Kekurangan di Swedia

Sejarah, kebudayaan, adat istiadat.
User avatar
Adek
astacala.org geek
Posts: 858
Joined: Fri Feb 18, 2005 1:47 pm
Location: North Pole
Contact:

Kekurangan di Swedia

Postby Adek » Fri Mar 04, 2011 1:27 am

ingin menulis dan sharing, apa daya paper dan exam menumpuk menunggu *alasan*
sudahlah, sharing tulisan om Janto Marzuki saja.. salah satu orang tua kami di stockholm, ex mahasiswa indonesia, pensiunan ibm, photographer, wong madiun, tinggal di swedia 30 tahun dan.....anaknya londo cakep :asyik:

ah jadi ngelantur, selamat membaca!

--
Kekurangan di Swedia
-Janto Marzuki-

Dear Zev yang baik,

La kok menjadi panjang sekali ’kekurangan’ nya Swedia itu. Yah, biar ada ’balance’ lah, ternyata dimana mana tidak hanya selalu enak. Tapi menurut saya, juga perlu mengimbanginya dengan toleransi dari pribadi kita. Dapat tidak kita menerima dan kalau jawabannya tidak, mungkinkah kita mendapatkan jalan keluar untuk mengatasinya.

Kalau kita hanya ’ngrundel’, ’ngomel’ terus tanpa bertindak, ya namanya jalan ditempat. Malahan kita jadi ’lara kabeh’ (sakit semua). Carilah tukang pijat. Menurut teori dari perkembangan suatu sistem, suatu sistem dapat berkembang hanya kalau sistem tersebut mempunyai kelemahan atau kekurangan. Kalau suatu sistem tidak ada kelemahan atau kekurangannya, ya sistem itu lama lama akan MATI. Nah, berarti tanah air kita Indonesia masih ada kesempatan untuk berkembang dan lebih maju kan! Hanya cepetan dikit dong..

Image

Diukur dan dibobot dengan meteran dan timbangan kita, Indonesia. Demikian juga dengan kehidupan dinegara lain di LN, tak pandang itu kehidupan di Amerika, Canada, Jepang, Taiwan, Australia, Eropa, dimana saja, tidak ketinggalan juga jika anda hidup dan tinggal dinegara Swedia, semuanya ada dan banyak ’kekurangan’nya!

Saya niati menulis hari ini tentang ’kekurangan’ di Swedia, sebisa saya. Salah satu usaha saya, didalam menyambungi renungan dari bung Ardhian di Pekanbaru, keinginan tahuan ke’jelek’an negara Swedia. Banyak mungkin yang mengira saya telah ’terlunturi’ dengan kehidupan sehari-hari di Swedia selama saya tinggal dinegara tersebut, saya tinggal dinegara tersebut baru saja ..., baru 33 tahun. Mengira ’warna’ saya sudah menjadi ’Kuning Biru’, seperti warna bendera negara Swedia sedangkan warna ’Merah Putih’ saya sudah tidak secerah dulu, seperti sebelum saya meninggalkan Indonesia. Atau...

Image

Tidak, di dalam badan dan jiwa saya, yang paling dalam, di’cell’ saya, masih amat sangat ’lengket’ merah-putihnya. Saya selalu mengaku asal saya dan tidak malu mengaku sebagai orang Jawa, kulit badan saya masih cepat menjadi hitam pekat begitu terkena sorotan matahari, hidung saya tetap saja tidak mancung, mata saya termasuk sipit meskipun orang Jawa, dan saking sipitnya kalau saya gembira dan senyum dapat ditinggal lari teman sekeliling tanpa saya mengetahuinya, bahasa Jawa saya masih kental, saya bangga dengan nama dan panggilan saya dan masih tetap seperti apa yang almarhum bapak/ibu berikan sewaktu saya dilahirkan, tak akan menggantinya dengan Sven Svensson!

Dibeberapa tulisan saya sebelumnya, dengan kebaikan Zev telah dimuat di Kompas dotcom ini, mungkin tanpa saya sadari, terlalu banyak saya menjunjung tinggi keenakan, kebagusan dari kehidupan di Swedia, dan menjadikan banyak dari para pembaca berfikir, ach ... masak enak dan bagus semuanya di Swedia! Tidak! Sebetulnya banyak yang tidak enak dan banyak kekurangannya tinggal di Swedia itu! Termasuk juga tinggal dinegara lain di LN!

Image

Memulai menulisnya dari mana ya? Dah, paling gampang saya memakai referensi, dengan kaca pembesar pribadi saya saja.

