Salam Indonesia

Sejarah, kebudayaan, adat istiadat.
User avatar
Adek
astacala.org geek
Posts: 858
Joined: Fri Feb 18, 2005 1:47 pm
Location: North Pole
Contact:

Salam Indonesia

Postby Adek » Wed Sep 02, 2009 12:45 pm

FWD dari milist sebelah..
semoga jadi bahan renungan, kemana nasionalisme kita akan melangkah.
kadang beda antara goblok dan tidak goblok itu memang tipis.

----------------------------
Artikel oleh Farid Gaban (dimuat di Koran Tempo Jumat 28 Agustus 2009)

WARTAWAN, KINI SEDANG MELAKUKAN PERJALANAN KELILING INDONESIA DALAM EKSPEDISI ZAMRUD KHATULISTIWA

(www.zamrud-khatulis tiwa.or.id)

Amarah kepada Malaysia berkaitan dengan "pencurian" khazanah seni dan budaya Indonesia hanya mempertontonkan sikap kanak-kanak kita sebagai bangsa. Emosi menggelegak atas kasus Manohara dan sengketa Ambalat, misalnya, hanya menegaskan sikap rendah diri kita. Dan ini bukan sekali-dua berlangsung. Narsisisme berlebihan dibarengi kecintaan semu belaka pada hal-hal yang menyangkut identitas tradisional dan lokal negeri yang beragam ini tidak akan menolong.Kita sendiri kurang peduli kepada khazanah kekayaan alam dan budaya.

Menjelajahi Sumatera selama dua bulan lebih, sebagai bagian dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, saya menyaksikan banyak pulau tak terurus, khazanah seni budaya tradisional punah perlahan-lahan dalam sunyi, serta sejarah yang hilang jejak tanpa bekas ditelan ketidakpedulian.

Pulau Enggano, pulau terluar di Samudra Hindia, hanya dijaga tiga serdadu rendahan tanpa pekerjaan jelas. Jejak Portugis, yang pertama kali menemukan pulau ini yang menyebutnya sebagai "pulau keliru" dalam bahasa mereka (enggano), tak lagi bisa ditemukan. Budaya lokal hampir punah dihantui kemiskinan kronis. Pertanian muram, nelayan tidak lagi menemukan ikan.

Saya hampir tidak bisa lagi menemukan jejak sejarah Barus, Sumatera Utara, kota pelabuhan tua yang namanya harum dalam catatan perjalanan pengelana legendaris Marcopolo dan Ibnu Battuta. Terkenal dengan kapur barusnya, dia juga merupakan salah satu pintu masuk agama Islam di Indonesia. Barus, atau fanzur dalam bahasa Arab, terabadikan dalam nama pujangga sufi terkenal Hamzah Fanzuri yang lahir di sini. Tapi, sekarang di dekat Lobo Tua (kota tua), Makam Mahligai di perbukitan, makam para bangsawan, saudagar dan ulama, hanya tersisa batu-batu berinskripsi Arab tak terurus. Hampir tidak ada informasi bermakna di kota kecamatan ini. Kota yang hilang dan tersesat.

Koto Tinggi, dekat Bukittinggi, seperti sebuah kota mati meski ini pernah menjadi ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Hanya ada tugu besar dan sebuah bangunan kecil tempat terpampang susunan kabinet Syafruddin Prawiranegara. Bangunan kecil itu terlalu sederhana dan hanya bisa menjadi tempat pemungutan suara dalam pemilu 2009 tempo hari.

Rumah Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, di Pandan Gadang, Kabupaten Limapuluh Kota, lapuk dimakan rayap dan usia. Tidak ada biaya untuk renovasi. Sebagian ruang menjadi sarang satu-dua burung walet. Cicit Tan Malaka berharap penjualan sarang burung walet bisa membiayai salah satu situs sejarah ini.

Di Banda Aceh, saya bertemu dengan Tarmizi Ahmad, seorang pegawai negeri yang punya hobi mengoleksi naskah kuno atas inisiatif dan biaya sendiri. Sebagian koleksinya, yang berusia seabad-dua abad antara, lain buku karya Nurruddin Ar-Raniry, hilang waktu tsunami. Dia tak bisa ikut Pameran Kebudayaan Aceh yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Agustus lalu, karena tak bisa membayar stan, dan memutuskan memamerkan koleksinya di rumah pribadi. Dia merasa lebih dihargai oleh pemerintah Malaysia, Singapura, dan Brunei ketimbang pemerintah Indonesia maupun Aceh.

Benteng Inong Balee, benteng laskar janda yang dipimpin Panglima Malahayati pada abad ke-18, terbengkalai tak terurus meski menempati sebuah bukit menghadap teluk yang indah tak jauh dari Kota Banda Aceh.

Omo Hada, rumah tradisional Nias di Hilinawalo Manzingo, kusam dan lusuh. Bangunan berusia 300 tahun ini merupakan adi-karya arsitektur tradisional dari kayu dan tahan gempa. Penghuninya tak punya biaya untuk merawatnya. Bangunan ini masuk daftar 100 situs kuno yang terancam punah versi World Museum Watch tahun 2000.

Tengku Mohammad Fuad, salah satu ahli waris Kesultanan Riau di Pulau Penyengat, mengeluhkan rendahnya kepedulian pemerintah kepada situs, sejarah, dan khazanah sastra Melayu yang pernah berjaya di sini. Penyengat merupakan mata air sastra dan bahasa Indonesia modern, salah satunya lewat ketekunan Raja Ali Haji (1808-1873). Fuad masih menyimpan koleksi pribadi surat-surat dagang kuno yang kini hanya dilapis plastik untuk mengurangi laju kelapukan, antara lain kuitansi dan surat saham kepemilikan penambangan timah di Johor, Malaysia, bertahun 1917. Meski makam, masjid, dan mushaf Al-Quran abad ke-19 masih terawat bagus, Pulau Penyengat sudah kehilangan sebagian besar jejak sebuah kesultanan Melayu terbesar. Ironi di tengah ambisi Malaysia untuk menjadi pusat peradaban Melayu dunia di alam modern.

