Perjalanan Wajib, puncak dari pendidikan lanjut yang ada di sistem pendidikan organisasi kita, di ASTACALA. Kegiatan ini dimaksudkan agar kita dapat merangkai atau merancang kegiatan kita sendiri. Namun, ada yang memaknai Perjalanan Wajib ini sebagai perayaan akhir kegiatan bersama, perayaan berakhirnya pendidikan, atau bahkan pengguguran terakhir kewajiban dalam organisasi ini selaku Anggota Muda. Inilah kisah perjalanan wajib angkatan kami, Riuh Rembulan.
Kala itu, pendidikan kami digabungkan: Peminatan dan Perjalanan Wajib. Lega rasanya usai menuntaskan peminatan, namun jejak Perjalanan Wajib tak kunjung terlihat. Semula, kegiatan ini direncanakan berdasarkan lokasi peminatan, tetapi konsep tak kunjung matang, dan satu per satu anggota mulai menghilang. Perjalanan Wajib pun sekadar angan-angan, janji kosong yang terus tertunda hingga berbenturan dengan jadwal regenerasi organisasi, Pendidikan Dasar (Pendas) ASTACALA. Sekali lagi, Perjalanan Wajib terabaikan, seluruh fokus dialihkan ke Pendas. Ironisnya, euforia Pendas justru membangkitkan kembali semangat angkatan Riuh Rembulan. Sungguh menyenangkan menyaksikan banyak saudara/i bahu-membahu menyukseskan Pendas.”
Usai Pendas dan lahirnya Rintik Mentari, terjadi pergantian Dewan Pengurus. Angkatan JB telah wisuda, kini giliran angkatan KH mengemban amanah. Bang Zeva, selaku Badik, segera meluruskan kembali arah Riuh Rembulan, mendesak kami menuntaskan pendidikan yang sempat terbengkalai. Konsep, rencana, struktur, serta manfaat dan tujuan pendidikan lanjut ini kembali ditegaskan. Beberapa dari kami, yang telah memahami urgensinya, memanfaatkan euforia Pendas sebagai pemantik semangat, menyalakan kembali bara api yang sempat redup, dan meramaikan kembali ‘riuh’ yang dulu berbisik di tengah rembulan. Kami pun merintis ulang Perjalanan Wajib dengan konsep dan pendekatan baru—di sinilah berbagai tantangan baru menanti.

Rapat Internal Riuh Rembulan
Karimunjawa, Jawa tengah. Disanalah kami akan berkegiatan dan melakukan operasional. Setelah ada konsep yaitu konservasi penyu, serta struktur, tentu saja harusnya akan lebih mudah, toh masing-masing tinggal melaksanakan tugasnya saja dan tak perlu pusing-pusing lagi berfikir mau dibawa kemana perjalanan wajib ini. Pra-operasional dilaksanakan, mengontak mapala-mapala di daerah semarang, mencari kontak-kontak yang berkaitan dengan kegiatan konservasi mulai dilakukan. Sambil ketua menyusun konsep serta rencana kegiatan, survey, dan lainnya. Penulis mengambil peran untuk menyalakan kembali euphoria-nya, mengajak kembali satu-persatu agar mau kembali berkomunikasi dan mengetahui rencana kegiatan kita, terkumpul-lah 17 orang yang akan berangkat perjalanan wajib Riuh Rembulan dengan judul “Menjaga Rumah Penyu: Warisan Karimunjawa”.
