Pengabdian untuk Cimonyong


Ini adalah sedikit kisah tentang kegiatan saya dalam pengabdian masyarakat di Cimonyong bulan Februari 2013 lalu. Beberapa bulan telah lewat, tapi kesannya masih terasa.

Berfoto Bersama Guru SD dan Warga Setempat

Mentari telah singgah ke peraduannya di ufuk barat bumi. Saya baru saja tiba di base camp panitia, sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu dengan lantainya yang menggantung 50 cm di atas tanah. Kami menumpang di rumah warga setempat untuk bermalam sekaligus menjadikannya sebagai base camp. Kami di sini, terlibat dalam suatu acara bertajuk Pengabdian Masyarakat dari Astacala untuk Cimonyong. Mencoba berbagi dengan keterbatasan dan kelebihan yang kami punya.

Dusun itu sebenarnya bernama Karang Sari, namun dahulu kala wilayah tersebut dikenal dengan nama Cimonyong. Konon, nama tersebut diperoleh dari perilaku penduduk sekitar yang kerap memajukan mulut mereka (monyong) untuk meniup tungku berbahan bakar kayu kering. Dusun yang indah dengan tiga air terjun di sungainya dan rimba lebat yang masih terjaga dengan arifnya. Di mana kita bisa mengintip laut di antara bukit yang menjulang. Jauh dari aroma modernisasi dan segenap kemunafikan yang dilahirkannya. Ketika pagi hari, matahari menyusupkan sinarnya dengan indah di sela padi yang mulai menguning.

SD Cimonyong
Persawahan di Dusun Cimonyong

Dusun itu seperti terisolir. Akses menuju ke sana sangatlah sulit. Jalan berbatu dengan kemiringan hampir 45 derajat terbentang menuju dusun. Namun penduduk di sana sudah terbiasa dengan segala rintangan tersebut. Bagai naik jet coaster tanpa asuransi rasanya menumpang sepeda motor warga yang dengan lincah menyusuri jalan di antara tebing dan jurang.

Mungkin bagi orang lain dusun ini adalah daerah miskin, tertinggal, dan menyedihkan. Tapi bagi saya, dusun ini kaya. Lebih kaya dari pada penduduk kota. Lihat saja, mereka tidak perlu membayar listrik untuk menerangi hunian mereka. Itu karena mereka memanfaatkan energi potensial dari air terjun untuk memutar turbin. Mereka tidak perlu membayar kepada PDAM untuk mendapatkan air bersih untuk konsumsi, karena air jernih mengalir beriringan di sungai yang ada di sisi dusun. Dan mereka tidak perlu membeli AC untuk menyejukan udara, semua fresh. Mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan mengandalkan hara, karunia sang pencipta.

Baca juga:   Sepuluh Hari di Kampung Laut Nusa Kambangan
Air Terjun di Cimonyong
Jalan Menuju Air Terjun

Selama empat hari kami tinggal bersama penduduk sekitar. Panitia disebar ke sejumlah rumah warga untuk tinggal dan merasakan kehidupan di dusun itu. Kami juga mengadakan kegiatan mengajar murid-murid SD, menanamkan pentingnya kelestarian alam kepada jiwa-jiwa muda yang masih bersih. Khusus kelas 4 sampai 6, kami mengadakan acara menginap di sekolah di mana agendanya antara lain belajar, bermain, pemutaran film, dan outdoor games. Selain itu kami mengadakan penyuluhan bagi penduduk sekitar tentang pemanfaatan energi dan efisiensinya. Dan sebagai acara puncaknya adalah sunatan masal dan peresmian perpustakaan yang bukunya kami peroleh dari hasil sumbangan para dermawan.

Sore itu, setelah lelah bermain bersama murid-murid SD, kami bermain bola voli bersama warga. Keceriaan tak habis-habisnya tersibak pada wajah-wajah kota kami yang gemar berpetualang ini. Diiringi kilauan pelangi yang menggantung serta awan merah senja yang menjadi latarnya, kami semua menyatu dalam suasana kebersamaan yang hangat.

Bersama Warga Setempat
Makan Bersama
Bermain Bersama
Belajar Bersama
Menonton Film Bersama
Sunatan Masal

Ibu-ibu setempat selalu menyiapkan makanan untuk kami. Jangan bayangkan makanan kota seperti ayam goreng atau rendang. Di sini kami mendapati makanan yang lebih enak. Sayur jantung pisang, sayur pisang, tahu dan tempe goreng, pepes ikan mas, leunca, sayur pakis, pepes tahu, dan yang pasti membuat rindu adalah sambal hasil karya ibu-ibu setempat. Rasanya dijamin tidak akan bisa ditemui dimana-mana.

Satu-satunya yang tidak menyenangkan adalah perpisahan. Betapa kami ingin lebih lama lagi berada di sana. Menikmati sejuknya udara, harumnya keramahtamahan, serta kehangatan warganya. Betapa kami akan merindukan tawa anak-anak SD yang kami ajar, aroma nasi yang mengepul dan sambal buah karya ibu-ibu Dusun Karang Sari. Kami berterimakasih kepada warga di sana atas banyak pelajaran yang mereka berikan. Semoga apa yang kami tinggalkan di sana, walaupun sedikit, menjadi sesuatu yang bermanfaat dan akan terus diingat.

Tulisan oleh Eko Wahyudi
Foto dari Dokumentasi Astacala