Summit Attack Gede Pangrango

Related Articles

Summit Attack. Puncak Gunung Gede sudah berada di bawah telapak kakiku.{nl}Berdiri di bibir kawah dengan tebing-tebing indah memanjang yang{nl}mengelilinginya. Kuhirup udara yang mengalir bebas. Langit biru dengan{nl}awan putih terpampang di sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan{nl}keringat yang menetes dari letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara{nl}dari kawah di bawah sana mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau{nl}belerang yang menyengat. Dan alam yang indah itu rupanya sedikit pelit{nl}untuk memperlihatkan Puncak Gunung Pangrango yang ada di seberang sana.{nl}Kabut-kabut silih berganti datang dan pergi menyelimuti puncak gunung{nl}itu.

[more]

Malam yang dingin. Kakiku turun{nl}dari bus jurusan Bandung Jakarta dan mulai melangkah menyusuri jalan{nl}aspal yang basah sisa hujan malam itu di sebuah kota. Cianjur, begitu{nl}namanya. Kota yang kulihat tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah{nl}larutnya malam dan sisa hujan malam itu.
{nl}
“Lapar Komandan” Teriak{nl}seorang yang bernama Oelil itu padaku disusul pula oleh dua lainnya{nl}yang mengikuti. Sinchan dan Adek.
{nl}
Aku celingukan sambil{nl}berjalan membawa ransel besar yang tidak ringan serta menarik banyak{nl}perhatian orang melihat ke sekitar mencari warung buat makan yang{nl}mungkin harganya bisa bersahabat dengan kantong.
{nl}
Warung tenda khas Surabaya{nl}dengan soto ayamnya pun kudatangi. Lega. Ransel kuletakkan di samping{nl}bangku panjang. Ngeliatin menu dan megang-megang krupuk yang kiranya{nl}bisa mengganjal perutku.
{nl}
“Soto ayam ama nasinya satu Pak!” seorang yang bernama Adek pertama kali memulai pesanan.
{nl}
“Berapaan Pak?” aku menanyakan harga pada pedagang yang kelihatan masih muda itu.
{nl}
“Limaribuan Mas. Tanpa minum” ujarnya.
{nl}
Aku melongo persis kebo{nl}bego. Kemudian mengumpat dalam hati. Brengsek!!! Seenaknya aja orang{nl}itu memberikan harga padaku. Dimana yang pasti ia memanfaatkan{nl}situasiku dengan gendongan ransel besar datang dari jauh, di malam yang{nl}udah sepi, lapar, dan pasti butuh makan.
{nl}
Sekali lagi brengsek!!!{nl}Brengsek!!! Di depan kosanku aja harganya cuman 3000 perak. Brengsek!!!{nl}Dan yang pasti ini bukan masalah harga coy. Aku hanya paling benci{nl}dengan apa yang namanya dimanfaatkan dalam suatu situasi.

{nl}        Dan akhirnya, dengan kesal aku{nl}dan yang lain pergi dari warung itu. Nggak peduli ama makanan yang udah{nl}dipesan. Peduli amat. Emangnya dia mau BERKELAHI?

{nl}        Kembali berjalan menyusuri{nl}jalanan aspal Kota Cianjur yang basah. Berhenti di depan sebuah pasar,{nl}samping trotoar jalanan. Nasi uduk. Murah meriah dan penjualnya seorang{nl}ibu setengah baya yang baik. Minum air teh gratis. Duduk di atas{nl}trotoar sambil makan nasi uduk dan ngeliatin kendaraan yang kebetulan{nl}lewat serta ngobrolin harga angkutan umum ke Cipanas.

{nl}        Dan singkat cerita, akhirnya{nl}tubuh ini kembali naik ke sebuah besi tua bermesin yang menuju ke arah{nl}Cipanas. Di dalamnya aku bertemu dengan seorang PA asal Sulawesi. Yang{nl}katanya baru tiba dari Cengkareng dan mau melakukan pendakian ke Gunung{nl}Salak. Sedikit ngobrol kesana kemari. Dan tentunya memberikan secuil{nl}tulisan alamat Astacala padanya setelah tangan yang kebingungan karena{nl}goyangan menulisnya bersama laju besi tua yang tidak tenang.

