Kami harus melewati dua buah puncakan tinggi , salah satunya Gunung Pitrang 2593 Mdpl.

Bersyukur mentari pagi menyambut kami pagi ini. Udara dingin tidak terasa menusuk karena sinar mentari cukup menghangatkan tubuh kami. Setelah sarapan dan packing perbekalan, kami segera melanjutkan pendakian.

Target pendakian ialah Sendang yang berada di Savana Butak. Target tersebut mutlak harus kami capai, karena persediaan air yang kami miliki tidak akan cukup jika harus bermalam lagi. Padahal sebelum berangkat kami sudah menyiapkan lima jerigen air full berkapasitas 5 liter. Tidak disangka karena kelelahan konsumsi air menjadi tidak terkontrol.

Tidak lama setelah kami melanjutkan kembali pendakian, kerapatan dan ketinggian pohon mulai berkurang. Langit biru berawan terlihat dengan jelasnya. Tidak berapa lama juga, kira-kira 80 menit, pohon pinus mulai berdiri di sisi kanan kiri jalur pendakian. Kami pun tiba di Pos Meja Bundar. Tanah datar berbentuk seperti sebuah meja bundar besar ini menyajikan pemandangan alam yang menyegarkan mata. Dari puncak Pitrang Kami dapat menyaksikan Gunung Butak berdiri megah di sebelah Barat. Deretan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru juga dapat terlihat jelas di kejauhan. Gunung Kelud pun tak mau kalah menyombongkan diri.  Melihat pemandangan yang begitu indahnya ini membuat Kami semakin bersemangat untuk segera mencapai Sendang.

Baca juga:   Mengungkap Kebenaran Dibalik Mitos Petilasan Gunung Kawi

Dari Pos Meja Bundar kami akan menjumpai tiga objek lagi yang cukup menarik, yaitu Puncak Pitrang, Hutan Lumut, Sabana I dan II Pitrang. Jalur yang kami lewati juga semakin rapat ditutupi rumput ilalang, tidak terlihat jelas lagi jalan setapak yang biasa dilewati pendaki. Tanda-tanda bekas jalur yang dilewati pun sukar ditemukan. Kemampuan dan Peralatan navigasi menjadi alat penolong kami dalam melewati jalur ini.

Kabut yang datang dan pergi menemani perjalanan kami selama menuju Sendang.
Kabut yang datang dan pergi menemani perjalanan kami selama menuju Sendang.

Ditemani kabut tebal yang datang dan pergi kami melanjutkan kembali pendakian. Kali ini medan yang dilewati tidak begitu terjal, terkadang juga landai dan menurun. Pohon cantigi (Vaccinium varingiaefolium) mendominasi tumbuhan di sepanjang jalur. Jalan setapak tertutup rapat rimbun ilalang yang tingginya hampir setinggi saya. Kami harus ekstra hati-hati karena banyak jalur yang tertutup ilalang ini melipir lembahan yang di sebelahnya terdapat jurang dalam.

Setelah 1,5 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Puncak Pitrang. Pohon edelweis (anaphalis javanica) cukup banyak dijumpai di sini. Namun sayang, bunga-bunga abadi ini sedang tidak dalam masa mekarnya. Bunga edelweis ini biasa mekar di bulan-bulan penghujung tahun antara Oktober hingga Desember.

Puncak Pitrang berada pada permukaan yang landai dan cukup lebar serta langit-langit yang terbuka karena jarang sekali pepohonan teduh disekitarnya. Waktu sudah menunjukkan lewat setengah hari, maka kami memutuskan beristirahat dan makan siang di sini.

Matahari bersinar cerah siang itu, teriknya terasa menyengat ubun-ubun kepala saya. Hawanya yang panas membuat kerongkongan terasa gersang. Sayang persedian air yang semakin tipis tidak bisa mengobati dahaga yang terasa amat sangat menggerogoti kerongkongan. Kami harus segera tiba di Sendang secepat mungkin.

