Turun ke Bencana Sumatra, Mahasiswa Telkom University Bantu Akses Jaringan

Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir 2025 menyebabkan gangguan serius terhadap kehidupan warga terdampak. Selain merusak pemukiman dan infrastruktur dasar, bencana ini juga memutus akses komunikasi di banyak titik. Padamnya listrik dan terganggunya jaringan telekomunikasi membuat sejumlah desa berada dalam kondisi tanpa sinyal, sehingga proses koordinasi dan penanganan darurat menjadi tidak optimal.

Dalam situasi darurat, keterputusan komunikasi bukan sekadar persoalan teknis. Tanpa jaringan yang memadai, pelaporan kondisi lapangan, pendataan kebutuhan, hingga distribusi bantuan menghadapi berbagai kendala. Informasi sulit diverifikasi, koordinasi antarposko melambat, dan bantuan berisiko tidak tepat sasaran. Kondisi inilah yang melatarbelakangi keterlibatan mahasiswa Telkom University yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Astacala untuk turun langsung ke wilayah terdampak bencana.

Komunikasi Terputus dan Dampaknya pada Penanganan Bencana

Di sejumlah lokasi terdampak banjir, jaringan seluler tidak dapat digunakan sama sekali. Beberapa menara BTS berhenti beroperasi akibat pasokan listrik terhenti dan kerusakan fasilitas pendukung. Warga kesulitan menghubungi keluarga maupun pihak luar, sementara relawan dan aparat desa mengalami keterbatasan dalam menyampaikan laporan kondisi lapangan secara cepat.

Putusnya komunikasi berdampak langsung pada efektivitas penanganan bencana. Informasi kebutuhan warga sering terlambat diterima, sementara koordinasi antar-posko berjalan lambat. Dalam situasi darurat, keterbatasan ini berpotensi memperlambat respons dan penyaluran bantuan. Berdasarkan informasi lapangan, terdapat sejumlah desa yang tidak hanya mengalami kerusakan fisik, tetapi juga sepenuhnya terisolasi secara komunikasi. Pada titik-titik tersebut, kebutuhan akan akses internet darurat menjadi sangat mendesak sebagai sarana koordinasi dan pertukaran informasi. Kondisi tersebut kemudian direspons dengan pendekatan yang menyesuaikan kapasitas mahasiswa, yaitu membantu pemulihan akses komunikasi sementara di wilayah yang mengalami blank spot.

Penentuan Peran dan Wilayah Fokus

Skala bencana yang meluas di Sumatra menuntut kehati-hatian dalam menentukan bentuk keterlibatan. Dengan sumber daya yang terbatas, mahasiswa tidak serta-merta terjun ke seluruh aspek penanganan bencana. Fokus utama diarahkan pada dukungan akses komunikasi, bukan pada seluruh kebutuhan lapangan.

Pendekatan ini dipilih agar kontribusi yang diberikan dapat berjalan efektif dan tidak tumpang tindih dengan peran lembaga penanggulangan bencana lainnya. Evaluasi terhadap pengalaman keterlibatan sebelumnya juga menjadi dasar dalam menentukan fokus kegiatan.

Seiring masuknya donasi dari berbagai pihak, diputuskan bahwa bantuan akan dialokasikan untuk pengadaan sarana telekomunikasi berupa Starlink. Perangkat ini dipilih karena mampu menjangkau wilayah terdampak parah yang belum terlayani jaringan komunikasi konvensional, sehingga akses informasi dapat segera dipulihkan.

Wilayah Aceh Tamiang kemudian dipilih sebagai fokus awal berdasarkan asesmen kebutuhan dan aksesibilitas lapangan. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa wilayah ini mengalami gangguan komunikasi yang cukup signifikan, sementara kebutuhan koordinasi relawan dan distribusi bantuan terus meningkat.

Struktur Operasi dan Personel Lapangan

Untuk menjaga koordinasi, kegiatan lapangan disusun dalam struktur operasi SAR yang jelas. Dukungan koordinasi dan kebijakan berada di bawah tanggung jawab Widi Widayat (A-081-LP) sebagai SAR Coordinator. Pelaksanaan misi dikendalikan oleh Jimi Piter (A-055-AIR) sebagai SAR Mission Coordinator, dengan dukungan M. Agyl Mubarak (A-211-RR) sebagai Assistant SMC.

