Bandung, 14-19 Januari 2025 – Pendidikan Dasar (Diksar) Astacala ke-32 sukses digelar, menjadi ajang pembuktian ketahanan fisik dan mental bagi para siswa. Selama enam hari, calon anggota baru ditempa melalui berbagai tantangan alam yang mengasah keberanian, daya juang, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sebanyak 46 siswa memulai perjalanan dari sekretariat Astacala menuju kawasan Cibeber. Cuaca yang tak menentu menjadi tantangan tersendiri, dengan hujan yang turun hampir setiap hari. Namun, layaknya mentari yang tetap bersinar di tengah rintik hujan, semangat siswa tak pernah padam. Mereka terus melangkah dengan tekad kuat, saling mendukung satu sama lain dalam menghadapi setiap rintangan.
Hari-hari pertama diisi dengan kegiatan navigasi darat. Saat malam tiba, mereka harus beradaptasi dengan kondisi hutan yang dingin dan lembab. Beberapa siswa mengalami kelelahan, tetapi semangat kebersamaan serta motivasi dari rekan-rekan membuat mereka terus berjuang.
Hari kedua menjadi tantangan terberat. Sepanjang hari, mereka harus berjalan tanpa henti melalui jalur pegunungan yang terjal dan ekstrem. Bahkan saat langit mulai gelap dan sinar matahari tak lagi terlihat, mereka masih harus menapaki jalur menuju camp kedua dengan kondisi fisik yang semakin terkuras.
Selain menghadapi tantangan medan, siswa juga diberikan materi GPS dan Man To Man. Mereka belajar cara membaca koordinat, menentukan posisi, serta menggunakan GPS dalam perjalanan. Materi Man To Man mengajarkan mereka pentingnya komunikasi efektif, strategi bertahan di alam liar, dan kerja sama tim yang solid. Mereka juga harus melakukan koprol sebagai bagian dari latihan fisik. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan refleks dan mengajarkan teknik jatuh yang benar agar dapat menghindari cedera kepala jika terjatuh di medan yang sulit.
Pada hari keempat dan kelima, siswa menjalani survival. Mereka ditantang untuk bertahan hidup dengan perbekalan yang sangat minim, bahkan harus mencari makanan sendiri dari alam. Beberapa siswa mencari tanaman liar yang bisa dikonsumsi, bahkan mereka harus melewati jalur yang terjal. Malam harinya, mereka makan bersama dengan penuh kebersamaan. Daun pisang (kuluk-kuluk) dijajarkan sebagai alas. Tantangan ini mengajarkan mereka arti ketahanan, kreativitas, serta pentingnya kerja sama dalam bertahan di alam liar.
Hari terakhir menjadi momen yang penuh kejutan. Tak satu pun siswa menyadari bahwa itu adalah hari penutupan Diksar. Mereka terus berjalan dengan kondisi fisik yang semakin lelah, hingga akhirnya menemukan sebuah tenda besar berwarna merah—tanda bahwa perjalanan mereka telah mencapai garis akhir. Suasana haru menyelimuti tempat itu. Tangis kebanggaan dan kelegaan pecah ketika mereka secara resmi dinyatakan lulus dan menjadi bagian dari keluarga besar Astacala. Beberapa siswa bahkan meneteskan air mata, mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Diksar Astacala ke-32 “Rintik Mentari” bukan sekadar pendidikan dasar, tetapi juga perjalanan transformasi diri. Dari hujan yang terus turun hingga sinar mentari yang tetap bersinar, mereka belajar bahwa setiap rintangan pasti bisa dilewati dengan tekad, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah.
“Dalam derasnya hujan, kami belajar bertahan. Dalam teriknya mentari, kami menemukan harapan. Seperti cahaya yang menembus kabut, semangat kami tak akan pernah padam. Sebab dalam setiap langkah, ada tekad. Dalam setiap rintangan, ada kebersamaan. Dan dalam setiap rintik hujan, selalu ada mentari yang menanti.”
Kini, mereka bukan hanya pendaki atau petualang, tetapi juga penjaga alam yang siap berkontribusi untuk lingkungan.
TASYA | AM-038-RM




