- Dasar navigasi darat, termasuk peta dan kompas.
- Dasar pendakian gunung.
- Pengoperasian GPS dan Mapsource.
- Informasi awal, berupa koordinat posisi desa terakhir, koordinat mata air, jalur, dan segala info yang bisa dikumpulkan.
- Software Global Mapper (http://globalmapper.com).
- SRTM digital map (http://www2.jpl.nasa.gov/srtm/).
- Pastikan Globalmapper sudah terinstall dan running. Manual cara menggunakan software Globalmapper dapat dibaca di Help atau di cari di Google.
- Load data SRTM sesuai lokasi yang diperlukan. Misal kita ingin naik gunung Gede, jadi kita perlu load SRTM map Jawa Barat, atau seluruh pulau jawa sekaligus.
- Load koordinat informasi awal kita ke dalam Globalmapper.
- Danau Lau Kawar ( 03°11?45.0” LU 98°23?11.1” BT )
- Pintu Rimba ( 03°11?27.0” LU 98°23?10.6” BT )
- POS 1 ( 03°11?09.9” LU 98°23?19.5” BT )
- POS 2 ( 03°11?00.1” LU 98°23?15.7” BT )
- POS 3 ( 03°10?52.7” LU 98°23?22.8” BT )
- POS PANDAN ( 03°10?43.4” LU 98°23?21.2” BT )
- POS 4 ( 03°10?30.0” LU 98°23?24.9” BT )
- PUNCAK UTAMA ( 03°10?17.3” LU 98°23?26.3” BT )
Track Entry atau Titik Awal Jalur
Biasanya sekaligus perbatasan antara hutan dengan ladang penduduk.Titik ini sangat krusial, karena sangat menentukan perjalanan kita berikutnya. Jika kita salah memasuki jalur, bisa jadi kita tersesat di jalur penduduk atau jalur “tikus”. Untuk pendakian gunung-gunung 3000+ meter mungkin banyak penanda jalur yang sudah jelas, namun untuk gunung seperti Tambakrujung di ciwidey misalnya, mungkin sekali tidak ada penunjuk jalur yang jelas.
Camp
Tentukan posisi camp dengan pertimbangan lokasi cukup luas dan datar untuk mendirikan tenda, terhindar dari bahaya longsor atau pohon rubuh atau bahaya lain, tersedia mata air kalau ada, dan tidak mengganggu pendaki lain atau kegiatan penduduk sekitar. Dalam peta digital kita, bisa kita anlisa secara 3D posisi yang baik dijadikan lokasi camp.Perlu juga kita perhatikan berapa kali kita mendirikan camp, diperhitungkan dengan pertimbangan jarak dan tingkat kesulitan jalur. Semua ini bisa kita analisa secara 2D maupun 3D dalam Globalmapper.
Dari analisa bentukan medan secara 3D, kita bisa memeperoleh informasi bahwa trek akan terus menerus menanjak dari basecamp hingga puncak. Dengan trek yang tidak terlalu panjang seperti ini, kita bisa berkemah di sekitar danau Lau kawar, dengan pertimbangan adanya air melimpah dan lokasi yang masih relatif datar.
Strategi Pendakian, Summit Attack, Logistic Dropping, dan Evakuasi
Dengan menganalisa jalur secara 2D maupun 3D, beserta tambahan informasi lainnya, kita bisa menentukan strategi pendakian. Apakah dengan teknik Alpine atau Himalayan. Juga rencana apakah akan menggunakan sistem dropping logistik, misalnya untuk gunung dengan puncak yang harus diraih dengan teknik rock climbng sehingga tim harus membawa perlengkapan climbing, dan logistik dibawa oleh tim lain. Gambaran trek yang jelas juga memudahkan kita menyusun strategi kondisi darurat, misal evakuasi dan SAR.
Untuk merencanakan perjalanan tanpa informasi awal yang memadai, tools ini juga cukup berguna. Dengan rencana jalur, titik camp, dan lain sebagainya, kita bisa menyimpan data tersebut ke dalam perangkat GPS untuk digunakan di lapangan nanti. Kita juga perlu memasukkan titik-titik kontrol seperti puncakan gunung lain atau titik ekstrim lainnya. Dan bisa juga digunakan sebaliknya, yaitu untuk mengevaluasi perjalanan, dengan cara men-download data dari perangkat GPS untuk dianalisa di software Globalmapper.
Perlu diperhatikan, tool berupa peta digital ini hanya sebagai alat untuk merencanakan dan menganalisa rencana yang kita buat. Dasar navigasi darat dan latihan yang cukup mutlak diperlukan untuk berkegiatan seperti ini. Tools ini juga bisa dipergunakan berbarengan dengan software lain seperti GoogleEarth, Mapinfo, Garmin Mapsource, dan lain-lain. Pembahasan ini masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi untuk mempermudah perencanaan dan analisa, yang berarti perjalanan kita akan lebih aman dan nyaman. []
Oleh Astaka Sarwiyanto




