
Puncak Rinjani Dilihat dari Jalur Sembalun
Jauh sebelum hari itu, semua telah dipersiapkan. Persiapan perlengkapan, logistik, sampai kronologis sudah menu wajib kami sebelum berangkat ke lapangan. Perjalanan ini menyimpan prestis tersendiri untukku. Rinjani, siapa tak kenal gunung itu? Gunung setinggi 3765 mdpl yang indah dan selalu mesra menyapa hasrat para pendaki. Terlebih gunung ini terletak di Lombok, pulau yang sangat eksotis yang menyimpan sensasi keindahan yang misterius. Tak ayal kami pun rela menempuh perjalanan jauh dari Bandung melintasi Jawa dari barat hingga timurnya, melewati Selat Bali, melampaui pulau dewata, dan akhirnya tiba di Lombok. Transportasi darat yang sambung-menyambung yang melelahkan termakan oleh keceriaan dan misteri. Ya, misteri yang tak dapat kujelaskan di lembaran ini.
Tim Pendakian
Malam sebelum berangkat kami saling bergurau di rumah seorang sahabat tempat kami menginap selama di Lombok, “Rinjani Boy, Rinjani”. Deru semangat yang tak sabar bagai pembalap yang berjajar menunggu lampu hijau tanda balapan dimulai menyala. Mengira-ngira keindahan macam apa yang akan kami saksikan di gunung yang kami rindukan selama ini. Aku tak nyenyak tidur walaupun ini bukan gunung pertama yang kudaki, entah yang lain. Hingga akhirnya pagi menjelang. Setelah menyantap makan pagi, mini bus pengantar kami pun tiba. Bus itu, bus yang kami sewa seharga Rp 700.000 yang uangnya kami himpun dari anggota tim yang berjumlah 16 orang. Bus itu melaju menyusuri jalan-jalan yang berujung di Sembalun, pos pendakian, awal pendakian kami.

Jalur Sembalun
Setelah registrasi tiket masuk dan mengisi air, langkah pertama pun terjadi. Langkah demi langkah di padang rumput sembalun yang berwarna kuning kecoklatan. Kami berjajar gagah bak serdadu yang hendak perang, dengan ransel-ransel 80 liter di punggung, dengan sepatu-sepatu bersol kuat yang mampu mencengkram jengkal tanah yang dipijak. Masih landai, jalur yang kami lalui di hari pertama belum memaksa kami untuk mendaki, namun beban yang kami bawa membuat kami cukup lelah, maklum packingan sama sekali belum dibongkar. Sesekali para turis asing melintas, kebanyakan mereka turun dan disertai porter. Dengan kata-kata sederhana kami menyapa mereka, “Hi mister, where do you come from? Is there beautiful?” Kami ingin membuktikan kalau Indonesia negeri indah yang manusianya ramah.
|
Pos 2 Sembalun |
|
Sunset Plawangan Sembalun |
|
Mengintip Danau Segara Anak |
|
Di Puncak Rinjani |
Aku tidur nyenyak, sangat nyenyak hingga tak sadar teman-teman sudah sibuk menyiapkan summit attack. Aku terbangun dan ikut larut dalam kesibukan itu. Perbekalan telah siap, anggota pun telah lengkap, ayo jalan. Jalan menanjak menanti kami di depan. Angin kencang bercampur debu dari jalan yang berpasir menemani kami sepanjang jalan. Sangat berat berjalan di pasir. Naik tiga langkah turun selangkah. Anggota terbagi, ada tim belakang untuk menemani anggota yang lambat dan tim depan. Aku di tim depan. Jalan semakin tidak wajar, terus menanjak dan makin berpasir. Tapi dalam hati bertekad, aku harus menjelangnya. Ya, dia. Sunrise. Matahari sudah mengintip, aku mempercepat langkahku. Akhirnya aku tiba di puncak tepat saat matahari setengah muncul. Puncak yang di sisi selatannya terlihat Danau Segara Anak yang biru, di sebelah timurnya terdapat sajian sunrise dan awan yang berarak bagai domba-domba yang berjajar. Terasa semua beban hilang, jiwa melayang, bagai melihat surga. Aku berteriak, “Rinjani, aku mencapai puncakmu!”. Kunikmati puncaknya dan sunrisenya dengan hisapan rokok. Ah, betapa nikmatnya hisapan rokok yang terakhir di Puncak Rinjani dan ditemani sunrise. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya di Puncak Rinjani. Di tengah-tengah belasan warga asing. Biar mereka tahu betapa rakyat rakyat Indonesia mencintai negeri tercintanya. Tubuhku merinding campur haru menyanyikannya.
Tulisan oleh Eko Wahyudi
Foto oleh Tim pendakian Rinjani




