Berkunjung ke Kampung Naga

Berada di sisi utara kaki Gunung Cikuray mengingatkan saya akan pengalaman beberapa bulan silam pada akhir tahun 2012 saat saya dan Andi Wirawan alias Acong mengunjungi Kampung Naga, sebuah perkampungan sekelompok masyarakat adat Sunda yang masih memegang teguh adat istiadat peninggalan leluhurnya. Berlokasi tak jauh dari Jalan Raya Tasik – Singaparna – Garut, kampung ini secara administratif terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Kampung Naga

Kala itu, setelah melalui enam jam perjalanan dari Jakarta dan bermalam di sebuah mushola salah satu Pertamina Kota Tasikmalaya, saya dan Acong pun tiba di hari yang masih pagi di gerbang pintu masuk Kampung Naga. Begitu memasuki gerbang, ada lapangan parkir yang cukup luas dengan beberapa warung dengan fasilitas kamar mandi di sekelilingnya. Suasana masih cukup sepi. Di satu sisi, ada satu bangunan yang saya lihat sepertinya berfungsi sebagai pusat informasi atau tempat perizinan sebelum masuk lebih jauh ke kampung Naga.

Kesan pertama di pintu masuk ini yang saya dapatkan adalah : kampung yang tidak jauh berbeda dengan kampung-kampung lain di sekitarnya. Banyak kemajuan seperti kampung-kampung pada umumnya. Kampung Naga ini sudah dikelola sebagai tempat wisata dengan baik oleh warga setempat. Akan ada pemandu yang menemani kita berkunjung. Para pemandu ini tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Kampung Naga yang sekretariatnya sama dengan tempat perizinan kunjungan ini. Selain itu, warga setempat juga sudah tergabung dalam koperasi warga yang bernama Sauyunan.

Setelah melakukan perizinan, kami menuruni lembah menuju lokasi Kampung Naga, menyusuri jalan setapak menurun dengan anak-anak tangga yang rapi. Setelah berjalanan beberapa puluh meter menyusuri jalan setapak, terlihatlah lembah subur di mana Kampung Naga berada. Sawah-sawah yang baru saja habis panen menghampar. Menjelang masuk ke pemukiman Kampung Naga, padi-padi hasil panen dijemur di atas nampan-nampan bambu di sepanjang jalan setapak. Beberapa warga masyarakat Kampung Naga terlihat sedang sibuk menata nampan-nampan tersebut, juga beberapa wisatawan yang juga datang berkunjung bersama saya.

Acong Berdiri di Tepi Sungai Ciwulan

Kampung Naga memang terletak di sebuah lembahan yang luas dan subur kaki Gunung Cikuray. Di sebelah barat dari komplek pemukiman kampung, terlihat pohon-pohon tumbuh rapat kemudian disusul sawah-sawah sampai jalan setapak yang memanjang di tepi Sungai Ciwulan. Sungai Ciwulan adalah sungai yang mengalir di sebelah timur Kampung Naga, aliran airnya berasal dari Gunung Cikuray di selatan. Di seberang sungai yang lerengnya lebih terjal, pepohonan menghijau rapat juga tumbuh lebat. Pepohonan rapat inilah yang disebut sebagai hutan adat oleh masyarakat Kampung Naga. Begitu juga dengan kumpulan pepohonan yang ada di sebelah barat persawahan, itu pun juga disebut sebagai hutan adat. Dan di hutan adat bagian barat inilah lokasi kuburan kampung ini.

Memasuki pemukiman Kampung Naga, sebuah halaman atau bisa disebut juga lapangan yang cukup luas berdiri di tengah-tengah. Nampan-nampan bambu berisi padi berjajar rapi memenuhi lapangan. Beberapa ibu-ibu mengatur dan menata padi-padi yang sedang dijemur tersebut. Sementara ayam-ayam peliharaan warga tampak usil mencuri bulir-bulir padi untuk makanannya pagi itu. Di sisi barat lapangan, terdapat dua rumah yang cukup besar, satu sebagai masjid, satu lagi sebagai pendopo. Rumah-rumah panggung yang lebih kecil berdiri berjajar di selatan dan utara. Begitu juga di sebelah barat masjid dan pendopo. Rumah kepala adat berada di samping lapangan tak jauh dari pintu masuk. Rumah-rumah panggung yang kecil itu adalah rumah yang ditempati oleh warga masyarakat. Di sekitar rumah-rumah itu ada banyak empang atau kolam lele dengan tempat mandi cuci kakus di atasnya, tak jauh berbeda dengan kampung-kampung di daerah Jawa Barat yang pernah saya kunjungi. Karena sering melihat kolam lele berdampingan dengan tempat mandi cuci kakus inilah saya menjadi tak pernah doyan makan pecel lele.

