Home Kisah Perjalanan

Kisah Perjalanan

Mengarungi Perairan Komodo (Bagian 2)

Kapal kami bukan phinisi. Tak memakai layar. Angin kencang biasanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong layar.  Tapi tidak untuk kapal kami. Tanpa layar, angin kencang bisa membahayakan. Bisa membuat terbalik dan tenggelam.

Mengarungi Perairan Komodo (Bagian 1)

Saya berbaring menengadah menatap langit. Di geladak kapal bagian atas. Merasakan angin yang berhembus. Melihat bintang-bintang bertaburan. Berkerlap-kerlip. Berkilauan menjadi bagian semesta raya.

Batukaru Ketika Purnama

Pepohonannya beraneka ragam, lebat dan rapat. Berbagai jenis burung, monyet, rusa, babi, sampai kucing hutan masih menjadikannya sebagai rumah. Inilah Batukaru, gunung tertinggi kedua di Pulau Bali.

Kita Lalui Bersama – Peminatan ORAD Angkatan Gema Bara

“Ayo kita bisa! Kita lalui bersama” kalimat ajakan untuk meneyemangati anggota kelompok, karena dalam orad kerja sama, kekompakan, dan fokus merupakan poin penting. Terimakasih saudaraku, kalian telah memberikan warna baru dalam hidupku.

Navigasi Darat Sembari Nostalgia

Setelah memasang point di dua titik tersebut, pukul 12.00 WIB kami kembali ke titik kumpul lagi untuk makan siang bersama. Sekitar pukul 14.00 WIB kami mencari point yang sudah dipasang oleh kelompok lain. Kami kebagian mencari point kepunyaan kelompok 5 yaitu point 9 dan point 10.

Bersepeda di Bali, dari Kintamani ke Klungkung (Bagian 4)

Jalan makin lama makin mengecil. Berlumpur dan dialiri air. Sepatu saya basah karena tercelup lumpur. Kotor kehitaman. Ada satu dua pohon tumbang. Kami lewat di bawahnya. Sepeda tak bisa dikayuh. Hanya bisa dituntun.