{nl}        Pertigaan Cipanas. Kami berpisah{nl}di sana. Tujuanku Gunung Putri. Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.{nl}Malam yang sudah larut ini memperlihatkan padaku sepinya angkutan di{nl}jalan yang menuju titik start pendakianku itu.

{nl}        “Badeh kamana Sep?” tanya seorang pedagang di sebuah warung kecil tempat Oelil membeli sebungkus Djarum Coklat.

{nl}        “Gunung Putri Pak” sahut Oelil dengan sedikit senyumnya yang manis.

{nl}        Sementara aku dan Sinchan iseng{nl}membuka peta dan duduk di pinggir jalan di malam itu sambil kulak-kulik{nl}GPS yang baru kemarin aku pelajari cara pemakaiannya.

{nl}        Sebuah besi tua bermesin kosong{nl}tiba-tiba lewat. Tawar menawar pun terjadi. Dan hasilnya, kembali{nl}kusimpulkan manusia brengsek sialan yang suka memanfaatkan situasi.{nl}Harga yang tidak masuk akal dari harga standar.

{nl}        Aku yang membawa duit iuran{nl}bareng menolak. Sesuai rencana operasional aja kayaknya kekurangan,{nl}apalagi ditombokin hanya buat ngasi sedekah buat manusia-manusia{nl}brengsek sialan. Buat apa. Toh aku bisa long march.

{nl}        Aku pun berjalan. Diikuti oleh{nl}Oelil, Sinchan, dan Adek. Belum beberapa puluh meter, kembali sebuah{nl}besi tua bermesin lewat yang tampaknya di dalamnya ada beberapa manusia{nl}yang tujuannya sama denganku. Akhirnya aku pun naik. Setelah sebentar{nl}bernegosiasi dengan sang sopir dan tentunya manusia-manusia di dalamnya{nl}itu. Ya lumayan, bisa sedikit lebih murah walaupun lebih mahal dari{nl}perencanaan.

{nl}        Di dalam besi tua itu, aku pun{nl}nanya ini itu ama manusia-manusia itu. Intinya sih nanyain Surat Izin{nl}mereka buat mendaki Gede Pangrango. Ternyata mereka punya lebih.

{nl}        “Wah… aku bisa nebeng nih ama mereka”

{nl}        Dengan sedikit maksa akupun minta{nl}ama mereka supaya bisa ikutan. Dan mereka pun mau walaupun dengan wajah{nl}cemberut yang jelas kelihatan tidak senang dan tidak rela.

{nl}        “Seenaknya aja ini orang mau nebeng” mungkin begitu mereka mengumpat.

{nl}        Tiba di titik start Gunung Putri,{nl}tampak tidak sedikit manusia-manusia yang ternyata juga punya tujuan{nl}sama. Manusia-manusia yang bersamaku yang menjanjikan bisa nebeng surat{nl}izin mereka pun mulai tak tampak batang hidungnya.

{nl}        Brengsek!!! Kali ini manusia pelit dan ingkar janji yang kutemui.

{nl}        Tapi, ya… sudahlah. Toh sesuai rencana, kalau aku akan tetap mendaki Gede dan Pangrango walaupun tanpa surat izin.

{nl}        Angin malam dan rintiknya hujan{nl}yang kembali turun menemaniku menyusuri jalan setapak yang menuju ke{nl}sebuah rumah kecil di ujung jalan itu yang merupakan pos penjagaan.

{nl}        Terlihat manusia-manusia yang{nl}beruntung di hari-hari sebelumnya bisa mendapatkan izin untuk naik{nl}dengan ransel besar dan kecil mulai meninggalkan pos itu untuk memulai{nl}perjalanan mereka.