Di lapangan, kendali operasional berada di bawah Ady Samsu (A-150-CA) sebagai On Scene Commander. Ia bertugas memimpin kegiatan langsung di lokasi terdampak dan menyesuaikan rencana dengan kondisi aktual di lapangan.Kegiatan teknis dijalankan oleh beberapa Search and Rescue Unit (SRU) yang melibatkan A. Hafizh Ayyub, Abdullah, Erick Pratama, Yoseph Riyanto G. W., dan Tarsin Juniver. Setiap personel menjalankan tugas sesuai instruksi lapangan dan prosedur keselamatan yang berlaku, dengan komunikasi dua arah antara lapangan dan pusat koordinasi.

Pergerakan Tim dan Dinamika Lapangan

Pergerakan awal sejak 5 Desember 2025 diinisiasi untuk penggalangan dana dan persiapan keberangkatan tim pertama oleh Ady Samsu (A-150-CA), dengan penugasan personel lapangan untuk melakukan asesmen awal dan membuka jalur koordinasi. Selanjutnya, pada 11 Desember 2025, tim diperkuat oleh personel tambahan, yaitu Tarsin (A-208-RR), Ayyub (A-197-KH), dan Hafizh (AM-013-RR).

Perjalanan menuju wilayah terdampak dihadapkan pada berbagai kendala, mulai dari jalan rusak, lumpur tebal, hingga keterbatasan transportasi. Beberapa titik hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai atau dengan berjalan kaki. Kondisi ini menuntut penyesuaian rencana secara berkelanjutan di lapangan.

Selama operasi, prioritas lokasi dapat berubah mengikuti perkembangan situasi. Beberapa titik yang awalnya direncanakan sebagai lokasi pemasangan akses komunikasi ternyata telah tertangani oleh pihak lain, sehingga tim harus bergeser ke desa yang belum memiliki akses sama sekali. Keputusan lapangan diambil dengan mempertimbangkan keselamatan personel, kebutuhan warga, serta keberlanjutan penggunaan perangkat komunikasi.

Pemulihan Akses Jaringan di Wilayah Blank Spot

Kegiatan utama di lapangan difokuskan pada pemasangan akses internet satelit sebagai solusi sementara di wilayah yang kehilangan sinyal. Pemasangan dilakukan di titik-titik yang memiliki fungsi strategis, seperti posko relawan, masjid, atau fasilitas umum yang menjadi pusat aktivitas warga.

Di beberapa lokasi, akses internet yang terpasang digunakan oleh puluhan perangkat secara bersamaan. Akses ini mendukung komunikasi relawan, pelaporan kondisi lapangan, koordinasi distribusi bantuan, serta kebutuhan warga untuk menghubungi keluarga.

Selain pemasangan perangkat, dilakukan pula pemetaan kondisi jaringan dan dokumentasi lapangan sebagai bahan evaluasi dan koordinasi lanjutan. Seluruh kegiatan dilakukan dengan memperhatikan keamanan perangkat dan kesiapan pihak setempat untuk mengelola akses setelah tim meninggalkan lokasi. Pemulihan akses komunikasi diposisikan sebagai dukungan terhadap upaya tanggap darurat, bukan sebagai solusi tunggal atas persoalan bencana.

Catatan Lapangan dan Refleksi

Pengalaman lapangan memberikan gambaran kuat tentang ketangguhan masyarakat terdampak. Salah satu personel lapangan, Ady Samsu (A-150-CA), menyampaikan bahwa warga menunjukkan sikap saling membantu dan tidak ingin diperlakukan sebagai objek belas kasihan meskipun beberapa darinya merupakan disabilitas berada dalam kondisi sulit. 

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan tidak hanya berkaitan dengan bantuan teknis, tetapi juga dengan penghormatan terhadap martabat dan ketahanan masyarakat terdampak.