Baca juga:   Menyusuri Kabut Cikuray
Perumahan Kampung Naga dengan Kolam-kolam Lele di Sekitarnya

Adalah Mang Iing, salah seorang warga sekaligus pramusiwata Kampung Naga yang berumur paruh tiga puluhan tahun yang menyambut kami di depan rumahnya. Beberapa warga memang berprofesi sebagai pramuwisata di kampung ini dengan tugas mengantarkan wisatawan secara bergiliran. Setiap wisatawan yang berkunjung dipersilahkan memberikan uang jasa seiklasnya, tak ada patokan harga yang ditentukan. Mang Iing sudah tahu kedatangan kami karena ia sudah dihubungi oleh penjaga pos perizinan melalui telepon genggam miliknya untuk menemani kami berkunjung. Ternyata, telepon genggam sebagai produk teknologi telah banyak digunakan oleh warga Kampung Naga ini, tidak seperti warga Badui yang dulu juga pernah saya kunjungi. Ia mempersilahkan kami untuk duduk di rumahnya sambil menunggu kepala adat yang saat itu sedang menerima tamu.

Bersama Mang Iing, Pemandu yang Menemani Berkeliling di Kampung Naga

Ketika duduk di dalam rumah, sebuah televisi dan tape recorder dengan accu sebagai sumber tenaganya terlihat bertengger di sebuah meja kecil di dalam ruangan rumah. Antena televisi juga saya lihat berdiri di beberapa rumah lainnya. Di seberang rumah Mang Iing, ada sebuah rumah berisi warung yang menjual makanan dan minuman ringan. Saya pun jadi bertanya-tanya dalam hati, keunikan apa yang sebenarnya ada di Kampung Naga ini seperti yang banyak diceritakan orang?

Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, Mang Iing mengantar kami ke rumah kepala adat. Kepala adat yang juga adalah seorang pensiunan pegawai negeri di Tasikmalaya ini hanya tersenyum dingin menyalami kami saat kami memperkenalkan diri. Ia sepertinya sudah mempercayakan kunjungan kami kepada Mang Iing untuk berlaku sesuai aturan yang berlaku di kampung ini. Berlaku sopan tentu adalah salah satunya. Karena saya membawa kamera, Mang Iing menekankan bahwa ada beberapa rumah dan tempat yang tidak boleh diambil gambarnya. Saya hanya mengangguk mematuhi apa yang ia jelaskan.

Kami pun kemudian berkeliling sambil mendengar cerita Mang Iing. Masyarakat Kampung Naga ini tidak diketahui secara pasti dari mana asal-usulnya dan siapa yang mendirikan kampungnya. Di masa-masa awal Republik Indonesia, masyarakat Kampung Naga adalah loyalis Soekarno sampai kemudian pada tahun 1956 ada pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosoewiryo. Masyarakat Kampung Naga yang tidak simpati pada DI/TII karena berniat mendirikan Negara Islam Indonesia menyebabkan seluruh rumah mereka dibumihanguskan oleh tentara pemberontak DI/TII. Pembumihangusan itu juga yang menyebabkan terbakarnya lontar-lontar leluhur yang merupakan arsip-arsip sejarah mereka. Ada istilah pareuman obor bagi masyarakat Kampung Naga dalam mengartikan sejarah asal-usul mereka. Pareuman obor yang berarti matinya penerangan menyebabkan mereka menerima apa adanya kehidupan mereka sekarang. Mereka juga kurang meyakini berbagai versi tentang asal-usul mereka yang dikemukakan oleh beberapa pihak.

Baca juga:   Klungkung, Pusat Kerajaan Bali di Masa Silam

Kami pun kemudian masuk ke rumah-rumah yang berada lebih di dalam. Rumah-rumah yang letaknya di dalam hanya dipisahkan dengan lorong-lorong kecil. Ada banyak pakaian yang dijemur di lorong-lorong itu. Rumah-rumah di Kampung Naga ini bentuk dan ukurannya sama semua. Rumah terdiri dari empat ruangan : dua ruangan paling depan berfungsi sebagai dapur dan tempat menerima tamu, dua ruangan di belakang adalah sebagai kamar tidur dan ruang keluarga. Saya baru tahu alasan kenapa dapur berada di bagian depan rumah : ini supaya kita dapat melihat asap yang mengepul setiap pagi di rumah tetangga. Jika ada asap mengepul di pagi hari, artinya keluarga tersebut masih baik-baik saja tidak kurang sesuatu apapun. Sedangkan jika tidak ada asap, artinya tidak ada aktivitas memasak yang berarti ada sesuatu yang terjadi sehingga sebagai tetangga akan datang berkunjung untuk memberikan bantuan.

