Awal cerita ini dimulai ketika Bang Icul dan Kak Fio mengajakku mengikuti sebuah event Orienteering di Dieng, Jawa Tengah. Kami berlima yang menjadi peserta, dan aku diminta mengurus Rencana Operasional Perjalanan, khususnya bagian transportasi, dari Sekretariat ASTACALA hingga ke lokasi acara.
Hari keberangkatan tiba, dari sekre ASTACALA kami diantar oleh teman-teman menuju terminal Cicaheum. Dari sana, perjalanan kami dilanjutkan dengan bus menuju Wonosobo, Jawa Tengah. Selama perjalanan, aku sibuk mencari tahu lebih banyak tentang event orienteering tersebut. Jujur saja, dari semua orang dalam grup, akulah yang paling kesulitan dalam hal navigasi darat. Jadi, kuhabiskan sebagian besar perjalanan mengulik informasi sambil mencoba memahami teknik-teknik dasar.

keberangkatan dari Sekretariat Astacala Menuju Terminal Cicaheum
Perjalanan dari terminal Cicaheum ke terminal Wonosobo memakan waktu sekitar 7 jam. Untuk mengisi waktu, aku juga mencoba tidur, meskipun pada akhirnya, Bang Icul berhasil mengabadikan foto mukaku di bangku bus.

Perjalanan menuju wonosobo
Sesampainya di terminal Wonosobo, kami langsung merasakan perbedaan udara yang mencolok dengan Bandung. Di sini, udara jauh lebih dingin dan sejuk, membuat tubuh kami sedikit menggigil. Kami memutuskan untuk beristirahat di rest area yang telah disediakan, sambil menunggu kabar tentang transportasi selanjutnya menuju rest area Desa Tlogo.
Ketika kami sudah tertidur lelap, seorang bapak yang mengurus perjalanan membangunkan kami. Dengan cepat, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus kecil menuju rest area Desa Tlogo. Setibanya di sana, aku akhirnya bisa menarik napas lega. Perjalanan dengan bus tadi terasa sangat sesak karena banyaknya penumpang, ditambah lagi, sopir bus sering melakukan manuver mendadak yang membuatku harus mengumpulkan keseimbangan di kaki agar tidak terjatuh.
Sesampainya di lokasi, aku tak bisa menahan rasa takjub. Kata “indah” rasanya tak cukup untuk menggambarkan panorama yang terbentang di hadapanku. Langit biru berpadu dengan perbukitan dan kebuh teh hijau yang diselimuti kabut tipis, seakan membawa kami ke dunia lain. Pemandangan yang ditawarkan Dieng ini benar-benar di luar ekspektasi.

Suasana Venue dengan pemandangan Gunung Sindoro
Kami akhirnya tiba di lokasi event, yang masih dipenuhi oleh para panitia yang sibuk dengan tugas masing-masing, menyiapkan berbagai hal untuk keseluruhan acara. Kami memutuskan untuk menuju area camp yang sudah disediakan. Segera setelah itu, kami mulai membuka tenda dan menata barang-barang dengan rapi.
Saat itu, registrasi ulang peserta belum dimulai. Jadi, kami semua memutuskan untuk berjalan-jalan sambil melihat-lihat jalur yang nantinya akan digunakan untuk Fun Trail dan Orienteering. Rasanya menyenangkan bisa menjelajahi area yang akan menjadi medan tempur kami, sambil menikmati keindahan alam sekitar.
Kami sempat mampir ke sebuah Coffee Shop kecil yang menghadap langsung ke pegunungan. Sambil menyeruput kopi hangat, suasana berubah lebih santai. Kami bercanda ria, membahas hal-hal lucu dan saling melempar ide tentang strategi untuk menghadapi lomba nanti. Ditambah dengan pemandangan Dieng yang memukau di latar belakang, sore itu terasa begitu sempurna.

