Transformasi pribadi dimulai bukan dari gunung atau hutan, tapi dari ruang kecil penuh cerita di sekretariat
Aku adalah mahasiswa rantau dari sebuah desa kecil di pinggiran Sumatera Utara. Waktu pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini, rasanya dunia begitu luas dan asing. Selama satu tahun lebih, hidupku hanya berputar pada kuliah, nongkrong, dan hobi-hobi ringan yang tak pernah membuatku merasa “cukup”. Ada satu pertanyaan yang terus berputar dalam kepala: “Sebenarnya, apa yang sedang aku kejar?”
Semester tiga menjadi titik balik. Tanpa ekspektasi besar, aku memutuskan untuk masuk ASTACALA. Keputusan itu muncul bukan karena aku penggila alam bebas, bukan pula karena punya impian mendaki puncak tertinggi—melainkan karena melihat seorang teman lama dari SMK yang aktif di Mapala kampusnya. Entah kenapa, aku merasa tergugah. “Mungkin ini saatnya keluar dari zona nyaman,” pikirku waktu itu.
Awal masuk ASTACALA, semua terasa asing. Sekretariatnya sederhana: papan nama usang, dinding penuh coretan, rak logistik yang penuh barang tapi penuh cerita. Tapi justru dari situlah semuanya bermula.
Aku mengikuti seluruh rangkaian Pendidikan Dasar—dari materi di kelas hingga praktik lapangan. Tapi jujur, saat persiapan pertama untuk Praktik Besar, aku sempat mengeluh dalam hati, “Kenapa sih ribet banget? Bikin check list,logistik, simulasi segala macam…”
Namun semua itu terjawab ketika aku benar-benar turun ke lapangan. Di alam bebas yang tak bisa ditebak, justru keribetan itulah yang membuat kami tetap aman. Setiap peralatan yang kupikir “berlebihan”, ternyata menyelamatkan kami dari malam dingin dan cuaca tak bersahabat. Setiap prosedur yang dulu aku anggap merepotkan, ternyata melindungi kami dari bahaya yang tak terlihat.
Praktik Besar juga mempertemukanku dengan tantangan baru: orang lain. Kelompok kami terdiri dari berbagai macam karakter—ada yang keras, ada yang cuek, ada yang perfeksionis. Dan di tengah kelelahan karena berjalan seharian, mengatur ego dan emosi ternyata jauh lebih berat daripada mengangkat carrier 60 liter. Disitulah aku belajar. Belajar menghadapi, bukan melawan. Belajar bahwa kerjasama bukan sekadar membagi beban fisik, tapi juga memahami cara orang lain berpikir dan merasa.
Hari demi hari berlalu. Aku menyelesaikan Pendidikan Dasar, lalu resmi menjadi Anggota Muda ASTACALA. Tapi ternyata, proses tidak berhenti di situ.
Tahap selanjutnya: Pendidikan Lanjut—navigasi darat, gunung hutan, peminatan, hingga perjalanan wajib. Setiap tahap seperti membuka lembaran baru dalam diriku. Aku yang dulu keras kepala, mulai belajar untuk mendengar. Aku yang dulu penuh keraguan, perlahan menemukan keberanian.
Navigasi darat mengajarkanku bahwa ragu satu derajat bisa membuatmu tersesat jauh. Di punggung bukit dan lembah-lembah sunyi, aku belajar pentingnya kepercayaan terhadap diri sendiri dan tim. Di Gunung Hutan, aku belajar bahwa keheningan bisa lebih keras daripada suara. Dan dalam peminatan, aku mulai mengenal apa yang benar-benar aku cintai.
Satu hal yang paling aku syukuri adalah: ASTACALA tak hanya mengajarkan teknik bertahan di alam, tapi juga cara bertahan dalam hidup.
Dari Sekretariat yang kecil itulah, aku perlahan mengukir arah hidupku sendiri.
Bukan hanya tentang mencapai puncak gunung, tapi tentang mengatasi puncak-puncak kecil dalam diri sendiri: rasa malas, rasa takut, rendah diri, dan ragu yang dulu terus menghantui.
Kini, setiap kali aku duduk di lantai sekretariat, melihat nama-nama di dinding dan mendengar tawa anggota baru, aku selalu teringat satu hal:“Ternyata, rumah bukan hanya tempat kita pulang. Tapi tempat yang mengubah kita menjadi seseorang yang layak untuk pulang.”
Terima kasih atas waktunya telah membaca cerita pendek tentang perjalananku ini,cerita ini di ketik dengan bantuan GPT dikit pastinya.
Jaya Terus ASTACALA ku !

ASTACALA !
TARSIN | A-208-RR




