{nl}
Sebuah kisah kecil dari sebuah perjalanan pendakian sebuah gunung bernama Argopuro 3088 mdpl ( 7°58′7”S 113°34′37”E ) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebuah Gunung dengan pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Menyimpan sebuah kisah tersendiri bagi para pendaki.Dan kisah itu bermulai…
[more]
{nl} Jemmy Jessica, A ? 075 ? Kawah Asa **
Because it’s there by George Mallory
Sebuah kisah kecil dari sebuah perjalanan pendakian sebuah gunung bernama Argopuro 3088 mdpl ( 7°58′7”S 113°34′37”E ) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Sebuah Gunung dengan pendakian terpanjang di Pulau Jawa. Menyimpan sebuah kisah tersendiri bagi para pendaki…
Dan kisah itu bermulai…
Kamis, 25 Juni 2009
Kami memulai perjalanan pukul 6.30 sore : Jemmy Jessica, Sigit Fathomy, Deni Permasadi, Bayu Wicaksono, Eko Wahyudi, Muhammad Arif, Diana Pratiwi, R. Ikhsanul H. berangkat menuju Stasiun Kiara Condong. Sedikit terlambat dari yang direncanakan dikarenakan satu dan lain hal. Hati terasa tidak tenang dikarenakan kami harus mengejar Kereta Kahuripan yang berangkat pukul 08.30 malam. “Arghhh tidak pikirku…” mulai bermunculan pikiran yang tidak enak. Tepat pukul 08.15 malam kami pun sampai di Kircon. Kami pun mulai berlari lari kecil menuju loket, hal yang kutakutkan terjadi yang tersisa hanya tiket berdiri, dengan harga @Rp24.000,- haha sebuah pengalaman baru pikirku. Tak lama berselang datanglah sang “Kahuripan” yang kami tunggu. Malam itu suasana cukup ramai di stasiun mungkin dikarenakan musim liburan, kami pun langsung bergegas naik kereta dengan sedikit berdesakan dengan penumpang lain. Mataku tertuju pada sebuah lorong panjang dekat WC, kuletakkan carrierku lalu langsung kududuki, diikuti oleh yang lain. Jam 9 malam kereta mulai bergerak. And the journey begin. Naik kereta EXE-NOMI class harus persiapan dengan fisik yang kuat, tidak lupa persiapan batin juga tidak kalah penting. Mungkin teman-teman yang sudah pernah mencoba fasilitas transportasi massal ini, sudah mengerti mengapa saya berkata demikian. Malam itu siksaan datang tiada henti, mulai dari pedagang yang hilir mudik yang sering menginjak kaki, sampai sampho dalam cariierku yang ikut tumpah, sampai mau buang air kecil pun tidak bisa karena semua WC penuh barang. Akhirnya malam itu saya tidak tidur, berdoa agar penderitaan ini segera berakhir.Jumat, 26 Juni 2009
Stasiun Lempuyangan, sebuah stasiun kecil di Jogja. Seakan menyambut kedatangan kami, pukul 06.30 pagi kami pun turun dari “Kahuripan”. Sesuai dengan rencana, kami pun akan berganti kereta “Sri Tanjung” yang akan berangkat pukul 07.30 pagi. Sisa waktu yang ada, tidak kami sia-siakan. Ada yang gosok gigi, ada yang buang air, ada pula yang cuci muka. Dilanjutkan dengan sarapan pagi pada sebuah kedai kecil di luar stasiun. Tak lupa kami pun membeli “amunisi” untuk di kereta, sambil menunggu kereta kamip un bersenda gurau satu sama lain. Perjalanan ini ada yang menganggap spesial, karena untuk beberapa anggota ini merupakan Gunung 3000 pertama mereka. Terdengar suara kereta dari kejauhan, pelan tapi pasti mendekat ke arah kami. Disusul pengumuman dari bagian informasi. Haha “Sri Tanjung” yang kami tunggu telah tiba. Kereta ini sejenis dengan ‘Kahuripan” sama sama EXE-NOMI class. Bedanya sekarang kami dapat tiket duduk. Siang itu kami semua tertidur lelap, karena keletihan akibat semalam bergadang. Siang itu aku terbangun karena perut keroncongan. Kuputuskan untuk membeli pecel madiun di pedagang asongan, @Rp2000,- sebungkus. Rasanya juga lumayan, teman- teman akhirnya mencoba juga. Matahari siang itu sangat terik, ditambah kereta ini berjalan sangat lambat, dikit-dikit berhenti, ditambah penumpang yang semakin penuh dikarenakan di setiap stasiun jumlah yang naik dengan yang turun tidak seimbang. Keadaan ini seperti ikan dalam kaleng sarden. Sumpek, padat, penuh, bercampur dengan segala aroma tidak sedap. Sebuah kondisi yang umum ditemui dalam kelas ekonomi. Yang bisa dilakukan hanyalah bersabar menguatkan niat dan batin. Aku hanya bisa menghela napas panjang, setiap cobaan datang silih berganti. Kapankah ini berakhir? “Sabar… Sabar…”.Sabtu, 27 Juni 2009
Pagi itu kami terbangun, tapi sudah tidak dalam kereta. Semalam kami telah sampai di Jember dan mampir di rumah Sigit. Kami memutuskan untuk menginap di sana. Sesuai dengan rencana, siangnya kami membeli semua perbekalan logistik. Tidak ada yang istimewa hari itu, di sebuah kota kecil dengan kehidupan yang damai dan tenteram.Minggu, 28 Juni 2009
Agak meleset dari rencana, pukul delapan pagi kami baru berangkat dari rumah Sigit menuju terminal alun-alun Jember. Suasana dalam terminal didominasi oleh orang-orang berlogat madura. Terasa kental sekali logatnya. Kami pun mencari bus jurusan Probolinggo, seperti biasa kami naik yang ekonomi. Pukul 12 siang kami sampai di terminal Probolinggo baru (Bayu Angga), dilanjutkan naik angkot menuju terminal Probolinggo lama. Di sana kami naik jurusan Bremi @12.000,-. Pemandangan dalam perjalanan didominasi oleh pabrik tebu, tercium bau gula dari tebu yang diolah menambah bumbu dalam perjalanan ini.To be continued …
** Anggota ASTACALA, Mahasiswa Pecinta Alam IT TELKOM