Jumlah rumah di Kampung Naga ini juga tetap, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah. Ini dimaksudkan untuk tetap menjaga keseimbangan kampung mereka. Menjaga kelestarian sawah dan ladang, mejaga kelestarian hutan, menjaga kelestarian air dan udara, yang mana semua itu dimaksudkan supaya kehidupan manusia tetap sejahtera berdampingan dengan alam lingkungan. Jika seseorang memiliki anak yang sudah dewasa dan anak tersebut telah menikah, maka si anak wajib meninggalkan Kampung Naga untuk tinggal di luar wilayah. Si anak baru boleh tinggal lagi di kampung Naga jika orang tuanya telah tiada. Saya jadi berpikir bagaimana dengan mereka yang memiliki banyak anak? Mang Iing menjelaskan bahwa otomatis anak-anak mereka akan keluar kampung, bahkan untuk selamanya. Saat ini sebenarnya sudah banyak masyarakat Kampung Naga yang tinggal di luar seperti di Kota Tasik, Singaparna, maupun Garut. Rumah tempat saya beristirahat tadi pun sebenarnya juga bukan merupakan rumah Mang Iing, tetapi rumah orang tuanya.

Aktivitas Ibu-ibu yang Menjemur Padi

Perjalanan keliling kampung pun berlanjut sampai ke sisi barat lapangan. Di sinilah sebuah masjid dan pendopo atau balai masyarakat berdiri. Masyarakat Kampung Naga adalah beragama Islam sekaligus menjalankan upacara tradisi yang tidak ada tercantum dalam kitab-kitab agama Islam. Banyak sumber yang mengatakan bahwa masyarakat Kampung Naga tidak menjalankan agama sesuai syariat Islam seperti tidak mewajibkan warganya naik haji dan hanya sholat satu kali. Ketika Acong menanyakan hal ini, Dayat -kerabat Mang Iing- menyanggahnya. Ia sepertinya sedikit tidak terima dengan berita-berita yang beredar selama ini tentang kehidupan religius masyarakat Kampung Naga. “Iya, memang benar kami tidak sholat lima kali, tetapi hanya sekali. Kami sholat sekali saat Subuh. Sekali saat Lohor. Sekali saat Azar dan Magrib. Juga sekali saat Isya.”, begitu katanya sambil tersenyum. Acong tertawa. Sedangkan saya hanya manggut-manggut saja.

Baca juga:   Adat Dalihan Natolu Suku Batak

Ketika saya tanyakan keterkaitan mereka dengan masyarakat Kanekes di Badui, Dayat mengatakan bahwa tak ada kaitannya sama sekali. Hanya kebetulan masih sama-sama memegang tradisi dan adat istiadat warisan leluhur yang menjaga kearifan lokal. Juga sama-sama masih berlatar budaya adat Sunda yang kental. Selain Kampung Naga dan Badui, sebenarnya masih ada banyak kampung-kampung tradisional di Tatar Sunda. Dan hampir semua kampung tersebut menjadi objek penelitian antropologi dan tempat wisata budaya.

Searah Jarum Jam : Perangkat Televisi dan Tape Recorder di Rumah Warga; Dapur yang Ada di Ruang Depan Rumah; Tempat Sampah Bambu Warna hijau dan Nampan Tempat Menjemur Padi di Jalan Setapak; Depan Rumah yang Menjual Barang-barang Kerajinan Masyarakat

Jika kita lihat dengan seksama, akan ada banyak perbedaan antara Kampung Naga dan Badui. Kampung Naga lebih berkomproni dan terbuka terhadap pengaruh asing. Ini bisa dilihat dari berbagai peralatan berteknologi yang mereka gunakan sehari-hari seperti yang saya lihat waktu saya tiba pagi tadi. Pakaian yang mereka kenakan juga pakaian yang sama seperti kita masyarakat pada umumnya. Jadi, kearifan lokal warisan leluhur mereka yang masih dijalankan sampai sekarang itulah yang membuatnya sedikit unik. Dayat mengatakan bahwa ini karena masyarakat Kampung Naga tidak mau berjalan tanpa beriringan dengan perubahan sekaligus juga tidak mau terkena pengaruh negatif dari perubahan tersebut.

Kurang lebih dua jam berkeliling kampung, kami pun tiba kembali di rumah Mang Iing. Beberapa pisang goreng dan teh dalam teko menjadi menu pengganjal perut yang disediakan oleh tuan rumah. Di hari yang telah siang ini, belasan wisatawan mulai berdatangan. Beberapa berkeliling kampung, beberapa yang lain asyik melihat barang-barang kerajinan yang dipajang di depan beberapa rumah. Sambil menunggu Acong yang ikut sholat jumat di masjid Kampung Naga ini, saya pun berbaring beristirahat di atas tikar di dalam rumah. Kearifan lokal yang ditunjukkan oleh warga Kampung Naga saya pikir cukup menarik untuk bisa dipahami oleh setiap orang. Bahwa tidak selalu perilaku-perilaku tradisional warisan leluhur itu adalah kuno dan ketinggalan zaman, malah ia bisa dipadukan dengan perkembangan masa kini untuk menciptakan tatanan hidup masyarakat yang harmonis berdampingan dengan alam lingkungan. []

Tulisan dan Foto oleh I Komang Gde Subagia