Konsep kegiatan kami terfokus di dua kegiatan inti, Konservasi dan Antropology. Konservasi yang kami lakukan bersifat pendidikan atau pembelajaran yang akan disebarluaskan kembali dengan output video edukasional, sedangkan Antropology yang kami lakukan adalah melibatkan masyarakat dengan tujuan kegiatan kami, dengan cara melakukan wawancara ke 3 pihak, masyarakat lokal, pemerintah, serta wisatawan. Tujuan awal dari wawancara tersebut adalah mengukur sejauh mana tingkat kepedulian dari pihak-pihak terkait. Itulah fokus kegiatan kami, meningkatkan tingkat kepedulian kepada masyarakat luas dan mempelajari konservasi penyu disana. Ditengah persiapan kegiatan, musibah datang pada ketua kami, Dandy jatuh sakit dengan vonis terkena penyakit tifus/tipes. Ketika tak ada lagi sosok yang mengkoordinir, waktu seminggu terbuang sia-sia dan diadakan rapat urgensi bersama Dewan Pengurus.
Hasil dari rapat tersebut mengeluarkan solusi dari beberapa masalah seperti SDM, waktu kegiatan, serta masalah ketua. Karena urgensi tersebut dimunculkan-lah wakil ketua, masalah tentang pendanaan maka ditergetkan uang yang harus masuk per minggu yang lalu dipecah kembali per orang harus dapat sekian rupiah. Penulis selaku wakil ketua pelaksana perjalanan wajib kehabisan ide untuk memaksa orang-orang bergerak, RAB yang bengkak dengan jangka waktu yang menipis tak kunjung terlihat hilal kegiatan akan terlaksana. Akhirnya kami memutuskan dan setuju untuk melakukan seleksi kelayakan yaitu dengan tujuan agar orang-orang mau benar berkontribusi karena keputusan per-individu itu berangkat atau tidak ditentukan dari kontribusi masing-masing. Tentu saja kontroversial, “Masa lo nge-seleksi angkatan lo sendiri?” pertanyaan dari mantan Badik kami, Ka Fio. Sebenarnya, tentu saja seleksi itu tidak benar-benar dilakukan, hal tersebut hanya sekedar gertakan dari kami Man Power kala itu. Man Power ini adalah kelompok dari sumber daya manusia yang fokusnya lebih banyak atau lebih produktif. Dari 17 orang ini, terdapat 7 orang yang termasuk Man Power, sekali lagi ini juga mungkin akan menimbulkan kontroversi bagi kakak-kakak atau abang-abang pembaca sekalian, mengapa kami satu angkatan memisahkan diri satu antar lain individu? apakah karena yang lain lebih pintar? yang lain lebih jago? yang lain lebih pinter ngomong? tidak. Kami membuat kelompok tersebut murni demi kelancaran kegiatan, komunikasi yang lebih terfokus meningkatkan respon masing-masing orang di kelompok tersebut, sehingga kegiatan lebih terkoordinir dari skala kecil lalu ke besar.
Rapat besar akhir perjalanan wajib Riuh Rembulan pun tiba, penetapan keberangkatan, rinci kegiatan yang akan dilaksanakan, serta rincian biaya yang dikeluarkan, dan tak lupa fiksasi orang-orang yang akan berangkat. Pada rapat besar hanya 14 yang datang dari 17 orang rencana awal, disitu-lah disetujui segala keputusan dan ketetapan kegiatan kami setujui, pada tanggal 9 mei 2025, kami akan berangkat menggunakan bus dari telkom university untuk menujur pelabuhan di Jepara. H-3 Operasional, tak kunjung selesai masalah orang-orang yang akan berangkat, dari 14 orang, ada beberapa yang tiba-tiba mengabari tak bisa berangkat, ada yang tak mau berangkat, beragam alasan-alasan diterima. Namun, tak adil rasanya jika kami menghakimi dari satu sisi dan satu pandangan saja bukan? maka dari kegiatan pendidikan terakhir ini saya pribadi belajar, bekerja dengan ikhlas, tanpa pamrih, dan penuh kesabaran. 10 orang dari Riuh Rembulan ditambah 2 orang dari Dewan Pengurus berangkat di malam hari tanggal 9 mei.

