Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

semua tentang hiburan sharing disini...movie, music, tempat nogkrong asik, wisata kuliner...dsb
User avatar
limasembilan
astacala.org addict
Posts: 476
Joined: Tue Oct 25, 2005 10:58 pm
Location: Desa Terakhir
Contact:

Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby limasembilan » Wed Jul 20, 2011 4:44 pm


User avatar
Detha
nyubie
Posts: 37
Joined: Tue Feb 02, 2010 5:51 pm
Location: Capital city of Indonesia
Contact:

Re: Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby Detha » Sat Jul 23, 2011 2:20 am

klo ntar gua dapet S2 di Jerman, ga bakal gua nazar ampe kayak gini.. :ngakak: :ngakak:
btw, nice info mas.. haha
"All things are artificial, for nature is the art of God."

User avatar
Bolenk
astacala.org addict
Posts: 570
Joined: Sat Feb 10, 2007 7:48 am
Location: Nomaden
Contact:

Re: Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby Bolenk » Sun Jul 24, 2011 4:56 am

Last man standing..

User avatar
Detha
nyubie
Posts: 37
Joined: Tue Feb 02, 2010 5:51 pm
Location: Capital city of Indonesia
Contact:

Re: Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby Detha » Wed Jul 27, 2011 9:45 pm

"All things are artificial, for nature is the art of God."

User avatar
Bolenk
astacala.org addict
Posts: 570
Joined: Sat Feb 10, 2007 7:48 am
Location: Nomaden
Contact:

Re: Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby Bolenk » Sat Jul 30, 2011 10:05 pm

Last man standing..

User avatar
Adek
astacala.org geek
Posts: 858
Joined: Fri Feb 18, 2005 1:47 pm
Location: North Pole
Contact:

Re: Diterima di UI, Anak Ini Bersepeda dari Pati ke Depok

Postby Adek » Mon Aug 01, 2011 5:47 pm

@Detha and all

Kebetulan saya baru kembali dari jerman, ditambah dengan sedikit efuria setelah mendengar wejangan pak habibie, menyampaikan assalamualaikum dan mencium tangan beliau beberapa hari lalu, saya ingin sedikit bercerita. Sebagai bocoran, pemerintah jerman melalui DAAD mengalokasikan setidaknya 1000 beasiswa untuk indonesia. (Baca: pemerintah jerman meminta pemerintah indonesia membayar hutang luar negri nya dengan mengirimkan anak-anak indonesia belajar di jerman). Saya kurang tau dalam jangka berapa lama jumlah ini harus dipenuhi pemerintah indonesia. Tapi yang jelas, jumlah itu sangat banyak untuk alokasi satu negara saja.

Saya awalnya tidak begitu percaya dengan informasi bisik-bisik dari kawan-kawan yang menyampaikan informasi ini, tapi tidak perlu menunggu lama, saya sendiri melihat buktinya: saya bisa berada di jerman dengan undangan salah satu universitas di sana, bahasa mereka: mengikuti summer course. Namun jelas bagi saya dan rekan-rekan peserta yang lain, agenda sebenarnya adalah mencari peneliti - peniliti baru untuk ditempatkan di universitas mereka. "We have a lot of money!" Begitu ucapan salah satu professor yang sempat berdiskusi dengan kami di sana, masih muda dan begitu energik.

Kenapa bayar hutang dengan memberi beasiswa? uhm, tampak aneh memang, tapi klo kita sadari jerman adalah 1 dari 3 besar negara dengan royalti/paten terbanyak di dunia, mungkin kita tidak heran kenapa jerman meminta lebih banyak anak-anak indonesia menjadi habibie-habibie muda untuk belajar dan melakukan penelitian di negara mereka (2 negara lain adalah US dan Jepang). You see, Jepang dan Jerman tau betul bagaimana mengembalikan kesejahteraan rakyatnya, sekalipun industri dan sumber daya alam nya dilarang untuk berkembang besar, paska kalah perang dunia 2 (banyak pabrik2 tua di jerman tidak difungsikan dan menjadi museum). Bukti nyata, pendidikan itu yang sesungguhnya bisa memajukan suatu bangsa (sumber daya manusia / renewable resource), bukan sumber daya alam.

Pesan pak Habibie hari itu, kalau anda mau menjadi manusia yang memberi manfaat besar untuk dunia:
"work very hard, be fair, be rational, low profile, and never want to be a hero."

Salam dari kutup utara,
enam dua.
--

Sedikit saya share cuplikan cerita beliau beberapa tahun lalu:
"Saya ingin bercerita kepada Anda : saya pergi ke Jerman ketika saya berumur 18. Saya dididik taat beragama. Saya sering merasa rindu pada orang tua dan keluarga, saya tidak pernah memperoleh beaiswa kecuali dari Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD), tapi baru pada tahun - tahun terakhir penulisan disertasi doktor, sehingga saya harus membiayai sendiri. Orang tua saya yang membiayai, saya bahkan tidak dapat menerima beasiswa dari pemerintah Indonesia, yang waktu itu juga sudah ada.

Ada saat - saat sulit pada masa itu bagi saya dan kadang - kadang uang saya waktu itu tidak cukup menelepon ibu atau saudara - saudara saya. Bahkan kadang - kadang karena uang belanja saya tidak datang pada waktunya, saya harus sarapan pagi hanya dengan roti dan susu saja. Mensa (kantin mahasiswa) bagi saya waktu itu adalah suatu kemewahan. Saya mempunyai tempat kost yang sering disebut "Studentenbude" di jalan Frankenberger Str. 12, di Keluarga Neuwald. Di sana tidak ada pemanas ruangan, tidak ada kamar mandi, hanya ada wastafel. Sekarang keadaannya memang sudah jauh lebih baik. Tapi dulu pada tahun 50-an, Jerman masih belum begitu maju seperti sekarang. Oleh karena tidak adanya kamar mandi, maka saya hanya dua kali seminggu pergi mandi : ke kolam renang umum. Dan karena di kamar tidak ada pemanas ruangan, ada tahu tidak dimana saya belajar ? di perpustakaan, karena disana cukup panas.

Akan tetapi saya tidak pernah merasa sedih, saya tidak pernah merasa kurang senang, saya tidak pernah merasa iri; saya bersyukur kepada Allah SWT, bahwa saya masih boleh hidup dan dapat kuliah. kondisi kehidupan yang sulit itu telah menempa saya, seorang yang bersyukur kepada Allah SWT.

Dan ada tahu tidak apa yang saya alami ? Kadang - kadang saya rindu keluarga dan kampung halaman, padahal saya dalam kesulitan karena tidak punya uang lagi, sepatu sudah berlubang - lubang, sama sekali sudah tidak punya uang untuk memberli karcis kerta api atau trem. Dalam keadaan seperti itu, saya harus berjalan kaki pulang ke pondokan, saya hanya memegang sebuah apel di tangan untuk makan malam, saya sangat kurus waktu itu.

Anda tahu tidak, pada saat-saat seperti itu saya sangat mendambakan mendekatkan diri pada Allah SWt. Tapi disana tidak ada mesjid, sehingga sulit bagi saya. Tapi anda tahu apa yang saya lakukan ? saya lalu pergi ke sebuah gereja, saya duduk paling akhir dan saya berkata pada diri sendiri, hanya ada satu Allah, "Bolehkah saya berdoa kepadamu?". Saya mencari jalan. Saya adalah seorang pemuda yang bahagia."

http://lailiaidi.blogspot.com/2010/01/berbahagia.html
“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover." -Mark Twain-
--
http://lailiaidi.blogspot.com


Return to “Entertain”

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 4 guests