Summit Attack Gede Pangrango


Summit Attack. Puncak Gunung Gede sudah berada di bawah telapak kakiku.{nl}Berdiri di bibir kawah dengan tebing-tebing indah memanjang yang{nl}mengelilinginya. Kuhirup udara yang mengalir bebas. Langit biru dengan{nl}awan putih terpampang di sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan{nl}keringat yang menetes dari letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara{nl}dari kawah di bawah sana mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau{nl}belerang yang menyengat. Dan alam yang indah itu rupanya sedikit pelit{nl}untuk memperlihatkan Puncak Gunung Pangrango yang ada di seberang sana.{nl}Kabut-kabut silih berganti datang dan pergi menyelimuti puncak gunung{nl}itu.

[more]

Malam yang dingin. Kakiku turun{nl}dari bus jurusan Bandung Jakarta dan mulai melangkah menyusuri jalan{nl}aspal yang basah sisa hujan malam itu di sebuah kota. Cianjur, begitu{nl}namanya. Kota yang kulihat tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah{nl}larutnya malam dan sisa hujan malam itu.
{nl}
“Lapar Komandan” Teriak{nl}seorang yang bernama Oelil itu padaku disusul pula oleh dua lainnya{nl}yang mengikuti. Sinchan dan Adek.
{nl}
Aku celingukan sambil{nl}berjalan membawa ransel besar yang tidak ringan serta menarik banyak{nl}perhatian orang melihat ke sekitar mencari warung buat makan yang{nl}mungkin harganya bisa bersahabat dengan kantong.
{nl}
Warung tenda khas Surabaya{nl}dengan soto ayamnya pun kudatangi. Lega. Ransel kuletakkan di samping{nl}bangku panjang. Ngeliatin menu dan megang-megang krupuk yang kiranya{nl}bisa mengganjal perutku.
{nl}
“Soto ayam ama nasinya satu Pak!” seorang yang bernama Adek pertama kali memulai pesanan.
{nl}
“Berapaan Pak?” aku menanyakan harga pada pedagang yang kelihatan masih muda itu.
{nl}
“Limaribuan Mas. Tanpa minum” ujarnya.
{nl}
Aku melongo persis kebo{nl}bego. Kemudian mengumpat dalam hati. Brengsek!!! Seenaknya aja orang{nl}itu memberikan harga padaku. Dimana yang pasti ia memanfaatkan{nl}situasiku dengan gendongan ransel besar datang dari jauh, di malam yang{nl}udah sepi, lapar, dan pasti butuh makan.
{nl}
Sekali lagi brengsek!!!{nl}Brengsek!!! Di depan kosanku aja harganya cuman 3000 perak. Brengsek!!!{nl}Dan yang pasti ini bukan masalah harga coy. Aku hanya paling benci{nl}dengan apa yang namanya dimanfaatkan dalam suatu situasi.

{nl}        Dan akhirnya, dengan kesal aku{nl}dan yang lain pergi dari warung itu. Nggak peduli ama makanan yang udah{nl}dipesan. Peduli amat. Emangnya dia mau BERKELAHI?

{nl}        Kembali berjalan menyusuri{nl}jalanan aspal Kota Cianjur yang basah. Berhenti di depan sebuah pasar,{nl}samping trotoar jalanan. Nasi uduk. Murah meriah dan penjualnya seorang{nl}ibu setengah baya yang baik. Minum air teh gratis. Duduk di atas{nl}trotoar sambil makan nasi uduk dan ngeliatin kendaraan yang kebetulan{nl}lewat serta ngobrolin harga angkutan umum ke Cipanas.

{nl}        Dan singkat cerita, akhirnya{nl}tubuh ini kembali naik ke sebuah besi tua bermesin yang menuju ke arah{nl}Cipanas. Di dalamnya aku bertemu dengan seorang PA asal Sulawesi. Yang{nl}katanya baru tiba dari Cengkareng dan mau melakukan pendakian ke Gunung{nl}Salak. Sedikit ngobrol kesana kemari. Dan tentunya memberikan secuil{nl}tulisan alamat Astacala padanya setelah tangan yang kebingungan karena{nl}goyangan menulisnya bersama laju besi tua yang tidak tenang.

{nl}        Pertigaan Cipanas. Kami berpisah{nl}di sana. Tujuanku Gunung Putri. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.{nl}Malam yang sudah larut ini memperlihatkan padaku sepinya angkutan di{nl}jalan yang menuju titik start pendakianku itu.