Keberangkatan Perjalanan Wajib Riuh Rembulan
Pukul 04.00, kami sampai di pelabuhan kami melakukan briefing sebelum naik ke kapal ferry. Belum sempat selesai briefing, pihak kapal sudah mendatangi kami untuk bergegas naik, dikarenakan kapal ferry yang bermuatan 500 orang itu akan diisi 1000 sampai 1500 orang. Kami bergegas bersiap sedangkan Kurnia dan saya membeli makan untuk sarapan. Kami berkeliling dan menemukan warung sederhana yang menjual nasi kuning dan nasi uduk. Sayangnya, kami tak dapat opsi lain untuk wadah atau bungkusan makanan tersebut, mereka semua menggunakan sterofoam untuk membungkus makanannya, akhirnya dengan berat hati kami tetap membeli sarapan itu, sambil mengantongi hutang seri yang dibayarkan di pulau nanti. Kapal mulai berlayar pukul 06.30 WIB, kami membooking sejejer tempat duduk dibagian belakang, tak lama sekitar jam 09.00 WIB mulai terasa hawa panas, seisi kapal semuanya terasa gersang, kecuali satu tempat, Musholla. Mushola berkapasitat 5 orang itu dilengkapi AC, saya dan Dandy memutuskan untuk tidur di mushola yang seketika ramai, bukan karena berlomba solat dhuha melainkan untuk melepas dahaga panas dan teriknya di tengah laut. Sekitar jam 10.00 aku terbangun di mushola itu dengan keadaan penuh oleh perempuan, Dandy sudah entah hilang kemana, aku bergegas keluar dan ditegur oleh bang Daffi yang menanyakan mengapa tadi keluar dari mushola? dirinya ternyata tidur didekat saya, namun berbaur dengan rambut cantik panjangnya seolah ia salah satu dari kaum hawa.
Pukul 11.30 kami sudah bisa melihat pulau Karimunjawa, kami bergegas merapihkan barang dan carrier agar segera turun, jam 12.00 tepat, kami pun akhirnya berada tepat pintu gerbang Karimunjawa, Agyl menyerahkan surat simaksi lalu kami dijemput oleh mobil pickup yang sudah tektokan dengan Deni. Destinasi pertama yang kami tuju ialah “Ester” warung tegal murah meriah untuk mengisi perut, atau kami sebut Munjul-nya Karimunjawa. Kami mengisi perut dan melanjutkan briefing yang belum sempat selesai disana, merencanakan apa saja yang harus dilakukan di hari itu. Setelah semua selesai mengisi pasokan energi, kami pun berangkat ke kantor Kecamatan Karimunjawa, berbincang sebentar lalu menyambut kedatangan kami. Setelah itu kami bergegas kembali menaiki mobil Pick-up dan bertemu dengan Pak Kanan, orang yang mengantar kami ke Penetasan Semi Alami atau biasa disebut PSA. PSA sendiri harus disebrangi menggunakan kapal, karena penyebrangan basah tidak memungkinkan untuk dilakukan. Kami pun sampai di PSA, tempat itu berada persis di pesisir pantai dengan 1 saung dan 1 rumah kecil sederhana, disana juga sedang ada beberapa turis yang melepaskan anak penyu yang baru menetas, kami berbicara dengan pak Kanan tentang beberapa yang harus diwaspadai dan tidak untuk dilakukan