Pengabaian terhadap khazanah budaya digenapi dengan ketidakpedulian kepada khazanah alam yang potensial menjadi daya tarik wisata lingkungan (ecotourism) .

Kepulauan Mentawai adalah salah satu paradoks. Kekayaan hayati yang hebat, namun kemiskinan yang menyengat. Ini pulau yang dikenal dengan banyak flora-fauna unik alias endemik, sering disebut sebagai Madagaskar-nya Indonesia, mengilhami para ilmuwan dunia mencari konfirmasi teori evolusi Charles Darwin.

Taman nasional di Pulau Siberut, yang diproklamasikan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer warisan dunia, terbengkalai. Museum dan kantornya rusak serta roboh tak diperbaiki setelah gempa besar 2007.Resor dan jasa wisata alam, seperti selancar dan trekking, di Mentawai (Sumatera Barat), Nias (Sumatera Utara), dan Simeulue (Aceh), lebih banyak diminati oleh orang asing ketimbang investor lokal maupun pemerintah. Belasan anggota kru sebuah televisi Prancis sedang membuat film tentang alam dan budaya Siberut ketika saya sedang berkunjung ke sana, Juli lalu.

Dan itu semua baru sebagian kecil saja kekayaan serta keragaman khazanah alam, sejarah, seni dan budaya yang kita sia-siakan. Indonesia, negeri kepulauan terbesar di dunia, tampak bodoh dan kerdil. Dilihat dari luar, minimnya kepedulian, kurangnya informasi dan pengetahuan tentangnya, menjadikan negeri ini sama muram dan kusamnya dengan Museum Bahari di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta.

Rendahnya tingkat kepedulian dibarengi dengan miskinnya keterampilan mengelola informasi dan dokumentasi. Informasi, dalam bentuk museum, buku, dan produk multimedia, adalah tulang punggung bisnis wisata. Meski Internet sudah demikian maju, demikian pula saluran komunikasi dan teknologi media, kita masih keteteran mengurus hal ini. Dan Malaysia tahu benar kelemahan Indonesia itu.

Negeri-negeri kecil seperti Malaysia dan Singapura sadar persis tak memiliki kekayaan alam dan budaya sekaya dan seberagam Indonesia. Mereka tak perlu memiliki Indonesia, cukup menjadi beranda dan pintu gerbangnya. Mereka menjadikan Indonesia sebagai "halaman belakang", atau dapur dari bisnis wisata besar, sementara mereka menjadi koki dan pemilik restorannya.

Emosi yang meledak-ledak, perang kata yang menggelora, caci-maki kekanak-kanakan, tidak akan mengubah keadaan. Justru kita akan kelihatan makin konyol. Lebih bagus jika energi sia-sia itu diubah menjadi gairah untuk mengubah sikap kita dalam menghargai khazanah alam, budaya, dan sejarah sendiri serta kemampuan untuk mengemasnya.

---------
“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." -Mark Twain-
--
http://lailiaidi.blogspot.com

User avatar
bram_zala005
nyubie
Posts: 54
Joined: Thu Mar 19, 2009 9:58 pm
Location: Bandung & Cimahi
Contact:

Re: Salam Indonesia

Postby bram_zala005 » Wed Sep 16, 2009 10:20 pm

Mba Ade , ijin posting di facebook dan twitter ya ..

Banyak sekali teman yang berkoar-koar apabila ada budaya atau apapun milik indonesia yang diambil oleh orang lain (negara lain), tetapi mereka sendiri tidak mengenal, misal saja pulau Ambalat. Tahu pun kadang baru saat dicuri, dan bawaannya menghina sang pencuri.

Atau budaya. Mempelajari budaya bangsa saja tak mau, ketika diambil baru panas dan 'nasionalisme'nya keluar.

Semoga perlahan bangsa kita sadar bahwa memaki bukan jalan terbaik mempatenkan budaya dan kepemilikan bangsa Indonesia.
untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater

User avatar
Adek
astacala.org geek
Posts: 858
Joined: Fri Feb 18, 2005 1:47 pm
Location: North Pole
Contact:

Re: Salam Indonesia

Postby Adek » Thu Sep 17, 2009 11:19 am

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." -Mark Twain-
--
http://lailiaidi.blogspot.com

User avatar
Bukan ARIEL
astacala.org addict
Posts: 451
Joined: Mon Oct 03, 2005 8:05 pm
Location: Grand Pancoran Regency
Contact:

Re: Salam Indonesia

Postby Bukan ARIEL » Sun Sep 27, 2009 8:37 am

malingsia lagi... ck..ck..ck...

User avatar
Gejor
astacala.org addict
Posts: 528
Joined: Wed Mar 30, 2005 5:10 pm
Location: Jakarta
Contact:

Re: Salam Indonesia

Postby Gejor » Sun Sep 27, 2009 9:07 am


User avatar
Bukan ARIEL
astacala.org addict
Posts: 451
Joined: Mon Oct 03, 2005 8:05 pm
Location: Grand Pancoran Regency
Contact:

Re: Salam Indonesia

Postby Bukan ARIEL » Thu Oct 01, 2009 9:11 pm

mari kita pakai batik besok..


Return to “Budaya”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 3 guests