Survei “Ekspedisi” Batu Lawi

Survei “Ekspedisi” Batu Lawi

Terlihat barisan antrian rapi saat menaiki tangga besi, tak lama giliranku untuk menaiki tangga besi itu. Kemudian kucari kursi bernomor 5c yang tertera di selembaran kertas yang kudapat dari penjaga loket, ternyata tepat berada di pojok kursiku berada. Kursi deret ke-3 berwarna merah dimana di sebelah kananku terdapat kaca berbentuk persegi kecil. Segera kupasang sabuk pengaman yang terlantar di busa kursi. Tak lama bersandar, terhentaklah badanku ke belakang. Seperti melewati jalan tanjakan dengan kecepatan tinggi menggunakan mobil. Melalui kaca persegi itu mataku dapat menatap indahnya pemandangan kota dan lautan awan di ketinggian.  Itulah pengalaman pertamaku bepergian menggunakan pesawat. Tidak tanggung – tanggung sekalinya naik pesawat langsung menaiki 3 pesawat secara bergantian.

***

Perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa bagiku, aku dan Ajie dipilih sebagai tim survei lokasi untuk kegiatan Ekspedisi ASTACALA yang bertemakan “Facing Giant Rock” pada bulan November nanti.

Ekspedisi kali ini mengangkat divisi Rock Climbing, dengan Tebing Batu Lawi sebagai objeknya. Tebing Batu Lawi yang berada di Gunung Batu Lawi, Kelabit Highland, Serawak, Malaysia (Borneo) dengan ketinggian tebing ± 125meter ini merupakan lokasi yang akan ku survei.

Tebing Batu Lawi kami pilih sebagai objek ekspedisi  dikarenakan karakteristiknya yang khas, untuk memanjat tebing ini kita haruslah mendaki gunung terlebih dahulu, barulah kita dapat memulai pemanjatan untuk dapat menikmati puncak sejatinya di ketinggian 2046 mdpl.

Tebing Batu Lawi (Female dan Male)

Dengan semangat agar dapat mengibarkan bendera merah putih di atas Tebing Batu Lawi, kami yakin semua itu dapat terealisasikan.

***

Tanggal 9 – 18 Juli 2013 adalah hari yang kami pilih sebagai waktu survei. Pertama kalinya dengan menggunakan pesawat aku dapat menginjak tanah negeri Malaysia dengan menempuh rute melalui Jakarta – Kinabalu – Miri – Bario.

Pemandangan dan Suasana di Bario

Titik start perjalanan ku ini berawal dari Bario (Bariew), Bario merupakan daerah pelosok dari daerah Serawak yang  infrastruktur pembangunannya masih sangat tertinggal dibandingkan dengan daerah – daerah  lain di Malaysia. Berada di ketinggian 1000 mdpl membuat daerah ini sangat dingin di malam hari. Daerah Bario ini juga merupakan daerah perbatasan antara Serawak Malaysia dan Kalimantan Indonesia. Untuk pergi Dari Bario Malaysia ke Long Bawan Kalimantan cukup dengan berjalan kaki selama 1 hari melewati jalan setapak lintas hutan.

Semua penerangan dan listrik mereka peroleh dari generator set (genset) sedangkan semua barang dan makanan berasal dari bandar/kota besar (bandar paling dekat adalah Miri, di tempuh 1 hari naik mobil atau dengan naik pesawat PP 600 RM sekali terbang), tidaklah heran semua barang, makanan, dan bahan bakar harganya jauh diatas harga normal.

Baca juga:   Ekspedisi Astacala ‘Facing Giant Rock’

Setibanya di Bario kami diperkenalkan dengan orang Indonesia. Ternyata banyak orang Indonesia yang bekerja disini. Hampir semua orang Indonesia di Bario bekerja sebagai pekerja bangunan, yahh meskipun mereka pergi ke Bario sebagai TKI namun cukup bangga kami dengan mereka, hampir semua pembangunan yang ada di Bario merupakan karya dari orang – orang Indonesia.

***

Dari data yang kami peroleh dengan waktu 5 hari sudah cukup bagi kami untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk operasional ekspedisi berlangsung. Setelah kesepakatan harga dengan guide tercapai mulailah kami memulai perjalanan ke Tebing Batu Lawi.

–          Hari pertama

Kami mulai beranjak dari kediaman guide (Uncle Philips biasa dipanggil Uncle) pukul 09.00 Malaysia/pukul 08.00 waktu Indonesia Bagian Barat. Setelah 1 jam melewati sawah – sawah dan lumbung milik warga akhirnya kami mulai menapaki hutan Serawak. Terlihat masih sangat alami hutan Serawak ini, vegetasi tumbuhan dan binatangnya terbilang sangat kaya, serta terdapat peninggalan – peninggalan prasejarah yang kami temui saat perjalanan ke Batu Lawi seperti ukiran batu dan makam Suku Pennan ratusan tahun silam. Suku Pennan hampir sama seperti Suku Dayak yang berada di Kalimantan.

peninggalan ukiran batu dan jejak hewan buruan

Suku Pennan atau Suku Dayak Penan Timur, adalah salah satu suku pengembara yang hidup di hutan pedalaman Sarawak, Malaysia. mereka hidup dengan menggunakan sumber daya yang bisa di manfaatkan di hutan, seperti makan binatang buruan (payau, rusa, babi, dll).

***

Sedikit berbeda jalur yang kami lalui dengan jalur yang kami buat di peta, jalur yang kami lalui selalu melipiri punggungan dan banyak menyebrang sungai. Membuat perjalan di hari pertama ini sangat panjang.

Banyak jejak – jejak binatang yang kami temui saat perjalanan, dengan semangat Uncle Philips menjelaskan tentang teknik berburu yang berawal dari jejak payau, rusa, babi, dan burung – burung. Uncle Philips juga sangat mengerti tentang tumbuhan, dari jenis pohon yang bisa diuangkan dengan harga jual mahal sampai tanaman pengobatan.

Uncle Philips merupakan penduduk asli Bario, yang juga merupakan pensiunan tentara Malaysia, jadi tidak heran beliau sangat mengerti medan di daerah hutan Serawak.

Baca juga:   Nusa Kambangan, Tempat Kami Menoreh Tinta Sejarah

Setelah berjalan 5 jam kami menemui medan yang berbatu – batu, jalur berada diantara bebatuan besar, Sungai yang kami lalui pun selalu timbul dan menghilang di dalam goa. Keseimbangan merupakan kunci agar dapat menyebrangi  sungai melalui jembatan kayu.

Shelter Camp 1

Kami tiba di camp 1 pukul 19.30. Kondisi di camp 1 sudah terdapat sebuah shelter, ternyata dahulu warga merencakan membuat jalan untuk bisa sampai ke Tebing Batu Lawi menggunakan Mobil 4WD, namun di tengah jalannya proyek, pembuatan jalan ini terhenti dikarenakan ketidaksetujuannya kepala kampung setempat karena pembuatan jalan ini akan banyak menebang pohon – pohon yang berguna untuk menyimpan dan menyaring air sungai yang mengalir ke desa.

–          Hari Kedua

Karpet Hijau dan Tebing Batu Lawi Dari Kejauhan

Untuk mempercepat perjalanan di hari kedua, beberapa logistik kami tinggalkan di shelter ini, kami memulai perjalanan pukul 09.00, saat memulai perjalanan kami seperti berjalan di atas karpet hijau. Ya, jalan besar yang tidak dirampungkan untuk pergi ke Batu Lawi ini sudah berlumut, persis seperti karpet hijau. Sepanjang jalan seringkali Batu Lawi terlihat dengan indahnya dari kejauhan. Namun setelah 4 jam berjalan di karpet hijau kami kembali harus memasuki hutan Serawak dan kembali menyebrangi sungai – sungai.

Tak lama memasuki hutan, jalur yang kami lalui mulai tertutup semak dan tumbuhan liar, menandakan sudah lama jalur ini tidak digunakan, longsoran tanah juga seringkali menutup jalur sehingga mengharuskan kami berhati – hati untuk melewatinya.

Camp 2

Pukul 16.00 kami tiba di camp ke 2, kondisi camp ke 2 berada di lembahan, tepat di samping sungai. Tak butuh waktu lama untuk membuat camp dan shelter api.

–          Hari ketiga

Hari ketiga ini merupakan perjalanan penentuan, ya penentuan karena hari itu adalah waktu dimana aku dapat melihat tebing batu lawi dari dekat dan sekaligus mencari data yang kami butuhkan untuk Ekspedisi di bulan November nanti. Semua peralatan dan logistik kami tinggal di camp 2, kami hanya membawa kamera, alat masak dan beberapa makanan untuk dimasak di siang hari.

Seperti biasa pukul 09.00 kami memulai perjalanan, berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini medan pendakian benar – benar curam dan terjal untuk di lewati, setelah 4 jam pendakian akhirnya kami tiba di sadelan Tebing Batu Lawi. Gunung Batu Lawi mempunyai 2 puncakan, puncak pertama adalah Female Tebing Batu Lawi (tebing Female), dan puncak kedua adalah Male Tebing Batu Lawi (tebing Male). Sedangkan tebing yang akan kami panjat adalah Male Tebing Batu Lawi.

Baca juga:   Merah Putih Pertama di Batu Lawi
Female, Male, Crack Male

Setelah menyantap makan siang kami memulai berjalan mendekati Male Tebing Batu Lawi, dengan cermat kami perhatikan crack – crack  yang memungkinkan untuk kami naiki, pelan – pelan kami memutari tebing Male sembari mengambil gambar dan video jalur crack yang memungkinkan untuk dijadikan jalur yang akan kami panjat. Setelah selesai mengambil data kami pun kembali turun, pukul 18.30 kami tiba di camp 2.

–          Hari keempat

Tepat pukul 09.00 Setelah packing semua peralatan dan melakukan cleaning kami memulai perjalanan untuk kembali ke camp 1, terasa sangat cepat perjalanan di hari keempat ini, pukul 15.00 kami sudah tiba di camp 1, hari itu kami lewati dengan canda gurau dan tidur panjang sampai pagi.

–          Hari kelima

Seperti biasa pukul 09.00 setelah melakukan cleaning kami memulai perjalanan kembali ke kediaman Uncle Philips. Perjalanan hari ini merupakan perjalanan panjang terakhirku di survei Ekspedisi ini, meskipun beban ransel sudah berkurang, namun tetap perjalanan di hari terakhir ini terasa sangat panjang. Kembali menaiki dan menuruni bukit, menyusuri sungai dan menyebrangi sungai sangatlah menguras tenaga. Kami tiba di kediaman Uncle Philips pukul 18.00. Nasi berlauk rebung dan pakis menyambut kami malam itu, hari itu kami bermalam di kediaman Uncle Philips.

***

Pagi hari tiba, kami sudah berjanji kepada Very, Selamet, Deny untuk berjumpa terlebih dahulu sebelum terbang kembali ke Indonesia. Very, Selamet dan Deny merupakan beberapa orang indonesia yang sangat membantu kami saat tiba di Bario, meskipun mereka harus bekerja sampai sore hari, namun mereka tetap menyempatkan waktu untuk kami.

Namun sangat disayangkan di hari terakhir itu kami hanya bertemu dengan Selamet, sedangkan yang lainnya sedang pergi bekerja, ya tak apalah kami hanya menitipkan salam kepada kawan – kawan indonesia lainnya.

Terima kasih atas semua bantuannya Bario, sampai jumpa di bulan November nanti…

Tulisan oleh Arnan Tri Arminanto

Foto dari Dokumentasi Tim Survei Ekspedisi

  • BSA

    suasana kampungnya Ipin-Upin banget. hahaha.

  • Joni

    sukses untuk ekspedisi ASTACALA ke tebing batu lawi malaysia. kibarkan merah putih disana!

  • Widdha

    weiiss keren kalian… sukses! ^^