Setelah selesai mengisi tenaga kami melanjutkan perjalanan kembali. Untuk sampai ke Sendang Kami harus berjalan 2,5 karvak lagi – Peta Bakosurtanal 1:25000 –  atau sekitar 2 – 3 jam lagi dengan tempo pergerakkan yang lebih dipercepat.

Dari Puncak Pitrang berarti perjalanan kami tinggal menuruni punggungan menuju Sabana I dan II kemudian melipir lembahan dan naik punggungan ke puncak Butak. Sebelum itu kami harus melewati terlebih dahulu Hutan Lumut yang berjarak sebentar saja dari puncak.

Rumput ilalang yang kami lewati mulai berganti menjadi pohon – pohon tinggi, yang terlihat tua dan rapuh, batang – batangnya ditumbuhi oleh lumut kering yang menempel dan bergelantungan. Hutan lumut ini memiliki kepadatan pohon yang tinggi. Pohon – pohonnya yang rindang menghalangi sinar matahari masuk kedalam, sehingga kelembapan di hutan ini terbilang cukup tinggi.

Kabut perlahan mulai datang menyelimuti hutan lumut.
Kabut perlahan mulai datang menyelimuti hutan lumut.

Selain pohon – pohon tinggi yang berperan sebagai kanopi, Pakis dan semak – semak mendominasi hutan ini dan berperan seperti lantai. Berhati – hatilah agar tidak tersandung jika melewati jalur ini, karena lebatnya semak – semak menutupi jalur yang dipenuhi batang – batang kayu yang tumbang dan melintang.

Keluar dari kawasan hutan lumut, pemandangan berganti menjadi lahan terbuka dengan sebuah sabana kecil berbentuk bulan sabit. Kami menyebutnya Sabana I. Ialah dataran luas yang ditumbuhi rerumputan ilalang setinggi orang dewasa yang memiliki udara sejuk. Cocok untuk berkemah, tapi tidak ada sumber air kalau hujan tidak turun membasahi daerah tersebut.

Terus ke utara, jalur menuju Butak terlihat melipir bukit. Memutari punggungannya, lalu lanjut ke utara. Tibalah kami di padang ilalang berbentuk lingkaran, kami menyebutnya Sabana II. Konon sekitar 3 bulan yang lalu pernah ditemukan mayat seorang Ibu yang terduduk di sini dalam keadaan kepala lepas dari lehernya. Mayat Ibu tersebut dikuburkan di sekitar Savana II. “Nanti kalo ketemu Tas di atas tanah sekitar Savana II jangan diambil ya, Mas, Itu kuburan,” pesan Mba Ika sebelum kami mendaki.  Karena penasaran, Saya sempat menyari-nyari dimana kuburan tersebut berada, tetapi beruntung tidak menemukannya. Dari sini sudah tampak jelas Gunung Butak berdiri persis di depan mata. Saya semakin optimis Kami bisa mencapai Sendang tepat waktu.

Savana Gunung Pitrang. Konon belum lama berselang, pernah ditemukan mayat seorang wanita yang meninggal secara misterius di savana ini.
Sabana Gunung Pitrang. Konon belum lama berselang, pernah ditemukan mayat seorang wanita yang meninggal secara misterius di savana ini.

Savana dan Sendang Kramat

Gunung Butak selain memiliki spot-spot pemandangan indah, tempat ini juga memilki beberapa tempat yang dikeramatkan. Kepercayaan warga lokal yang menganggap tempat-tempat yang memiliki nilai-nilai peninggalan leluhur tersebut harus dijaga untuk mendatangkan kesejahteraan dan perlindungan. Maka kerap kali warga sekitaran mendaki Butak sekedar untuk berziarah atau ngalap berkah. Mereka ini disebut pendaki tradisional oleh kalangan pendaki lokal. Pada waktu-waktu tertentu mereka mendaki beramai-ramai dalam suatu rombongan mengunjungi objek-objek keramat ini dengan bekal seadanya. Terkadang ada juga individu-individu yang nekat naik sendirian, yang kadang berakhir seperti seorang Ibu yang meninggal di Sabana II tersebut.

Akhirnya setelah melewati jalur pendakian selama 8,5 jam, kami tiba di Sendang. Yaitu sebuah tempat dimana terdapat aliran air (bahasa Jawa Sendang = aliran air) atau sumber mata air. Mata air ini telah dipasangkan paralon saat kami tiba, sehingga air mengucur deras dari lubang paralon itu. Sedikiti ke atas dari sisi paralon terdapat ceruk atau gua kecil – seukuran orang sedang jongkok- yang di dalamnya berisi genangan air. Menurut penduduk lokal tempat itu biasa dijadikan persembahan sesajen, terbukti dari guci-guci bekas dupa dan makanan sesaji yang ditinggalkan. Di dasar genangan air terdapat beberapa uang logam pecahan 500 yang ditinggalkan dengan sengaja untuk maksud tertentu.

Di sekitaran Sendang terdapat bekas-bekas mendirikan tenda, yang menurut hipotesa saya merupakan peninggalan para pendaki tradisional. Terlihat dari bentuk konstruksinya yang terdiri dari seng dan kayu, serta terdapat juga panci dan wajan bekas bewarna hitam bekas api kayu bakar. Selain itu juga tumbuh banyak tanaman liar seperti selada air dan sawi liar. Sampah pun juga cukup banyak bertebaran di areal ini. Terdapat satu Sendang lagi di arah datang dari jalur Panderman yang kondisinya kurang lebih sama seperti di sini.

Baca juga:   Perjalanan Wajib Duri Samsara: Bersatu Melawan Perusakan Lingkungan

Kami langsung menyerbu aliran air Sendang untuk dialiri menuju rongga di dalam mulut kami. Airnya yang jernih dan segar sanggup mengobati dahaga yang sudah tertahankan dari semenjak di Puncak Pitrang sebelumnya.

Menikmati malam sambil bercengkrama di bawah hamparan bintang,
Menikmati malam sambil bercengkrama di bawah hamparan gugusan bintang yang memanjakan mata.

Setelah mengisi jeriken air, Kami melanjutkan perjalanan mencari titik camp yang berada di Sabana di atas Sendang ini. Sabana Butak sendiri merupakan lembahan yang ditumbuhi rerumputan ilalang, edelweis dan beberapa pohon pinus. Luasnya kira-kira 50 hektare. Menurut perkiraan saya hampir mirip Mandalawangi di Pangrango, hanya saja tidak ditumbuhi edelweis sebanyak di sana. Puncak Butak terlihat jelas ditandai dengan Bendera Merah Putih yang berkibar angkuh di titik tertinggi sana. Kami sangat beruntung waktu itu karena dapat menyaksikan Purnama terbit dari balik pegunungan Bromo-Tengger-Semeru. Saya yang baru pertama kali menyaksikannya merasa sangat takjub melihat lukisan alam yang dibuat cahaya purnama tersebut. Bersyukur rasanya bisa sampai di sini, di padang sepi dengan hamparan gugusan bintang yang memanjakan mata.

Ubun – ubun Butak

Udara dingin menusuk sampai ke lapisan kulit paling dalam. Kaos berlapis kemeja lapangan serta jaket tebal yang saya kenakan seakan tak mampu membendung udara dingin tersebut. Matahari belum lagi keluar dari peraduannya. Dengan langkah cepat kami menelusuri sela-sela rerumputan yang membeku. Suara khas serangga-serangga hutan seakan meneriaki kami yang pagi-pagi buta sudah membuat kesibukkan sendiri seakan tidak ada waktu untuk menikmati pagi datang menyapa.

Derap langkah kaki melangkah dengan cepat terseret-teseret, dengan penerangan sinar headlamp akar-akar pohon yang menyembul di jalan tak terlihat tertutup semak. Lelah yang mendera membuat langkah kaki menjadi limbung. Beberapa anggota Perjalanan Wajib ada yang tersandung bahkan terjerembab. Namun seakan kami sepakat untuk menghiraukan dan tetap melanjutkan perjalanan tanpa mengeluh.