Di Swedia semuanya menurut aturan. Semuanya ada yang mengatur. Sering kita merasakan dengan ’teropong’nya orang Asia, ’teropong’ orang Indonesia, kehidupan di Swedia itu kaku, kurang dinamis. Ciri khas orang Swedia itu seperti Gong di gamelan, kalau tidak di’tabuh’ (pukul) tidak berbunyi. Ada miripnya, memang. Orang Swedia terlalu berhati-hati, spontanitasnya kurang, berdiskusi, bermusyawarah, direncanakan dulu baru kemudian bertindak. Orang Swedia kalau bertengkar hanya dengan mulut!

Kalau belum atau tidak kenal, terasa sekali orang Swedia tidak/kurang ramah. Kalau dibus atau kereta yang dapat memuat 60-100 orang, sedangkan yang naik hanya 3 penumpang, tipis orang Swedia, 1 duduk dibangku didekat sopir, 1 ditengah dan 1nya lagi dijok paling belakang. Kalau lunch dikantor, bersama dengan membawa makanan sendiri dari rumah, ya box makanan dibuka, terus dimakan sendiri tanpa menawari ke yang lain untuk mencicipi, apalagi berbagi makanan. No way.

Disuruh keutara, dilihat dan dicheck dulu dengan aturannya, kalau perlu pakai bantuan kompas, kalau betul, ya keutara. Hobinya ngantri. Meskipun dapat nr antrian 110, meskipun dipapan baru nr 7, ya ditunggu sampai gilirannya nr 110. Pembuka percakapan diantara orang Swedia hanya dan selalu mengenai cuaca, ”Bagus sekali cuaca hari ini” atau ”Sore nanti hujan ya”. Saking senengnya minum minuman, kadang sesuatu yang bagi kita ’biasa’, oleh orang Swedia diakalin sedemikian rupa untuk dijadikan hari besar, hari raya, agar mereka dapat memestakan kesempatan tersebut dengan minuman. Mengukur sukses atau tidaknya suatu undangan atau suatu pesta, hanya diukur dengan banyak macam dan jumlah dari minuman yang disajikan, jadi bukan jumlah yang datang atau apalagi makanan yang disajikan! Susah ditebak siapa dia, jarang sekali mencantumkan titelnya di ’businesscard’ mereka, anggota DPR ataupun menteripun kadang naik kereta, bus atau sepeda menuju kantornya.

Image

Anak dilahirkan, orang tua tidak dapat memberi sembarang nama. Nama harus menurut ’norma’ sopan di Swedia. Jadi nama ’Tubruk’, ’Jebrak’ atau ’Begog’ seperti di Jawa, yang pemberiannya dengan alasan agar supaya pemiliknya selamat dan jangan sampai keberatan nama, tidak akan diperkenankan. Meskipun anak nakal, sebagai orang tua atau guru disekolah ataupun dipengajian tidak boleh memukulnya, kita dapat masuk penjara! Masih anak kalau nakal, atau kalau orang tua tidak dapat menghidupi dan mendidiknya, negara lewat jawatan sosial akan ’mengambil’ dan ’memindah’ anak tersebut dari orang tua kandungnya! Dan perlu diperhatikan, kalau terjadi ini, orang tua sudah tidak punya hak lagi untuk anak tersebut!

Disekolah juga tidak atau susah untuk menyontek. Oleh karena pertanyaan sewaktu ulangan atau ujian disekolah pertanyaannya banyak cenderung memakai pertanyaan, ”Ceriterakan bagaimana ...”.

Anak di Swedia tidak punya ’unggah ungguh’ (aturan) menurut ukuran Indonesia. Oleh karena, anak cenderung dianggap oleh orang tuanya sebagai teman mereka. Di Swedia, agama bukan suatu keharusan. Keagamaan seseorang tidak ada yang mencatat. Mata pelajaran agama disekolah, diberikan merupakan suatu pelajaran, pelajaran ajaran agama apa saja, jadi bukan hanya satu agama yang dianutnya. Banyak orang di Swedia yang tidak beragama dan banyak yang tidak percaya dengan adanya Tuhan.

Ijazah atau titel tidak banyak yang mengejarnya. Oleh karena itu juga tidak ada yang memalsukan apalagi memperjualbelikan, percumah. Pangkat dan gaji seseorang di Swedia, penilaian dan pengukurannya banyak cenderung dan tergantung dari pekerjaan serta kemampuan seseorang. Malu sendiri kalau mengaku mempunyai titel atau gelar dibidang sesuatu, setelah bekerja beberapa saat, ee.. ketahuan nggak bisa apa apa. Jadi di Swedia kita dipacu untuk benar-benar menguasai bidang kita, dipaksa untuk jujur, berani mengatakan ’tidak bisa’ atau ’belum mampu’, tidak ada jalan lintas disana!

