Ekspedisi Astacala

 

Sekilas Ekspedisi Astacala

IT Telkom adalah sebuah kampus yang berdiri di Jawa Barat, tepatnya di Bandung Selatan, DayeuhKolot, di Jalan Telekomunikasi. Sejak tahun 1991 daerah ini telah menjadi saksi perjalanan panjang kampus putih biru mulai dari yang awalnya bernama Sekolah Tinggi Teknologi Telkom (STT Telkom), yang kemudian bertransformasi menjadi kampus Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), dan pada akhirnya berubah bentuk menuju Universitas Telkom. Dalam perjalanan tersebut, telah banyak hal-hal luar biasa yang terjadi di dalamnya. Beragam prestasi dan penghargaan telah diterima oleh insan-insan yang mengarungi perkuliahan di kampus ini. Salah satu faktor utama peraih prestasi adalah imbangnya hard skill yang diasah di dalam perkuliahan dan soft skill yang diasah melalui kegiatan non pendidikan. Unit Kegiatan Mahasiswa yang tersebar di dalamnya menjadi salah satu pemicu setiap prestasi yang ada dan pemikiran-pemikiran kritis yang baru.

Astacala, merupakan salah satu UKM yang ada di dalam naungan kampus putih biru senantiasa menemani perjalanan kampus ini dari tahun ke tahun. Astacala sendiri bergerak di dalam kegiatan kepecintaalaman, menjadi motor penggerak untuk kegiatan alam bebas dan pelestarian lingkungan hidup, sesuai dengan visi misi yang ada di dalam tubuh organisasi. Namun, masih banyak cita-cita yang belum dicapai untuk mewujudkan visi meningkatkan kemampuan berkegiatan di alam bebas dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Seperti yang pernah dikatakan oleh Dwight Eisenhower, “Human history is never written by chance, but because of their own choices”, Astacala melalui pemikiran-pemikirannya ingin selalu terus tumbuh dan berkembang menorehkan sejarah dalam lembar hidup manusia.

Salah satu yang didambakan dalam benak setiap anggota Astacala adalah sebuah ekspedisi, mengingat kampus putih biru ini belum pernah mengadakan satu ekspedisi besar yang mengkombinasikan kemampuan berkegiatan di alam bebas dengan kemampuan telekomunikasi yang sangat dimiliki oleh mahasiswa kampus ini. Selama ini kita selalu membaca buku, sebuah buku yang ditulis oleh orang-orang besar. Orang-orang besar itu menuliskan dunia, dan kita yang tidak melakukan perjalanan hanyalah membaca sebuah halaman cerita orang-orang besar tersebut. Gunung tertinggi ditaklukkan manusia. Benua terdingin telah pula ditaklukkan. Sejarah tidak terjadi karena sebuah kebetulan, melainkan karena orang-orang tersebut berani berpikir besar dan mengambil resiko.

Untuk mewujudkan salah satu cita-cita di atas, Dewan Pengurus Astacala telah mencanangkan sebuah ekspedisi yang akan dilakukan pada November 2013 ini. Facing Giant Rock!. Hasrat itulah yang kami (Astacala) usung sebagai langkah untuk terus tumbuh dan berkembang di kampus ini.

 


 

Nama Kegiatan

Nama kegiatan ini adalah : Ekspedisi Astacala 2013 “FACING THE GIANT ROCK”

 

Landasan Kegiatan

  • Tri Dharma perguruan tinggi :  Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat
  • Visi Astacala : Menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dan meningkatkan keterampilan serta kemampuan kegiatan alam terbuka
  • Program Kerja Dewan Pengurus Astacala 2013-2015 Divisi Operasional

 

Tujuan

  • Pemanjatan big wall
  • Pembuatan jalur baru
  • Mengibarkan Sang Merah Putih di atas Bukit Lawi
  • Penerapan teknologi komunikasi radio dalam komunikasi lapangan Sekretariat Astacala – Tebing batu Lawi
  • Memperkenalkan Astacala dan Telkom University

 

Deskripsi Tempat

Tebing Batu Lawi merupakan salah satu puncak dari jajaran pegunungan yang membentang dari Miri sampai ke Bario, berada di tengah pegunungan Kelabit Highland, Serawak, Malaysia. Tebing ini masuk ke dalam lindungan Pulong Tau National Forest Park, Malaysia.

Perjalanan menuju tebing dimulai dari Bario (Bariew). Bario adalah sebuah desa terpencil yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur, dengan Long Bawan sebagai desa di Indonesia yang paling dekat untuk diakses dari Bario. Untuk mencapai Bario dapat dilalui melalui jalur darat atau jalur udara. Jalur darat jarang dipakai sebagai transportasi menuju Bario, dikarenakan medan yang berat. Jalan yang dilalui adalah logging road (jalan penebang hutan) dengan waktu tempuh kurang lebih 14 jam. Jalur udara adalah alternatif yang paling sering digunakan untuk mencapai daerah ini dikarenakan lebih hemat waktu tempuh. Dari Bario, untuk mencapai bibir tebing, diperlukan trekking selama 3 hari melintasi Taman Nasional Pulong Tau.

Tebing Batu Lawi

Konon, terdapat sepasang suami istri yang hidup di dalam hutan pegunungan Kelabit Highland. Suatu ketika pasangan tersebut bertengkar saat mengarungi bahtera rumah tangganya. Dalam pertengkaran, sang suami memotong badan istri menjadi dua bagian. Saking marahnya, kedua pasangan tersebut saling mengutuk dan berubah menjadi batu. Di balik tebalnya kabut, dalamnya pegunungan Kelabit Highland, di sanalah bersemayam Tebing Batu Lawi. Menurut kepercayaan setempat, apabila kita menunjuk tebing tersebut maka kabut akan cepat-cepat menutupi kedua tebing tersebut.

 

Kilas Tebing

Kota terdekat : Bario, Serawak, Malaysia
Ketinggian Gunung : 2046 mdpl
Ketinggian Tebing : ± 125 m (South Face) / ± 200 m (West Face)
Jenis Batuan : Sandstone