Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, mengatakan penyebab utama banjir di Jakarta adalah berkurangnya lahan resapan air akibat pendirian bangunan secara besar-besaran. “Terlalu banyak mal,” katanya setelah menghadiri pameran “Clean Energy (R)evolution” yang digelar Greenpeace di Jakarta, Jumat (2/2).
Menurut dia, banyak pengembang yang tidak secara serius memperhatikan dampak ekologis akibat pendirian bangunan secara sembarangan. Pembangunan itu sebagian besar dilakukan di daerah-daerah resapan air, sehingga menambah volume air yang tidak terserap. “Hal itu sangat memungkinkan untuk menjadi banjir,” katanya.
Selain kekurangan daerah resapan air, Rachmat juga menuding budaya hidup masyarakat yang belum menyadari arti penting hutan juga menjadi salah satu penyebab. Penggundulan hutan sudah selayaknya dihentikan untuk mengurangi bencana yang hampir setiap tahun menimpa warga Jakarta. “Kesadaran warga dalam membuang sampah pada tempatnya sudah selayaknya ditingkatkan untuk memperkuat usaha pengendalian banjir,” ungkapnya.
Seperti diberitakan, banjir melanda sejumlah wilayah di Jakarta sejak pagi tadi. Selain menenggelamkan rumah warga, banjir itu juga melumpuhkan aktivitas warga, termasuk sarana-sarana publik. Akibatnya, ribuan warga harus rela meninggalkan rumah mereka dan menjadi pengungsi di sejumlah penampungan. []
Sumber : Kompas Online, Edisi 2 Februari 2007