Image

Meskipun ’dikatakan’ tidak ada diskriminasi di Swedia, tapi dari pengalaman saya sendiri, terutama untuk dapat mendapatkan pekerjaan yang cukup berkwalifikasi, tidak dapat disangkal lagi kita diharuskan banyak ’lebih pintar’ dari rata-rata pelamar atau orang Swedia. Susah untuk KKN.

Disana, kita tidak dapat ’membeli’ SIM. Polisi tidak dapat kita ajak ’damai’. Dirambu lalu lintas tanda ’STOP’ atau lampu merah, kalau kendaraan yang kita tumpangi tidak berhenti, tak ampun lagi, dicabutlah SIM kita dan menjadikan kita tanpa SIM selama 1 tahun! Parkir kendaraan ditempat yang dilarang, atau lupa tidak membayar biaya parkir, kita dikenakan denda 600 Swedish kronor, sekitar 700 ribu rupiah!

Tidak dapat memalsukan umur atau tanggal kelahiran, oleh karena semuanya telah terdaftar sewaktu anak begitu lahir didatabasenya jawatan pajak. Tidak dapat berbohong atau merubah status, kawin atau tidak. Tidak dapat memiliki istri atau suami lebih dari satu, oleh karena poligami hukumnya dilarang di Swedia. Tidak dapat ’mengarang’ alamat rumah kita. Berarti tidak mungkin memiliki KTP ganda atau palsu.

Anak yang telah menginjak dewasa, yaitu mencapai umur 18 th dan/atau telah menamatkan SMA nya, sudah dianggap dewasa menurut hukum di Swedia. Berarti, orang tua sudah tidak punya hak atau kewajiban mencampuri urusan si anak lagi. Anak, tidak pandang itu laki-laki atau perempuan, mau pergi kemana dengan siapa saja, atau akan tinggal sendiri tidak serumah dengan orang tua, juga menikah dengan siapa saja, mengerjakan sesuatu apa saja, sudah tidak perlu lagi minta ijin orang tua, orang tua sudah tidak ada hak untuk melarangnya.

Hukum di Swedia antara lain mengatakan, bahwa orang tua wajib menghidupi dan mendidik anaknya sampai anak berumur 18 th dan/atau sampai tamat SMA. Meskipun terjadi perceraian, misalnya saja anak ikut si ibu, si bapak akan tidak dapat ’lari’ dari kewajibannya untuk menghidupi anak sampai dewasa. Dengan perintah dari jawatan sosial, via jawatan pajak dan majikan, gaji sibapak langsung dipotong sesuai dengan besar biaya kehidupan anak.

Image

Tinggal diapartment, rumah susun, dimana kebanyakan masyarakat tinggal, hidup harus ’tepa slira’ (tahu diri), tidak dapat main atau mendengarkan musik seenaknya, yaitu terlalu keras dan kapan saja. Membersihan rumah, dengan menggunakan ’vacum’ tidak dapat kita lakukan kapan saja. Bagi masyarakat Indonesia, kalau masak, mengingat baunya, tidak dapat masak masakan Indonesia apa saja. Hidup dan tinggal di Swedia tidak memungkinan mempunyai pembantu, apalagi lebih dari satu! ”Impossible!”, gaji seorang pembantu hampir sama dengan gaji kita!

Tinggal dirumah, dengan halaman rumput disekelingnya, juga banyak konsekwensinya. Rumput harus sering dipotong rapi, kalau dibiarkan tumbuh terlalu tinggi ditegur tetangga. Apalagi kalau rumput sampai ’ketularan’ rumput-rumput atau bunga liar, kita harus cepat-cepat mencabutnya, berusaha agar jangan sampai menulari ketetangga! Kalau punya pohon, meskipun itu pohon buah-buahan, tidak boleh batang atau rantingnya sampai melampui batas pagar dan tumbuh ketetangga. Tidak diperbolehkan membangun bangunan mendekati 6 m dari batas halaman rumah. Tidak boleh membangun pagar rumah, berupa apapun melebihi tinggi 80 cm! Tidak boleh merubah bangunan tanpa ijin sebelumnya. Tidak boleh mengecat rumah dengan warna seenaknya. Tidak boleh membakar ranting atau daun kering dihalaman. Tidak boleh memiliki binatang atau hewan piaraan sembarangan, misalnya saja seperti ayam, kambing apalagi sapi!

