Binaiya (Bagian 13: Catatan Kecil dari Ambon)

Related Articles

Secangkir kopi susu rempah dan sepiring roti sus menemani sore kala menunggu malam di Ambon. Saya bersama Pak Arif duduk melepas lelah di satu sudut ruangan. Di dalam kedai kopi yang bernama Rumah Kopi Tradisi Joas.

Pemandangan suatu siang di Teluk Ambon.

Tradisi Minum Kopi

Maluku mungkin tak memiliki kopi khas seperti di Bali, Flores, Toraja, Papua, Aceh, atau beberapa daerah lain di Sumatera. Tapi kebiasaan minum kopi di Kota Ambon terlukis jelas di kedai-kedai pinggiran jalan. Seperti yang saya lihat di salah satu kedai yang ada di Jalan Said Perintah.

Saya melihat keramaian kedai kopi di Ambon berbeda dengan keramaian kafe-kafe kopi kekinian di Bali. Atau mungkin di Jakarta. Di Bali, tempat minum kopi dominan dipenuhi oleh anak-anak muda usia belasan atau duapuluhan. Nongkrong sampai malam. Yang menurut saya, esensinya lebih pada pergaulan dan eksistensi para generasi z dan milenial.

Sementara di Ambon, kedai kopi yang lebih sering disebut dengan rumah kopi, tak didominasi oleh kunjungan anak-anak muda. Pengunjungnya sebagian besar adalah bapak-bapak. Kata pramusaji yang melayani saya, memang demikian adanya. Tradisi ngopi di Maluku berkaitan dengan kegiatan berkumpul dan mengobrol.

Meja di rumah kopi yang didesain seperti rumah makan ini, hampir semuanya terisi. Berteman kopi dan panganan ringan, mereka ngobrol satu sama lain. Ada juga yang bermain kartu. Ada juga beberapa yang melihat layar telepon genggam masing-masing. Pemandangan asbak dengan puntung-puntung rokok di atas meja, terlihat seperti sangat lumrah.

“Kita bisa kenal banyak orang dari berbagai kalangan di rumah kopi. Jarang ada yang datang ke rumah kopi sendirian. Jika sendirian, biasanya ada saja yang mengajak ngobrol. Mulai dari tegur sapa atau basa-basi bertanya kabar. Hingga akhirnya bisa saling kenal,” kata pramusaji mengimbuhkan, melihat saya yang takjub bertanya-tanya.

Rumah Kopi Tradisi Joas
Gejor dan Pak Arif di Rumah Kopi Tradisi Joas.

Trotoar Berlubang

Sore perlahan beranjak malam. Acara minum kopi bersama Pak Arif saya sudahi. Hotel yang saya tempati kali ini berlokasi tak jauh dari lokasi kami ngopi. Saya yang nebeng bermalam di kamar yang dipesan Pak Arif, telah selesai mandi dan siap mencari makan malam. 

Kami berdua telah berjanji akan makan malam bersama dengan Ibu Liany, Naomi, Rike, dan Daus; yang kesemuanya sudah di Ambon di hotel yang berbeda-beda. Ini kesempatan ngumpul lagi di Ambon setelah pulang dari mendaki gunung.

Setelah menyepakati tempat makan yang disetujui, saya dan Pak Arif memutuskan untuk jalan kaki ke sana. Menyusuri trotoar di malam yang tak banyak memiliki penerangan jalan. 

Apes bagi saya. Ceroboh karena berjalan sambil melihat Google Maps, saya terperosok ke lubang trotoar. Untung lubangnya tak dalam. Tak sampai satu meter. Tapi isinya lumpur yang bau. Kaki saya terbentur. Jempol terantuk benda keras, entah apa. Ketika diangkat, darah mengucur tak henti.

Dengan tertatih, saya kembali ke hotel. Beberapa tukang ojek memperhatikan saya dengan sorot mata kasihan. Sepertinya mereka sudah berkali-kali melihat kejadian yang sama. 

Pak Arif berinisiatif membelikan obat merah di apotek terdekat. Setelah luka dibersihkan, darah tetap mengalir. Tissue di kamar serta perban dan kapas di kotak obat sampai habis. 

Jalanan di Ambon benar-benar berbahaya. Selain beresiko tersambar kendaraan yang suka ngebut, trotoar di jalanan kota kebanyakan berlubang. Juga gelap tanpa banyak penerangan. Dan saya menjadi korbannya kali ini. Untung saja tak parah.

