Petualang Si “Jejak Petualang”

Related Articles

Keluar masuk hutan bertemu suku-suku pedalaman, naik turun gunung dan menyusuri derasnya aliran sungai tak membuat gadis bertubuh mungil ini gentar. Tak jarang menjadi presenter petualang, kala berhadapan dengan medan yang sulit, ia harus bertaruh dengan nyawa. Seperti petualangannya ke Cartenz beberapa waktu lalu. Tapi gadis cantik asal kota hujan ini mengaku tetap enjoy mejalani.

Wajah Ryani Djangkaru pasti sudah tak asing lagi, apalagi bagi pemirsa fanatik acara Jejak Petualang (JP) yang tayang di TV7. Dari postur tubuh awalnya mungkin banyak meragukan gadis satu ini seorang peyualang. Tapi jangan ditanya sudah berapa gunung yang didaki, puluhan sung dan hutan telah pula ditelusurinya. “Mungkin karena saya dasarnya suka traveling, jadi nggak terlalu kaget juga dengan format acara petualang seperti inl. Bedanya, kalau dulu saya harus nabung dulu baru bisa traveling, sekarang hobi itu sudah jadi pekejaan dan pas ada tanggung jawabnya,” ujar Riyani ya kelahiran Bogor 31 Januari 1980.

Sepak terjang Ryani yang cukup tangguh menghadapi alam yang kadang tak cukup bersahabat cukup banyak diacungi jempol. Paling tidak, ini menghapus pandangan sebagian besar orang yang masih meragukan kemampuan wanita berakrab ria dengan alam yang masih liar. Perempuan kalau pergi traveling dikenal paling ribet bawaannya. Awal-awal saya berusaha seringkas mungkin membawa perlengkapan.

Tapi makin ke sini, justru bawaan saya makin nggak penting, hehe… Sebenarnya saya hanya berusaha membuat kondisi diri senyaman mungkin, apalagi ini masalah kerjaan,” ujar gadis yang tak takut kulitnya hitam gara-gara sering dijemur di bawah sinar matahari. Jika dirunut dari awal, penampilan gadis satu ini di layar televisi mengalami evolusi cukup signifikan. Penampilan gadis manis ini kini jadi lebih sporty dan terkesan sangat petualang. “Ha ha… belakangan ini memang jadi kelihatan berantakan ya. Sebenarnya sejak format Jp diubah, saya ikut berubah juga. Dulu saya hanya muncul pas opening, pengantar program dan closing.

Tapi rasanya sayang juga perjalanan jauh dan melelahkan hanya untuk seperti itu. Dan lagi, dalam perjalanannya, banyak momen tertentu yang spontan. Misalnya tiba-tiba ada kangguru lewat, nggak mungkin dong saya harus pakai bedak dulu baru kamera on. Mungkin itu keuntungan jadi presenter di JP, nggak usah dandan,” seru gadis yang mengaku sebenarnya doyan dandan juga.

Gunung Medan Terberat

Dibesarkan di keluarga yang hobi traveling, membuat Ryani tumbuh sebagai sosok yang mencintai dan menikmati kegiatan ini. “Dari kecil saya sering diajak kakek dan nenek dari pihak ayah, mereka orang Komering, Sumatera Selatan. Dulu saya sering ‘diculik’ mereka pergi jalan-jalan, sebulan ke Bandung, lalu sebulan lagi ke Palembang. Dari situ saya sudah mulai belajar dan mengenal bagaimana traveling,” kenang Riyani sambil tersenyum.

Hobi jalan ini akhirnya terbawa hingga ia duduk di bangku SMA dan kuliah. Meski saat itu mengaku tak bergabung dengan organisasi pecinta alam yang ada di sekolahnya, Ryani tetap tak berhenti menjalankan kesenangannya bewisata alam. “Mungkin karena stereotip orang terhadap organisasi, dan aku waktu itu sempat juga beranggapan demikian, kok sepertinya orang mau jalan atau traveling saja harus sampai digojlog-gojlog. Akhirnya aku lebih milih jalan dengan teman-teman,” tutur gadis yang kini tengah menyelesaikan semester akhirnya di Fakultas Hukum Universitas Pakuan Bogor.