{nl}        Sedangkan aku? Walaupun dengan{nl}baik-baik telah bicara dengan petugas jaga pos itu, tetap saja dengan{nl}wajah tanpa senyum dan pidato peringatan segala tetek bengek peraturan{nl}di tempat itu melarangku untuk naik.

{nl}        “Tak ada pilihan lain. Kalian{nl}harus balik ke Jakarta malam ini” serunya dengan tatapan kesal walaupun{nl}hati ini juga lebih kesal karena larangan itu. Dan lagi, ngapain nyuruh{nl}balik ke Jakarta. Emangnya aku datang dari Jakarta.

{nl}        Kami pun sama-sama diam. Aku{nl}tetap duduk di beranda pos jaga itu. Sementara datang lagi satu{nl}rombongan pendaki, ngurus perijinan, dan kemudian berangkat memulai{nl}perjalanan mereka.

{nl}        Adek yang terlihat begitu lelah{nl}tertidur di samping ransel di dalam payungan langit hitam malam itu.{nl}Sementara Sinchan duduk di sampingnya sambil menatapi samar-samar{nl}Puncak Gunung Gede di kegelapan malam. Aku ditemani Oelil masih tetap{nl}mencari cara negosiasi untuk bisa naik. Tetapi mereka masih bersikeras,{nl}dan cuek padaku yang tetap tinggal di beranda itu. Sambil menunggu{nl}pagi, tenda doome dibuka di halaman pos jaga itu. Peduli amat. Mataku{nl}ngantuk. Begitu juga teman-temanku.

{nl}        Dan entah apa yang dibicarakan{nl}oleh Oelil bersama penjaga pos itu. Akhirnya perjalanan ini diizinkan{nl}juga walaupun dengan syarat dan bayar sepuluh ribu perak. Mungkin{nl}karena permintaan yang sedikit maksa disertai wajah sangar Si Oelil,{nl}petugas jaga pos itu menyerah. Atau mungkin karena rayuan Si Oelil yang{nl}rada-rada berbau homreng memikat petugas jaga itu. Ah, peduli amat{nl}juga. Yang penting nanti pagi aku bisa memulai perjalananku.

* * *

{nl}        Pukul empat lewat tiga puluh{nl}menit. Di pagi yang dingin, berteman butiran-butiran embun, bulan dan{nl}bintang yang menampakkan keindahannya di sela-sela kepergian mendung{nl}hitam, serta lekukan-lekukan Puncak Gunung Gede dan runcingnya Puncak{nl}Pangrango, tenda doome pun dipacking lagi. Bergegas meninggalkan pos{nl}jaga itu tanpa ucapan terima kasih kepada sang penjaga pos. Berjalan di{nl}jalan setapak di sela-sela ladang penduduk. Mampir di sebuah saung{nl}kosong. Sebagian kembali melanjutkan mimpi, dan sebagian lagi{nl}membongkar logistik menyiapkan sarapan pagi.

{nl}        Selanjutnya, kaki ini pun{nl}kemudian melangkah lagi setelah perut yang kosong terisi logistik yang{nl}sejak kemarin bercokol terus di punggung serta perut terisi terkuras di{nl}cekukan tanah buatan tramontina bersama tisue putih ternoda yang{nl}menemaninya.

{nl}        Ladang-ladang yang penuh dengan{nl}bawang sepertinya tersenyum melihatku datang berjalan menyusuri mereka.{nl}Hutan rimba terlihat memanggil-manggil di kejauhan. Kabut-kabut putih{nl}di atas sana tak henti-hentinya bermain bersama puncak-puncak gunung{nl}sehingga tidak banyak acuan yang bisa kudapatkan untuk orientasi. Tapi{nl}di lain pihak, aku kurang suka akan perjalanan ini karena ternyata{nl}tidak sedikit manusia yang berjalan searah dan setujuan dengan{nl}perjalananku. Apalagi ditambah keributan dan bunyi hiasan leher anjing{nl}di tubuh mereka.