Nafas terengah-engah keluar dari mulut Kami. Check-point pertama kami lalui, yaitu sebuah tumpukan batu yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai ruang yang ditengahnya terdapat tempat meletakkan saji-sajian. Epo, salah satu anggota Perjalanan Wajib, tertinggal jauh. Apa boleh buat, saya sebagai koordinator harus mengalah untuk menunggu Epo dan membiarkan anggota yang lain melanjutkan perjalanan.

Sembalut jingga mulai menyembul di ufuk timur. Saya dan Epo mulai menyusul anggota lainnya yang sudah tidak terlihat lagi. Jalan semakin terjal, bahkan ada yang mengharuskan saya memanjat untuk melewatinya. Di Timur sana Sang Surya semakin memperilhatkan wujudnya. Walupun sedikit ada rasa sesal, saya terus mendaki dan mendaki tanpa terasa Epo sudah tertinggal dan tak terlihat lagi. Saya pun memutuskan untuk meninggalkan dia setelah memastikan bahwa jalur yang kami tempuh sudah benar dan terdapat penanda-penanda jalur yang ditinggalkan pendaki sebelum-sebelumnya.

Beberapa kali saya tertipu melihat puncakan yang terlihat sudah sangat tinggi, tetapi ternyata masih ada jalan lagi di depannya. Jalur menanjak yang kadang diselingi turunan memang sukses mengecohkan kami. Saat kami sudah senang hampir mencapai puncak, ternyata masih harus berjalan lagi setelah mencapai titik tersebut.

Akhirnya setelah mendaki selama 90 menit dari sabana yang berketinggian 2700 Mdpl, saya berhasil menginjakkan kaki di Puncak Butak pada pukul 05.24 pagi.

Plang yang menandakan puncak Gunung Buthak.
Plang yang menandakan puncak Gunung Buthak.

Puncak Butak merupakan sebuah lahan terbuka dengan sebuah gundukkan setinggi 3 meter di tengahnya. Di gundukkan ini terdapat sebuah tiang dengan papan nama bertuliskan “Gn. Kawi / Butak 2868mdpl” dan bendera Sang Saka Merah Putih yang berkibar kencang di ujung bambu yang diikatkan pada batang pohon cantigi.

Pemandangan 360o terlihat sangat memukau dari Puncak Butak. Di sebelah Timur—tempat matahari terbit—terlihat Gunung Arjuno – Welirang memuntahkan asap dari kawahnya. Sementara di Timur Laut terlihat Gunung Semeru beserta jajarannya. Wedhus gembel yang disemburkan kawah Jonggring Saloko terilhat menyelimuti lapisan atas dari pegunungang tersebut. Kemudian di bagian Barat terhampar kota dimana Bung Karno dimakamkan dan Gunung Kelud yang letaknya tidak jauh dari sini.

Mengibarkan bendera Astacala bersanding dengan Sang Saka Merah Putih.
Mengibarkan bendera Astacala bersanding dengan Sang Saka Merah Putih.

Embusan angin yang dingin tidak menyurutkan niat kami untuk mengusap lembut ujung kepala Sang Putri Tidur ini. Sayangnya, walaupun gunung ini dikategorikan masih sepi pengunjung, tetap saja kami menemukan sampah-sampah sisa pendaki yang ditinggalkan di sekitar puncak Butak. Ya, keasrian alam merupakan tanggung jawab Kita bersama untuk menjaga kelestariannya. Karena alam adalah milik Kita bersama, Kita bersama yang merasakan manfaatnya sampai detik ini. Saya teringat kutipan seorang tokoh spiritual Budha yang mengatakan “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed.” Bumi bukanlah tempat untuk memuaskan hasrat orang-orang yang serakah, yang bertindak egois khususnya dalam memperlakukan alam. Jadilah orang yang bertanggung jawab terhadap alam, karena alam telah menyediakan semua yang Kita butuhkan.

Bekasi, Mei 2015
Tulisan oleh Arief Naibaho (A-118-Mentari Gunung)
Foto oleh Tim Perjalanan Wajib Api Fajar

tulisan ini merupakan bagian dari buku kisah Perjalanan Wajib Api Fajar 2015 "Step into The Unknown"