Siapa sangka jika kemudian ia berkesempatan menjadi presenter Jejak Petualang, artinya kesempatan melakukan hobinya untuk jalan-jalan juga semakin terbuka lebar. Meski orang tuanya sempat kurang berkenan dengan profesi barunya, namun akhirnya mereka merestui. “Dulu kalau mau jalan, minta ijinnya harus berbulan-bulan sebelumnya. Dan waktu saya jadi presenter JP memang sempat mereka komplain karena saya lebih sering berada di luar daripada di rumah. Tapi karena lingkungan pertemanan mereka memberikan apresiasi positif terhadap saya, akhirnya mereka mendukung juga,” terang gadis berdarah campuran Sunda dan Sumatera ini.

Medan yang ditempuh sangat bervariasi. Mulai dari hutan, sungai, hingga pegunungan. Tingkat kesulitannya pun berbeda-beda. Namun medan terberat yang dirasakannya adalah ketika harus mendaki puncak Semeru. “Orang punya kepuasan berbeda-beda. Untuk orang lain mendaki sampai puncak gunung sudah jadi kepuasan tersendiri. Tapi kalau buat saya sampai puncak sih belum apa-apa, kepuasannya kalau sudah sampai bawah lagi, hahaha….,” ujarnya sambil tertawa.

“Untuk saya gunung memang medan terberat, apalagi waktu ke Semeru. Makin ke atas karena kondisi badan sudah lelah, akhirnya jalan satu langkah kita melorot tiga langkah, karena makin ke puncak kondisi pasirnya makin halus. Belum lagi setiap menit ada hujan debu dan pasir, sampai akhirnya kita mimisan dan sesak nafas,” lanjutnya.

Sebaliknya bagi Ryani, hutan dipandang punya keindahan tersendiri. Karenanya ia sangat menikmati saat harus menjelajah rimba yang kaya akan flora dan fauna. “Nggak tahu ya, mungkin buat orang hutan datar-datar saja. Tapi buat saya, hutan sangat menarik, terutama kalau kita sedang mencari sesuatu. Misalnya waktu ke Manokwari kemarin, kita mencari Cenderawasih, dan tanaman-tanaman langka.Untuk saya, mencari detil-detil itu mengasikkan,” terangnya.

Pendakian ke Cartenz

Meski gunung merupakan medan yang berat, namun perjalanan menuju Cartenz beberapa waktu lalu amat berkesan bagi Ryani. Apalagi perjalanan saat itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. “lni untuk ketiga kalinya aku berulang tahun bersama JP. Jadi waktu itu target kita Cartenz Piramid dan Puncak Jaya. Sayangnya yang Cartenz Piramid saya tidak bisa ikut naik, karena kita harus hiking dan wall climbing 600 meter vertikal,” cetusnya.

Hari itu, 3 Januari 2005, delapan orang tim JP bersama beberapa anggota Mapala Ul mendaki Cartenz. Sementara Ryani dan dua orang lainnya menunggu di tenda basecamp. Pendakian yang dimulai jam 4 subuh, ditargetkan kembali pada sekitar pukul 5 sore. Ternyata semua diluar perkiraan. Tiba-tiba saja badai salju menghajar tenda dapur dan delapan orang yanmendaki hingga jam yang ditagetkan belum tampak juga menampakkan diri “ltu kejadian langka, badai salju hanya datang beberapa kali dalam setahun. Terus terang saat itu kami yang menunggu di basecamp sudah pikirkan yang terburuk, jangan-jangan ada yang tidak selamat. Saat itu kami segera lapor lewat radio dan menyiapkan evakuasi kalau sampai terjadi apa-apa. Dalam hati saya membatin, Oh My God ini benar-benar Jejak Petualang episode spesial,” ungkapnya.

Beruntung mereka semua akhirnya kembali dengan selamat, meski kondisinya sudah sangat memprihatinkan “Kebayang, mereka naik tanpa persiapan bekal dan pakaian yang cukup. Malah ada yang sampai lupa bawa jaket. Sekitar jam 2 malam, akhirnya kami dengar ada yang teriak. Satu persatu mereka kembali, semua kondisinya sudah parah, seperti mayat beku. Syukur, Allah masih memberi kesempatan mereka untuk hidup. Benar-benar luar biasa,” sambung gadis yang mengang-gap momen itu menjadi kado paling spesial baginya.

Ingin Hasilkan Karya Dokumenter

Bukan hanya hutan dan gunung yang jadi tantangan untuk Ryani dalam berpetualang. Tak jarang, saat bertugas ia harus pula berhadapan dengan suku-suku di pedalaman, yang sebagian besar kurang paham berkomunikasi. “Biasanya pertama kali, kita menghubungi masyarakat setempat atau guidenya. Kita biasanya negosiasi untuk minta ijin, termasuk kompromi soal dana. Sejauh ini semua bisa dibicarakan, tapi terus terang kita sering ribut soal harga,” tutur gadis berambut panjang ini.

Urusan harga memang jadi masalah tersendiri, terutama pada suku-suku tertentu yang sudah mengkomersilkan diri. Beberapa daerah seperti di Wamena yang sudah sangat komersil, untuk foto mereka mematok harga sekitar seribu hingga lima ribu rupiah. Bahkan tanya alamat pun kita diminta bayaran.

“Yang kadang bikin kesal, cukup sering mereka menyalahi kesepakatan harga yang sudah dibuat. Kita sepakat, dengan harga sekian akan dapat tari-tarian ini dan itu misalnya, tapi nggak tahunya setelah tarian selesai mereka minta uang lagi, iniyang sering bikin ribut. Yah mau bagaimana lagi, menurut kita kan meminta di luar kesepakatan tidak baik, tapi pengetahuan mereka bahwa itu tidak baik kita juga tidaktahu,” ujar Ryani prihatin.

Meski demikian, hal ini tak sampai membuat kapok. Pengalaman bertemu suku bagi Ryani tetap seru dan menyenangkan. Seperti pengalamannya sewaktu ke Papua beberapa waktu lalu. “Lucu juga sih, waktu itu kita sempat mendatangi suatu suku di pedalaman Papua. Setelah selesai syuting dan pulang dari sana, kita baru dikasih tahu, ternyata suku itu masih suka makan orang,” ceritanya sambil tertawa dan setengah bergidik ngeri.

Sayang petualangan Ryani bersama JP harus berakhir. Kontraknya dengan JP tahun ini sudah harus selesai dan posisinya segera akan digantikan presenter lain. Gadis yang sempat menjadi bintang iklan sebuah produk kosmetik ini mengaku ingin konsentrasi dulu dengan tugas akhir kuliahnya. Namun ini bukan berarti hobi jalan-jalan harus mandeg total.

“Menyelesaikan kuliah adalah tanggung jawab saya ke orang tua. Tapi yang pasti sih ke depannya saya punya program idealis. Saya ingin membuat karya petualangan dalam bentuk dokumenter, karena selama ini yang membuat kan kebanyakan masih orang asing. Jadi saat ini aku masih harus memperluas networking dan menambah ilmu sebanyak mungkin,” tutur gadis yang tak takut kehilangan popularitas jika tak muncul lagi sebagai presenter. “Terus terang saya bergabung di JP karena spirit of traveling-nya, bukan karena ingin populer. Nggak panteslah, saya nggak punya jiwa seleb,”singkatnya sambil tersenyum. []

Sumber : Majalah Sartika

Comments

  1. 🙂 saya sangat mengagumi ryni djangkaru !!!! <br />ryni u r d best,,jika ada acara yg berkaitan dgn ryani tolong kabari saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Sebuah Pita Hijau untuk Pengingat Kita

Apa yg akan terpikir oleh kita ketika melihat segelintir mahasiswa IT Telkom selama seminggu ini memakai sebuah Pita Hijau kecil di lengan kiri seragam...

Orang ”Gila” yang Memilih Mencintai Gua

Ia dijuluki sebagai orang yang gila dengan gua. Syahwatnya untuk berpetualang menjelajah dari satu gua ke gua lainnya, bahkan mengalahkan pekerjaan dan profesi mereka...

Api Sang Fajar

Rajut hujan pengantar langkah Kepala-kepala yang tertunduk sayup Tak ada pagi Tak ada mentari Jangan terlalu lama tertunduk Tuan Tantanglah angin yang menyerbumu Sambutlah pasukan kabut yang mengepungmu Karena merah telah...