{nl}        Berjalan dan terus berjalan.{nl}Santai dan sering istirahat. Melewati ladang lalu memasuki hutan rimba.{nl}Jalan setapak mulus bagaikan jalan tol di dalam hutan untuk seorang{nl}yang berbet merah Astacala di lengan bajunya yang hitam sedikit demi{nl}sedikit mulai memaksa nafas ini untuk berpacu. Tetapi sayang, jalan{nl}setapak yang kulalui ini masih saja terlihat plastik-plastik kecil{nl}berserakan yang sudah pasti asalnya tidak jatuh dari langit dan tentu{nl}saja berasal dari pendaki-pendaki sialan yang menamakan dirinya pecinta{nl}alam tetapi tidak tahu arti dari kata pecinta alam itu sendiri.

{nl}        Pukul dua belas siang. Flysheet{nl}dibuka seadanya. Waktunya makan siang ditemani rintiknya hujan di dalam{nl}rimba Gunung Gede, rimba yang begitu banyak ada manusia yang ingin{nl}mencicipi keindahannya tetapi dengan begitu saja tidak mau menghargai{nl}keindahan yang diberikan oleh rimba itu sendiri.

{nl}        Dua jam lebih berlalu begitu saja{nl}saat makan siang. Nyantai amat. Entah memang karena malas untuk gerak{nl}cepat atau lemahnya perintah sang komandan, perjalanan pun dilanjutkan.{nl}Alhasil, gelap menghadang dan sisa-sisa gerimis hujan pun menyambut{nl}dalam rimba. Lembah Surya Kencana yang menjadi tujuan untuk Camp hari{nl}itu belum kesampaian. Kepala yang mulai berat, nafas yang tersengal{nl}karena bersaing merebut oksigen dengan penghuni hutan yang jumlahnya{nl}tidak sedikit, perut lapar yang hanya disogok oleh suapan-suapan{nl}biskuit kering.

{nl}        Sedikit demi sedikit kaki yang{nl}terus mengayun itu tetap melangkah. Samar-samar mulai tercium bau{nl}belerang menyengat. Sudah dekat, begitu batinku. Jalan yang kutempuh{nl}mulai mendatar. Keluar dari lebatnya hutan rimba di gelapnya malam,{nl}terpampang di depanku samar-samar lembah berupa lapangan luas dengan{nl}ribuan edelweis yang menghampar. Angin bertiup kencang. Celingukan{nl}berkeliling di sela-sela edelweis mencari tempat yang nyaman untuk{nl}mendirikan doome. Setelah mendapatkan tempat yang dirasa nyaman,{nl}bagi-bagi tugas. Bangun shelter dan masak. Tanpa bikin api karena{nl}selain peraturan naik ke gunung itu yang melarang, juga tidak adanya{nl}kayu-kayu yang kelihatan bisa dibakar. Terpaksa tubuh ini akhirnya{nl}berteman dengan dingin.

{nl}        Dan entah kenapa malam itu{nl}perasaan jadi agak aneh. Seekor anjing datang ikut menemani. Di daerah{nl}yang sudah mendekati puncak gunung ini ada anjing? Aku bertanya dalam{nl}hati.

{nl}        “Hush!!! Hush!!!” Aku mengusirnya.

{nl}        Tapi anjing itu tidak mau pergi.{nl}Hanya beranjak tidak jauh dari tempat berdirinya doome dan{nl}flysheet-flysheet yang membentang. Dan anjing itu malah tiduran di{nl}samping tumpukan batu-batu dan melihat kami dengan tatapan yang tidak{nl}jelas seolah kami ini tontonan baginya.

{nl}        Wuush… Sialan!!! Aku jadi{nl}merinding. Jadi teringat cerita Oelil waktu naik Rinjani dimana ia{nl}nggak nyadar mendirikan camp di samping tumpukan batu yang ternyata{nl}esok paginya baru diketahui kalau tempat itu adalah sebuah makam.