Ular Viper, ular dengan kepala berbentuk berlian yang seringkali warnanya berkamuflase dengan alam sekitar. Ular ini paling sering diawasi karena gigitannya yang bisa meregang nyawa, konon di PSA memang seringkali ada ular, dibawah saung dan sekitarnya pun memang masih tercetak jelas jejak-jejak ular yang ada di pasir, tapi tentu saja kekhawatiran kami disana tertutup oleh keindahan Karimunjawa. Pantainya yang jernih, pemandangan tanpa gedung-gedung serta udara yang sejuk seringkali menggoda kami untuk melupakan tujuan awal Perjalanan Wajib ini. Setelah sekian bincang-bincang kami pun mulai bergerak untuk mendirikan camp, membuat api, dan menyiapkan makanan. Pukul 16.00 kami sudah makan, pasokan api sudah siap, dan tempat tidur sudah rapih dan bersih. Pergerakan kami yang terbilang cepat ini dilakukan karena tidak lain ingin menyegerakan waktu bebas, setelah makan kami semua bermain di pantai, membuka kursi arei dan duduk disamping pantai, bang Zeva sudah mengeluarkan peralatan diving-nya dan segera melepas penatnya sebagai Badik, lalu kami menghabiskan waktu hingga maghrib lalu membersihkan diri. Pukul 19.00 kami sudah selesai membersihkan diri dan melakukan evaluasi, untuk hari pertama tidak banyak yang dibahas karena kegiatannya kurang lebih hanya perpindahan transportasi dan lama di kapal, setelah briefing dan evaluas kami pun makan malam dan masuk ke jam tidur. Pukul 06.00 keesokannya, kami semua sudah bangun dan menyiapkan diri, beberapa memasak dan menyalakan kembali api, ada yang membersihkan camp dan ada yang membersihkan sekitar. Agenda kami hari itu adalah survey sarang penyu, kami akan berkeliling satu pulau untuk menganalisi sarang-sarang penyu. Pukul jam 07.30 tiba-tiba datang puluhan turis sekaligus Kepala seksi, Pak Issey. Pak Issey mengucapkan selamat datang dan menanyakan keadaan malam kemarin, ia juga ternyata khawatir ada ular viper, kami berbincang-bincang dengan pak issey tentang konservasi, beliau sendiri sudah cukup lama berkecimpung di bagian konservasi, tak lama hujan deras turun dan kami semua masuk ke saung, sambil menunggu Mas Tobiin menjemput kami ke pulau Galeang. Ditengah derasnya hujan kala itu, pak Issey izin ikut tidur di saung itu, namun siapa sangka tak lama setelah hujan deras ada tamu tak diundang yang terjatuh ke saung kami, ular Viper.

Sambutan dari Kepala Seksi Karimunjawa
Nassa dan Deni-lah yang pertama kali melihat ular tersebut, Nassa awalnya dengan tenang mencoba mengusir ular itu, namun Deni yang tak tahan dengan kedatangan tamu ini mengeluarkan suara jantan-nya sehingga membangunkan pak Issey dari tidurnya. “WOY ULAR WOY!” ucap Deni selantang mungkin, Agyl dan Pak Issey yang sedang tertidur kala itu terbangun dalam sekejap, yang berbeda hanya respon nya. Pak Issey yang segera menjauhi ular, sedangkan Agyl yang dalam hitungan detik sudah memegang golok di tangannya, tiba-tiba Bang Zeva segera memperingati Panglima Elektro ini, Agyl Maksudnya.“Lu gimana sih? katanya konservasi?!” ucap Bang Zeva kepada Agyl setelah tanpa pikir panjang ia mengeluarkan Trimontina yang sudah diasah tajam dan bersih, bagi saya sendiri ini menimbulkan kontroversi, ketika insting Survival bertabrakan dengan konsep Konservasi. Akhirnya ular itu diusir perlahan dan meninggalkan kediaman kami, lalu tak lama datang Mas Tobiin, Nelayan yang akan mengantar kami ke pulau Galeang.