Banyak pekerjaan rumah yang harus kita kerjakan sendiri, seperti antara lain membersihkan rumah termasuk toilet, mencuci pakaian, menyeterika pakaian, mencuci piring, masak, mencuci mobil, potong rumput, membuat pagar, mengecat rumah, mengerok salju, mengantar dan menjemput anak, dan masih banyak lagi.

Tidak ada becak, ojek, ’andong’ (kereta yang ditarik dengan kuda) didekat rumah kita disana. Yang ada bus, kereta bawah tanah, traim listrik atau taxi untuk transportasi jarak dekat. Untuk naik bus, kita harus jalan kaki kehalte bus, meskipun dimusim dingin seperti saat ini dimana diluar gelap, licin, suhu luar dinginnya minta ampun (hari ini -8C), dan kita hanya dapat naik dihalte dan waktu yang telah ditentukan!

Image

Tidak ada orang berjualan keliling seperti mie, bakso, soto, sate, roti, jamu gendong, nasi pecel, sayur-mayur, ronde, krupuk, tahu, tempe goreng, kacang rebus, sukun, pisang goreng, minyak dan masih banyak lagi.

Kalau bekerja, kita diharuskan datang dan pulang tepat waktu. Tidak memungkinkan untuk keluyuran tengah hari, atau cuma absen dan nyambi. Nyambi, atau dengan bekerja dilebih dari 1 tempat, tidak menguntungkan dilihat dari berapa gaji bersih nanti yang akan kita terima, mengingat sistem perpajakan yang progresif di Swedia. Semakin besar jumlah gaji pertahunnya, semakin tinggi procentase pajaknya. Semua pendapatan yang berupa uang, seperti bunga yang kita terima dari deposito kita dibank, menyewakan kamar atau rumah, menyewakan mobil, menyewakan kios akan dikenakan pajak, dan ingat pajak yang progresif.

Meskipun wanita, jangan mengharap untuk di’utamakan’, dengan adanya hak yang sama, seperti buka pintu atau mengangkat belanjaan juga sendiri. Naik kendaraan umum, tidak polisi tidak militer harus bayar. Meskipun ’boss’, mau minum kopi harus buat dan ambil sendiri, jangan mengharap untuk disuguhi.

Fasilitas specifik yang banyak kita dapatkan dari perusahaan dimana kita bekerja, yang tidak setiap orang mendapatkannya, misalnya saja seperti fasilitas mobil bagi mereka yang berkedudukan tinggi, satpam dirumah, juga tilpun gratis, rumah dinas, semuanya akan diukur dengan uang dengan memakai daftar standard dari daftar yang dikeluarkan oleh jawatan pajak. Semuanya akan dijumlahkan sebagai jumlah total gaji pertahun. Bisa bisa, seperti istilah ’Pomperiposa’-nya dari pengarang buku anak-anak terkenal Swedia, Astrid Lindgren (alm) dengan bukunya ’Pipi Långstrump’ (eng:Pipi long stocking), dan yang telah diterjemahkan kebanyak bahasa, orang tersebut dapat disuruh membayar pajak lebih dari 100% dari pendapatannya!

Image

Belum, pajak kekayaan, seperti rumah yang kita tinggali akan dikenakan pajak. Semakin bagus, semakin besar, semakin banyak rumah kita, akan semakin besar juga pajak kekayaan yang harus kita bayar kenegara. Ingat, disini tidak ada yang namanya ’damai’, besar pajak tidak dapat ditawar, tidak dapat diakali kepemilikan kita, semuanya terdaftar didatabasenya jawatan pajak. Jadi hidup dan tinggal di Swedia, kita tidak dapat kaya, hidup serba ’pas pasan’.

Tidak dapat mengharapkan bantuan dari seseorang, meskipun banyak orang/teman yang baik, dan mau membantu. Waktu mereka, seperti kita terbatas. Kita dipacu untuk dapat mengatasi kesulitan kita sendiri. Hidup sendiri, tanpa sanak tanpa saudara, jauh dari tanah air, diwaktu musim dingin, dinginnya minta ampun dan gelap, sedang dimusim panas tidak juga panas, siang yang panjang menjadikan susah untuk tidur.

Bahasa Swedia susah dipelajari, apalagi kalau diingat jumlah penduduknya yang hanya 9 juta dan yang memakainya, menjadikan motivasi tidak begitu tinggi untuk dapat menguasainya. Begitu kita menjadi lansia, jangan mengharap kita dapat tinggal dirumah anak kita. Seperti kebanyakan penduduk Swedia, kita akan tinggal dirumah jompo, dan jangan sekali-kali mengharap ada yang menjenguk kita!

Mengingat Swedia adalah negara hukum, dan hukumnya yang berjalan dan dijunjung tinggi, sering kita merasa kalau ada ’masalah’ menjadikan terlalu kaku. Tidak ada ’damai’ untul soal ini. Kalau hukumnya mengatakan begitu, ya begitulah yang berlaku.

Image

Negara Swedia tanahnya terdiri dari bebatuan, tidak sesubur seperti di Indonesia. Kalau lagi musim dingin, dinginnya minta ampun, apalagi gelap yang panjang diwaktu yang lama. Tinggal di Swedia, kita harus memiliki mulai dari kaos kaki, sepatu, sweater, celana panjang, jas juga jacket untuk 2 musim, satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin. Belum harus mengkomplitinya dengan sarung tangan, topi dan ’scarf’. Geografis yang terpencil, diujung daratan utara Eropa, tidak gampang atau jauh untuk kemana-mana.

Tinggal dimana saja, di LN, atau ditanah air Indonesia, selalu ada kekurangan dan kelebihannya. Sekarang, tergantung kita sendiri, dapat tidak kita melihat dari sisi lain semua ’kekurangan’ ini dan menjadikannya ’alasan’ untuk meraih kehidupan lebih baik sesuai dengan keinginan dan tujuan hidup kita. Tidak semua orang dapat kerasan dan hidup enak di Swedia, dan saya tahu betul itu, tidak mungkin hidup kaya tinggal disana. Meskipun mau apa saja mungkin terlaksana, hidup terlalu nge’pas’, tidak ada lebihnya.

Ke teman dan saudara saya di Indonesia, dengan melihat dan mengetahui ’kekurangan’ di Swedia, saya sering katakan, seseorang harus ’SAKTI’ untuk dapat hidup, kerasan dan menghargai kehidupan di Swedia! ”Kekurangan’ ada dimana-mana, tapi hidup hanya sekali, meskipun ada ’kekurangan’, itupun berusaha saya nikmati, hayati dan laluinya dengan iringan senyuman.

Image

Kelebihan tanah air kita Indonesia dibanding dengan LN, atau khususnya Swedia? Banyak! Sayang, terlalu panjang kalau saya tuliskan satu persatu, beberapa contoh yang gampang saja, tinggal di Indonesia cukup dengan celana pendek atau sarung dan kaos oblong, kapan saja, pagi sore malam tidak masalah, cuaca memungkinkannya. Buah-buahan dan sayuran yang banyak macamnya serta terjangkau harganya. Makanan dan jajanan yang beraneka ragam dan rasa dari berbagai daerah dapat dengan mudah diperoleh. Dan tentunya masih banyak lagi...

Salam, Janto Marzuki, Stockholm – Swedia.

Image
“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." -Mark Twain-
--
http://lailiaidi.blogspot.com

User avatar
limasembilan
astacala.org addict
Posts: 476
Joined: Tue Oct 25, 2005 10:58 pm
Location: Desa Terakhir
Contact:

Re: Kekurangan di Swedia

Postby limasembilan » Fri Mar 04, 2011 11:12 am

Image
"Wong Jowo - Ya pas, ya rapopo"

kasihan bener tinggal disana lama gt.. (menghibur diri, masih nyangkut di j*k*rta)
btw, anaknya yg cakep cowo/cewe?
8)

User avatar
Gejor
astacala.org addict
Posts: 528
Joined: Wed Mar 30, 2005 5:10 pm
Location: Jakarta
Contact:

Re: Kekurangan di Swedia

Postby Gejor » Mon Mar 07, 2011 5:51 pm

Katanya kalau di negara yang terbiasa teratur begitu, gaya hidup menjadi kaku.
Sehingga akan sangat jarang ditemukan seniman dan berbagai gaya nyentrik di sana.

:-k

User avatar
Sapi
astacala.org maniac
Posts: 212
Joined: Tue Jun 27, 2006 9:31 pm
Location: Ciledug
Contact:

Re: Kekurangan di Swedia

Postby Sapi » Mon May 09, 2011 10:32 am

:putus-asa: teribel
ada enak nggaknya ya, ya allah turunin salju dong sekali sekali di indonesia,
pengen ke luar negri karna ada saljunya (bukan yang digunung ya)


Return to “Budaya”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 2 guests