{nl}        Ah, masa bodoh. Peduli amat ama{nl}anjing itu. Toh aku nggak punya niat buruk. Buru-buru aku masuk doome{nl}setelah makan dan masak agar-agar buat besok pagi. Dan ternyata, anjing{nl}itulah yang punya niat buruk, yang sedikit demi sedikit mendekati{nl}logistik yang berserakan. Mau maling ternyata itu anjing. Ya udah, dari{nl}pada kehilangan, logistik pun kembali masuk ke dalam ransel.

{nl}        Uahemmm…!!! Dengan mata masih{nl}mengantuk aku keluar doome. Hamparan padang rumput yang luas dengan{nl}ribuan edelweis yang indah serta latar puncakan-puncakan gunung kecil{nl}di belakangnya terpampang di depanku. Mentari pagi bersinar terang.{nl}Kesempatan, pakaian lapanganku yang basah kuhamparkan di atas bebatuan{nl}yang mulai memanas. Sementara kegiatan pagi itu berjalan lambat.{nl}Padahal, target hari ini, sore harinya sudah harus berada di Puncak{nl}Pangrango.

{nl}        Siang pun menjelang. Dan aku baru{nl}melanjutkan perjalananku. Anjing yang kemarin malam menemani entah{nl}kemana. Sudah pergi atau mungkin sudah berpindah ke camp pendaki lain{nl}untuk berburu logistik.
{nl}     Menyusuri Lembah Surya Kencana yang indah{nl}dengan ribuan edelweis, bertemu dengan jalur pendakian dari Sukabumi,{nl}perjalanan mulai menanjak di sela bebatuan besar dan kecil yang{nl}ditumbuhi pohon-pohon kerdil dan gersang serta bau belerang yang{nl}semakin menyengat. Dan tentunya di hari yang merupakan hari libur itu,{nl}waktu aku melakukan perjalananku, cukup banyak juga manusia yang{nl}memenuhi gunung.

{nl}        “Astacala…..!!!” teriakku dalam hati.

{nl}        Summit Attack. Puncak Gunung Gede{nl}sudah berada di bawah telapak kakiku. Berdiri di bibir kawah dengan{nl}tebing-tebing indah memanjang yang mengelilinginya. Kuhirup udara yang{nl}mengalir bebas. Langit biru dengan awan putih terpampang di{nl}sekelililingku. Angin bertiup menghapuskan keringat yang menetes dari{nl}letihnya perjalanan yang mendaki. Sementara dari kawah di bawah sana{nl}mengepulkan asap-asap dan mengeluarkan bau belerang yang menyengat. Dan{nl}alam yang indah itu rupanya sedikit pelit untuk memperlihatkan Puncak{nl}Gunung Pangrango yang ada di seberang sana. Kabut-kabut silih berganti{nl}datang dan pergi menyelimuti puncak gunung itu.

{nl}        Bendera merah Astacala{nl}terbentang, senyum manis terpampang, serta tampang-tampang beruk yang{nl}riang pun mulai dikeluarkan. Kamera digital yang selalu menemaniku{nl}dengan setia tetap bersedia mengabadikan setiap perjalanan walaupun{nl}sang energi si baterai charger sudah tersendat-sendat untuk{nl}membantunya.

{nl}        Pukul satu lewat tiga puluh menit, siang. Hati ini mulai tak yakin akan bisa tiba di Puncak Pangrango sore ini.

{nl}        “Ayo…!!! Kita jalan lagi. Nggak usah target tempat” ujarku memberi keputusan pada yang lain.

* * *

{nl}        Menuruni jalan berbatu,{nl}meninggalkan Puncak Gunung Gede yang baru saja memberikan senyum dan{nl}keindahannya padaku. Melalui jalur perjalanan menuju tempat yang{nl}menjadi langganan camp para pendaki, Kandang Badak, ternyata di jalur{nl}ini juga tidak kalah sedikit manusia-manusia yang ingin mencari senyum{nl}dan keindahan Gunung Gede.

{nl}        Pukul empat lewat tiga puluh{nl}menit, sore. Kandang Badak, telah dipenuhi oleh para pendaki. Aku,{nl}Oelil, Sinchan, dan Adek hanya istirahat sebentar di tempat itu. Aku{nl}mulai masuk ke tempat yang lebih dalam ke tengah hutan menyusuri jalan{nl}setapak kecil yang menuju Puncak Pangrango mencari tempat strategis{nl}untuk mendirikan shelter. Bivak didirikan, kayu dikumpulkan, makan{nl}malam disiapkan, dan wuah….. nikmatnya malam itu. Hujan tidak turun.{nl}Langit yang cerah dengan indahnya meperlihatkan malaikat{nl}bintang-bintang padaku. Api unggun menyala dengan girang menghangatkan{nl}tubuh yang lelah ini bersama satu nesting kacang ijo yang baru saja{nl}menjadi bubur membuat hati yang sombong ini sadar dan bersyukur betapa{nl}indah dan berarti nikmatnya anugerah Tuhan. Yang tentunya sungguh{nl}berbeda jika setiap suap kacang ijo yang aku makan saat itu dengan{nl}setiap suap kacang ijo yang aku makan dari warung indomie rebus di{nl}depan kampusku. Yang tentunya berbeda hangatnya tidur dalam sleeping{nl}bag berteman api unggun dan dinginnya malam dengan tidur di bawah{nl}selimut di atas kasur di dalam sekre atau di dalam kosku. Yang tentunya{nl}berbeda jiwa ini sebagai manusia yang kecil di di tengah hutan rimba{nl}dalam gelapnya malam dengan jiwa modern yang berkutat dengan{nl}gemerlapnya peradaban.

{nl}        Pagi-pagi sekali, pukul empat{nl}pagi lebih. Aku sengaja bangun lebih pagi walupun mata masih berat.{nl}Terpaksa dan harus. Untuk mengejar ketertinggalan waktu perjalanan.{nl}Hari ini, Puncak Pangrango harus sudah dicapai dan kembali turun{nl}melalui jalur Cibodas. Sarapan pagi yang cukup. Berbekal biskuit dan{nl}permen, nasi dan lima butir telor rebus, agar-agar, serta kacang ijo{nl}sisa semalam yang dimasukkan ke dalam botol air mineral, perjalanan{nl}menuju Puncak Pangrango pun dilaksanakan. Ransel-ransel dan{nl}barang-barang yang kiranya tidak diperlukan hari itu disembunyikan di{nl}kerimbunan semak-semak di bawah cerukan pohon besar. Beban berkurang,{nl}speed bertambah, semoga target hari ini tercapai, harapku.

{nl}        Sedikit berbeda dengan Gunung{nl}Gede, Gunung Pangrango dengan hutan yang lebat dan banyaknya{nl}pohon-pohon tumbang melintang di setiap jalur perjalanan terlihat sepi{nl}akan pendaki. Angin berdesir menyapu peluh yang menetes. Segarnya air{nl}pegunungan dalam pevles dan botol air mineral yang bercampur sunfilt{nl}serta hembusan-hembusan Djarum Coklat mengiringi sela-sela istirahat.{nl}Vegetasi-vegetasi puncak di ketinggian 3000 mdpl Puncak Pangrango{nl}bergoyang ditiup angin.

{nl}         Summit Attack. Puncak{nl}Pangrango, aku tiba. Tak ada kawah, tak ada tebing yang indah, dan tak{nl}ada bau belerang. Puncak Pangrango, hanya dikelilingi oleh pepohonan{nl}penghuni hutan. Puncak Pangrango, hanya berdiri sebuah tiang beton{nl}petunjuk ketinggian dan sebuah gubuk tanpa atap. Puncak Pangrango,{nl}hanya dataran yang tidak begitu luas dengan rumput dan bunga-bunga{nl}hutan yang dipayungi pepohonan.