Kami menaiki kapal Mas Tobiin sekitar pukul 11.00 WIB, kami diantar kesana sekitar 1 jam perjalanan, Pulau Galeang sendiri ternyata merupakan salah satu destinasi ter-favorit bagi para turis, namun kala itu untungnya sedang tak terlalu ramai pengunjung sehingga masih terhitung kondusif. Kami membagi dua tim, satu tim meneliti sarang dan satu tim mengambil sample air, kami ditemani oleh Mas Tobiin berkeliling pulau Galeang, disambil beliau bercerita pengalaman-nya selama menjadi nelayan di Karimunjawa. Awalnya kami memperkirakan waktu sekitar satu jam untuk mengelilingi pulau itu, ternyata kami menghabiskan waktu 3 jam untuk kembali ke titik awal, Bang Zeva yang sudah menunggu di titik kumpul sedari awal, sudah tertidur di samping pantai tanpa makanan, tanpa handphone, hanya dirinya dan air mineral. Kami pun bergegas menghampirinya dan segera bersiap pulang karena kami lupa satu hal, kami meninggalkan Ketum di PSA tanpa makanan sedikitpun disana.
Selama di perjalanan kembali ke PSA, saya berbincang-bincang tentang budaya dan keadaan di Karimunjawa, sebenarnya kami memang waspada terkait masalah tambak udang. Konon, orang-orang sini sensitif apabila membahas tentang tambak, lebih parahnya bisa mempersuli akses kegiatan kita tadinya, namun setelah saya berbincang dengan Mas Tobiin, ternyata topik Tambak Udang ini dibicarakan sendiri oleh Mas Tobiin. Tambak udang memang sedari dulu ada dan banyak, merusak pantai dan ekosistem laut. Lalu mengapa bisa pada akhir tahun 2024 kemarin semua tambak yang ada di Karimunjawa bisa berhenti? jawabannya ialah karena masyarakat itu sendiri. Setelah tambak yang marak memberikan dampak yang amat besar pada pendapatan orang-orang di Karimunjawa, masyarakat mulai mengeluhkan keadaan itu kepada Menteri kala itu, Ibu Susi. Mas Tobiin sendiri adalah yang menyuarakan keluhan ini sebagai perwakilan nelayan, ia menyampaikan bahwa tambak ini hanya menguntungkan sepihak dan tak banyak manfaat bagi masyarakat lokal di Karimunjawa, setelah mendapat persetujuan akhirnya semua Tambak dipaksa berhenti beroperasi, sehingga di akhir tahun 2024 sudah tak ada lagi tambak. Pukul 17.50 WIB, kami akhirnya sampai kembali di PSA, kami mengambil video wawancara bersama Mas Tobiin lalu berpamitan dan berterimakasih. Setelah penantian panjang, Bang Daffi sudah menunggu di pesisir, berharap setidaknya ada orang yang ingat untuk membelikannya makan, karena semua cemilan dan makanan tak tersisa sama sekali di tempat camp. Sesampainya disana, karena sudah gelap kami bergegas membagi tim untuk menyiapkan api dan masak, sedangkan sisanya merapihkan diri dan camp, sampai sekitar pukul 19.00 WIB, ada pelajaran berharga yang kami dapat, kami lebih mempedulikan eval sebelum makan, alhasil kami eval dengan perut lapar sampai jam 9, walaupun eval nya berjalan santai, namun ada hal penting yaitu apapun dan sesibuk apapun, jangan pernah potong waktu makan dan istirahat.

Menu Makan Siang
Setelah evaluasi, kami briefing untuk kegiatan esok hari, kegiatannya berfokus di poin antropology, kita akan berfokus di mencari tahu seberapa jauh kepedulian serta pengetahuan masyarakat tentang Konservasi Penyu yang ada di Karimunjawa, lalu kami juga mewancarai dari sisi pemerintah, Pak Issey sebagai Kepala Seksi juga akan turut ditanyai lebih dalam tentang perjuangannya di lingkup Konservasi. juga esok pagi setelah bersiap, kami akan melakukan bersih-bersih susur pantai. briefing dicukupkan, kami pun pergi duduk-duduk di pesisir pantai, memulai obrolan malam dengan khidmat.