Suasana Ngopi diatas telaga menjer

Telaga Menjer
Setelah puas menikmati kopi dan pemandangan di Coffee Shop, kami melanjutkan perjalanan turun menuju lokasi event. Suasana mulai ramai, dan kami sudah bisa melakukan registrasi ulang begitu tiba di tempat.
Sore itu, kami memutuskan untuk bersantai di area camp. Masing-masing dari kami mulai mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk perlombaan besok. Dari mengecek kembali peta, memastikan kompas dan peralatan navigasi dalam kondisi baik,hingga ketika malam hari kami tidur lebih awal untuk mempersiapkan fisik yang baik.
Dieng Orienteering Race 2024
Orienteering adalah sebuah olahraga yang menggabungkan keterampilan navigasi dengan tantangan fisik. Dalam lomba ini, setiap peserta harus menggunakan peta dan kompas untuk mencari pos-pos point yang tersebar di alam terbuka. Tantangannya bukan hanya pada seberapa cepat peserta bergerak, tetapi juga bagaimana peserta bisa menentukan jalur terbaik dari satu pos ke pos lainnya.
Di ajang Dieng Orienteering 2024 ini, peserta akan dibawa melintasi medan yang beragam, mulai dari kebun teh hingga jalur berbatu, dengan pemandangan alam Dieng yang menakjubkan. Setiap pos yang terlewati akan merespon bunyi beeb-beeb sebagai bukti bahwa mereka telah melewati rute yang benar. Ini bukan hanya sekadar adu cepat, tetapi juga uji ketangkasan, strategi, dan kemampuan membaca medan.
**
Hingga pagi tiba, baik peserta maupun panitia berkumpul untuk melakukan pemanasan bersama sebelum acara dimulai. Perlombaan pertama adalah Fun Trail, disusul dengan Orienteering sebagai lomba kedua. Aku masuk dalam kategori M-18, dengan target untuk mencapai 11 pos di sepanjang rute, bersama para remaja yang tampak sangat berpengalaman dalam event ini.
Ketika tanda perlombaan dibunyikan, aku langsung berlari secepat mungkin sambil memegang peta, mencari posisi pos pertama. Dengan semangat tinggi, aku berhasil mencapai pos pertama dalam waktu yang sangat cepat, hanya 33 detik setelah start. Namun, di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Saat mencoba mencari pos kedua, aku mulai kebingungan. Aku berlari ke sana kemari, mencoba mencocokkan peta dengan kondisi medan yang ada, tetapi tetap tidak menemukan posnya.
Pikiran untuk menembus kebun teh berduri yang ada di sekitar mulai terlintas di kepalaku, dan selama hampir tujuh menit, aku nekat menerabasnya. Hingga akhirnya, aku melihat seorang peserta lain mendekati pos dan mendengar suara “beeb” khas dari alat penanda. Dia, seorang perempuan, tanpa sengaja menjadi penyelamatku saat aku akhirnya menemukan pos yang kucari. Aku tertawa kecil, berterima kasih dalam hati pada peserta itu.
Di tengah perlombaan, tiba-tiba aku mendengar suara khas “kuluk” dari arah lain, panggilan akrab dari ASTACALA. Ketika aku melihat ke arah suara itu, ternyata Bang Icul yang juga sedang fokus pada lomba. Kami hanya sempat saling sapa singkat sebelum kembali pada tantangan masing-masing.
Dari pos kedua hingga pos ke-11, aku terus berusaha dan berhasil melewati semuanya meskipun harus memutari kebun teh Panama yang sangat luas. Akhirnya, aku mencapai garis finish dengan waktu 40 menit 27 detik, lumayan bagus untuk seorang pemula sepertiku. Meski lomba ini terasa cukup menantang, aku sangat puas dengan pencapaianku.
Seluruh tim berhasil menyelesaikan lomba dalam waktu yang ditentukan, kurang dari dua jam. Setelah itu, kami menikmati acara sampai sore sebelum pulang menggunakan bus menuju terminal Cicaheum. Perjalanan menuju sekretariat diakhiri dengan tawa karena pengalaman lucu bersama pengemudi Grab yang super kocak.

Dokumentasi saat sudah sampai finish bersama tim
Dhio Rahmaputra | AM-005-RR