Dukungan Donasi dan Transparansi

Hingga 20 Desember 2025, total donasi yang terkumpul untuk mendukung kegiatan tanggap bencana mencapai Rp59.758.393. Dana tersebut digunakan untuk operasional lapangan, perangkat komunikasi, genset, serta kebutuhan logistik dasar.

Penyaluran dan penggunaan dana dilaporkan secara berkala sebagai bentuk transparansi kepada publik. Donasi masih dapat disalurkan melalui:

Bank Mandiri 1300015445011 a.n. Yayasan Astacala, dengan konfirmasi transfer melalui WhatsApp 0813 2140 5470 (Widi Pari).

Perkembangan Terakhir dan Kelanjutan Misi

Memasuki fase akhir penugasan lapangan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Tim 2 relawan yang terdiri dari Ayyub, Tarsin, dan Hafizh telah tiba kembali di Medan dalam kondisi sehat. Setelah menjalankan tugas di Aceh Tamiang, tim ini direncanakan untuk segera kembali ke Jakarta dan Bandung, sementara Hafizh tetap bersiaga di Medan untuk mendukung koordinasi lanjutan apabila dibutuhkan. 

Kepulangan tim lapangan menandai selesainya satu fase penting dalam misi tanggap bencana ini. Selama berada di lokasi terdampak, para relawan menghadapi medan yang berat, keterbatasan akses, serta dinamika lapangan yang berubah cepat. Meski demikian, seluruh rangkaian penugasan dapat dijalankan dengan aman, dan target utama yang ditetapkan sejak awal berhasil dicapai.

Salah satu capaian utama dari kegiatan ini adalah terpasangnya tiga unit perangkat Starlink di titik-titik yang telah ditentukan. Akses komunikasi darurat yang dibangun melalui perangkat tersebut diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh warga terdampak, relawan, serta pihak pemerintah setempat untuk mendukung koordinasi dan pemulihan pascabencana. Keberadaan jaringan ini menjadi penghubung penting di wilayah yang sebelumnya berada dalam kondisi blank spot.

Namun, upaya tidak berhenti pada capaian tersebut. Berdasarkan hasil evaluasi dan kesepakatan internal, diputuskan untuk melanjutkan dukungan dengan pengadaan tiga unit Starlink tambahan. Perangkat ini direncanakan akan ditempatkan di lokasi-lokasi lain yang telah dipetakan dan dinilai masih membutuhkan akses komunikasi darurat. Langkah ini diambil untuk memperluas dampak bantuan dan memastikan lebih banyak wilayah terdampak dapat terhubung.

Kelanjutan misi ini menunjukkan bahwa keterlibatan relawan tidak berhenti pada satu penugasan lapangan semata. Dukungan doa, solidaritas, dan partisipasi publik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan upaya kemanusiaan yang dilakukan. Bagi para relawan yang telah kembali, pengalaman di lapangan menjadi catatan berharga yang akan terus melekat, tidak hanya sebagai bagian dari kerja kemanusiaan, tetapi juga sebagai proses pembelajaran personal dan kolektif.

Keterlibatan mahasiswa Telkom University dalam bencana banjir Sumatra memperlihatkan bahwa kontribusi dalam situasi darurat dapat dilakukan secara terukur, fokus, dan berkelanjutan. Dengan memilih peran yang sesuai kapasitas, yakni pemulihan akses komunikasi, dukungan diberikan pada aspek yang sering kali luput dari perhatian, namun sangat menentukan kelancaran penanganan bencana.

Upaya ini bukan hanya tentang perangkat dan jaringan, melainkan tentang menjaga keterhubungan manusia di tengah krisis. Selama komunikasi tetap terjaga, koordinasi dapat berjalan, bantuan dapat bergerak, dan harapan tetap menyala. Dari lapangan Aceh Tamiang, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kerja kemanusiaan selalu dimulai dari kesediaan untuk hadir, belajar, dan melanjutkan langkah, bahkan setelah satu misi selesai.

Penulis:

Achmad Adam Azzuri
A-166-GB

Chelsea Aprilya Jasmine
AM-039-RM

3 thoughts on “Turun ke Bencana Sumatra, Mahasiswa Telkom University Bantu Akses Jaringan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *