Kamis, 11 September 2025
Pagi ini rombongan kecil Astacala turun ke lapangan untuk melaksanakan pendidikan lanjut Gunung-Hutan. Disambut dengan Rintiknya Hujan dan cahaya Semu Mentari, delapan orang menapakan kaki di desa Cupunagara, Kabupaten Subang.
Erge, sang leader, segera mengambil keputusan untuk bergegas menuju titik camp pertama. Ali dan Yudha dipercaya sebagai navigator, sementara Emir dan Azar menjadi
follower. Tiga pendamping: Bang Imam, Bang Dandy, dan Bang Kurnia menyertai perjalanan, sekaligus mengawasi serta bertugas sebagai sweeper tim.
Setengah jam perjalanan kami mendapat titik yang baik untuk navigasi darat (Navdar). Bidikan kompas dan coretan angka pada kertas memberikan petunjuk keberadaan kami saat ini. Sejenak kami menikmati hamparan lembah yang ada di daerah Subang. Usai Navdar anggota tim yang masih terlihat bersemangat, melanjutkan perjalanan ke arah Tenggara menaiki barisan bukit.
Saat perjalanan melewati bukit terdengar suara sumber air. Tanpa pikir panjang leader bersama navigator memutuskan menuju sumber suara untuk menjalankan aktivitas Isoma.
Dengan semangat kami menuruni bukit dengan kondisi medan yang terjal. Ketika tiba di sumber air ternyata tidak sesuai ekspektasi kami. Medan di sekeliling kami yang terjal, menandakan kami salah mencapai titik sumber air, yang sesuai dengan titik peta.
Leader dan tim sempat putus asa. Tapi kami harus tetap semangat karena ini baru hari pertama. Setelah mengisi air, dengan kondisi carrier yang semakin berat kami menaiki bukit. Kami berusaha mencari titik untuk melakukan Navdar. Namun perut yang sudah lapar, menahan kami di sebuah dataran rata untuk melakukan aktivitas Isoma.
Grimis Hujan menemani, bentangan flyseet mengalasi kepala kami. Makanan dan minuman sudah memuaskan dahaga. Tidak lupa kami bersukur kepada Tuhan yang baik hati. Tubuh akhirnya merasa dingin, menunjukkan waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke titik camp pertama.
Tiba di titik pertemuan tiga sungai, tim kembali melakukan navigasi darat. Diskusi mengarah pada pilihan punggungan. Jalan setapak di punggungan kiri menggoda, hingga akhirnya diputuskan untuk dilewati. Namun di tengah perjalanan, kesadaran datang: kami
salah jalur. Seharusnya punggungan kanan yang membawa ke titik camp pertama. Peta pun harus dipetakan ulang.
Titik camp pertama sudah dirubah dan kami berjalan menuju titik tersebut. Hari sudah mulai gelap saat kami tiba. Segera kami membongkar muatan carrier dan membentangkan ponco untuk mendirikan shalter darurat. Kayu dikumpulkan, api dinyalakan agar menjadi penghangat, penerang, sekaligus penjaga dari serangga dan binatang.
Waktunya makan malam. Usai shalter aman kami makan malam ala ekapedisi. Ditutup dengan evaluasi hari pertama, kami kembali ke shalter kami masing-masing untuk istirahat.
Ditemani suara jangkrik dan letupan api, mata kami akhirnya tertutup dan tertidur.

Perjalanan Menuju Pintu Rimba
Jumat, 12 September 2025
Hari kedua pendidikan, kami terbangun sebelum mentari menyingkap kabut pagi. Tanpa banyak bicara, kami segera menyiapkan sarapan dan mengemas perlengkapan masing-
masing. Tujuan hari ini jelas: menyentuh puncak Gunung Bukittunggul, lalu melanjutkan perjalanan menuju titik camp kedua.
Sebelum berangkat, Bang Dandy memberikan sesi pematerian singkat tentang penggunaan GPS. Setelah pematerian segera kami berjalan dengan formasi seperti yang kemarin.
Perjalanan menuju puncak tidak sesulit yang kemarin. Hal tersebut dikarenakan ada jalan setapak yang menuntun. Dan kami hanya mengikutinya sampai ke puncak. Walau begitu kami tetap berpatokan pada peta dan kompas yang kami bawa sebagai alat Navdar.
Di puncak kami sudah ditunggu oleh bang Adam yang merupakan salah satu anggota Astacala. Ia duduk santai di atas hammock, menyodorkan kaleng berisi potongan buah segar. Dan memang sekarang waktunya kami masuk ke dalam aktivitas Isoma.
Menjelang sore, perjalanan kembali dilanjutkan. Mempraktekkan teknik navdar Man to Man, dengan derajat yang tepat menuju titik camp dua, secara perlahan menerobos medan yang tak lagi terlihat jalan setapak.
Leader yang mengejar waktu untuk tiba di titk camp, menerobos hutan sampai tiba di tepi jurang. sempat berniat menuruni jurang, namun setelah mempertimbangkan keselamatan akhirnya diputuskan untuk putar balik dan mencari punggungan sesuai plottingan peta.
Saat hendak berbalik arah, Emir dengan keras berteriak “Rock”, Erge yang baru saja membalikan badan, melihat batu dengan panjang setengah meter lebih, berguling menuju dia.
Untungnya reflek seorang anak rock climbing masih berfungsi. Dengan membuka kaki yang lebar, batu tersebut melewati selangkangan dan hanya menggores tangan yang mencoba melindungi ‘masa depan’.
Perjalanan dilanjutkan, namun langit mulai gelap. Hujan kembali turun, menandakan kami harus segera membangun camp, meski belum mencapai titik yang direncanakan. Dengan kondisi medan yang berat, tim sepakat mencari area datar untuk mendirikan camp.
Hujan semakin deras dan Hawa yang dingin mulai memeluk kami. Dengan semangat yang masih tersisa kami para peserta mencari kayu dan dedaunan untuk membuat bivak alam. Shalter para pendamping dan peserta terpisah. Para pendamping secara sigap langsung membuatkan shalter yang besar dan cukup aman dengan flysheet. Tidak lupa kami membuat api sebagai penghangat dan menampung air hujan untuk air minum, karena stok air kami sudah hampir habis.
Para peserta sempat mengalami kesulitan karena bivak yang hapir selesai, harus rubuh dan rata dengan tanah. Segera kami mencari penyangga yang lebih kuat sehingga bivak dapat berdiri dengan kokoh.
Usai shalter aman kami langsung makan. Makanan terasa nikmat. suhu badan terasa kembali normal. Kami mengakhiri hari ini dengan evaluasi hari kedua. Dan dengan tubuh lelah kami beranjak tidur di bawah bivak sambil merasakan dekapan alam dengan aroma khasnya.

Ali membuka peta dan beristirahat sejenak
Seperti hari kemarin, kami bangun lebih awal. Udara pagi masih lembap. Kegiatan pertama hari ini adalah “tidur kalong”. Sebuah simulasi bertahan hidup jika suatu waktu kami harus menghadapi situasi darurat.
Masing-masing peserta mengenakan ponco sebagai pelindung tubuh, lalu dengan bantuan weebing kami mengikat diri ke pohon dengan ketinggian di atas satu meter. Di sisi tubuh, sebuah lilin kecil menyala, memberi sedikit kehangatan di tengah dingin yang menusuk. Cahaya temaramnya menari di antara kabut pagi, mengajarkan kami arti kesunyian, ketahanan, dan keheningan yang menyatu dengan alam.

Berakhirnya Tidur Kalong
Setelah selesai, kami sarapan dan berkemas. Lalu kami melanjutkan dengan materi pembuatan Trap yang diberikan oleh bang Imam. Cukup menarik karena bisa belajar teknik- teknik pembuatan trap.
Perjalanan hari kedua dimulai. Tujuan hari ini adalah mencapai titik finish. Leader hari ini berganti menjadi Yudha, Emir dan Azar menjadi Navigator, Erge dan Ali menjadi Follower.
Awalnya kami kira jalannya mulus-mulus saja. kami sudah bisa melihat desa di balik bukit di depan kami. Nyatanya kami tersesat. Dengan menyesuaikan kompas dan peta serta orientasi medan kami berusaha memotong jalan melewati sungai yang curam. Di sungai kami melewati batu yang besar dan indah karena nampak tergantung di sebelah kami.
Usai melewati sungai kami menaiki bukit. dan di balik bukit kami menemukan hamparan pemukiman warga. pertanda pendidikan kami hampir tuntas. segera kami menuruni bukit dan menuju jalan desa menuju titik finish.
Sama seperti sebelumnya kami kira sudah dekat dengan titik finish ternyata kami harus menumpuh berkilo-kilo meter lagi untuk sampai ke tempat tersebut. Ali mengerang kesakitan kakinya sudah melepuh, tapi iya masih sangat semangat untuk berjalan. Azar calon komandan melangkahkan kaki dengan tegas sambil berteriak ”Ayo siswa, jalan!” seolah-olah menyuruh para siswa saat PDA untuk jalan. Emir dan Yudha lebih semangat dan atusias, dengan kompas dan peta menempel di tangan memimpin langkah kami di depan. Para pendamping seperti tak lelah, mereka menemani peserta dengan santai dan raut muka ceria, sambil menikmati alam di sekitar.
Langkah demi langkah kami lewati, yang tadinya sangat bersemangat kini sebaliknya.
Walau di depan kami terlihat titik finish, langkah sudah terasa berat. Ali terlihat sudah kesulitan berjalan. kami tetap menyemangati. Dan akhirnya ia lanjut melangkahkan kaki. Dan tibalah di titik Finish.
Belum sempat benar-benar beristirahat, masalah baru muncul. Angkot penjemput tidak dapat mencapai lokasi karena jalan sedang diperbaiki. Untungnya, seorang sopir lain
menawarkan tumpangan menuju titik perbaikan jalan. Ali yang sudah tak mampu berjalan terpaksa kembali bersama Bang Adam dengan sepeda motor, sementara yang lain naik mobil pengantar sayur. Sebuah pengalaman unik yang menutup perjalanan panjang kami.
Setelah turun kami lanjut jalan, kurang lebih dua puluh menit menuju titik penjemputan baru. Singkatnya kami menaiki angkot tersebut dan kembali ke sekre Astacala dengan selamat. Perjalanan yang sangat menguras tenaga namun mengasikkan. ASTACALA!!!
Yoseph Riyanto Gonsalis Wain | AM-044-RM