Fajar menyinsing, Pagi itu disambut dengan cuaca cerah dengan suara monyet kepiting, yang sudah berteriak-teriak bak suara alarm. kami semua bangun pagi dan menikmati pemandangan dari pesisir itu untuk terakhir kali, karena esok pagi kami sudah tidak lagi bangun disini. Setelah akhirnya beres-beres dan bersiap untuk kembali ke pulau utama, saya mendapat kabar baik dari Pak Issey, beliau mempersilahkan kami untuk tinggal tidur di asrama yang masih terhitung terawat dan sedang tak dihuni, kami banyak mendapat respon baik dari pihak-pihak pemerintah, disini-lah saya merasa manfaat dari poin antropology tadi, ketika kita melakukan kebaikan, maka kebaikan lain akan kembali tanpa disangka-sangka. Kami kembali ke pulau utama dan berpamitan juga ke Pak Kanan, karena ini penjemputan terakhir dengan beliau, kami berterimakasih karena sering merepotkan beliau dan berpamitan. Mobil Pick-up pun datang menjemput kami untuk mengantar kami ke asrama yang disebutkan oleh Pak Issey, setelah kami menyimpan barang bawaan kami, kami kembali diantar ke Pantai Bobby, pusat destinasi para turis yang menjadi target kami untuk mencari narasumber. Disana kami terbagi menjadi 2 team, team saya dan dandy mencari narasumber dari turis-turis disana, setelah mendapatkan 2 narasumber kami pun kembali berkumpul, team kami berhasil mendapatkan 2 take video sedangkan team Dandy mendapatkan 2 penolakan dari turis. Kami pun secara tak sengaja bertemu dengan mahasiswa UGM yang akan melakukan kegiatan Pengabdian Masyarakat juga di Karimunjawa, kami berkenalan sekaligus menjelaskan kegiatan kami dan mereka bersedia menjadi narasumber kami, setelah itu kami kembali ke tempat kediaman di asrama.
Sore menjelang maghrib pukul 18.00 WIB, kami melakukan evaluasi sebelum bersih-bersih diri, kami membagikan masing-masing pengalaman saat mewawancarai turis serta pihak pemerintah, setelah mendapat poin-poin dari kegiatan antropology kami pun bergegas mandi dan bersiap untuk menikmati waktu bebas terakhir di Karimunjawa. Malam itu kami semua turun dari asrama, berjalan menyusuri jalan utama yang membawa kami ke pasar malam Karimunjawa. Setelah puas berjalan-jalan dan membeli buah tangan, kamipun segera kembali ke asrama untuk istirahat, karena esok pagi kami harus sudah siap berangkat dan tak boleh terlambat, jika terlambat maka kami tak bisa pulang hingga esok hari. Akhirnya malam itu kami tutup dengan istirahat tenang setelah sehari penuh berkegiatan.
Kurnia yang hari itu menjadi PJ bangun terlambat bangun, untungnya ada yang lain sudah bangun terlebih dahulu, segera membangunkan dan bergerak cepat mempersiapkan kepulangan kami. Setelah semua siap dan bersih, pukul 05.00 WIB kami mulai berjalan ke arah pelabuhan yang sekitar 1 kilometer jauhnya dari asrama, kami melangkahkan kaki sambil berpamitan ke pihak-pihak yang sudah banyak membantu seperti Pak Issey, Mas Tobiin, Pak Kanan dan banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Sebuah kesempatan yang sangat langka untuk bisa bertemu orang-orang sekeren ini di Perjalanan Wajib kami. Seperti biasa pagi itu saya pergi membeli sarapan, yang lagi-lagi tak ada sarapan yang di packing menggunakan plastik atau kertas nasi, semua menggunakan sterofoam yang membuat kami mengisi perut sekaligus mengantongi hutang seri saat pulang nanti, saat kami menunggu kapal tiba-tiba terjadi tragedi yang tidak terduga.