{nl}        “Badeh kamana Sep?” tanya seorang pedagang di sebuah warung kecil tempat Oelil membeli sebungkus Djarum Coklat.

{nl}        “Gunung Putri Pak” sahut Oelil dengan sedikit senyumnya yang manis.

{nl}        Sementara aku dan Sinchan iseng{nl}membuka peta dan duduk di pinggir jalan di malam itu sambil kulak-kulik{nl}GPS yang baru kemarin aku pelajari cara pemakaiannya.

{nl}        Sebuah besi tua bermesin kosong{nl}tiba-tiba lewat. Tawar menawar pun terjadi. Dan hasilnya, kembali{nl}kusimpulkan manusia brengsek sialan yang suka memanfaatkan situasi.{nl}Harga yang tidak masuk akal dari harga standar.

{nl}        Aku yang membawa duit iuran{nl}bareng menolak. Sesuai rencana operasional aja kayaknya kekurangan,{nl}apalagi ditombokin hanya buat ngasi sedekah buat manusia-manusia{nl}brengsek sialan. Buat apa. Toh aku bisa long march.

{nl}        Aku pun berjalan. Diikuti oleh{nl}Oelil, Sinchan, dan Adek. Belum beberapa puluh meter, kembali sebuah{nl}besi tua bermesin lewat yang tampaknya di dalamnya ada beberapa manusia{nl}yang tujuannya sama denganku. Akhirnya aku pun naik. Setelah sebentar{nl}bernegosiasi dengan sang sopir dan tentunya manusia-manusia di dalamnya{nl}itu. Ya lumayan, bisa sedikit lebih murah walaupun lebih mahal dari{nl}perencanaan.

{nl}        Di dalam besi tua itu, aku pun{nl}nanya ini itu ama manusia-manusia itu. Intinya sih nanyain Surat Izin{nl}mereka buat mendaki Gede Pangrango. Ternyata mereka punya lebih.

{nl}        “Wah… aku bisa nebeng nih ama mereka”

{nl}        Dengan sedikit maksa akupun minta{nl}ama mereka supaya bisa ikutan. Dan mereka pun mau walaupun dengan wajah{nl}cemberut yang jelas kelihatan tidak senang dan tidak rela.

Baca juga:   Natal di Puncak Salak I

{nl}        “Seenaknya aja ini orang mau nebeng” mungkin begitu mereka mengumpat.

{nl}        Tiba di titik start Gunung Putri,{nl}tampak tidak sedikit manusia-manusia yang ternyata juga punya tujuan{nl}sama. Manusia-manusia yang bersamaku yang menjanjikan bisa nebeng surat{nl}izin mereka pun mulai tak tampak batang hidungnya.

{nl}        Brengsek!!! Kali ini manusia pelit dan ingkar janji yang kutemui.

{nl}        Tapi, ya… sudahlah. Toh sesuai rencana, kalau aku akan tetap mendaki Gede dan Pangrango walaupun tanpa surat izin.

{nl}        Angin malam dan rintiknya hujan{nl}yang kembali turun menemaniku menyusuri jalan setapak yang menuju ke{nl}sebuah rumah kecil di ujung jalan itu yang merupakan pos penjagaan.

{nl}        Terlihat manusia-manusia yang{nl}beruntung di hari-hari sebelumnya bisa mendapatkan izin untuk naik{nl}dengan ransel besar dan kecil mulai meninggalkan pos itu untuk memulai{nl}perjalanan mereka.

{nl}        Sedangkan aku? Walaupun dengan{nl}baik-baik telah bicara dengan petugas jaga pos itu, tetap saja dengan{nl}wajah tanpa senyum dan pidato peringatan segala tetek bengek peraturan{nl}di tempat itu melarangku untuk naik.

{nl}        “Tak ada pilihan lain. Kalian{nl}harus balik ke Jakarta malam ini” serunya dengan tatapan kesal walaupun{nl}hati ini juga lebih kesal karena larangan itu. Dan lagi, ngapain nyuruh{nl}balik ke Jakarta. Emangnya aku datang dari Jakarta.

{nl}        Kami pun sama-sama diam. Aku{nl}tetap duduk di beranda pos jaga itu. Sementara datang lagi satu{nl}rombongan pendaki, ngurus perijinan, dan kemudian berangkat memulai{nl}perjalanan mereka.

{nl}        Adek yang terlihat begitu lelah{nl}tertidur di samping ransel di dalam payungan langit hitam malam itu.{nl}Sementara Sinchan duduk di sampingnya sambil menatapi samar-samar{nl}Puncak Gunung Gede di kegelapan malam. Aku ditemani Oelil masih tetap{nl}mencari cara negosiasi untuk bisa naik. Tetapi mereka masih bersikeras,{nl}dan cuek padaku yang tetap tinggal di beranda itu. Sambil menunggu{nl}pagi, tenda doome dibuka di halaman pos jaga itu. Peduli amat. Mataku{nl}ngantuk. Begitu juga teman-temanku.

{nl}        Dan entah apa yang dibicarakan{nl}oleh Oelil bersama penjaga pos itu. Akhirnya perjalanan ini diizinkan{nl}juga walaupun dengan syarat dan bayar sepuluh ribu perak. Mungkin{nl}karena permintaan yang sedikit maksa disertai wajah sangar Si Oelil,{nl}petugas jaga pos itu menyerah. Atau mungkin karena rayuan Si Oelil yang{nl}rada-rada berbau homreng memikat petugas jaga itu. Ah, peduli amat{nl}juga. Yang penting nanti pagi aku bisa memulai perjalananku.

* * *

{nl}        Pukul empat lewat tiga puluh{nl}menit. Di pagi yang dingin, berteman butiran-butiran embun, bulan dan{nl}bintang yang menampakkan keindahannya di sela-sela kepergian mendung{nl}hitam, serta lekukan-lekukan Puncak Gunung Gede dan runcingnya Puncak{nl}Pangrango, tenda doome pun dipacking lagi. Bergegas meninggalkan pos{nl}jaga itu tanpa ucapan terima kasih kepada sang penjaga pos. Berjalan di{nl}jalan setapak di sela-sela ladang penduduk. Mampir di sebuah saung{nl}kosong. Sebagian kembali melanjutkan mimpi, dan sebagian lagi{nl}membongkar logistik menyiapkan sarapan pagi.

{nl}        Selanjutnya, kaki ini pun{nl}kemudian melangkah lagi setelah perut yang kosong terisi logistik yang{nl}sejak kemarin bercokol terus di punggung serta perut terisi terkuras di{nl}cekukan tanah buatan tramontina bersama tisue putih ternoda yang{nl}menemaninya.

{nl}        Ladang-ladang yang penuh dengan{nl}bawang sepertinya tersenyum melihatku datang berjalan menyusuri mereka.{nl}Hutan rimba terlihat memanggil-manggil di kejauhan. Kabut-kabut putih{nl}di atas sana tak henti-hentinya bermain bersama puncak-puncak gunung{nl}sehingga tidak banyak acuan yang bisa kudapatkan untuk orientasi. Tapi{nl}di lain pihak, aku kurang suka akan perjalanan ini karena ternyata{nl}tidak sedikit manusia yang berjalan searah dan setujuan dengan{nl}perjalananku. Apalagi ditambah keributan dan bunyi hiasan leher anjing{nl}di tubuh mereka.

{nl}        Berjalan dan terus berjalan.{nl}Santai dan sering istirahat. Melewati ladang lalu memasuki hutan rimba.{nl}Jalan setapak mulus bagaikan jalan tol di dalam hutan untuk seorang{nl}yang berbet merah Astacala di lengan bajunya yang hitam sedikit demi{nl}sedikit mulai memaksa nafas ini untuk berpacu. Tetapi sayang, jalan{nl}setapak yang kulalui ini masih saja terlihat plastik-plastik kecil{nl}berserakan yang sudah pasti asalnya tidak jatuh dari langit dan tentu{nl}saja berasal dari pendaki-pendaki sialan yang menamakan dirinya pecinta{nl}alam tetapi tidak tahu arti dari kata pecinta alam itu sendiri.

{nl}        Pukul dua belas siang. Flysheet{nl}dibuka seadanya. Waktunya makan siang ditemani rintiknya hujan di dalam{nl}rimba Gunung Gede, rimba yang begitu banyak ada manusia yang ingin{nl}mencicipi keindahannya tetapi dengan begitu saja tidak mau menghargai{nl}keindahan yang diberikan oleh rimba itu sendiri.

{nl}        Dua jam lebih berlalu begitu saja{nl}saat makan siang. Nyantai amat. Entah memang karena malas untuk gerak{nl}cepat atau lemahnya perintah sang komandan, perjalanan pun dilanjutkan.{nl}Alhasil, gelap menghadang dan sisa-sisa gerimis hujan pun menyambut{nl}dalam rimba. Lembah Surya Kencana yang menjadi tujuan untuk Camp hari{nl}itu belum kesampaian. Kepala yang mulai berat, nafas yang tersengal{nl}karena bersaing merebut oksigen dengan penghuni hutan yang jumlahnya{nl}tidak sedikit, perut lapar yang hanya disogok oleh suapan-suapan{nl}biskuit kering.

Baca juga:   Sebuah Perjalanan Kecil Mengalunkan Kemerdekaan

{nl}        Sedikit demi sedikit kaki yang{nl}terus mengayun itu tetap melangkah. Samar-samar mulai tercium bau{nl}belerang menyengat. Sudah dekat, begitu batinku. Jalan yang kutempuh{nl}mulai mendatar. Keluar dari lebatnya hutan rimba di gelapnya malam,{nl}terpampang di depanku samar-samar lembah berupa lapangan luas dengan{nl}ribuan edelweis yang menghampar. Angin bertiup kencang. Celingukan{nl}berkeliling di sela-sela edelweis mencari tempat yang nyaman untuk{nl}mendirikan doome. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman,{nl}bagi-bagi tugas. Bangun shelter dan masak. Tanpa bikin api karena{nl}selain peraturan naik ke gunung itu yang melarang, juga tidak adanya{nl}kayu-kayu yang kelihatan bisa dibakar. Terpaksa tubuh ini akhirnya{nl}berteman dengan dingin.

{nl}        Dan entah kenapa malam itu{nl}perasaan jadi agak aneh. Seekor anjing datang ikut menemani. Di daerah{nl}yang sudah mendekati puncak gunung ini ada anjing? Aku bertanya dalam{nl}hati.

{nl}        “Hush!!! Hush!!!” Aku mengusirnya.

{nl}        Tapi anjing itu tidak mau pergi.{nl}Hanya beranjak tidak jauh dari tempat berdirinya doome dan{nl}flysheet-flysheet yang membentang. Dan anjing itu malah tiduran di{nl}samping tumpukan batu-batu dan melihat kami dengan tatapan yang tidak{nl}jelas seolah kami ini tontonan baginya.

{nl}        Wuush… Sialan!!! Aku jadi{nl}merinding. Jadi teringat cerita Oelil waktu naik Rinjani dimana ia{nl}nggak nyadar mendirikan camp di samping tumpukan batu yang ternyata{nl}esok paginya baru diketahui kalau tempat itu adalah sebuah makam.

{nl}        Ah, masa bodoh. Peduli amat ama{nl}anjing itu. Toh aku nggak punya niat buruk. Buru-buru aku masuk doome{nl}setelah makan dan masak agar-agar buat besok pagi. Dan ternyata, anjing{nl}itulah yang punya niat buruk, yang sedikit demi sedikit mendekati{nl}logistik yang berserakan. Mau maling ternyata itu anjing. Ya udah, dari{nl}pada kehilangan, logistik pun kembali masuk ke dalam ransel.

{nl}        Uahemmm…!!! Dengan mata masih{nl}mengantuk aku keluar doome. Hamparan padang rumput yang luas dengan{nl}ribuan edelweis yang indah serta latar puncakan-puncakan gunung kecil{nl}di belakangnya terpampang di depanku. Mentari pagi bersinar terang.{nl}Kesempatan, pakaian lapanganku yang basah kuhamparkan di atas bebatuan{nl}yang mulai memanas. Sementara kegiatan pagi itu berjalan lambat.{nl}Padahal, target hari ini, sore harinya sudah harus berada di Puncak{nl}Pangrango.

{nl}        Siang pun menjelang. Dan aku baru{nl}melanjutkan perjalananku. Anjing yang kemarin malam menemani entah{nl}kemana. Sudah pergi atau mungkin sudah berpindah ke camp pendaki lain{nl}untuk berburu logistik.
{nl}     Menyusuri Lembah Surya Kencana yang indah{nl}dengan ribuan edelweis, bertemu dengan jalur pendakian dari Sukabumi,{nl}perjalanan mulai menanjak di sela bebatuan besar dan kecil yang{nl}ditumbuhi pohon-pohon kerdil dan gersang serta bau belerang yang{nl}semakin menyengat. Dan tentunya di hari yang merupakan hari libur itu,{nl}waktu aku melakukan perjalananku, cukup banyak juga manusia yang{nl}memenuhi gunung.

{nl}        “Astacala…..!!!” teriakku dalam hati.

{nl}        Summit Attack. Puncak Gunung Gede{nl}sudah berada di bawah telapak kakiku. Berdiri di bibir kawah dengan{nl}tebing-tebing indah memanjang yang mengelilinginya. Kuhirup udara yang{nl}mengalir bebas. Langit biru dengan awan putih terpampang di{nl}sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan keringat yang menetes dari{nl}letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara dari kawah di bawah sana{nl}mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau belerang yang menyengat. Dan{nl}alam yang indah itu rupanya sedikit pelit untuk memperlihatkan Puncak{nl}Gunung Pangrango yang ada di seberang sana. Kabut-kabut silih berganti{nl}datang dan pergi menyelimuti puncak gunung itu.

{nl}        Bendera merah Astacala{nl}terbentang, senyum manis terpampang, serta tampang-tampang beruk yang{nl}riang pun mulai dikeluarkan. Kamera digital yang selalu menemaniku{nl}dengan setia tetap bersedia mengabadikan setiap perjalanan walaupun{nl}sang energi si baterai charger sudah tersendat-sendat untuk{nl}membantunya.

{nl}        Pukul satu lewat tiga puluh menit, siang. Hati ini mulai tak yakin akan bisa tiba di Puncak Pangrango sore ini.

{nl}        “Ayo…!!! Kita jalan lagi. Nggak usah target tempat” ujarku memberi keputusan pada yang lain.

* * *

{nl}        Menuruni jalan berbatu,{nl}meninggalkan Puncak Gunung Gede yang baru saja memberikan senyum dan{nl}keindahannya padaku. Melalui jalur perjalanan menuju tempat yang{nl}menjadi langganan camp para pendaki, Kandang Badak, ternyata di jalur{nl}ini juga tidak kalah sedikit manusia-manusia yang ingin mencari senyum{nl}dan keindahan Gunung Gede.

{nl}        Pukul empat lewat tiga puluh{nl}menit, sore. Kandang Badak, telah dipenuhi oleh para pendaki. Aku,{nl}Oelil, Sinchan, dan Adek hanya istirahat sebentar di tempat itu. Aku{nl}mulai masuk ke tempat yang lebih dalam ke tengah hutan menyusuri jalan{nl}setapak kecil yang menuju Puncak Pangrango mencari tempat strategis{nl}untuk mendirikan shelter. Bivak didirikan, kayu dikumpulkan, makan{nl}malam disiapkan, dan wuah….. nikmatnya malam itu. Hujan tidak turun.{nl}Langit yang cerah dengan indahnya meperlihatkan malaikat{nl}bintang-bintang padaku. Api unggun menyala dengan girang menghangatkan{nl}tubuh yang lelah ini bersama satu nesting kacang ijo yang baru saja{nl}menjadi bubur membuat hati yang sombong ini sadar dan bersyukur betapa{nl}indah dan berarti nikmatnya anugerah Tuhan. Yang tentunya sungguh{nl}berbeda jika setiap suap kacang ijo yang aku makan saat itu dengan{nl}setiap suap kacang ijo yang aku makan dari warung indomie rebus di{nl}depan kampusku. Yang tentunya berbeda hangatnya tidur dalam sleeping{nl}bag berteman api unggun dan dinginnya malam dengan tidur di bawah{nl}selimut di atas kasur di dalam sekre atau di dalam kosku. Yang tentunya{nl}berbeda jiwa ini sebagai manusia yang kecil di di tengah hutan rimba{nl}dalam gelapnya malam dengan jiwa modern yang berkutat dengan{nl}gemerlapnya peradaban.

Baca juga:   Pendakian Atap Tertinggi Bumi Pasundan, Langit Biru di Balik Awan Kelabu

{nl}        Pagi-pagi sekali, pukul empat{nl}pagi lebih. Aku sengaja bangun lebih pagi walupun mata masih berat.{nl}Terpaksa dan harus. Untuk mengejar ketertinggalan waktu perjalanan.{nl}Hari ini, Puncak Pangrango harus sudah dicapai dan kembali turun{nl}melalui jalur Cibodas. Sarapan pagi yang cukup. Berbekal biskuit dan{nl}permen, nasi dan lima butir telor rebus, agar-agar, serta kacang ijo{nl}sisa semalam yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, perjalanan{nl}menuju Puncak Pangrango pun dilaksanakan. Ransel-ransel dan{nl}barang-barang yang kiranya tidak diperlukan hari itu disembunyikan di{nl}kerimbunan semak-semak di bawah cerukan pohon besar. Beban berkurang,{nl}speed bertambah, semoga target hari ini tercapai, harapku.

{nl}        Sedikit berbeda dengan Gunung{nl}Gede, Gunung Pangrango dengan hutan yang lebat dan banyaknya{nl}pohon-pohon tumbang melintang di setiap jalur perjalanan terlihat sepi{nl}akan pendaki. Angin berdesir menyapu peluh yang menetes. Segarnya air{nl}pegunungan dalam pevles dan botol air mineral yang bercampur sunfilt{nl}serta hembusan-hembusan Djarum Coklat mengiringi sela-sela istirahat.{nl}Vegetasi-vegetasi puncak di ketinggian 3000 mdpl Puncak Pangrango{nl}bergoyang ditiup angin.

{nl}         Summit Attack. Puncak{nl}Pangrango, aku tiba. Tak ada kawah, tak ada tebing yang indah, dan tak{nl}ada bau belerang. Puncak Pangrango, hanya dikelilingi oleh pepohonan{nl}penghuni hutan. Puncak Pangrango, hanya berdiri sebuah tiang beton{nl}petunjuk ketinggian dan sebuah gubuk tanpa atap. Puncak Pangrango,{nl}hanya dataran yang tidak begitu luas dengan rumput dan bunga-bunga{nl}hutan yang dipayungi pepohonan.

{nl}        Tak begitu lama aku menghabiskan{nl}waktuku di Puncak Pangrango. Kaki ini pun kemudian menuruninya kembali.{nl}Dengan tersendat menahan otot paha yang ditarik. Pegal. Dan…, ternyata{nl}cepat juga. Kembali lagi ke Kandang Badak. Punggung ini pun juga{nl}kembali terbebani oleh ransel, walaupun beratnya telah berbeda dengan{nl}hari-hari kemarin. Berjalan dan terus berjalan. Kali ini terus menurun{nl}dan hujan. Hujan yang sungguh lebat. Walaupun tubuhku telah terbungkus{nl}oleh raincoat, tetap saja basah dan hawa dingin menyelimuti. Berjalan{nl}di jalan setapak yang berbatu. Cukup panjang. Melewati bebatuan yang{nl}mengalirkan air panas yang bersumber dari kawah Gunung Gede. Uap air{nl}yang mengepul dari kejauhan sudah kelihatan. Sedikit cuci muka,{nl}perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai yang mengalir di sepanjang{nl}lembahan. Dan aku pun tiba di sebuah jalan yang bercabang. Terlihat{nl}papan petunjuk jalan tergantung di sebuah tiang yang sengaja dibuat,{nl}mungkin oleh petugas jaga wana. Satu menunjuk ke arah darimana aku{nl}datang, satu menunjuk ke Cibodas, dan satunya lagi menunjuk ke arah air{nl}terjun. Oelil, Sinchan, dan Adek tidak tertarik untuk melihat air{nl}terjun yang letaknya tidak begitu jauh, dan tidak pula begitu dekat.{nl}Ransel aku tinggalkan menuju air terjun. Berjalan sekitar tiga puluh{nl}menit. Tiga air terjun berjejer di tebing-tebing yang begitu indah.{nl}Pelangi terlihat di sela-sela deburan air yang membias dari tebing.

{nl}        Tapi, aku tidak lama menikmatinya{nl}karena berpacu dengan waktu. Ayunan kaki pun dilanjutkan lagi walaupun{nl}telapak kaki ini sudah mulai berteriak. Dan…, akhirnya sampai juga.{nl}Sebuah pos penjagaan yang lebih besar dari pos penjagaan yang pertama{nl}terlihat. Dengan cuek, aku, Oelil, Sinchan, dan Adek melewatinya begitu{nl}saja. Tanpa melapor, karena kami tahu, kami naik juga sebenarnya tidak{nl}jauh beda dengan tidak melapor.

{nl}        Di bawah, kebun raya Cibodas{nl}kulewati. Terlihat pula hamparan lapangan golf. Dan Puncak Pangrango{nl}yang berselimutkan kabut dengan hijaunya pepohonan di dalamnya.{nl}Sedangkan Puncak Gunung Gede, lebih memilih untuk bersembunyi dalam{nl}selimut kabut-kabut yang lebih tebal. Mungkin Puncak Gunung yang indah{nl}itu enggan untuk didatangi lagi. Atau mungkin ia menyimpan suatu{nl}misteri yang tak ingin diungkapkan, seperti diri ini yang tak akan{nl}pernah lepas dari yang namanya misteri jiwa dan kehidupan.