Saya jadi trauma membayangkan jatuh ke trotoar tadi. Begidik ngeri. Membayangkan seandainya saja lubang trotoar itu dalam. Ada beling atau benda-benda tajam. Dan sejenisnya. Hhh…

Setelah memastikan luka saya bersih dan tertutup, dan baik-baik saja, kami kembali menuju lokasi makan malam. Kali ini tak jalan kaki lagi. Kendaraan roda empat yang dipesan melalui aplikasi mengantar kami ke sana. 

Banyak trotoar berlubang di Ambon.
Trotoar berlubang di Kota Ambon.
Luka di kaki akibat terjatuh di lubang trotoar.

Ikan Bakar di Belakang Amplas

Kendaraan yang kami tumpangi berhenti di belakang Ambon Plasa. Pertokoan lama yang lazim disebut Amplas oleh warga setempat. Jalanannya padat. Setengah ruasnya dipenuhi warung-warung tenda.

Hampir semua warung tenda menawarkan menu ikan bakar dan goreng. Beberapa ada juga warung lalapan yang menjual pecel lele dan ayam goreng. Di beberapa lorong gang, ada juga warung-warung dalam kios yang menawarkan menu-menu serupa.

Saya tak begitu bersemangat. Peristiwa jatuh di lubang trotoar tadi, terus menghantui pikiran. Ibu Liany dan Naomi sudah tiba. Sementara Daus dan Rike mengabarkan tentang kesalahpahaman. Mereka mengira Amplas itu adalah Maluku City Mall, yang lokasinya tak jauh dari Jembatan Merah Putih. Padahal berbeda.

Ibu Liany memilih salah satu warung dari sekian banyak warung dan rayuan pedagangnya. Kami duduk-duduk sambil menunggu pesanan dan menunggu kedatangan Daus dan Rike. Hingga akhirnya kami semua berkumpul. Merayakan malam sebelum kepulangan ke kota masing-masing esok hari.

Ketika malam telah larut, kami pun berpisah. Kali ini, tukang becak yang mengantar saya dan Pak Arif kembali ke hotel. Asyik juga meliuk-liuk dengan becak di jalanan Kota Ambon. Antara excited dan was-was. Sesekali kendaraan lain membunyikan klakson dengan keras kepada pengemudi becak kami.

Ikan bakar dan lalapan di warung-warung tenda belakang Ambon Plaza.
Gejor, Pak Arif, Ibu Liani, Naomi, Dauz, dan Rike.

Pulang

Awal hari menjelang. Pagi-pagi benar, Pak Arif sudah berpamitan pada saya. Pesawat yang akan membawanya ke Jakarta berangkat pukul delapan pagi. Hanya berbeda beberapa jam dengan pesawat ke Denpasar, yang berangkat pukul sebelas siang.

Saya sendirian kali ini. Sarapan di restoran hotel sambil meringis menahan luka di kaki. Setelahnya, saya tak ada ke mana-mana lagi. Langsung mandi dan berkemas. Bersiap ke bandara. Sambil mengirim kabar ke rumah, bahwa saya akan pulang hari ini.

Terbang bersama Lion Air dari Surabaya menuju Denpasar.
Tiba di Denpasar. Ehem!

Dan demikianlah perjalananan saya ke Maluku, mendaki Gunung Binaiya yang penuh pesona, salah satu dari tujuh puncak di Nusantara. Dan seperti yang sering diucapkan oleh para pendaki: mencapai puncak gunung hanyalah sebuah bonus, pulang ke rumah dalam kondisi selamat adalah tujuan yang utama. 

Terima kasih, Binaiya. Sampai jumpa, Ambon. Danke! []

Oleh I Komang Gde Subagia | Maluku, Desember 2023

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Menarik

Barisan Putri Tidur, Sabana di Gunung Butak

Hawa dingin yang ada di padang sabana Gunung Butak pada malam hari tak mengecilkan niat kami untuk mendirikan tenda dan bermalam di sana selama...

Ngabuburit dan Penghijauan

{nl}     Pada tanggal 3 September anggota Astacala khususnya angkatan Lembah Purnama melakukan kegiatan penanaman pohon di sekitar sekretariat dan sekitar lingkungan kampus IT Telkom....

Dari Curug Sawer ke Situ Gunung dan Cikaramat

Situ Gunung, sebuah kawasan eksotis di kaki Gunung Pangrango yang menyajikan udara yang segar yang berasal dari banyaknya oksigen yang disuplai oleh pepohonan tinggi...