“Mas! Mas! Sini kamu ke depan! kamu itu ya di bel-bel ga diangkat!” ucap seorang bapak dari mobilnya sambil menunjuk-nunjuk Agyl yang sedang menikmati tahu baso, seketika segera bangkit ditemani Deni untuk menanyakan ada masalah apa dengan bapak itu. Selang beberapa waktu mereka berdua kembali, dengan muka sedikit panik Deni pun bilang akan menceritakan semuanya di kapal nanti, kami pun berjalan menaiki kapal ferry dan duduk dibagian samping koridor kapal, tempat dengan view dan vibes istimewa yang ditemukan oleh Tarsin. Deni pun menjelaskan siapa bapak tadi, ia adalah orang yang menyewakan pickup kepada kami di hari lalu, mengapa ia marah-marah? ternyata Deni sudah di telpon dari pagi untuk diminta pelunasan mobil pickup. Tak kunjung menerima jawaban, bapak tersebut sudah berasumsi buruk, sehingga menimbulkan kesalahpahaman besar diantara ia dengan Deni sebagai koordinator transportasi hari itu. Kami semua tertawa hingga sakit perut, anehnya mengapa ia malah menunjuk Agyl bukannya Deni. Kami membuka ponco untuk menutupi teriknya siang matahari, kami membuka lebih banyak ponco, sehingga ada beberapa penumpang yang ikut berteduh bersama kami, sambil menyetel musik “Sampai jadi Debu” oleh Banda Neira menggunakan speaker milik Nassa, ternyata menarik penumpang lain untuk bernyanyi dan menikmati saat-saat terakhir meninggalkan pulau Karimunjawa. 5 Jam berlalu kami pun tiba di pelabuhan di Jepara, beberapa penumpang berterima kasih atas ponco serta lagu yang kami setel untuk mengisi waktu yang membosankan, Bang Daffi dan Tarsin juga mendapat kesempatan untuk dekat dengan Nahkoda kapal Ferry tersebut, mereka dipersilahkan masuk ke ruang utama dan mendapat dokumentasi, sekali lagi poin antropology yang memberikan makna yang berarti.
Singkat cerita kami pun menemui supir bus dari Telkom University, mengemas barang dan segera pergi meninggalkan Jepara, sekitar pukul 21.00 WIB kami sampai kembali di Sekretariat ASTACALA, melakukan evaluasi panjang serta Badik dan Ketum, tepatnya Bang Daffi dan Bang Zeva mengucapkan selamat atas tuntasnya pendidikan lanjut dari kami Riuh Rembulan. Bang Zeva menyampaikan sedikit tentang sidang anggota serta beberapa poin yang belum tercapai, Bang Daffi menyampaikan banyak hal, mudahnya seperti motivasi serta jampe-jampe untuk kami Riuh Rembulan, dengan itu kami menutup evaluasi perjalanan wajib Riuh Rembulan dengan pembayaran seri yang menumpuk selama operasional, Riuh Rembulan telah bertahan dari bisingnya riuh demi secercah cahaya rembulan.
Pesan dan kesan untuk pembaca, kalo dimulai dari kesan, ASTACALA memberikan banyak manfaat yang gak gue dapet dari kuliah, gak gue dapet dari himpunan, dan gak gue dapet dari laboratorium. Setelah akhirnya pendidikan lanjut selesai tentu lega rasanya. lepas dari sesuatu kewajiban yang luar biasa melelahkan tentu menyenangkan. Namun, banyak manfaat yang membuat diri gue untuk tetep menggali ilmu disini, meningkatkan diri disini, bahkan menenangkan diri di Sekretariat tercinta kita. Untuk pesan, siapapun adik-adik yang nanti membaca cerita perjalananku dari angkatan kami yang tidak se-spesial itu, maknai segala kegiatan kalian bersama-sama, tak semuanya selalu tentang proker, jika kalian merasa sekre ngga nyaman, ngga asik, buat sekre nya sesuka lo, senyaman lo. karena bagi penulis sendiri, Sekre kita ASTACALA itu adalah Rumah ketika Rumah tak terasa seperti Rumah.
AGIL | A-211-RR