{nl}        Tak begitu lama aku menghabiskan{nl}waktuku di Puncak Pangrango. Kaki ini pun kemudian menuruninya kembali.{nl}Dengan tersendat menahan otot paha yang ditarik. Pegal. Dan…, ternyata{nl}cepat juga. Kembali lagi ke Kandang Badak. Punggung ini pun juga{nl}kembali terbebani oleh ransel, walaupun beratnya telah berbeda dengan{nl}hari-hari kemarin. Berjalan dan terus berjalan. Kali ini terus menurun{nl}dan hujan. Hujan yang sungguh lebat. Walaupun tubuhku telah terbungkus{nl}oleh raincoat, tetap saja basah dan hawa dingin menyelimuti. Berjalan{nl}di jalan setapak yang berbatu. Cukup panjang. Melewati bebatuan yang{nl}mengalirkan air panas yang bersumber dari kawah Gunung Gede. Uap air{nl}yang mengepul dari kejauhan sudah kelihatan. Sedikit cuci muka,{nl}perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai yang mengalir di sepanjang{nl}lembahan. Dan aku pun tiba di sebuah jalan yang bercabang. Terlihat{nl}papan petunjuk jalan tergantung di sebuah tiang yang sengaja dibuat,{nl}mungkin oleh petugas jaga wana. Satu menunjuk ke arah darimana aku{nl}datang, satu menunjuk ke Cibodas, dan satunya lagi menunjuk ke arah air{nl}terjun. Oelil, Sinchan, dan Adek tidak tertarik untuk melihat air{nl}terjun yang letaknya tidak begitu jauh, dan tidak pula begitu dekat.{nl}Ransel aku tinggalkan menuju air terjun. Berjalan sekitar tiga puluh{nl}menit. Tiga air terjun berjejer di tebing-tebing yang begitu indah.{nl}Pelangi terlihat di sela-sela deburan air yang membias dari tebing.

{nl}        Tapi, aku tidak lama menikmatinya{nl}karena berpacu dengan waktu. Ayunan kaki pun dilanjutkan lagi walaupun{nl}telapak kaki ini sudah mulai berteriak. Dan…, akhirnya sampai juga.{nl}Sebuah pos penjagaan yang lebih besar dari pos penjagaan yang pertama{nl}terlihat. Dengan cuek, aku, Oelil, Sinchan, dan Adek melewatinya begitu{nl}saja. Tanpa melapor, karena kami tahu, kami naik juga sebenarnya tidak{nl}jauh beda dengan tidak melapor.

{nl}        Di bawah, kebun raya Cibodas{nl}kulewati. Terlihat pula hamparan lapangan golf. Dan Puncak Pangrango{nl}yang berselimutkan kabut dengan hijaunya pepohonan di dalamnya.{nl}Sedangkan Puncak Gunung Gede, lebih memilih untuk bersembunyi dalam{nl}selimut kabut-kabut yang lebih tebal. Mungkin Puncak Gunung yang indah{nl}itu enggan untuk didatangi lagi. Atau mungkin ia menyimpan suatu{nl}misteri yang tak ingin diungkapkan, seperti diri ini yang tak akan{nl}pernah lepas dari yang namanya misteri jiwa dan kehidupan.

Previous articleDi Kaki Merapiku
Next articleTebing Cadas

Comments

  1. halo….coi <br />aku dari mapala hukum aceh ne <br />salam kenal buat kawan-kawan sana ya <br />oya tar klo ada info-info tentang mapala di bagi-bagi ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Pendidikan Dasar Astacala XXIII

  Pendidikan Dasar Astacala (PDA) merupakan tahap awal yang harus dilalui untuk menjadi anggota Astacala, menjadi saudara sejati kami. Di dalam momen inilah calon anggota...

Keelokan Sisa Kerajaan Kupu-kupu

Bantimurung sekarang ini lebih mirip sisa-sisa kerajaan kupu-kupu (kingdom of the butterfly) meski tetap saja masih jadi primadona wisata. Ribuan pelancong terus menikmati keelokan...

Binaiya (Bagian 11: Kembali ke Piliana)

Cuaca berubah cepat di Binaiya. Selepas siang, kabut berdatangan. Awan tebal kelabu bergulung-gulung. Mendung makin pekat. Ini seperti  hari-hari kemarin. Hujan selalu turun saban...